Home » Essay, Featured, Headline, Lain-lain

Sekilas tentang atheism

29 May 2010 2,217 views 15 Comments

full-20earth2Jika diperhatikan, mungkin anda akan menemukan beberapa teman yang memilih untuk tidak mempercayai adanya Tuhan, atau unsur suprantural yang lebih besar, atau yang biasa disebut sebagai atheist. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, tidak banyak teman saya yang tergolong atheist. Namun demikian, jika saya berdiskusi dengan beberapa teman yang berada diluar negeri, jumlah atheist meningkat jumlahnya.

Pada sebuah artikel dijelaskan bahwa di kawasan Afrika hampir tidak ditemukan atheist, sedangkan di kawasan Eropa jumlah atheis diantara penduduk cukup tinggi: Swedia (64 %), Denmark (48 %), France (44 %), dan Jerman (42 %). Data-data tersebut menunjukkan bahwa dikawasan Eropa lebih banyak individu yang atheis. Hal tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah dari sisi pendidikan dan ekonomi.

Studi tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa atheist cenderung sebagai individu yang berpendidikan dari kawasan sosial democrat di Eropa. Jumlah atheis juga terus berkembang ketika individu-individu merasa telah tercukupi kebutuhannya. Dalam sebuah penelitian juga ditemukan bahwa terdapat korelasi negatif antara religiusitas yang ditunjukkan masyarakat dengan kesehatan sosial (co: pendapatan perkapita, kematian bayi, angka harapan hidup dan kemampuan baca tulis). Dengan kata lain, negara yang menunjukkan religiusitas tinggi maka akan kesehatan sosialnya rendah, begitu juga sebaliknya, Negara yang religiusitas nya rendah maka kesehatan sosialnya akan tinggi.

Diperkirakan juga bahwa individu cenderung berpegang pada agama saat kesulitan atau saat yang tidak menentu. Jika dikaitkan dengan perbedaan kawasan Eropa dan Afrika yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dijelaskan bahwa di Afrika jumlah penduduk atheis lebih sedikit karena didaerah itu banyak yang belum terpenuhi kebutuhannya, banyak yang dilanda kelaparan, kesusahan, dll. Sedangkan di kebanyakan Negara Eropa, ketakutan akan saat yang tidak menentu lebih rendah tingkatnya. Hal tersebut karena jaminan kesejahteraan sosial menyediakan pengaman sehingga kesehatan lebih terjamin.

Untuk Indonesia sendiri, tidak ada jumlah pasti yang menyebutkan berapa banyak individu yang memilih untuk menjadi atheist, namun saya menemukan sebuah ‘komunitas’ atheist di internet yang berdiri sejak 2008. Sejak tahun 2008, jumlah anggota nya bertambah dan saat ini telah memiliki anggota lebih dari 300 orang. Tentu saja mungkin masih banyak komunitas atau individu yang menganut atheis diluar sana. Namun jika kembali dikaitkan dengan korelasi negative antara tingkat religiusitas dan kesehatan sosial; serta asumsi bahwa individu berpegang pada agama saat kesulitan atau keadaan tidak menentu; maka berdasarkan kedua pendapat tersebut jumlah atheis di Indonesia tidak akan sebanyak negara-negara di Eropa. Sebab lain yang lebih kuat mungkin adalah karena dalam UU sendiri individu yang dianggap membuat orang lain ragu akan kepercayaannya dapat diberi hukuman penjara.

Hal lain adalah bahwa individu yang tidak berada dalam tekanan lebih bisa mengontrol hidupnya serta lebih sedikit berpegang pada agama. Pada masa modern ini, saat individu merasa memiliki masalah mereka berpaling pada dokter, psikolog atau psikiater karena mencari cara yang lebih ilmiah untuk memecahkan masalahnya. Penelitian lain menunjukkan bahwa individu yang merasa bahwa agama / kepercayaan tidak terlalu penting juga tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Bertolak belakang dengan individu yang percaya dengan sebuah agama / kepercayaan.

