Gaya Kepemimpinan Jokowi dan Ahok

Jokowi-Ahok-optimized

Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dilantik sebagai Gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakarta dengan segudang harapan warga ibukota Indonesia dibebankan ke pundak mereka: Jakarta yang bebas banjir, bebas macet, memiliki pelayanan publik publik yang lebih baik, serta bebas korupsi. Kita semua berharap, bahwa di bawah kepimimpinan Jokowi dan Ahok, Pemda Jakarta serta instansi terkait dapat bertransformasi menjadi organisasi yang memberikan pelayanan terbaik bagi penduduk Jakarta. Tapi, apakah Jokowi dan Ahok merupakan pemimpin yang memiliki modal besar untuk menjalankan tugas besar tersebut? Dari sisi psikologi, kita bisa mencoba menjawab hal ini dengan membedah gaya kepemimpinan yang kita punya, dan memproyeksikannya dengan apakah “modal” ini cukup untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Dari teori yang ada, dikatakan bahwa kepemimipinan seorang Leader, di manapun itu, akan memberikan 30% pengaruh kepada kinerja organisasi tersebut. Namun, pengaruh baik atau buruk bagi organisasi bergantung pada gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh sang pemimpin. Riset terkemuka mengenai pengaruh pemimpin dan gaya kepemimpinannya dipaparkan secara jelas oleh Daniel Goleman, seorang peneliti dan Psikolog dari Harvard University. Ia mengemukakan bahwa secara garis besar, gaya kepemimpinan seseorang ada 6, yaitu:

1. Pacesetting Leader
Pemimpin dengan gaya pacesetting biasanya menerapkan standar yang tinggi kepada seluruh anak buahnya dan cenderung “memaksa” anak buah untuk mengikuti standar yang dimiliki. Secara umum, pemimpin menggunakan gaya tersebut di saat ia membutuhkan hasil yang baik dan cepat untuk membuktikan kepada pemakai jasanya bahwa ia dan organisasinya mampu memberikan yang terbaik. Gaya kepemimpinan ini sangat cocok apabila seorang pemimpin memiliki anak buah yang memiliki skill dan motivasi tinggi. Apabila disederhanakan dengan 1 kalimat, maka dapat digambarkan dengan kalimat berikut. “Lakukan sesuai yang saya minta, sekarang juga.”

2. Authoritative Leader

Untuk tipe yang kedua, kata-kata “Ayo ikut dengan saya” dapat menggambarkan gaya kepemimpinannya. Seorang pemimpin Authoritative akan mengemukakan secara lengkap visi dan misinya serta menyerahkan implementasinya kepada anak buahnya, di mana nantinya pemimpin tinggal mengevaluasi kinerja tim. Pemimpin seperti ini mempunyai pengaruh positif berupa timbulnya semangat bekerja dan terasahnya kreativitas. Kepemimpinan tipe ini sangat cocok bagi sebuah kelompok yang hidup di era perubahan, di mana visi yang baru dibutuhkan untuk maju.

3. Affiliative leader 

Gaya affiliative ini sangat berguna di saat anggota tim telah banyak dikecewakan oleh situasi dan mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan di dalam organisasi. Pemimpin cenderung turun dan mendengarkan aspirasi dari anggota serta menggunakan empati dalam berkomunikasi dengan anggotanya. Gaya affiliative cenderung menyenangkan bagi anak buah, namun dapat memiliki efek bumerang, yaitu sulit menekan anak buah untuk memunculkan produktivitas yang tinggi.

4. Coaching Leader

Sesuai dengan namanya, pemimpin dengan gaya seperti ini lebih banyak fokus pada pengembangan skill dari anggotanya. Ia mencocokkan peluang untuk mengembangkan anak buahnya dengan kewajiban yang harus diberikan oleh organisasinya. Misalnya, pada saat sebuah organisasi membutuhkan inovasi, ia akan memberikan kesempatan kepada beberapa anggota timnya untuk bereksperimen dan menjadi “pelatih” yang selalu memotivasi mereka dalam mendorong keberhasilan inovasi yang akan berguna bagi organisasi. Gaya seperti ini sangat baik dalam mengembangkan kemampuan anggota, namun tidak semua organisasi memiliki kemewahan dari segi waktu untuk memberikan waktu bagi anggotanya untuk “trial-error” atau coba-coba.

