Seks, Mitologi, dan Gender

“Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”
(Genesis 3:21)
Bercerita adalah hal yang alami dalam kehidupan manusia, dan setiap akar dari kebudayaan adalah cerita yang kita sebut dengan mitos. Mitos menceritakan mengenai penciptaan, mengenai kehidupan manusia, mengenai tuhan dan dewa, sampai akhir dunia. Mitos menunjukkan peran manusia sebagai pencerita yang menjustifikasi dan menjelaskan kejadian disekitarnya. Dengan kata lain saya lebih suka menyebut mitos sebagai fakta yang dimanifestasikan dalam bentuk fiksi (Philip, 2007).
Kita bisa menemukan mitologi mengenai tingkah laku seksual dan reproduksi di setiap kebudayaan. Masyarakat didalamnya meyakini mitologi tersebut sebagai kebenaran mutlak. Kita juga bisa menemukan adanya perbedaan sikap yang radikal terhadap seksualitas di berbagai kebudayaan, misalnya kebudayaan yang menganggap monogamy adalah dasar dari pernikahan, maka poligami dianggap sebagai immoral, begitu juga sebaliknya. Menanggapi perbedaan tersebut, sayangnya manusia memiliki kecenderungan untuk membenarkan norma sosial yang diterima serta mencoba untuk membuat orang lain ikut kedalam pola pikir mereka, hal inilah yang muncul dalam mitologi yang menceritakan peran laki-laki dan perempuan pada awalnya. Masyarakat yang kita kenal sekarang ini merujuk pada budaya patrairkal, namun peradaban terawal yang kita kenal mengutamakan perempuan dibandingkan laki-laki!
Mitos ‘The Great Mother’ banyak menginspirasi bentuk peradaban awal manusia yang dimunculkan melalui seni patung – 20.000 SM. Sering dikenal dengan figure Venus, The Great Mother ini merepresentasikan perempuan dengan perut, dada, dan pinggul yang besar. Salah satu yang paling terkenal adalah Venus of Willendorf yang ditemukan di Austria. Begitu juga di berbagai belahan dunia pada masa-masa awal, mereka menganggap sosok perempuan ‘lebih tinggi’ daripada laki-laki: Mesir Kuno yang menarik garis keturunan dari pihak ibu; hukum di Babilonia dimana seseorang yang melakukan kesalahan kepada ibu akan dimusnahkan dari komunitas; kebudayaan pagan Eropa mengambil nama belakang dari nama ibu; keluarga kekaisaran Jepang meyakini bahwa mereka merupakan keturunan langsung dari dewi matahari, Omikami Amaterasu; Di Cina nama keluarga dibentuk dari tanda yang berarti ‘perempuan’. The Great Mother juga berpengaruh dalam perkembangan kesenian, pertanian, sastra, musik dan matematika. Dalam mitologi Hindu, dewi Savitri menciptakan unit pengukuran seperti hari, bulan, inci, dan detik.
Perempuan diagungkan, disucikan, ditinggikan bahkan dianggap dewa! Melalui perempuanlah kehidupan baru tercipta. Oleh karena itu juga kita sering menyebut bumi dengan kata ganti ‘she’; ‘ibu pertiwi’; ‘mother earth’. Peradaban yang mengagungkan perempuan, sejauh yang ditemukan, merupakan peradaban yang damai (Dening, 1996). Lalu perubahan apa yang terjadi sehingga peradaban yang kita kenal sekarang lebih mengutamakan peran laki-laki?
Sekitar 4000 SM, mitos penciptaan mengalami pergeseran dengan memasukkan peran laki-laki dalam prokreasi. Walaupun penekanan masih pada perempuan yang mencipta namun sekarang perempuan tersebut mengambil anak laki-lakinya sebagai kekasih dan bersama-sama memimpin. Mitos Inana dan Dumuzi dari Sumeria, Cybele dan Attus dari Anatolia, Aphrodite dan Adonis dari Yunani paling tepat menggambarkan pergeseran awal mitos penciptaan. Kemudian muncullah budaya untuk memperluas wilayah dengan menaklukkan bangsa lain, membunuh untuk bertahan hidup. Orang-orang inilah pemburu yang biasanya merupakan laki-laki, sejak saat tersebut peran maskulin dibutuhkan dan dianggap penting.
