<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Seks, Mitologi, dan Gender</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/seks-mitologi-dan-gender/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/seks-mitologi-dan-gender</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 04:23:29 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Lista stron erotycznych</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/seks-mitologi-dan-gender/comment-page-1#comment-837</link>
		<dc:creator>Lista stron erotycznych</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 08:39:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=800#comment-837</guid>
		<description>&lt;strong&gt;Lista stron erotycznych...&lt;/strong&gt;

Hello. Nice article, but I think it would be worth it a few more questions. Refine it and will be a revelation....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lista stron erotycznych&#8230;</strong></p>
<p>Hello. Nice article, but I think it would be worth it a few more questions. Refine it and will be a revelation&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nia Janiar</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/seks-mitologi-dan-gender/comment-page-1#comment-525</link>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 01:22:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=800#comment-525</guid>
		<description>Terima kasih untuk informasinya ya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih untuk informasinya ya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abolish God</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/seks-mitologi-dan-gender/comment-page-1#comment-520</link>
		<dc:creator>Abolish God</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 15:00:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=800#comment-520</guid>
		<description>Numpang sumbang informasi jaa...

Peralihan dari matriarkat kepada patriarkat terjadi karena oportunisme laki-laki...

"Selama kepemilikan masih menjadi penyebab dari penundukan, ia ditinggalkan kepada wanita; tetapi tidak lama ketika ia sudah menjadi sebuah cara emansipasi dan supremasi dalam keluarga dan masyarakat baru laki-laki mengambilnya dari wanita." 
(Lafargue, Paul. 1890. The Evolution of Property from Savagery to Civilization, Bab III - terjemahan oleh: abolish god)

Sepanjang sejarah sampai saat ini, penundukan antara kelompok manusia yang satu kepada yang lain disebabkan oleh perebutan sumber daya. Sumber daya ini sejak masa awal peradaban manusia merupakan otoritas yang pertama-tama dimiliki oleh wanita. Sepanjang sejarah bentuk kehidupan komunal primitif hingga awal terbentuknya keluarga, wanita merupakan pihak yang paling dapat dipercaya untuk mengatur distribusi sumber daya (dari makanan hingga kekayaan);

"Kita saat ini faham bahwa spesies manusia, sebelum  sampai pada bentuk patriarki dari keluarga, dimana ayah adalah kepala, memiliki rumah dan meneruskan namanya kepada seluruh anaknya, terlebih dahulu melewati bentuk matriarki, di mana ibu menempati posisi yang tinggi itu. Kami telah melihat, di atas, seluruh klan hidup dalam rumah bersama, memiliki sejumlah kamar bagi wanita yang menikah. Bentuk keluarga pribadi lalu muncul; ketika kita menemukannya terbentuk dalam bentuk patriarki atau matriarki, sebuah pemisahan telah menyebabkan rumah komunal menjadi banyak rumah pribadi yang jumlahnya sebanyak jumlah keluarga yang ada. Pada keluarga matriarki, sang ibu hidup dengan anaknya, adik dan kakaknya; menerima suaminya, yang berasal dari klan yang lain, setiap orang dengan gilirannya; baru kemudian kepemilikan keluarga mulai menampakkan diri.

Permulaannya sangatlah sederhana, karena, pada dasarnya, ia hanya terdiri dari sebuah kabin dan kebun kecil yang mengelilinginya. Di antara beberapa orang, keluarga patriarki mungkin telah dibentuk dan mendahului keluarga matriarki sebelum kepemilikan keluarga mulai terbentuk, namun kasusnya tidaklah universal; sebaliknya akan terlihat seperti revolusi dari keluarga terjadi sebelum pembentukan properti keluarga. Begitulah yang terjadi dengan Mesir, Yunani, dan banyak bangsa yang jalur perkembangannya normal, tidak terganggu oleh serangan dari negara lain yang berada pada tingkat peradaban yang lebih tinggi.

