<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: SELF: Ilusi Tentang Sosok AKU</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/self-ilusi-tentang-sosok-aku/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/self-ilusi-tentang-sosok-aku</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 06:26:02 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: dicky</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/self-ilusi-tentang-sosok-aku/comment-page-1#comment-390</link>
		<dc:creator>dicky</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 15:20:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=388#comment-390</guid>
		<description>Diriku Sebagaimana Aku....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Diriku Sebagaimana Aku&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andhika</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/self-ilusi-tentang-sosok-aku/comment-page-1#comment-349</link>
		<dc:creator>andhika</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 15:32:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=388#comment-349</guid>
		<description>serius nich dek, ga sangka dah sampai seperti itu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>serius nich dek, ga sangka dah sampai seperti itu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ramadion</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/self-ilusi-tentang-sosok-aku/comment-page-1#comment-145</link>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 00:01:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=388#comment-145</guid>
		<description>great thinking :D

tapi, proses "menjadi lebih baik" bisa juga proses melawan lingkungan, lho. misal, klo punya lingkungan yang malas, proses menjadi lebih baik adalah melawan tradisi itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>great thinking <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>tapi, proses &#8220;menjadi lebih baik&#8221; bisa juga proses melawan lingkungan, lho. misal, klo punya lingkungan yang malas, proses menjadi lebih baik adalah melawan tradisi itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rangga</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/self-ilusi-tentang-sosok-aku/comment-page-1#comment-138</link>
		<dc:creator>Rangga</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 15:19:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=388#comment-138</guid>
		<description>"It is not consciousness of men that determines their being, but on the contrary, their social being that determines their consciousness" (Marx dalam Fromm, 1966)
"...that most of what men consciously think is "false" consciousness, is ideology and ratinalization; that the true mainsprings of man's actions are unsconcious to him. According to Freud, they rooted in man's libidinal strivings; according to Marx, they are rooted in the whole social organization of man which direct his conciousness in certain directions and blocks him from being aware of certain facts and experience" (Fromm, 1966)

Sekedar menambahkan..
Dari pernyataan diatas, manusia sering menyangka bahwa diri "kelihatannya" subyektif, tapi diri juga dibentuk dari lingkungan sosial. Menurut beberapa pandangan, manusia lahir seperti kertas putih. Kertas putih ini dicoret, digambar, diwarnai oleh lingkungan.Lingkungan sosial membentuk konsep diri.Hal ini merupakan proses perubahan seperti yang telah disebutkan penulis.Jadi, sepakat dengan penulis bahwa Aku adalah buatan.

Menurut gw, proses "menjadi lebih baik" ini adalah proses kompromi antara diri dan masukan dari luar diri. Pada suatu saat dalam hidupnya manusia yang dibentuk oleh lingkungan ini mempunyai konsep diri yang lebih ajeg.Dari konsep diri ini, ia terus menjaring masukan dari luar (baik mungkin secara sadar maupun tidak sadar).

Buat gw sendiri, yang penting adalah "make peace with yourSELF". Karena dengan moto ini, kita tidak terus "berusaha" mencari yang lebih baik.Karena hal itu membuat kita menjadi "restless". Dan biarkan proses perubahan ini berjalan secara natural.

Trakhir, Ketika aktivitas otak tidak berjalan semestinya, manusia tersebut mengalami "disfungsi". Dan "Aku"nya tidak terbentuk secara utuh. Seperti mainan puzzle yang hilang beberapa bagian.Sepakat dengan penulis bahwa Aku dalam diri orang tersebut gugur.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;It is not consciousness of men that determines their being, but on the contrary, their social being that determines their consciousness&#8221; (Marx dalam Fromm, 1966)<br />
&#8220;&#8230;that most of what men consciously think is &#8220;false&#8221; consciousness, is ideology and ratinalization; that the true mainsprings of man&#8217;s actions are unsconcious to him. According to Freud, they rooted in man&#8217;s libidinal strivings; according to Marx, they are rooted in the whole social organization of man which direct his conciousness in certain directions and blocks him from being aware of certain facts and experience&#8221; (Fromm, 1966)</p>
<p>Sekedar menambahkan..<br />
Dari pernyataan diatas, manusia sering menyangka bahwa diri &#8220;kelihatannya&#8221; subyektif, tapi diri juga dibentuk dari lingkungan sosial. Menurut beberapa pandangan, manusia lahir seperti kertas putih. Kertas putih ini dicoret, digambar, diwarnai oleh lingkungan.Lingkungan sosial membentuk konsep diri.Hal ini merupakan proses perubahan seperti yang telah disebutkan penulis.Jadi, sepakat dengan penulis bahwa Aku adalah buatan.</p>
<p>Menurut gw, proses &#8220;menjadi lebih baik&#8221; ini adalah proses kompromi antara diri dan masukan dari luar diri. Pada suatu saat dalam hidupnya manusia yang dibentuk oleh lingkungan ini mempunyai konsep diri yang lebih ajeg.Dari konsep diri ini, ia terus menjaring masukan dari luar (baik mungkin secara sadar maupun tidak sadar).</p>
<p>Buat gw sendiri, yang penting adalah &#8220;make peace with yourSELF&#8221;. Karena dengan moto ini, kita tidak terus &#8220;berusaha&#8221; mencari yang lebih baik.Karena hal itu membuat kita menjadi &#8220;restless&#8221;. Dan biarkan proses perubahan ini berjalan secara natural.</p>
<p>Trakhir, Ketika aktivitas otak tidak berjalan semestinya, manusia tersebut mengalami &#8220;disfungsi&#8221;. Dan &#8220;Aku&#8221;nya tidak terbentuk secara utuh. Seperti mainan puzzle yang hilang beberapa bagian.Sepakat dengan penulis bahwa Aku dalam diri orang tersebut gugur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Shanti</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/self-ilusi-tentang-sosok-aku/comment-page-1#comment-98</link>
		<dc:creator>Shanti</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 12:14:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=388#comment-98</guid>
		<description>wow..
bikin mikir banget nih tulisan :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wow..<br />
bikin mikir banget nih tulisan <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

