Tren Melarikan Diri dari Masalah: Bunuh Diri
“Suicide is a permanent solution to a temporary problem.”
-Peter Lynch-
30 November 2009. Kota Jakarta yang terguyur hujan menjadi saksi dua percobaan (berhasil!) bunuh diri di dua tempat publik yang berbeda. Keduanya sama-sama menjatuhkan diri dari ketinggian untuk mencapai tujuan akhir mereka, yaitu meninggalkan dunia ini. Fenomena bunuh diri bukanlah hal yang baru maupun jarang muncul dalam masyarakat, bahkan tindakan yang membuat bulu kuduk berdiri ini telah menempatkan dirinya menjadi fenomena yang sama tuanya dengan ras manusia di bumi (Perlin, 1975). Di Jakarta sendiri sepanjang tahun 1995-2004 kasus bunuh diri mencapai 5,8% per 100 ribu penduduk, yang kebanyakan pelakunya adalah laki-laki (http://www.vhrmedia.com).
Jika kita merujuk kepada teori survival of the fittest dari evolusi yang dikemukakan Darwin, bunuh diri merupakan deviasi dari hukum bertahan hidup. Evolusi mengharuskan setiap makhluk hidup untuk menempatkan posisinya (baca: eksistensi) walaupun terkadang diperlukan perubahan bentuk dan fungsi, sehingga yang ‘kalah’ akan punah dari muka bumi. Bunuh diri mungkin adalah wujud tingkah laku manusia yang paradoks. Melalui filogenetis dan ontogenetis, manusia telah mengembangkan tingkah laku yang membantu mereka menjalankan fungsi bertahan hidup (Joiner & Rudd, 2002). Pada kasus bunuh diri, manusia secara sadar memusnahkan dirinya sendiri, disinilah letak paradoks itu berada.
Menanggapi sifat paradoks dari fenomena bunuh diri, Freud mencoba merumuskan teorinya mengenai dorongan hidup (drive/ insting). Freud menemukan adanya repetition compulsion pada diri pasiennya, yaitu ketika seseorang dihadapkan pada situasi tidak menyenangkan namun secara terus menerus tetap memilih untuk berada pada situasi tersebut walaupun hal tersebut menyakiti dirinya. Dari kasus tersebut, Freud menyadari bahwa selain motivasi untuk bertahan hidup (insting kehidupan/ eros), manusia juga memiliki dorongan lain, yaitu dorongan kematian (agresi/ thanatos), yang Freud tekankan lebih kuat dibandingkan dengan insting kehidupan manusia (Heller, 2005). Inilah yang menjelaskan bahwa meskipun bertolak belakang dari fungsi evolusi, manusia tetap memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.
Bunuh diri dalam bahasa Inggris ‘suicide’ berasal dari bahasa Latin ‘sui caedere’ yang berarti membunuh diri sendiri. Percobaan bunuh diri lebih biasa ditemukan diantara perempuan daripada laki-laki, namun tingkat keberhasilan bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki. Tingkat percobaan bunuh diri banyak diawali pada usia 12 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 16 tahun, yang dengan kata lain dikategorikan sebagai remaja (Nicolson & Ayers, 2004) – walau banyak juga ditemukan di tahap perkembangan lebih lanjut.
Faktor resiko yang menyebabkan seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah depresi, alkohol atau penyalahgunaan obat, tingkah laku agresif, dan pernah mencoba melakukan bunuh diri sebelumnya. Seseorang yang mempertimbangkan untuk bunuh diri biasanya merasa kesepian, tidak memiliki harapan, ditolak. Mereka biasanya mudah jatuh pada perasaan-perasaan diatas ketika mengalami kehilangan, dipermalukan; performa buruk dalam tugasnya; putus dengan pacar; orang tua dengan masalah alkohol atau obat-obatan yang abusive, atau broken home.
“Sebab seseorang melakukan bunuh diri adalah rahasianya dengan Tuhan”
Faktor diatas merujuk kepada resiko yang biasanya terjadi pada seorang pelaku bunuh diri. Namun alasan jelasnya tidak ada yang pernah tahu – kecuali pelaku menulis surat wasiat sebelumnya. Terkadang sanak keluarga dan kerabat dekat bahkan sangat terkejut atas pilihan dari pelaku untuk mengakhiri hidupnya. Everything looks perfectly fine. Kemudian muncul kekecewaan pada benak yang ditinggalkan ‘seandainya waktu bisa berputar kembali untuk mengubah pikiran yang tercinta melakukan bunuh diri’. Karena kita tidak akan pernah tahu saat seseorang memutuskan untuk bunuh diri pekalah terhadap setiap perubahan dari orang yang kita kasihi. Detik-detik percobaan bunuh diri adalah detik-detik dimana pelaku benar-benar membutuhkan seseorang yang mengasihi dia dan menyadarkan bahwa hidupnya berharga.