Selama bentuk matriarki berjalan, barang-barang yang berpindah dan barang tidak berpindah ditransmisikan oleh wanita; seseorang mewarisi dari ibunya dan tidak dari ayahnya, atau saudara dari ayahnya. Di Jawa, dimana bentuk keluarga seperti ini telah mencapai tahap tinggi dari perkembangan, kepemilikan dari ayah diturunkan kepada keluarga ibunya; ia tidak bebas untuk memberikan kepada anaknya, yang dimiliki oleh klan dari istrinya, tanpa pengetahuan dan persetujuan dari saudara dan saudarinya. Jika kita menilai dari apa yang kita tahu mengenai orang Mesir dan bangsa-bangsa lain, laki-laki menempati posisi yang sangat subordinat pada matriarki. Di antara orang-orang Basque, yang telah mempertahankan kebudayaan primitif mereka, tidak bertahan menghadapi Agama Kristen dan peradaban, ketika anak perempuan tertua, pada kematian ibunya, ia menjadi pewaris , pada saat yang sama juga menjadi ibu rumah tangga dari saudara dan saudarinya yang lebih muda. Laki-laki ada dibawah pengaturan dari keluarganya sendiri, dan bila ia “keluar” untuk menikah, dengan restu dari saudari perempuannya, ia akan berada di bawah dominasi dari istrinya; sepanjang hidupnya ia berada di bawah kekuasaan wanita, sebagai anak, saudara dan suami; ia tidak memiliki apa-apa kecuali peculium (benda yang diperbolehkan dimiliki oleh anak, istri atau budak menurut hukum Romawi) yang diberikan oleh saudarinya pada hari pernikahan. “Suami,” kata pepatah dari Basque, “adalah kepala pelayan dari istrinya.”
(Lafargue, Paul. 1890. The Evolution of Property from Savagery to Civilization, Bab III - terjemahan oleh: abolish god)

