Home » Featured, Headline, Psikologi sosial

Selingkuh (yuuuk)

23 August 2009 1,637 views 22 Comments

2485828126_7295a0a0eaBeberapa waktu lalu, saya melihat status updates seorang teman di salah satu situs sosial yang saat ini sedang popular. Status updates teman saya tersebut bertuliskan:

“Dasar tukang selingkuh, smsan aja teruuus”

Di sisi lain, sekitar bulan Juni ini Anda tentu sedikit banyak mendengar berita selebritis Cici Paramida yang menemukan suaminya sedang berselingkuh dengan wanita lain di kawasan Puncak.

Dua berita yang tidak terkait satu dengan lainnya tersebut memiliki sebuah kesamaan, yaitu selingkuh (diluar dari benar atau tidaknya berita). Meskipun demikian, selingkuh yang dikatakan teman saya melalui situs sosial dan selingkuh yang (mungkin) dialami oleh selebritis tersebut memiliki bentuk yang tidak sama. Jika yang pertama dikatakan selingkuh melalui sms, yang kedua dikatakan selingkuh karena ketahuan sedang berduaan dengan wanita lain (sekali lagi, ini menurut berita berbagai sumber). Membuat saya berpikir kembali mengenai perselingkuhan itu sendiri, menurut situs KBBI dalam jaringan, definisi selingkuh adalah:

se·ling·kuh a 1 suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng;

Berdasarkan definisi tersebut maka sekedar sms maupun berduaan dengan wanita lain tanpa persetujuan dari pasangan dapat disamaratakan dengan selingkuh.

Ketika masih kuliah, saya mendapat sebuah materi yang membahas tentang perselingkuhan. Meskipun tidak lagi menemukan bahan materi tersebut, namun saya menemukan artikel yang isinya tidak jauh berbeda dengan materi kuliah dulu. Artikel tersebut menjelaskan berbagai macam jenis perselingkuhan. Menurut Formica (2009), selingkuh dapat dikategorikan ke dalam empat jenis, yang pertama adalah object affair atau selingkuh terhadap objek. Hal ini terjadi saat salah satu dari pasangan memprioritaskan sesuatu diluar hubungan tanpa persetujuan pasangan lainnya. Hal tersebut dapat berupa karir, hobi, ataupun aktivitas lain.

Jenis perselingkuhan yang kedua adalah physical affair atau selingkuh secara fisik. Jenis perselingkuhan ini minim keintiman seperti hubungan sebenarnya. Selain itu, biasanya jenis perselingkuhan ini lebih banyak dilakukan karena ingin memenuhi kebutuhan dan dorongan secara fisik untuk memenuhi hasrat.

Jenis perselingkuhan yang ketiga adalah emotional affair atau selingkuh emosional. Perselingkuhan jenis ini biasanya ditandai dengan hubungan romantis yang dilakukan secara kongkrit, meskipun demikian karena keterbatasan hubungan itu sendiri maka wujud dari romantisme yang ada dilakukan melalui sms, email, dan media lainnya. Penjelasan tambahan tentang perselingkuhan secara emosional ini dapat dilihat melalui beberapa ciri yang diberikan oleh Pawlik-Kienlen (2007):

· Berdiskusi tentang pasangan terhadap “pasangan selingkuh”. Berdiskusi tentang ketakutan, harapan, mimpi, dsb.

· Bertemu “pasangan selingkuh” tanpa memberi tahu pasangan

· Menjaga computer, handphone dari pasangan agar tidak ketahuan

· Merahasiakan kehidupan terhadap “pasangan selingkuh” agar tidak tertangkap sudah memiliki pasangan

· Tetap berhubungan dengan mantan kekasih, karena biasanya selingkuh emosional dilakukan terhadap orang yang pernah dekat seperti mantan kekasih.

Jenis perselingkuhan yang keempat adalah secondary relationship atau hubungan kedua. Dibandingkan jenis perselingkuhan lain, jenis perselingkuhan ini dapat dikatakan lebih lengkap karena memiliki aspek sosial, keintiman, dan seksual yang ada pada hubungan sebenarnya. Individu yang melakukan jenis perselingkuhan ini memiliki kegiatan, kebiasaan, ekspektasi yang dimiliki pasangan kekasih yang ‘sah’. Meskipun demikian, satu atau dua pihak mengetahui atau menyetujui bahwa hubungan yang dijalani tidak dapat atau tidak akan menggantikan hubungan yang ‘sah’. Melihat aspek yang ada di hubungan kedua ini, maka tidak menutup kemungkinan bahwa selingkuh terhadap objek, selingkuh secara fisik maupun emosional dapat berubah menjadi hubungan kedua.

Menariknya, Formica (2009) menambahkan bahwa hubungan kedua dapat menjadi motivasi untuk menghidupkan kembali hubungan yang ‘sah’. Menurutnya, jika kembali pada alasan untuk melakukan selingkuh adalah tidak terpenuhinya kebutuhan melalui pasangan yang ‘sah’ maka kita menemukan kebutuhan tersebut terpenuhi oleh pasangan selingkuh. Melalui proses perbandingan yang dilakukan terhadap hubungan yang sah dan hubungan selingkuh, dapat mengembalikan kita ke posisi untuk melihat apa yang kurang atau tidak dapat dilihat sebelumnya pada hubungan yang sah tersebut. Pada akhirnya hal tersebut akan membantu kita untuk menemukan apa yang sebenarnya kita butuhkan dari sebuah hubungan (Formica, 2009).

