Mengenal Remaja dan seksualitas

Seksualitas Remaja

Kehamilan tak diinginkan atau KTD di Pulau Dewata mencapai 500 kasus selama September 2008 hingga September 2009, atau rata-rata 41 kasus dalam satu bulan. Demikian diungkap Kita Sayang Remaja (Kisara) Bali.

“Kasus akibat perilaku seks bebas pada kalangan remaja ini paling banyak terdapat di Kabupaten Badung dan Denpasar,” kata Koordinator Kisara Bali dr I Nyoman Sutarsa, SKed, di sela-sela Deklarasi Remaja Bali di Lapangan Puputan Badung, Bali, Sabtu (12/9) malam. (www.kompas.com)

Tulisan diatas merupakan contoh kecil tentang kehidupan remaja yang ada disekitar kita, khususnya di Bali. Tidak hanya itu, saya juga menemukan contoh dari daerah lain seperti yang dikutip oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia atau PKBI. Pada tahun 2001, PKBI melakukan penelitian di lima kota (Kupang, Palembang, Singkawang, Cirebon, dan Tasikmalaya) dan hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 16,46 % dari remaja berumur 15 sampai 24 tahun mengaku telah melakukan hubungan seksual. Perilaku seksual seperti yang diungkap diatas memang tidak hanya dilakukan oleh remaja. Namun demikian, sepertinya berita tentang perilaku seksual remaja seolah tidak pernah habis dimuat diberbagai media.

Sebelum membahas lebih dalam, saya akan terlebih dahulu menjelakan bahwa remaja yang akan saya bahas adalah individu yang memiliki rentang usia dari 11 hingga 24 tahun. Sedangkan mengenai perilaku seksual, memiliki definisi atau arti sebagai aktivitas fisik yang dilakukan sebagai ekspresi dari afeksi atau hasrat seksual yang dilakukan dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenisnya (Ariyanto, 2008). Jenis-jenis perilaku seksual pun memiliki rentang mulai dari pegangan tangan sampai dengan sexual intercourse atau penetrasi penis kedalam vagina. Berkaitan dengan perilaku seksual remaja, Sarwono (2006) menjelaskan bahwa perilaku seksual tersebut terjadi karena beberapa alasan.

Perubahan hormon yang berpengaruh pada seksualitas. Seiring dengan bertumbuhnya individu, berbagai perubahan terjadi. Tumbuhnya payudara, bertambahnya massa otot, tumbuhnya jakun merupakan hal yang tampak. Selain perubahan tersebut, kadar hormon testosterone yang berperan aktif dalam seksualitas juga berperan signifikan sehingga muncul hasrat seksual yang butuh disalurkan. Pada usia ini, tidak semua remaja mampu mengontrol hasrat seksual yang dimilikinya. Ada yang menyalurkan dengan bermasturbasi ada pula yang menyalurkan dengan pasangan atau bahkan dengan pelacur. Mengenai persentasenya, data PKBI yang telah dijabarkan diatas juga menjelaskan bahwa dari remaja tersebut, 74,89 % melakukan hubungan seksual pertama kali dengan pacarnya dan sisanya melakukan hubungan seksual dengan pelacur, teman dan bahkan ada yang mengaku melakukannya dengan saudara.

Penundaan usia perkawinan. Untuk bisa menyalurkan hasrat seksual yang dimiliki, dibutuhkan lembaga pernikahan yang sah. Meskipun demikian, pernikahan bukan sesuatu yang mudah dilaksanakan, dibutuhkan berbagai persiapan baik secara fisik, mental, dan materi. Kesadaran akan ‘tingginya persyaratan’ menikah tersebut membuat usia untuk menikah semakin bertambah, khususnya dikota besar. Mereka lebih memilih untuk terlebih dahulu mengumpulkan materi sehingga keluarga bisa hidup layak. Meskipun demikian, remaja dibeberapa daerah diIndonesia masih banyak yang menikah muda dengan berbagai alasan, alasan yang paling sering muncul adalah untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi (dosa, takut hamil diluar nikah).

Adanya norma agama. Pada beberapa individu, adanya larangan utuk melakukan sesuatu malah menyebabkan timbulnya rasa ingin tahu atas hal tersebut, tidak terkecuali untuk seksualitas. Larangan untuk melakukan aktivitas seksual dapat menyebabkan remaja mencari sendiri mengenai seksualitas. Tidak jarang untuk memuaskan keingintahuan tersebut remaja melakukan aktivitas seksual yang dilarang agama.

