Sekilas Mengenai Bullying dan Contohnya

2 min read

“Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
Nostalgia SMA kita
Takkan hilang begitu saja
Walau kini kita berdua
Menyusuri cinta…”

Penggalan teks lagu di atas, “Nostalgia SMA Kita” yang sempat dipopulerkan oleh Paramitha Rusady, mengingatkan kita semua pada sebuah ungkapan lama, yakni ”masa SMA adalah masa-masa paling indah”. Masa dimana seseorang mengalami banyak pengalaman baru, masa remaja, belajar untuk memegang tanggung jawab, dan tentu saja, masa yang penuh cinta.

Masa-masa indah ini salah satunya didapatkan dari kegiatan sekolah yang cukup berperan penting, yakni Masa Orientasi Siswa (MOS). Dalam kegiatan ini, para siswa baru diberi kesempatan untuk memiliki masa orientasi (pembiasaan) dan memulai langkah awal untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru bagi mereka.

MOS juga dapat berfungsi bagi seorang siswa baru untuk memenuhi salah satu dari tugas perkembangan remaja yang dikemukakan oleh Havighurst (dalam Hurlock 1973), yaitu untuk mengambil seperangkat nilai dan sistem etika yang terdapat di lingkungan barunya sebagai pemandu dalam bertingkah laku. Dengan mengikuti MOS, seorang siswa baru dapat mengetahui nilai-nilai apa saja yang dianut di lingkungan barunya, termasuk tata tertib, untuk kemudian diimplementasikan dalam bentuk tingkah laku sehari-hari.

Untuk dapat mencapai tujuan MOS dan proses adaptasi yang baik, tentu ada peranan orang lain untuk membimbing para siswa baru. Salah satunya adalah kakak-kakak kelas. Proses adaptasi dapat berlangsung baik apabila siswa-siswa baru mempersepsikan tingkah laku dan sikap kakak-kakak kelas terhadap mereka cukup baik. Jika hal yang sebaliknya terjadi—tingkah laku dan sikap kakak-kakak kelas dipersepsikan kurang baik, bahkan menjurus ke bullying—jelas, masa SMA yang dialami para siswa baru bukan masa-masa indah.

Baca juga  Mengenal Gangguan Bipolar

Sayangnya, masih menjadi rahasia umum bahwa sekolah-sekolah menengah pertama dan atas di Indonesia masih memiliki MOS yang diwarnai oleh perilaku bullying yang dilakukan oleh kakak kelas pada adik kelasnya. Situs koran Kedaulatan Rakyat bahkan menyatakan bahwa bullying sudah menjadi budaya yang diturunkan dari siswa senior ke siswa junior.

Untuk menghindari dampak buruk dari bullying, tentu kita harus mengetahui apakah itu bullying. Berikut penjelasannya.

Apa itu Bullying?

Terdapat fakta unik tentang bullying yang terjadi di lingkungan sekolah, yakni ternyata masih banyak siswa sekolah yang tidak memahami pengetian dan dampak bullying. Pada akhirnya, terdapat suatu fenomena dimana banyak siswa tidak menyadari apabila dirinya sedang menjadi pelaku, atau bahkan korban bullying. Ironis memang.

Papalia, et. al. (2004) mendefinisikan bullying sebagai perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri.

Sedangkan, dalam konteks lingkungan sekolah (school bullying), kita dapat merujuk pada definisi yang diberikan oleh Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005). Mereka mengartikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Ada 5 kategori perilaku bullying tersebut, yaitu :

  1. Kontak Fisik Langsung

    Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain.

  2. Kontak Verbal Langsung

    Mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip masuk dalam kategori ini.

  3. Perilaku non-verbal langsung

    Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal.

  4. Perilaku non-verbal tidak langsung

    Contoh nyata dari kategori perilaku ini adalah mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, dan mengirimkan surat kaleng.

  5. Pelecehan seksual

    Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang dapat pula dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik dan verbal.

Baca juga  Pentingnya Pendidikan

Mengapa seorang siswa dapat melakukan perilaku bullying terhadap siswa lain, yang seharusnya dapat menjadi teman sepermainan mereka? Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) menjabarkan jawaban tersebut dalam skema kognitif korban.

Menurut skema tersebut, korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena tradisi, balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (korban laki-laki), ingin menunjukkan kekuasaan, marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendapatkan kepuasan, dan iri hati. Dua hal terakhir dari yang dijabarkan barusan merupakan penuturan korban perempuan.

Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena penampilan yang menyolok, tidak berperilaku dengan sesuai, perilaku dianggap tidak sopan, dan tradisi.

Bullying merupakan sebuah tindakan yang berbahaya baik secara fisik maupun psikologis. Disamping luka yang mungkin dihasilkan, trauma juga dapat terjadi bagi para korban bullying. Sayangnya, “doktrin” para senior ke juniornya bahwa bullying dalam MOS merupakan budaya yang tersebar di kalangan murid membuat perilaku ini terus terjadi tiap tahunnya. Mari kita hentikan bullying dengan menyadari bahwa hal tersebut terjadi di sekitar kita.

Pentingnya Pendidikan

Avatar ruangpsikologi
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *