Home » Essay, Featured, Headline, Lain-lain, Psikologi Umum & Eksperimen

Taksonomi Pengalaman Spiritual

5 September 2010 1,665 views No Comment

Aslina Berbagi Pengalaman Spiritual

Saya lupa kapan pastinya, tapi acara Kick Andy di MetroTV pernah menayangkan tentang mati suri. Seorang perempuan bernama Aslina mengaku pernah mengalami perjalanan spiritual melalui mati suri yang pernah dilewatinya pada tahun 2006. Penyakit hipertiroid membuatnya tidak bernyawa selama satu jam lalu diiringi koma selama dua hari. Setelah ia sadar betul dari komanya, ia bilang ke pamannya, “Ternyata mati itu sakit.”

Aslina menceritakan pengalaman spiritual yang dialami: saat diambil nyawa, ia merasa dadanya sesak seperti ditusuk pedang, kulitnya tercerabut seperti dikuliti hidup-hidup, rasanya sakit sekali. Ruhnya sempat melihat jasadnya sebelum dibawa oleh dua sosok yang ia percaya sebagai malaikat. Kedua sosok itu seperti laki-laki dengan wajah yang sama, berpakaian sorban dan ikhramnya. Kedua malaikat itu bertanyata siapa Tuhannya, pemimpinnya, orang tuanya, dan saudaranya.

Ia dibawa ke suatu tempat, didudukannya ke sebuah kursi yang empuk. Di sebelahnya ada perempuan yang mengaku sebagai amal perbuatan baik Aslina saat di dunia. Selain itu ia melihat banyak perempuan berjilbab yang menyalaminya, laki-laki berlumuran darah dan nanah sambil memikul besi yang berat, dan lainnya. Melihat pemandangan itu, ia banyak berdoa dan berdzikir. Lalu ia merasakan jantungnya berdetak lagi dan akhirnya ia sadar.

Selain Aslina, ada beberapa orang yang mengemukakan pengalaman spiritualnya melalui mati suri. Selain mati suri, mungkin ada beberapa orang dari Anda yang pernah mendengar atau bahkan mengalami pengalaman spiritual lainnya seperti kedatangan arwah yang sudah meninggal dan lainnya. Tapi bagaimanakah organisasi konsep atau taksonomi dari pengalaman spiritual  itu sendiri? Artikel ini mencoba menjawabnya berdasarkan kasus Aslina di atas.

Untuk membahas taksonomi spiritual, saya menggunakan hasil penelitian kualitatif terhadap 483 orang Amerika yang dilakukan oleh Wardell dan Engebretson (2006)  dalam Journal of Religion and Health. Saya akan menjelaskan dengan teori yang berkaitan dengan kasus di atas.

Taksonomi dari pengalaman spiritual memiliki 3 aspek:

Aspek pertama, situasi/keadaan yaitu konteks dimana terjadinya pengalaman spiritual yang penting dan perlu untuk dimengerti serta diinterpretasi.

Dalam kasus Aslina, ia mengalami situasi internal dimana ia mengalami near death experience dengan emosi yang sangat kuat yaitu takut. Saat Aslina pertama kali baru tersadar dari komanya, ia berkata kepada pamannya, “Pulang, Pak, Iin takut.”

Ini adalah pengalaman spiritual pertama kali dan satu-satunya (singular) yang dimiliki Aslina. Oleh karena itu tidak heran ia bisa begitu mengingat setiap detail, ucapan, dan sosok yang ia temui pada saat melakukan perjalanan spiritual. Karena dalam konteks temporal yaitu timing, frekuensi, dan interval berpengaruh pada pendokumentasian. Semakin sering pengalaman itu terjadi (repetitive), maka terlalu banyak untuk didokumentasikan sehingga menjadi tidak detail.

Aspek kedua, manifestasi adalah apa yang terjadi selama pengalaman spiritual berlangsung yang memberikan inti deskriptif dan aktual. Dalam manifetasi, terdapat modus kesadaran yaitu bagaimana pengalaman spiritual (how it manifested) dimanifestasikan dan fenomena apa yang dimanifestasikan (what is manifested).

Kesadaran menjadi dasar untuk mengetahui. Dalam kasus Aslina, terdapat kesadaran yang didapat melalui tubuh (embodiment) misalnya ia melihat kejadian-kejadian yang ada, ia mendengar kata-kata, bahkan bisa mencium bau anyir darah dan nanah. Bahkan ia menggunakan kombinasi ketiganya.

Selama perjalanannya, ia sadar betul ia sedang berada di dalam sebuah perjalanan spiritual (lucidity) dan Aslina merasa apa yang dilihatnya adalah hal yang nyata (absolute knowing). Jika ia merasa ini sebuah halusinasi, mungkin ia tidak akan menjadi lebih religius setelah mengalami perjalanan spiritualnya. Saat mengalami perjalanannya, jelas Aslina sadar bahwa dia dalam kondisi berada di luar dirinya (trance). Keadaan ini yang disebut dengan ecstatic.

Fenomena adalah kejadian yang muncul sebagai objek dari kesadaran manusia. Fenomena termasuk kejadian yang bisa diobservasi dan dirasakan. Segala sensasi ketika dicabut nyawa dan segala sensasi ketika ia berada di akhirat adalah sebuah fenomena yang dialami Aslina walaupun bersifat subjektif. Termasuk ketika ia merasakan adanya kontak fisik saat kedua malaikat menggandeng tangannya

Aspek ketiga, interpretasi adalah proses dimana mencari makna yang ada atau untuk membuat pengalaman spiritual menjadi hal yang masuk akal.

Setelah mati suri, tentunya membawa makna pribadi terhadap Aslina. Insight yang ia dapat adalah adanya perspektif baru dalam menghadapi kehidupan. Di awal video, Aslina berkata, “Hidayah yang paling besar dalam hidup saya.” Semula ia tidak memakai kerudung, kini ia memakai kerudung, banyak melakukan ibadah, berdoa, berdzikir, dan lainnya. Ada sebuah istilah yang tepat untuk menggambarkan hal ini yaitu resonansi sebagai derajat kesamaan antara pengalaman spiritual dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang ada di masyarakat (dalam hal ini termasuk orientasi terhadap agama—sebagai pedoman yang ia percaya) menjadi lebih kuat. Di akhirat, ia melihat seorang laki-laki yang penisnya dipakaikan timah panas karena melakuan seks bebas, atau dua orang laki-laki yang saling bunuh karena di dunianya ia membunuh seseorang lalu tidak mau tanggung jawab. Ini sama dengan nilai-nilai di masyarakat bahwa memang tidak dibolehkan berhubungan seksual dengan orang yang belum menikah dan membunuh orang lain.

Menurut saya, orang-orang yang pernah mengalami pengalaman spiritual adalah orang-orang yang beruntung karena khazanah mereka diperluas kepada hal-hal yang tidak dialami semua orang dan memperkaya pengalaman subjektif. Tentunya untuk mendapatkan pengalaman spiritual, tidak perlu mati suri terlebih dahulu. Bahkan ada beberapa orang yang dengan sengaja pergi ke tempat-tempat yang dekat dengan alam atau tempat yang penuh simbol ritual atau keagamaan untuk mencari pengalaman seperti ini. Tapi jika Anda tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan cara itu, kondisi internal seperti berkontemplasi (memusatkan pikiran dalam keadaan hening dan tenang, misalnya berdoa atau meditasi) bisa mengantarkan Anda kepada pengalaman spiritual tersendiri. (Nia Janiar)

Sumber:

http://www.youtube.com/watch?v=MDiibvwehls

http://www.youtube.com/watch?v=jumqntNgG4k&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=JWlVCfOJPMo&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=vACWbvqjZjg&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=Z1lhV8leWkI&feature=related

Wardell, Diane Wind. Engebretson, Joan C. 2006. Journal of Religion and Health, Vol. 45, No. 2 (Summer, 2006), pp. 215-233. Springer.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word