Demikianlah sekilas paparan dari ahli antropologi Perancis, Paul Lafargue, mengenai salah satu tahapan dalam evolusi kepemilikan sumber daya yang saat ini sudah berbentuk kapital. Evolusi kepemilikan ini ternyata sepanjang sejarah juga telah merombak secara fundamental relasi sosial diantara spesies manusia, menciptakan dan mempertahankan mitos-mitos-nya sendiri dan tentunya menempatkan manusia dengan manusia dalam hubungan yang tidak setara sebagai mahluk hidup, terutama wanita dan pria.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Numpang sumbang informasi jaa&#8230;</p>
<p>Peralihan dari matriarkat kepada patriarkat terjadi karena oportunisme laki-laki&#8230;</p>
<p>&#8220;Selama kepemilikan masih menjadi penyebab dari penundukan, ia ditinggalkan kepada wanita; tetapi tidak lama ketika ia sudah menjadi sebuah cara emansipasi dan supremasi dalam keluarga dan masyarakat baru laki-laki mengambilnya dari wanita.&#8221;<br />
(Lafargue, Paul. 1890. The Evolution of Property from Savagery to Civilization, Bab III - terjemahan oleh: abolish god)</p>
<p>Sepanjang sejarah sampai saat ini, penundukan antara kelompok manusia yang satu kepada yang lain disebabkan oleh perebutan sumber daya. Sumber daya ini sejak masa awal peradaban manusia merupakan otoritas yang pertama-tama dimiliki oleh wanita. Sepanjang sejarah bentuk kehidupan komunal primitif hingga awal terbentuknya keluarga, wanita merupakan pihak yang paling dapat dipercaya untuk mengatur distribusi sumber daya (dari makanan hingga kekayaan);</p>
<p>&#8220;Kita saat ini faham bahwa spesies manusia, sebelum  sampai pada bentuk patriarki dari keluarga, dimana ayah adalah kepala, memiliki rumah dan meneruskan namanya kepada seluruh anaknya, terlebih dahulu melewati bentuk matriarki, di mana ibu menempati posisi yang tinggi itu. Kami telah melihat, di atas, seluruh klan hidup dalam rumah bersama, memiliki sejumlah kamar bagi wanita yang menikah. Bentuk keluarga pribadi lalu muncul; ketika kita menemukannya terbentuk dalam bentuk patriarki atau matriarki, sebuah pemisahan telah menyebabkan rumah komunal menjadi banyak rumah pribadi yang jumlahnya sebanyak jumlah keluarga yang ada. Pada keluarga matriarki, sang ibu hidup dengan anaknya, adik dan kakaknya; menerima suaminya, yang berasal dari klan yang lain, setiap orang dengan gilirannya; baru kemudian kepemilikan keluarga mulai menampakkan diri.</p>
<p>Permulaannya sangatlah sederhana, karena, pada dasarnya, ia hanya terdiri dari sebuah kabin dan kebun kecil yang mengelilinginya. Di antara beberapa orang, keluarga patriarki mungkin telah dibentuk dan mendahului keluarga matriarki sebelum kepemilikan keluarga mulai terbentuk, namun kasusnya tidaklah universal; sebaliknya akan terlihat seperti revolusi dari keluarga terjadi sebelum pembentukan properti keluarga. Begitulah yang terjadi dengan Mesir, Yunani, dan banyak bangsa yang jalur perkembangannya normal, tidak terganggu oleh serangan dari negara lain yang berada pada tingkat peradaban yang lebih tinggi.</p>
<p>Selama bentuk matriarki berjalan, barang-barang yang berpindah dan barang tidak berpindah ditransmisikan oleh wanita; seseorang mewarisi dari ibunya dan tidak dari ayahnya, atau saudara dari ayahnya. Di Jawa, dimana bentuk keluarga seperti ini telah mencapai tahap tinggi dari perkembangan, kepemilikan dari ayah diturunkan kepada keluarga ibunya; ia tidak bebas untuk memberikan kepada anaknya, yang dimiliki oleh klan dari istrinya, tanpa pengetahuan dan persetujuan dari saudara dan saudarinya. Jika kita menilai dari apa yang kita tahu mengenai orang Mesir dan bangsa-bangsa lain, laki-laki menempati posisi yang sangat subordinat pada matriarki. Di antara orang-orang Basque, yang telah mempertahankan kebudayaan primitif mereka, tidak bertahan menghadapi Agama Kristen dan peradaban, ketika anak perempuan tertua, pada kematian ibunya, ia menjadi pewaris , pada saat yang sama juga menjadi ibu rumah tangga dari saudara dan saudarinya yang lebih muda. Laki-laki ada dibawah pengaturan dari keluarganya sendiri, dan bila ia “keluar” untuk menikah, dengan restu dari saudari perempuannya, ia akan berada di bawah dominasi dari istrinya; sepanjang hidupnya ia berada di bawah kekuasaan wanita, sebagai anak, saudara dan suami; ia tidak memiliki apa-apa kecuali peculium (benda yang diperbolehkan dimiliki oleh anak, istri atau budak menurut hukum Romawi) yang diberikan oleh saudarinya pada hari pernikahan. “Suami,” kata pepatah dari Basque, “adalah kepala pelayan dari istrinya.”<br />
(Lafargue, Paul. 1890. The Evolution of Property from Savagery to Civilization, Bab III - terjemahan oleh: abolish god)</p>
<p>Demikianlah sekilas paparan dari ahli antropologi Perancis, Paul Lafargue, mengenai salah satu tahapan dalam evolusi kepemilikan sumber daya yang saat ini sudah berbentuk kapital. Evolusi kepemilikan ini ternyata sepanjang sejarah juga telah merombak secara fundamental relasi sosial diantara spesies manusia, menciptakan dan mempertahankan mitos-mitos-nya sendiri dan tentunya menempatkan manusia dengan manusia dalam hubungan yang tidak setara sebagai mahluk hidup, terutama wanita dan pria.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