Tingginya dorongan media yang menyebabkan munculnya rasa ingin tahu. Dengan semakin mudahnya akses informasi, khususnya internet yang dapat menyediakan stimulus atau rangsangan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hasrat seksual, maka hasrat seksual yang telah ada semakin ‘diasah’ oleh pornografi yang dapat dengan mudah ditemui diinternet. Ilma (dalam Handayani, 2008) menemukan bahwa Indonesia merupakan menempati posisi ketujuh untuk negara dengan pencarian kata kunci ’sex’ terbanyak di dunia. Setiap detiknya 28.258 pengguna internet di dunia mengakses konten pornografi, dengan 80% user-nya berasal dari Indonesia.Tidak hanya internet, hal-hal yang dapat memicu libido atau hasrat seksual juga dapat dengan mudah ditemui dikios koran disekitar kita.

Sosialisasi seksualitas yang tidak sempurna melalui orang tua. Dalam perbincangan sehari-hari pun, topik seksualitas bukanlah topik yang umum dibicarakan, tidak terkecuali dalam perbincangan antara orang tua dan anak. Padahal menurut Sarwono (2006) komunikasi orang tua dan anak dapat menentukan seberapa besar kemungkinan anak tersebut melakukan tindakan seksual, semakin rendah komunikasi tersebut, maka akan semakin besar anak tersebut melakukan tindakan seksual. Rice (1999) menjelaskan bahwa pada usia remaja, kebutuhan emosional individu beralih dari orang tua kepada teman sebaya. Pada masa ini, teman sebaya juga merupakan sumber informasi. Tidak terkecuali dalam perilaku seksual, sayangnya informasi yang diberikan oleh teman sebaya cenderung salah (Sarwono, 2006).

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa teman sebaya memainkan peran yang signifikan dalam kehidupan remaja, tidak terkecuali dalam hal seksualitas. Newcomb, Huba, and Hubler (1986) mengatakan bahwa perilaku seksual juga dipengaruhi secara positif orang teman sebaya yang juga aktif secara seksual. Jika seorang remaja memiliki teman yang aktif secara seksual maka akan semakin besar pula kemungkinan remaja tersebut untuk juga aktif secara seksual mengingat bahwa pada usia tersebut remaja ingin diterima oleh lingkungannya.

Mengingat semakin tingginya perilaku seksual yang dilakukan remaja akhir-akhir ini, diharapkan faktor-faktor yang telah disebutkan diatas mampu membuat kita melakukan beberapa tindakan preventif sehingga akibat-akibat buruk dari perilaku seksual dapat ditekan. Adapun tindakan-tindakan preventif tersebut dapat berupa diskusi seksualitas yang dimulai dari keluarga hingga seminar sekolah sehingga remaja menjadi lebih siap menghadapi tahap perkembangannya.

Sumber yang dipakai:
Ariyanto, N. (2008). Hubungan citra tubuh dengan perilaku seksual dalam berpacaran pada remaja putri. Depok: F. Psi UI.

Astaga…Sebulan, 41 Kasus Hamil di Luar Nikah di Bali. Diambil secara online dari http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/12/21132077/astaga…sebulan.41.kasus.hamil.di.luar.nikah.di.bali tanggal 14 September 2009.

Handayani, A.T. (2008). Hubungan antara sikap terhadap hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual dengan religiusitas pada dewasa muda muslim. Depok: F Psi UI.

Newcomb, M.D., Huba, G.J., & Bentler, P.M. (1986). Determinants of Sexual and Dating Behavior Among Adolescent. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 50, No. 2,428-438. January 18, 2008. ABI/INFORM Global (APA) database.

Sarwono, S.W. (2006). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Gambar oleh Aditya Mahendra, mahasiswa yang sedang melanjutkan studi di program magister profesi UI yang juga aktif mendalami fotografi.

Jono

Merupakan alumni dari fakultas Psikologi UI angkatan 2004. Menulis merupakan salah satu cara yang digunakan untuk terus belajar dan mengulang kembali ilmu yang diperoleh. Tidak jauh berbeda dengan penulis lainnya di ruangpsikologi.com, ia menulis tentang apa yang terjadi di sekitar dan melihatnya dari sudut pandang psikologi. Untuk menghubunginya melalui email: jono@ruangpsikologi.com

    19 Comments
    • ramadion
      Reply October 13, 2009

      ramadion

      jadi, masalah seks harusnya dibuka ke remaja, ya? bukannya malah ditutup-tutupi. karena, rasa ingin tahu ternyata kadang-kadang berbahaya.