Sumber:
Heller, Sharon Ph.D. (2005). Freud: A to Z. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Joiner, Thomas, David Rudd. (2002). Suicide Science: Expanding the Boundaries. New York: Kluwer Academic Publication.
Nicolson, Doula, Harry Ayers. (2004). Adolescence Problem (Revised Edition). London: David Fulton Publisher
Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/mehradhm/2434344182/









sepertinya dalam kasus bunuh diri kita tidak bisa neyalahkan pelaku, karena daya tahan seseorang untuk menghadapi suatu masalah tidaklah sama pada setiap individu dan JANGAN PERNAH MENGANGAP ENTENG/RINGAN SUATU MASALAH (ex : “masalah gitu aja pake bunuh diri, gimanah sih,…..). satu hal lagi, dukungan sosial dari masyarakat (teman, keluarga, dsb) sangat diperlukan, namun ada kalanya masyarakat tidak mengerti dengan permasalahan bunuh diri (definisi, ciri, faktor, dimensi, dsb) dan hampir semua orang yang mempelajari PSIKOLOGI atau PSIKOLOG mengerti atau bahkan ahli dalam masalah bunuh diri tidak tersentuh atau TIDAK MAU MENYENTUH MASYRAKAT yang tidak mengerti. PSIKOLOGI dan PSIKOLOG menjadi suatu barang yang mahal bagi masyarakat atau mereka puas hanya menulis di ruang internet serta mengajar di ruang AC kampus, mereka merasa dengan melakukan itu sudah merasa berbuat untuk masyarakat (”masyarakat yang mana…. ?, masyarakat yang bisa kuliah dengan biaya yang muahal, bisa memasang jaringan internet, atau harus datang ke klinik dengan CAP MENGALAMI GANGGUAN, serta jarang dan biaya mahal). sudah saat sekarang para ahli psikoogi atau psikolog untuk terjun ke masyarakat seperti dokter yang turun ke PUSKESMAS, buat jaringan penyebaran psikologi terkait dengan masalah bunuh diri dan masalah lainnya melalui para mahasiswa psikologi yang tersebar di masyarakat, dsb. jangan sampai manjadi penggalan novel “ROBOHNYA SURAU KAMI’ dimana setiap orang sudah hanya memikirkan diri sendiri dan meraa puas dengan ibadah personalnya atau dengan gelar S.Psi, M.Si, Psikolog, DR tapi tanpa mau memikirkan masyarakat disekitarnya ……. let’s move to “PSICHOLOGY TO PEOPLE POWER”
Eh, ntar dulu, Firman itu kenapa?
Oh ya, dan untuk author, kira-kira apakah ada faktor yang menentukan seseorang untuk bunuh diri di tempat ramai atau sepi gak?
@ Firman: sebuah masukan yg cukup bagus, walau berapi-api
kalau ada yg butuh ilmu yg saya kuasai ini, saya siap untuk membaginya. di puskesmas, musholla, atau pun kantor-kantor PKK
@ firman. Kalau butuh psikolog murah, coba ke PUskesmas Sukmajaya, Depok. Anda akan menemukan mahasiswa profesi psikologi klinis anak dan dewasa yang sedang praktek, dalam pengawasan dosen yang berpengalaman. Biaya disesuaikan dengan biaya Puskesmas, kalau tidak salah 3000 rupiah sekali datang. Selamat mencoba
@Lois : Jadi teringat, ada gangguan lain selain depresi yg erat dengan percobaan bunuh diri, yaitu Borderline Personality Disorder.
Mengingat social support sangat penting untuk orang yang sedang berpikir untung bunuh diri, ada baiknya kita mengetahui ciri-ciri gangguan diatas. Misalnya pada depresi, perhatikan perubahan pola makan, pola tidur dan pergaulan. Biasanya orang yang depresi jadi tidak mau makan, sulit tidur dan menarik diri dari kegiatan yag dilakukan. Ciri-ciri ini merupakan lampu merah buat kita. Waktunya untuk lebih banyak menemani orang tersebut dan mematahkan ide-ide yang salah penyebab keinginan bunuh diri.
Leave your response!
Follow us!
Tags
anak bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen filsafat freud gangguan gay homoseksual identitas indonesia kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader maslow masyarakat neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan presentasi produktivitas psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif Psikologi sosial psikopat public speaking remaja seks seksual sosial wanita
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (12)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (13)
- Lois (RSS) (10)
- Melita Tarisa (RSS) (6)
- Nia Janiar (RSS) (15)
- Penulis Tamu (RSS) (17)
- ramadion (RSS) (17)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed