Home » Essay, Featured, Psikologi klinis

Tentang Kematian

3 June 2009 1,656 views 6 Comments

Hidup manusia, seperti juga makhluk lainnya, adalah seperti tanaman yang hijau kemudian menguning dan layu. Manusia terlahir, beraktivitas, prokreasi, kemudian wafat. Kehidupan dan kematian adalah sebuah siklus hidup yang menandakan eksistensi manusia. Kedua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Walau begitu, kematian tetap merupakan sumber rasa takut, putus asa, dan luka bagi kebanyakan orang ketika menghadapinya, bukan hanya menghadapi kematiannya sendiri melainkan juga ketika menghadapi kematian orang terdekatnya. Semua perasaan tidak berdaya muncul, ini adalah ‘kekalahan’ akhir.

Agama dan juga kepercayaan barat maupun timur telah mencoba memberikan jalan keluar bagi mereka yang takut mati dan kesakitan ketika kehilangan orang yang disayang. Agama menawarkan kehidupan setelah kematian, suatu kelahiran kembali, serta tawaran transenden lain untuk membantu seseorang ‘lega’ atau setidaknya mengurangi rasa takutnya.

Aku punya 2 orang kenalan yang paling cocok dalam menjelaskan rasa takut ini.

  • Seorang wanita lanjut usia yang cukup aktif beribadah sekali dalam seminggu, yah bisa dikategorikan sebagai ‘melek tuhan’lah. Namun ia sangat takut sakit, setiap bulannya bisa menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk pengobatan. Wanita ini secara berkala memimpikan ibunya (yang sudah meninggal) memberikan pesan bahwa ‘belum waktunya ia meninggal’.
  • Wanita setengah baya yang tiba-tiba saja jatuh sakit, tidak bisa bernafas (lupa istilah medisnya apa). Ketika diperiksa sama sekali tidak ditemukan sebab, kemungkinan merupakan peristiwa psikologis. Setelah diusut ternyata gejala pertama kali dialami ketika binatang kesayangannya meninggal. Binatang kesayangannya yang selama beberapa bulan terakhir telah sulit untuk makan dan berjalan (karena terlalu tua), wanita ini selalu menyuapinya sebagai wujud sayang. Oh ya wanita ini juga sangat rajin beribadah dan aktif dalam kegiatan keagamaan, seminggu minimal 3 kali!

Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang ini? Mereka berdua memiliki kesamaan ‘takut akan kematian’. Wanita pertama takut mati sehingga ia berusaha segiat mungkin untuk tidak sakit, setiap ada gejala sedikit langsung berobat ke dokter, dan mimpinya menjadi alat untuk ‘menghibur’ keinginannya untuk tetap hidup. Wanita kedua setelah merawat binatang peliharaannya yang sudah tua mulai membayangkan dirinya saat dia sudah tua nanti, tidak bisa jalan, hanya bisa makan makanan halus, dan siapakah yang akan merawatnya. Ia takut, panik dan tidak bisa bernafas.

Saya tidak tahu, apa agama telah gagal menyokong seseorang untuk menghadapi kematian, atau hanya kebetulan saja dalam kasus kedua wanita itu.

Buddha menjelaskan kita akar dari penderitaan manusia. Begitu juga mitos klasik dari Yunani. Mungkin beberapa dari kita familiar dengan cerita Kronos yang memakan anak-anaknya. Berikut ceritanya:

“Kronos mengambil tahta tertinggi dewa-dewa ketika membunuh ayahnya sendiri (Uranus), ketakutan akan hal yang sama terjadi pada dirinya (dibunuh oleh anaknya sendiri untuk merebut tahta) maka ia memakan anak-anaknya ketika mereka lahir. Sampai pada suatu hari ketika Rhea, istrinya, melahirkan Zeus ditengah malam, Rhea langsung menitipkan Zeus kepada ibunya (Gaia) kemudian membiarkan Kronos memakan batu sebagai gantinya. Akhirnya Kronos memuntahkan kelima anaknya.”