Ketika kita membicarakan mengenai maskulin dan feminine, teritori diantara keduanya ‘berbahaya’ untuk didefinisikan. Saya suka istilah Dening (1996) dengan membedakan keduanya melalui sifat falus dan rahim. Feminin bersifat menjaga, merawat dan mempertahankan. Sedangkan maskulin bersifat konfrontasi, memiliki tujuan dan terfokus.
Budaya memperluas wilayah sangat berbeda dengan budaya pertanian, mitos pun berubah arah yang tadinya female-oriented menjadi male-oriented. Dewa-dewa yang kemudian muncul menjadi personifikasi dari nilai-nilai yang ditanamkan, misalnya pahlawan seperti Zeus dengan panah kilatnya, maupun Yahweh yang otoriter pada masyarakat Ibrani Kuno.
Bahkan pada masa pergeseran ini, The Great Mother semakin termarjinalisasi dan dianggap iblis. Mitos penciptaan merubah perempuan sebagai setan yang perlu dimusnahkan untuk membentuk dunia dari tubuh perempuan yang telah mati itu. Cerita ini di ilustrasikan pada mitos Babilonia dimana Dewa Marduk membantai The Great Mother (Dewa yang pada awalnya berkuasa), Tiamat. Begitu juga pada cerita di kitab Genesis (Kejadian), dimana mendeskriditkan perempuan sebagai oknum yang patut disalahkan atas kejatuhan manusia akan dosa.
Begitu kaum laki-laki mengetahui peran mereka dalam prokreasi, mereka secara alami menginginkan kedudukan setara dengan perempuan, bahkan melebihi perempuan. Laki-laki memiliki kecenderungan potensi untuk mengendalikan seksualitas perempuan. Patriarkat, sejauh yang dilihat oleh Dening (1996), tidak berhasil dalam mempertahankan kedamaian maupun keseimbangan spiritual. Bagaimana pun juga dunia membutuhkan aspek feminine dan maskulin untuk kesatuan yang utuh. Karena mitos menggambarkan peradaban yang memegangnya, mitos apakah yang kamu pegang?
Pertanyaan ini bukan semata-mata untuk kaum laki-laki, namun juga bagi perempuan. Karena mitos yang kita kenal sekarang secara tidak disadari menempatkan perempuan dibawah laki-laki, tugas kita adalah untuk membuka jalan dimana dewa-dewi bisa saling menghargai dan hidup dalam harmoni.
…For a better world…
Sumber:
Dening, S. 1996. The mythology of sex. New York: Macmillan.
Philip, N. 1999. Myth and legends explained. New York: DK
Sumber gambar:
http://www.mikespoints.com/wp-content/uploads/2007/04/adam_eve_snake.jpg
http://www.edu.pe.ca/rural/class_webs/art/images/venus%20of%20willendorf.jpg









Numpang sumbang informasi jaa…
Peralihan dari matriarkat kepada patriarkat terjadi karena oportunisme laki-laki…
“Selama kepemilikan masih menjadi penyebab dari penundukan, ia ditinggalkan kepada wanita; tetapi tidak lama ketika ia sudah menjadi sebuah cara emansipasi dan supremasi dalam keluarga dan masyarakat baru laki-laki mengambilnya dari wanita.”
(Lafargue, Paul. 1890. The Evolution of Property from Savagery to Civilization, Bab III - terjemahan oleh: abolish god)
Sepanjang sejarah sampai saat ini, penundukan antara kelompok manusia yang satu kepada yang lain disebabkan oleh perebutan sumber daya. Sumber daya ini sejak masa awal peradaban manusia merupakan otoritas yang pertama-tama dimiliki oleh wanita. Sepanjang sejarah bentuk kehidupan komunal primitif hingga awal terbentuknya keluarga, wanita merupakan pihak yang paling dapat dipercaya untuk mengatur distribusi sumber daya (dari makanan hingga kekayaan);
“Kita saat ini faham bahwa spesies manusia, sebelum sampai pada bentuk patriarki dari keluarga, dimana ayah adalah kepala, memiliki rumah dan meneruskan namanya kepada seluruh anaknya, terlebih dahulu melewati bentuk matriarki, di mana ibu menempati posisi yang tinggi itu. Kami telah melihat, di atas, seluruh klan hidup dalam rumah bersama, memiliki sejumlah kamar bagi wanita yang menikah. Bentuk keluarga pribadi lalu muncul; ketika kita menemukannya terbentuk dalam bentuk patriarki atau matriarki, sebuah pemisahan telah menyebabkan rumah komunal menjadi banyak rumah pribadi yang jumlahnya sebanyak jumlah keluarga yang ada. Pada keluarga matriarki, sang ibu hidup dengan anaknya, adik dan kakaknya; menerima suaminya, yang berasal dari klan yang lain, setiap orang dengan gilirannya; baru kemudian kepemilikan keluarga mulai menampakkan diri.