    • Reply October 13, 2009

      JoNo

      nggak juga
      itu kembali kemasing2 orang
      masing2 remaja dan masing2 ‘yang membuka’

      gimana caranya info itu dikasih tau tapi memberi tahu secara tepat
      gw pernah baca tulisan tentang itu, nnti klo udah ketemu gw kasih tau

    • Reply October 13, 2009

      july

      waktu ke Bali, saya sempat mengetahui ada suatu kebudayaan disana , dimana para muda mudinya pacaran sampai ke tahap wanita nya hamil. namun hal itu malah dipandang bagus, karena menunjukkan si wanita subur ( tidak fertile). setelah itu mereka menikah deh, nah kalo wanitanya tidak kunjung hamil maka si pria akan mencari wanita yang lain..

    • Reply October 13, 2009

      JoNo

      wah seru abis
      pindah ke Bali apa saya ya? hahahahaa

      wah saya belom tau soal budaya itu
      tapi aneh juga, kalo memang itu budaya sana
      kenapa tulisan, kutipan dari sumber berkesan ‘menolak’ budaya tersebut ya?

      antara budaya itu hanya ada dikalangan tertentu
      atau kutipan kurang paham budaya tersebut?

      yah either way terimakasih ya informasinya

    • Reply October 13, 2009

      ardhanie

      masing-masing sich sebenarnya dari manusianya sendiri, yang jelas semua agama melarang melakukan hubungan badan tanpa ada suatu ikatan resmi yang telah diatur dalam agama. Kalo mereka melakukan hubungan badan diluar ketentuan agama yang dianut dan mengatas namakan atas dasar cinta itu sama “OON” atau “OOT” dengan kebo,cobalah ingat TUHAN!! Berpacaran yang sehat sesuai norma sajalah.

    • ramadion
      Reply October 14, 2009

      ramadion

      di amerika serikat, norma pacarannya: second date >> first kiss
      third date >> bisa blow job, atau bahkan having sex..

    • Reply October 14, 2009

      bagaskece

      wah..yakin tuh yon itu adalah norma di sana?
      setau gw, di sana malah lg giat2nya gerakan menjaga keperawanan hingga menikah
      gw pernah baca (entah di mana gw lupa) kl rata2 usia remaja ketika having sex pertama kali makin taun makin naik (kebalikan dr di sini, dan dunia timur pd umumnya)
      remaja2 di sana dah mulai sadar pentingnya menjaga keperawanan mereka
      at least, itu lah yg gw baca dr artikel itu

    • Reply October 15, 2009

      JoNo

      wahaha, gw baca dua-duanya tuh (Dion dan Bagas)
      tapi seinget gw, gak seekstrem itu juga sih Yon
      secara overall bisa having sex itu setelah minimal 5 kali ngedate
      *itu kalo dirata2 ya

      kalo buat bagas, itu emang ada Gas
      tapi gak di seluruh Amerika
      lebih giat2nya diadakan di Virginia
      mereka sampe ada istilah: “Wait for the ring”
      istilah yang menunjukkan seperti yang loe bilang
      menjaga keperawanan sampe menikah
      nah cincin itu klo gak salah disebut Abstinence ring

    • Reply October 15, 2009

      ramadion

      data dari Jono menjadi ralat pernyataan gue :D

      tapi artinya, normanya masih premarital seks. moral dari data ini adalah, jangan tinggal dalam cangkang, tapi jangan buang cangkangnya… karena mungkin kita membutuhkannya sebagai perlindungan :D

    • Reply October 15, 2009

      JoNo

      widiih puitis banget!!!!!
      tapi asli gw gak ngerti maksudnya apaan
      hahahahahhaha

    • Reply October 17, 2009

      dhea sekararum

      menanggapi tentang abstinence ring

      setau gue itu memang dijadikan semacam gerakan kampanye gitu di seluruh amerika sana, dan sudah meluas, jadi nggak sekedar di virginia dan biasanya duta-nya adalah artis-artis muda yang sedang naik daun, misalnya seperti Selena Gomez, Hillary Duff, dan sebagainya.

      Sebagai tambahan, entah melenceng dari tujuan semula atau nggak, abstinence ring atau purity ring ini malah menjadi semacam trend dan fashion item paling hip bagi remaja-remaja perempuan disana.

