Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi klinis, Psikologi perkembangan, Psikologi sosial

Tentang Masturbasi yang (mungkin) Tidak Anda Ketahui

31 October 2009 4,848 views 5 Comments

3778283811_70ea60402dHahahaha, kebanyakan sih loe!! kopong kan tuh dengkul!. Makanya, jangan sering-sering!!

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar pernyataan seperti diatas. Untuk yang belum pernah mendengar, biasanya pernyataan diatas adalah pernyataan yang berkaitan dengan masturbasi. Masturbasi memang seringkali dihubungkan dengan beberapa mitos seperti kalimat di atas, terlalu sering maka akan membuat dengkul kopong, sperma mongering, bahkan kebutaan.

Sebelum membicarakan lebih lanjut, adapun masturbasi memiliki definisi melakukan stimulasi secara manual terhadap alat kelamin (Handayani, 2008) yang biasanya dilakukan dengan berfantasi tentang hubungan seksual. Berdasarkan sebuah mata kuliah yang pernah saya ambil saat kuliah, para pria biasanya melakukan masturbasi dengan berfantasi tentang wanita yang berada di sekitarnya. Sedangkan untuk wanita, masturbasi dilakukan dengan fantasi yang lebih luas, bahkan artis-artis yang muncul dilayar kaca juga kerap menjadi objek fantasi dalam masturbasi para wanita.

Seperti topik seksualitas lainnya, masturbasi juga merupakan hal yang tidak banyak dibicarakan secara terbuka. Berdasarkan data yang saya miliki, Castleman (2009) menjelaskan bahwa di Amerika, sebanyak 38 % wanita melakukan masturbasi dan 61 % pria melakukannya. Sedangkan di Indonesia sendiri, menurut Pangkahila (dalam Handayani, 2008) hampir semua pria melakukan masturbasi dan sekitar 70-80 % wanita melakukan masturbasi.

Castleman (2009) menjelaskan bahwa masturbasi pria lebih sering dilakukan saat remaja hingga usia paruh baya (40tahun), dan jumlahnya jauh berkurang ketika pria mencapai usia 50 tahun. Sedangkan untuk wanita, usia 20 hingga 39 merupakan kelompok usia yang paling sering melakukan masturbasi. Pada usia 18-20 dan di atas 40 tahun, perilaku masturbasi tersebut lebih rendah frekuensinya. Adapun 25 % pria dan 10 % wanita melakukan masturbasi minimal satu kali dalam satu minggu (Kelly, dalam Handayani, 2008). Studi yang dilakukan juga menunjukkan bahwa masturbasi meningkat seiring dengan bertambah tingginya tingkat pendidikan, frekuensi munculnya pikiran yang berkaitan dengan seksualitas, eksperimentasi seksual sebelum masa puber, dan bertambahnya jumlah hubungan seksual yang dimiliki seseorang. Untuk wanita, masturbasi lebih rendah frekuensinya pada individu yang sedang sakit, sedangkan pria tetap bermasturbasi baik pada saat sehat maupun sakit (Castlemen, 2009).

Masturbasi memang lebih banyak dipandang negatif. Meskipun demikian, menurut Pinkerton dkk (dalam Gerressu dkk, 2008) masturbasi merupakan aktivitas seksual yang sehat. Tidak jauh berbeda dengan pendapat tersebut, Barreca (2009) juga berpendapat bahwa masturbasi merupakan salah satu cara untuk mengurangi kehamilan tidak diinginkan serta penyakit menular seksual. Launmann dkk (dalam Geressu dkk, 2008) menemukan bahwa individu tidak hanya melakukan masturbasi untuk menyalurkan hasrat seksual, tapi juga untuk bisa merasakan relaksasi dan tidur. Bahkan penelitian di Australia menunjukkan bahwa laki-laki berusia 20-50 tahun yang mengalami ejakulasi lebih dari lima kali perminggu memiliki kemungkinan 30 % lebih sedikit untuk terkena kanker prostat (www.psychologytoday.com).

Masturbasi tidak hanya dilakukan oleh individu yang belum menikah, pasangan yang sudah menikah pun melakukan masturbasi (Kelly, dalam Handayani, 2008). Adapun alasan mereka melakukan masturbasi berkisar antara pasangan yang menolak untuk diajak berhubungan seksual dan tidak merasakan kepuasan saat berhubungan. Untuk alasan terakhir, masturbasi justru menjadi salah satu solusi yang dapat membantu. Dengan masturbasi, individu dapat lebih mengetahui dirinya sendiri. Dengan mengetahui bagian tubuh mana yang dirasa ‘menyenangkan’ untuk disentuh dan mengomunikasikan dengan pasangan, maka diharapkan hubungan seksual yang dilakukan dapat memberi kepuasan untuk kedua belah pihak.