Mitologi ini mengingatkan kita bahwa kematian merupakan sumber dari penderitaan. Bagaimana tidak? Karena takut mati, Kronos jadi parno ga jelas, hidup dalam perasaan was-was setiap harinya. Kronos disebut juga ‘waktu’ (seperti Shiva dalam mitologi Hindu). Bagaimanapun juga waktu akan ‘memakan’ semua orang, sampai akhirnya ‘batu kebijaksanaan’ tertelan sehingga manusia bisa kembali ‘hidup’. Batu kebijaksanaan merupakan apa yang diyakini sebagai kebijaksanaan yang diperlukan seseorang manusia untuk memahami eksistensinya, yang berarti ada hidup begitu juga ada mati.

“Are you frightened of death? Then death will swallow you. Are you not, then you will gain the true meaning of life.”

(Lora)

6 Comments »

  • ong lai ki said:

    habis mati ada kehidupan ngga ya? kalo ternyata setelah mati ngga ada apa-apa gimana dong? ada caranya ngga ya biar kita bisa hidup abadi?

  • ramadion said:

    @ ong lai ki: saat ini, penelitian tentang kehidupan setelah kematian sedang diselidiki. katanya dalam 3-4 tahun lagi, kita akan tahu jawabannya :D

    kalau ternyata ga ada apa2? Mark Twain pernah bilang, berjuta tahun sebelum saya dilahirkan, saya tidak ada. berjuta tahun setelah saya mati, saya tak ada. jadi, kematian sebenarnya hanyalah proses kita kembali dari tidak ada menjadi tidak ada.

    jadi, nikmati saja masa yang dimiliki di dunia ini :D

  • ong lai ki said:

    @:ramadion

    iiiih… kok sereem ya… jadi hidup kita cuma sekali dong kalo ternyata ngga ada apa-apa? penelitian mengenai kehidupan setelah mati gmn ya caranya? kak dion bisa kasih sedikit penjelasan ngga?

    Kalo semua orang tau ternyata hidup ini cuma sekali dan ngga ada kehidupan setelah mati… gimana ya kira-kira jadinya masyarakat di dunia ini? kak dion bisa bantu aku berimajinasi ngga?

  • ramadion said:

    @ ong lai ki: sampai saat ini, perdebatan tentang ada atau tidaknya kehidupan setelah kematian masih berdasarkan bukti-bukti tak langsung. akademisi yang percaya bahwa jiwa itu tidak ada, bahwa “jiwa” adalah bentukan dari otak yakin bahwa setelah otak mati, manusia benar-benar lenyap dari dunia ini. mereka juga berkata bahwa konsep kehidupan setelah kematian hanyalah buatan manusia agar mereka tenang saat meninggal.

    sedangkan kalangan yang mengimani kehidupan setelah kematian biasanya berpegang pada fenomena “near death experience”, yaitu fenomena orang yang sempat meninggal kemudian berhasil dihidupkan lagi dengan kejutan listrik. di waktu saat mereka dinyatakan “mati”, berapa orang-orang ini mengatakan bahwa mereka melihat diri mereka dari luar tubuh. jadi, mereka melihat diri mereka mengambang dari atas meja operasi, dan melihat tubuhnya sedang diselamatkan oleh dokter.

    nah, peneliti di inggris saat ini mencoba membuktikan “near death experience”. mereka meletakkan gambar di langit-langit ruang operasi, yang tak mungkin terlihat, kecuali orang itu berada di dekat langit2 (menggunakan tangga, atau… melayang saat jiwanya lepas dari tubuh). mereka menunggu pasien2 yang mengalami near death experience, lalu menanyakan, apakah mereka melihat gambar itu (diminta mendeskripsikan). kalau benar jiwa “lepas” dari tubuh, maka harusnya ada pasien yang melihat gambar ini.

  • ramadion said:

    Kalo semua orang tau ternyata hidup ini cuma sekali dan ngga ada kehidupan setelah mati…

    kayaknya akan sama saja. karena, orang yang ga pengen menyia-nyiakan hidupnya pasti jadi orang baik. dan orang yang pengen maksimal dengan hidupnya yang cuma sekali, bisa jadi orang jahat.

    sama saja, kan? cuma, kalau sekarang banyak orang baik karena pengen kehidupan setelah matinya baik. dan banyak orang jahat yang tidak mengindahkan kehidupan setelah kematian. ini masalah moral orangnya masing2, sih.

  • yudhian said:

    ….usul donk..coba cari refernsi tentang konsep kehidupan dan kematian dari Syekh Siti Jenar

    Pasti menarik deh…

    :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word