Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Industri & Behavioral Economy, Psikologi Umum & Eksperimen

Wawancara Pekerjaan: Setengah Jam yang dapat Mengubah Hidupmu

9 July 2010 2,708 views One Comment

75627778

Oleh: Ramadion

Bagi banyak orang, wawancara kerja (job interview) masih menjadi momok yang menakutkan. Khususnya bagi mereka yang belum banyak memiliki pengalaman kerja, diterima atau tidaknya seseorang pada pekerjaan yang dilamar masih sangat bergantung pada impresi yang terbangun di saat wawancara.

Beberapa opini yang pernah saya temui adalah, bahwa wawancara kerja itu sangat tergantung pada nasib, karena kadang orang yang kemampuannya dibawah kita justru mendapatkan pekerjaan tersebut sedangkan kita tidak. Sebenarnya saya kurang setuju dengan pendapat di atas. Tapi, memang hanya orang yang “beruntung” yang bisa lolos dari wawancara pekerjaan.

Kenapa saya menggunakan kata “beruntung”? Karena, banyak sekali faktor yang bermain pada wawancara pekerjaan. Saat kita memasuki ruangan wawancara, kemampuan kita (walau pun tetap menjadi faktor utama) bukanlah satu-satunya hal yang menjamin diterimanya kita dalam suatu pekerjaan.

Berikut adalah beberapa tips yang dapat meningkatkan kemungkinan lolosnya kamu dalam wawancara pekerjaan. Beberapa tips mungkin akan terdengar sepele. Tapi, saat kamu bersaing dengan pelamar lain yang mungkin memiliki kemampuan yang sama denganmu, hal-hal kecillah yang akan menentukan pemenangnya.

  • Berusahalah untuk memiliki chemistry dengan pewawancara

Kenyataan pertama yang harus kita terima, adalah, bahwa staf HRD yang mewawancarai kamu adalah manusia. Artinya, penilaian subjektif dia, diakui atau tidak, akan mempengaruhi hasil tanya jawab antara kalian yang akan ia laporkan pada calon atasanmu.

Strategi dasar untuk membangun chemistry tentu saja adalah dengan tersenyum. Untuk sejenak, jangan pikirkan tentang keharusanmu untuk mendapatkan pekerjaan itu. Tapi pikirkan juga bahwa orang yang berada didepanmu telah dan akan menghadapi banyak pelamar. Tentu sedikit senyum akan mencerahkan harinya (dan meningkatkan kemungkinan diingatnya dirimu saat akan menentukan siapa yang pantas mendapatkan pekerjaan).

Selalu jaga eye-contact, karena susah sekali untuk percaya pada orang yang berbicara pada lantai. Jangan memberikan jawaban yang terlalu panjang, karena justru hanya sedikit yang akan diingat oleh pewawancara.

Cara lain yang dapat kamu pakai adalah dengan membubuhkan hobimu menarikmu di curriculum vitae yang kamu ajukan. Wawancara pasti dimulai dengan sedikit perkenalan. Jika hobimu bisa menjadi topik pembicaraan, emosi positif yang dimunculkan mungkin akan mendongkrak nilaimu yang dituliskan oleh pewawancara.

Sebetulnya, cukup mudah untuk membuat strategi cara membangun chemistry dengan pewawancara. Pikirkan saja hal-hal yang akan membuatmu akrab dengan orang yang baru pertama kali bertemu denganmu, dan lakukan hal itu ketika wawancara. Pikirkan hal yang membuatmu risih, dan jangan lakukan itu ketika wawancara.

Terakhir, kirimkanlah e-mail untuk mengucapkan terima kasih atas kesempatan wawancara yang telah diberikan. Dalam e-mail ini, kamu juga bisa menambahkan jawaban-jawaban yang belum keluar saat wawancara.

  • Cari tahu job-description-mu

Staf HRD modern biasanya menggunakan strategi wawancara competency-based. Artinya, ia akan mencocokkan kompetensi yang kamu miliki dengan tuntutan dari pekerjaan yang kamu lamar. Misalnya, kalau pekerjaan yang ditawarkan adalah human-relation, maka staf HRD akan mencari tahu tentang kemampuan komunikasimu.

Dalam wawancara competency-based, pewawancara akan menyuruh kamu menceritakan pengalaman yang berhubungan dengan kemampuanmu. Jadi, setelah kamu membuat daftar dari kemampuan (kompetensi) yang dibutuhkan, coba ingat-ingat pengalamanmu yang berkaitan dengan hal itu. Misalnya, dalam contoh human-relation tadi, ingat-ingat kapan kamu pernah menjabat sebagai humas acara kampus, masalah apa yang kamu hadapi saat kamu memegang jabatan itu, dan bagaimana cara kamu menyelesaikannya.

  • Percaya diri

Saat kamu memegang sebuah jabatan, maka nasib perusahaan di bidang itu akan diserahkan kepadamu. Maka, staf HRD perlu mencari orang yang yakin bahwa ia mampu memegang tanggung jawab tersebut. Salah satu cara untuk mencari tahu apakah kamu yakin, adalah dengan menilai cara kamu menjawab pertanyaan. Jangan banyak memulai jawaban dengan kata “mungkin”, atau kata-kata tak berarti seperti “eee… aaa…”

Untuk meningkatkan percaya diri, coba buat simulasi wawancara berdasarkan daftar kemampuan yang kamu buat di tips sebelumnya. Kalau bisa, rekam sesi latihanmu, dan diskusikan dengan temanmu apa saja hal-hal yang dapat ditingkatkan. Coba juga ingat-ingat wawancara pekerjaan yang pernah kamu jalani, dan pelajari kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang kamu perlihatkan waktu itu.

(bersambung ke bagian 2)

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/toofabtobebroke/4441733804/

One Comment »

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word