Seperti hal lainnya, data-data di atas menunjukkan bahwa masturbasi juga memiliki sisi positif dan negatif. Meskipun demikian, penilaian terhadap masturbasi kembali pada masing-masing individu, dengan melihat data atau masukan di atas untuk dipergunakan sebaik-baiknya.

Nova Ariyanto JoNo

Sumber:

Barreca, R. Want to Cheer up AND Save Money? Masturbate!. Diambil online pada http://www.psychologytoday.com/blog/snow-white-doesnt-live-here-anymore/200904/want-cheer-and-save-money-masturbate tanggal 20 Oktober 2009.

Castleman, M. How Common is masturbation, really?. Diambil online pada http://www.psychologytoday.com/blog/all-about-sex/200903/how-common-is-masturbation-really tanggal 20 Oktober 2009.

Gerressu, M., Mercer, C.H., Graham C.A., Wellings, K., & Johnson, A.M. (2008). Prevalence of Masturbation and Associated Factors in a British National Probability Survey. Arch Sex Behav 37:266–278 DOI 10.1007/s10508-006-9123-6

Handayani, A.T. (2008). Hubungan antara sikap terhadap hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual dengan religiusitas pada dewasa muda muslim. Depok: F Psi UI.

Masturbation paranoia may cause cancer. Diambil online pada http://www.psychologytoday.com/blog/sex-dawn/200901/masturbation-paranoia-may-cause-cancer tanggal 20 Oktober 2009.

Images from http://www.flickr.com/photos/kprj/3778283811/

5 Comments »

  • rachel said:

    Juicy topics.
    Seksualitas adalah konstruk yang amat luas dan sering kali dipersempit (vance,2009; misra,2008). Tujuan umum dari aktifitas seks sering hanya dimanfaatkan untuk memperoleh keturunan. Padahal dengan perkembangan populasi yang ada, perlu ada lebih banyak opsi untuk individu.tetapi sistem pemerintahan yg ada menciptakan ‘moral panic’ di masyarakat, dengan menjunjung tinggi kesakralan seks hanya untuk upaya mengerem populasi. Akibatnya pleasure merupakan dimensi seksualitas yang selalu dilupakan.

    Semestinya, seluruh aktifitas seksual merupakan preferensi pribadi tiap individual yang bebas nilai dan non-judgmental. Tidak adil rasanya untuk mengklasifikasi kegiatan sebagai hal + maupun -. Termasuk juga masturbasi. Sudah saatnya hak seksual mendapat perhatian karena hak tsb merupakan bagian daripada hak asasi manusia. Namun dikenyataannya, masih sulit untuk memberikan sebuah enabling condition untuk semua individu tersebut.
    Karena masturbasi (amat terkait dengan preferensi orientasi seksual dalam konsep hierarki penerimaan masyarakat–Gooch,1983) di beberapa peraturan masih dikategorikan sebagai unnatural seks. Karena tak memiliki fungsi reproduktif; padahal kegiatan seksual sekali lagi tak hanya terbatas pada fungsi reproduksi. Dan bahkan masturbasi dikategorikan sebagai pelanggaran hukum seperti dalam penal code jamaica dan india; yang memberikan hukuman penjara utk pelaku masturbasi.

    Oleh karena itu, merupakan usaha kita bersama untuk meng-acknowledge perbedaan ekspresi seksualitas. Dan hal tersebut dapat dimulai dengan tidak menghakimi jenis2 kegiatan seksual yang dipraktekan.

  • Tweets that mention Tentang Masturbasi yang (mungkin) Tidak Anda Ketahui | ruangpsikologi.com -- Topsy.com said:

    [...] This post was mentioned on Twitter by P.A.N.E, Adi Respati. Adi Respati said: Demi eluh ne :-) RT @paneno @adihrespati http://bit.ly/1FkEuW nih retweet ini aja [...]

  • Ramadion said:

    setuju 100% dengan rachel :D

    selain itu, masturbasi juga menjadi cara untuk mengenali diri, agar kehidupan seksual dengan pasangan dapat menjadi lebih memuaskan :D

  • JoNo (author) said:

    saya rasa menghakimi jenis kegiatan seksual orang lain, khususnya masturbasi, sudah jarang dilakukan kecuali pada anak-anak

    terimakasih ya data-datanya

  • Jangan takut berfantasi seksual | RuangPsikologi.Com Webzine Psikologi Modern said:

    [...] tulisan sebelumnya, ‘Tentang masturbasi yang mungkin (tidak) anda ketahui”, saya telah menjelaskan bahwa masturbasi dilakukan dengan berfantasi tentang perilaku seksual. Pada [...]

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word