Permulaannya sangatlah sederhana, karena, pada dasarnya, ia hanya terdiri dari sebuah kabin dan kebun kecil yang mengelilinginya. Di antara beberapa orang, keluarga patriarki mungkin telah dibentuk dan mendahului keluarga matriarki sebelum kepemilikan keluarga mulai terbentuk, namun kasusnya tidaklah universal; sebaliknya akan terlihat seperti revolusi dari keluarga terjadi sebelum pembentukan properti keluarga. Begitulah yang terjadi dengan Mesir, Yunani, dan banyak bangsa yang jalur perkembangannya normal, tidak terganggu oleh serangan dari negara lain yang berada pada tingkat peradaban yang lebih tinggi.
Selama bentuk matriarki berjalan, barang-barang yang berpindah dan barang tidak berpindah ditransmisikan oleh wanita; seseorang mewarisi dari ibunya dan tidak dari ayahnya, atau saudara dari ayahnya. Di Jawa, dimana bentuk keluarga seperti ini telah mencapai tahap tinggi dari perkembangan, kepemilikan dari ayah diturunkan kepada keluarga ibunya; ia tidak bebas untuk memberikan kepada anaknya, yang dimiliki oleh klan dari istrinya, tanpa pengetahuan dan persetujuan dari saudara dan saudarinya. Jika kita menilai dari apa yang kita tahu mengenai orang Mesir dan bangsa-bangsa lain, laki-laki menempati posisi yang sangat subordinat pada matriarki. Di antara orang-orang Basque, yang telah mempertahankan kebudayaan primitif mereka, tidak bertahan menghadapi Agama Kristen dan peradaban, ketika anak perempuan tertua, pada kematian ibunya, ia menjadi pewaris , pada saat yang sama juga menjadi ibu rumah tangga dari saudara dan saudarinya yang lebih muda. Laki-laki ada dibawah pengaturan dari keluarganya sendiri, dan bila ia “keluar” untuk menikah, dengan restu dari saudari perempuannya, ia akan berada di bawah dominasi dari istrinya; sepanjang hidupnya ia berada di bawah kekuasaan wanita, sebagai anak, saudara dan suami; ia tidak memiliki apa-apa kecuali peculium (benda yang diperbolehkan dimiliki oleh anak, istri atau budak menurut hukum Romawi) yang diberikan oleh saudarinya pada hari pernikahan. “Suami,” kata pepatah dari Basque, “adalah kepala pelayan dari istrinya.”
(Lafargue, Paul. 1890. The Evolution of Property from Savagery to Civilization, Bab III - terjemahan oleh: abolish god)
Demikianlah sekilas paparan dari ahli antropologi Perancis, Paul Lafargue, mengenai salah satu tahapan dalam evolusi kepemilikan sumber daya yang saat ini sudah berbentuk kapital. Evolusi kepemilikan ini ternyata sepanjang sejarah juga telah merombak secara fundamental relasi sosial diantara spesies manusia, menciptakan dan mempertahankan mitos-mitos-nya sendiri dan tentunya menempatkan manusia dengan manusia dalam hubungan yang tidak setara sebagai mahluk hidup, terutama wanita dan pria.
Terima kasih untuk informasinya ya.
Lista stron erotycznych…
Hello. Nice article, but I think it would be worth it a few more questions. Refine it and will be a revelation….
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Gold Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen emosi freud gangguan gender homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif psikologi seks Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita Blog (10)
Essay (151)
Featured (146)
Headline (142)
Lain-lain (36)
News (6)
Psikologi Industri & Behavioral Economy (18)
Psikologi klinis (46)
Psikologi Olahraga (2)
Psikologi pendidikan (16)
Psikologi Perilaku Seksual (5)
Psikologi perkembangan (31)
Psikologi sosial (49)
Psikologi Umum & Eksperimen (32)
Uncategorized (8)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (38)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (23)
- Lois (RSS) (13)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (24)
- Penulis Tamu (RSS) (22)
- ramadion (RSS) (25)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed