Home » Essay, Featured, Headline, Lain-lain, Psikologi klinis, Psikologi pendidikan, Psikologi perkembangan, Uncategorized

Toilet Training pada Anak dengan Gangguan Autistik

9 February 2010 2,745 views No Comment

3383434895_4c39ce34c7

Oleh: Wulansari Ardianingsih

Memiliki kemampuan buang air kecil dengan baik merupakan salah satu tugas yang harus dipenuhi oleh anak yang sedang berkembang. Pelatihan keterampilan ini, biasa disebut sebagai toilet training, biasanya mulai menjadi perhatian orang tua ketika anak mencapai usia 2-3 tahun (Martin & Colbert, 1997). Mengajarkan keterampilan buang air secara mandiri kepada anak merupakan hal yang cukup menantang terutama bila anak memiliki kebutuhan khusus. Menurut Ginanjar (2008), salah satu kelompok yang paling sulit menyelesaikan toilet training dengan baik adalah anak-anak yang memiliki gangguan autisme. Walaupun sebagian anak tidak memiliki hambatan dalam menguasai kemampuan ini, ada sejumlah kecil anak autis yang tak pernah sukses menggunakan toilet (Williams & Wright, 2007).

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang toilet training pada anak dengan gangguan autisme mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan anak-anak spesial ini. Apa itu gangguan autisme? Istilah autis diambil dari bahasa Yunani “autos” yang memiliki arti “self” (Wenar & Kerig, 2008). Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh psikiater Eugen Bleuer pada awal abad ke 20 untuk menjelaskan kondisi pasien yang mengalami penarikan diri secara ekstrim dari kehidupan sosial (dalam Wenar & Kerig, 2008)

Anak-anak autistik, memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, munculnya hambatan dalam interaksi sosial. Ciri kedua adalah adanya hambatan dalam komunikasi. Ketiga adalah munculnya perilaku yang terbatas dan berulang (misalnya mengepak-ngepakkan tangannya, memelintir jari, terus berfokus pada roda mobil-mobilannya, dll). Perilaku ini biasanya muncul akibat kebutuhan anak autis terhadap kesamaaan. Selain ketiga ciri utama tersebut, terdapat beberapa ciri lain dari anak autis. Sebagian besar anak autis mengalami masalah pada fungsi sensorik (Ginanjar, 2008). Masalah tersebut dapat muncul dalam bentuk terlalu sensitif terhadap rangsang sensoris (hypersensitive) atau sebaliknya, terlalu tidak sensitif terhadap rangsang sensoris (hyposensitive) (Wenar & Kerig, 2008).

Memiliki beberapa karakteristik yang istimewa seperti yang dipaparkan di atas, membuat anak autistik mengalami hambatan dalam melakukan hal-hal yang dapat dilakukan oleh anak lain, salah satunya kemampuan untuk buang air secara mandiri. Walaupun kelihatannya sederhana, keterampilan ini bukan sesuatu yang mudah mereka kuasai (Ginanjar, 2008). Anak autistik yang mampu berbicara dengan cukup baik, mengikuti pelajaran, dan berinteraksi sederhana dengan teman-temannya bahkan tidak dengan sendirinya berhasil dalam mempelajari keterampilan ini bila tidak dilatih sejak usia dini. Hambatan yang biasanya muncul dalam proses toilet training biasanya berkaitan dengan masalah sensoris, komunikasi, serta kebiasaan dan rutinitas.

Masalah Sensoris

Kegagalan toilet training sangat mungkin akibat anak tidak bisa merasakan sensasi BAK dan BAB (Ginanjar, 2008). Mereka mungkin tidak memahami tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh mereka (www.maxweber.hunter.cuny.edu) atau kesulitan menggerakkan otot-otot yang berkaitan dengan kegiatan tersebut (Ginanar, 2008). Penyebab dari masalah ini belum terlalu jelas, namun menurut beberapa ahli, masalah ini berkaitan dengan abnormalitas sistem syaraf pusat yang dimiliki anak autis (Hagopian, Fisher, Paszza, & Wiezbicki, 1993 dalam www.maxweber.hunter.cuny.edu). Masalah sensorik terkadang juga membuat mereka tidak nyaman berada di kamar mandi karena kondisi fisik kamar mandi (pijar lampu, wangi-wangian, dll) (Ginanjar, 2008; www.maxweber.hunter.cuny.edu).

Masalah Komunikasi

Anak-anak autis mungkin mempunyai kesulitan mengomunikasikan kebutuhan mereka atau tidak dapat menghubungkan kata dengan tindakan (Williams & Wright, 2007). Anak-anak yang kesulitan memahami instruksi dan mengomunikasikan keinginannya untuk BAB dan BAK, cenderung melakukan dua kegiatan tersebut di sembarang tempat.

Masalah Kebiasaan dan Rutinitas

Hambatan dalam pelaksanaan toilet training juga dapat disebabkan oleh kelekatan yang kuat terhadap rutinitas, misalnya mereka telah terbiasa dan terikat dengan rutinitas mengganti popok (www.maxweber.hunter.cuny.edu; Williams&Wright, 2007). Mereka mungkin terikat dengan sensasi popok yang mereka gunakan setiap hari selama 2 sampai 4 tahun (www.maxweber.hunter.cuny.edu)

Walaupun anak-anak autis memiliki beberapa hambatan, bukan tidak mungkin bagi mereka untuk berhasil menguasai keterampilan buang air ini. Hal pertama yang harus dilakukan untuk memulai pelatihan adalah membuat jadwal harian dari kebiasaan anak BAK. Observasi kapan saja anak BAK selama sehari penuh, setelah dua minggu akan terlihat pola kebiasaan anak untuk BAK (Ginanjar, 2008). Jadwal BAK harus disesuaikan dengan perkembangan anak, bila ia sudah dapat menahan keinginan untuk BAK lebih lama maka jarak waktu antara dua jadwal dapat diperpanjang, namun bila anak ternyata sering mengompol berarti jarak waktu harus diperpendek. Pembuatan jadwal ini bertujuan pula untuk mengatasi hambatan sensoris dan kelekatan terhadap rutinitas pada anak. Dengan membuat jadwal yang teratur, anak menjadi terlatih untuk mengenali tanda-tanda untuk BAK serta secara perlahan-lahan dapat menahan BAK sesuai waktunya.

Selain membuat jadwal BAK, penting pula untuk membuat alat bantu visual yang menunjukkan kapan ia harus ke kamar mandi dan urutan kegiatan yang harus dilakukan saat BAK. Alat bantu visual yang dibuat harus sesuai dengan taraf pemahaman anak, dalam bentuk foto, gambar, atau gambar bertulisan. Urutan kegiatan dapat diletakkan di kamar mandi, di tempat yang mudah dilihat oleh anak dan sejajar dengan tinggi mata anak (Ginanjar, 2008). Dengan menggunakan alat bantu visual, anak yang mengalami hambatan komunikasi dapat sangat terbantu.


untitled

contoh visual aid yang digunakan di Sekolah Mandiga (sekolah khusus bagi anak dengan spektrum autistik)


Membuat anak untuk tetap merasa nyaman selama proses pelatihan BAK merupakan hal yang penting pula. Bagi anak-anak autis, mengalami suatu perubahan (baik itu perubahan tempat maupun kegiatan) merupakan suatu hal yang sangat tidak menyenangkan. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya dapat menyediakan benda-benda yang disenangi anak selama proses BAK atau menyingkirkan stimulus yang membuat anak sangat terganggu (misalnya dengan mengurangi pijar lampu, tidak memakai sabun yang terlalu wangi, atau mematikan suara kipas bila menganggu, dll). Hal ini dilakukan untuk mengatasi hambatan sensoris dan kelekatan anak pada rutinitas.

Selain hal-hal di atas, dalam pelaksanaan pelatihan kemampuan toileting, penting pula bagi orang tua dan guru untuk memberikan reinforcement ketika anak menunjukkan kemajuan. Reinforcement yang diberikan dapat berupa pujian, pelukan, mainan, atau hal-hal lain yang disukai anak (Ginanjar, 2008). Hal tersebut dapat membuat anak merasa berhasil dan dapat membuat perilaku lebih menetap.

Melatih anak autis untuk dapat buang air di toilet dengan mandiri merupakan tantangan tersendiri. Orang tua harus dapat memahami karakteristik anaknya dengan baik supaya dapat memberikan metode yang tepat. Pemberian pelatihan yang konsisten dan adanya kerjasama yang baik antara pihak rumah dan sekolah merupakan salah satu kunci keberhasilan pelatihan ini.

Tentang Penulis:

Wulansari Ardianingsih adalah mahasiswa tahun terakhir Fakultas Psikologi UI. Saat ini dia masih aktif di klub teater fakultas dan dulu aktif di BEM fakultas. Tulisan ini ia buat setelah menyelesaikan tugas magang di Sekolah Mandiga, sekolah bagi anak dengan spektrum autistik. Sekolah ini didirikan oleh seorang doktor dari Fakultas Psikologi UI, Adriana Soekandar Ginanjar.

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/brianfett/3383434895/

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word