Seperti hal lainnya, selingkuh juga memiliki dua sisi, yaitu positif dan negatif. Meskipun demikian, pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan dan konsekuensi untuk Anda dan pasangan.

Nova Ariyanto JoNo

Sumber:

The Extra-Relational Affair: A Study in Contrast. Diambil online pada http://www.psychologytoday.com/blog/enlightened-living/200901/the-extra-relational-affair-study-in-contrast tanggal 21 Juni 2009.

Images from http://www.flickr.com/photos/23881422@N08/2485828126/

KBBI dalam jaringan http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php


22 Comments »

  • MauLana RifQi RizaLdy said:

    HaTi - HaTi bermain dgn api, Tp menyegarkan juga…

  • Yustika Ratih said:

    the point is…it’s too painfull…selamat bagi yg ud and sedang selingkuh he he he…

  • Novie Gunawan said:

    50:50

  • Alystyasa Psikologi said:

    bole juga… tp bahaya jugaaaa

  • Fd Atty said:

    Menyalakan apiiii, tidak mudah untuk mematikannya, banyak akibat2 yg timbul, …so… tidaaaaak setuju.. Masih ada cara lain u happy .. di jalan Allah SWT….

  • Ferdy Winahaditia said:

    thanx atas infonya

  • Sugeng Waluyo said:

    ayuuk deeh… selingkuh…..

  • Riza Rambe said:

    Perjuangan untuk meraih cinta si dia yg telah berpasangan… It’s OK-lah, sblm janur kuning melengkung, hehehe…

  • Anastasia Retno Ayu said:

    wah…

  • Dian Avrianti said:

    wahh berarti banyak yang SETIA dong ato SElingkuh TIada Akhir

  • Rangga Soeriaatmadja said:

    ahhh. gimana ketetapan hati sih yg gitu mah

  • Etna Maria said:

    bnr lo semakin byk…asal jgn kt2 ok…

  • Eka Febriana Koesnan said:

    @fd atty: SEPAKAT !!!

  • ramadion said:

    @ eka dan atty: jalan Allah SWT di sini bukan POLIGAMI, kan? hehehehe…

  • ayu r. yolandasari said:

    Salam..

    Jujur, ayu ga stuju dengan yang namanya selingkuh.sangat.

    diboongin pake kata-kata aja uda ga enak. Apalagi dselingkuhin.beuh..nyelekit pastinya..

    Well,setiap manusia tidak ada yang sempurna. Terdengar klise,tapi tak ada yang meragukannya bukan?menurut aku, karena itulah kita memerlukan pasangan.untuk saling mengisi ketidak sempurnaan.

    Kita hidup dalam proses.salah satunya penyesuaian.saat btemu seseorang, jadian, (menurutku) ga mungkin langsung cocok sgala-galanya. Itulah gunanya penyesuaian. mencocokan apa yang kurang sesuai dalam hubungan ntu. N yang kudu musti ada yah komunikasi di dalamnya.

    Komunikasi yang baik plus kesabaran dan komitmen yang kuat aku pikir cukup untuk menjalani suatu hubungan dengan baik.

    So,ga mesti selingkuh kan?

  • ramadion said:

    @ ayu: walaupun kami menemukan sisi positif dari selingkuh, bukan artinya kami merekomendasikan selingkuh, lho :D

    dan benar, setelah jadian, memang belum tentu pasangan akan cocok. dan kalau tidak cocok, saya pribadi juga tidak setuju kalau salah satu pasangan lalu selingkuh :D

  • ayu r. yolandasari said:

    @k dion: smoga aja dengan adanya artikel ni, ga jadi pembenaran yah bagi orang untuk melakukan perselingkuhan..
    :)

  • ramadion said:

    @ ayu: yah, ilmu kan adalah benda yang sifatnya netral. bagaimana ilmu akan digunakan, tergantung orangnya masing2 :D

  • JoNo (author) said:

    terimakasih atas perhatian rekan-rekan semua

    satu hal yang perlu diperhatikan menurut saya adalah bagaimana kita sebagai individu untuk melihat sisi positif dari segala sesuatu
    meskipun sulit, sisi positif selalu ada
    satu hal yang mungkin muncul adalah pertanyaan:

    “Kenapa? apa yang kurang?”

    dengan melihat fakta-fakta yang ada
    kita dapat melihat ke diri kita dan pasangan tentang satu dua hal yang dapat diperbaiki dari masing2 individu
    sehingga hubungan selanjutnya dapat menjadi lebih baik

    JoNo

  • ramadion said:

    tapi, mencegah lebih baik dari mengobati. maka, perbanyak komunikasi dengan pasangan, walaupun kita merasa tidak ada masalah dalam hubungan :)

  • JoNo (author) said:

    wah kalo dilihat sekilas di media (tv, koran, tabloid) dsb
    makin banyak ya kasus2 perselingkuhan

  • Hambiadi Hambali said:

    woi….
    siapa yang mau selingkuh dengan saya?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word