5. Coercive Leader

Kata-kata yang dapat menggambarkan seorang pemimpin dengan gaya coercive adalah “Lakukan apa yang diperintahkan”, tanpa memberikan ruang bagi anak buah untuk berimprovisasi. Mungkin beberapa pandangan mengatakan bahwa gaya kepemimpinan ini tidak ideal karena cenderung kasar dan tidak memberikan kebebasan kepada anak buah, namun gaya ini paling efektif di saat sebuah organisasi di ambang kebangkrutan atau di dalam situasi panik. Misalnya, situasi dimana anda dan tim sedang terjebak di dalam sebuah gedung yang terbakar, sebagai pemimpin tim, anda tidak mungkin membiarkan anak buah anda mengutarakan keinginannya masing-masing dan kemudian baru mengajaknya untuk mengikuti anda, melainkan, dengan gaya paksaan anda pun menentukan apa yang dilakukan dan rute yang harus dilewati untuk menyelamatkan diri.

6. Democratic Leader

Seperti namanya, seorang pemimpin bergaya demokratis cenderung menanyakan aspirasi dari masing-masing anggotanya. Apabila ada usulan yang sesuai dengan arahan organisasi, maka si pemimpin akan mengakomodir dan menyetujui usulan tersebut. Hal ini sangat berguna apabila dalam organisasi dibutuhkan ide-ide baru untuk meningkatkan kinerja.

Seorang pemimpin dapat mengadopsi lebih dari satu gaya kepemimpinan di atas dalam satu waktu. Misalnya, seorang pemimpin dapat bergaya demokratis sambil memberikan sedikit gaya afiliatif untuk lebih menimbulkan rasa kebersamaan di antara anggota tim. Kira-kira menurut teman-teman seperti apakah gaya kepemimpinan Jokowi dan Ahok?

Beberapa fakta yang terlihat dari Jokowi adalah mereka tidak suka memarahi Voorijder, turun langsung untuk melakukan inspeksi mendadak ke kantor-kantor kelurahan, serta berkeliling di kampung-kampung untuk melihat situasi kota. Suatu hal yang amat sangat jarang dilakukan oleh Gubernur sebelumnya, gaya yang dapat digolongkan sebagai Gaya Afiliatif dan Demokratis. Sedangkan dari beberapa tayangan di media sosial, kita melihat Ahok lebih keras dan kerap kali meminta anak buahnya melakukan sesuai apa yang diperintahkan dapat digolongkan sebagai gaya Pacesetting dan Authoritative.

Menurut Daniel Goleman, tidak ada gaya kepemimpinan yang ideal untuk semua situasi. Terutama karena Jokowi dan Ahok memiliki audiens yang berbeda, oleh karena itu gaya kepemimpinan kedua orang tersebut berbeda. Jadi, apabila kita sering melihat bahwa sebagai Pemimpin, Jokowi tampil lebih afiliatif dan demokratis, serta Ahok tampil lebih keras dengan Gaya Pacesetting dan authoritative adalah karena kepemimpinan tersebutlah yang dirasakan bekerja lebih efektif dan efisien dalam membantu Pemerintah DKI Jakarta mengembangkan pelayanan dan memenuhi semua janjinya untuk mengatasi banjir dan macet.

Kesimpulannya, sebagai sebuah tim Jokowi-Ahok memperlihatkan kombinasi beberapa gaya kepemimpinan yang, walau pun terlihat saling bertolak belakang, sebenarnya berfungsi saling melengkapi dalam menghadapi permasalahan ibukota yang memiliki banyak dimensi dan harus dihadapi dengan cara yang berbeda-beda. Sehingga, Ruang Psikologi cukup yakin jika Jokowi-Ahok bisa secara konstan memperlihatkan kinerja seperti apa yang telah dijalankan selama ini, maka kepemimpinan mereka akan memberikan dampak positif yang cukup besar kepada kota Jakarta. Apakah anda setuju? Bagi pendapat anda di kolom komentar.

Sumber yang dipakai:

http://www.fastcompany.com/1838481/6-leadership-styles-and-when-you-should-use-them

http://danielgoleman.info/biography/

http://www.amazon.com/Daniel-Goleman/e/B000APZC9O

 

Khrisnaresa Aditya

Khrisnaresa yang biasa dipanggil Pane ini adalah seorang sarjana Psikologi lulusan Universitas Indonesia angkatan 2004. Dibekali dengan semangat dan juga studi singkat mengenai Print Media Writing & Creative Writing di Macquarie University, Sydney, Australia, ia bersama teman-teman membangun RuangPsikologi.com.

1 Comment
  • Reply April 22, 2013

    ady

    Kapan ya bisa punya pemimpin seperti Joko Ahok….

Leave a Reply