      So, that being virgin is the new trend. gitu gampangnya. gue sendiri kurang paham apakah pesan yang coba disampaikan dengan cincin ini betul2 tersampaikan, atau remaja2 disana mengikuti ‘trend’ ini hanya karena ingin menjadi keren seperti teman2 yang sebelumnya sudah memakai cincin ini dan menyatakan akan menjaga keperawanan mereka.

      Apa di Indonesia harus dibuat bahwa ‘to stay virgin is cool’ dulu baru kita bisa melakukan kampanye tindakan preventif dari akibat-akibat buruk dari perilaku seksual remaja?

      (kebanyakan baca GoGirl haha)

      – D! -

    • Jono
      Reply October 18, 2009

      Jono

      gw rasa segala macam kampanye perlu dilakukan sih
      gak hanya untuk mencegah, tapi juga mengurangi dampak buruk yang sudah ada

    • Reply October 22, 2009

      galang rambu anarki

      Wahai yang sudah tidak perawan, kalau anda punya uang sekarang sudah bisa dibeli selaput dara buatan yang bisa dipasang di dalam vagina dan bisa berdarah seperti halnya selaput dara betulan.

      Sudah saatnya wanita bangkit dari prasangka “keperawanan” yang digunakan spesies laki-laki dalam rangka memperbudak wanita dari awal zaman. Perbudakan wanita oleh laki-laki adalah salah satu perbudakan yang paling tua dalam sejarah homo sapiens.

    • Reply October 22, 2009

      Rangga

      saya masih belum mengerti dari tulisan di atas tentang buruknya seks di luar nikah..mohon dijelaskan lebih lanjut hehe

    • Reply October 23, 2009

      JoNo

      hahaha, untuk yang belun tau tentang hymen buatan cina tersebut
      silahkan search di google dengan tag ‘hymen buatan’
      maka anda akan menemukan banyak sekali arsip berita

      tapi saat produk tersebut muncul negara Saudi Arabia sudah melarang
      benda tersebut masuk negaranya
      karena menurut mereka itu akan dapat ‘menipu’ suami
      sehingga wanita tetap harus menjaga keperawanan mereka

      melihat hal tersbut saya tadinya berpikir negara kita akan melakukan hal yang sama
      tapi sampai sekarang belom ada tuh, atau saya belom dengar, berita pelarangan hymen buatan masuk ke Indonesia
      antara memang tidak sampai beritanya atau memang sengaja tidak diberitakan sehingga tidak banyak orang yang ingin tau soal barng tersebut

      kalo soal buruknya seks diluar nikah, ada beberapa hal sederhana yang pasti sedikit banyak pernah anda pikirkan:
      1. Seperti narkoba, seks bebas itu dapat membuat anda ‘ketagihan’, yah sukur kalo ada ‘pasangan’, klo gak ada mau bayar PSK kan keluar uang, sukur lagi kalo punya uang, kalo gak punya?
      2. Yang pasti sih itu membatasi pilihan loe akan pasangan, klo buat cewe itu akan membuat itu cewe ‘bergantung’ sama pasangannya. Kalo buat cowo jadi nya pengen samaa cewe ituuuuu aja karena ‘udah dapet’ tapi sebenernya masih banyak cewe diluar sana yang mungkin lebih cocok dengannya, tapi karena terlanjur melakukan seks, pilihan baik cowo dan cewe jadi lebih ‘terbatas’.
      3. Yah kalo soal dosa itu semua orang tau lah ya, hehe

    • Reply August 2, 2011

      Irja Nasrulloh

      Seks bagi remaja memang menggoda, tapi nikmatnya sesaat coz biasanya setelah masturbasi/onani akan menyesal, atau kalaupun sama pelacur nantinya akan mengurangi tingkat kepercayaan diri ketika sama istri/suami. bagi yg percaya agama,akan selalu dibebani rasa bersalah dll. Ya begitulah seks, menggebu2 awalnya, beberapa detik nikmatnya, jika dilampiaskan bukan pd tempatnya (pelacur, teman cewek, dll) akan menjadi segunung masalahnya, Pandai2lah memanage seks heheh ^_^

    • Reply July 31, 2012

      My Homepage

      … [Trackback] …

      […] Informations on that Topic: ruangpsikologi.com/remaja-dan-seksualitas […] …

    • Reply August 7, 2012

      opérateur mobile

      … [Trackback] …

      […] Read More Infos here: ruangpsikologi.com/remaja-dan-seksualitas […] …

    • Reply August 7, 2012

      Nylon Feet

      … [Trackback] …

      […] Read More here: ruangpsikologi.com/remaja-dan-seksualitas […] …

    Leave a Reply