Seorang professor di AS, yang juga seorang atheist, berpendapat bahwa atheism diasumsikan muncul karena beberapa faktor. Jika dilihat dari faktor sosial, maka atheism muncul karena: 1) individu merasa malu akan kepercayaan yang dianutnya; 2) individu mencoba masuk kedalam sebuah organisasi / kelompok sosial tertentu; 3) individu ‘mengejar’ kenyamanan pribadi, dengan tidak percaya pada suatu kepercayaan, maka individu tersebut dapat bebas melakukan apa yang diinginkannya. Lebih lanjut professor tersebut menjelaskan, jika dilihat dari sisi psikoanalisa, maka bahwa Tuhan merupakan pemenuhan dari keinginan bawah sadar kita akan perlindungan dan keamanan yang kita ciptakan saat kita kecil.

Terlepas dari kepercayaan kita masing-masing, saya berpendapat bahwa adalah hak dari setiap individu untuk memilih cara hidup yang dijalankan, ataupun kepercayaan yang dianut.

Nova ‘JoNo’ Ariyanto

Sumber:

Atheism. Diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Atheism pada 27 Mei 2010

Barber, N. 2010. Why atheism will replace religion. Diambil online di http://www.psychologytoday.com/blog/the-human-beast/201005/why-atheism-will-replace-religion pada 24 Mei 2010.

Stephen, M. 2008. The Cambridge Companion to Atheism. Social Theory and Practice; Apr 2008; 34, 2; ProQuest Social Science Journals pg. 293

Vitz, P, C. 2002. The psychology of atheism. NYU.

15 Comments »

  • ramadion said:

    gw dah observasi partisipatif di beberapa grup ateis, no. emang kebanyakan yg ateis adalah orang2 yg idup di luar negeri, pendidikan tinggi, dan (beberapa) punya materi yg cukup banyak.

    pikiran liar gw, nih. apakah:

    orang ateis itu orang kaya dan pinter yg sombong…

    atau, orang kurang mampu yg desperate ama hidupnya mencoba menghibur diri bahwa setelah mati mrk akan mendapat kemewahan surga dgn memeluk agama? (ada orang ateis yg mau jawab?)

    cara berpikir manusia memang kadang2 mengerikan.

  • ramadion said:

    btw, link ke artikel lama gw yg berhubungan (ga langsung) dgn ateisme jg ya:

    http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2

  • Jono (author) said:

    mmm…

    *Diperkirakan juga bahwa individu cenderung berpegang pada agama saat kesulitan atau saat yang tidak menentu…
    *Hal lain adalah bahwa individu yang tidak berada dalam tekanan lebih bisa mengontrol hidupnya serta lebih sedikit berpegang pada agama…

    kalo dari 2 kutipan diatas sih masuk akal sama pikiran loe yang kedua Yon. Tapi, kalo menurut gw emang disaat susah kayaknya peran HOPE akan lebih besar. Dengan berharap bahwa ‘ini semua ada yang mengatur’ akan memberi tenaga buat melwati semuanya. Lain cerita kalau kita bisa mengontrol segala aspek, begitu masalah muncul sudah ada langkah-langkah buat mengatasi. Kalau kayak gitu kan bisa menjelaskan dua argumen yang gw kutip? gmana?

    eh tapi kita cuman ngomongin atheist ya, beda cerita kali kalo agnostic

  • ramadion said:

    yg lebih tepat kayaknya kutipan2 lo, Jon (kesimpulan kedua gw terlalu harsh, gw baru sadar)

    btw, ni tulisan akan ada pendalamannya, ga? soalnya masih terlalu light, huehe…

  • Jono (author) said:

    mm.. sebenarnya sih bisa dibuat lebih mendalam, tapi gw kurang tertarik
    kalo loe berminat silahkan looh

  • Lois said:

    Gue ga kaya tapi ateis :p hahaha..
    Cuma yah itu, menurut ku si ga ada salahnya dalam memegang agama ketika kita membutuhkan suatu pegangan (baca: HOPE)..

    Atheism, lebih ke pilihan pribadi, banyak disebabkan oleh kekecewaan pada ’sosok tuhan’.

    Dan soal pikiran liar-nya Dion itu tidak bisa di generalisasi pada semua orang kaya atau semua orang miskin. Ku kalo ngobrol sama abang2 dijalanan, ada kok beberapa diantara mereka yang tidak percaya tuhan dan lebih percaya bahwa hidup mereka ditentukan oleh diri mereka sendiri. ^^

  • WILLIE said:

    PillSpot.org. Canadian Health&Care.Special Internet Prices.No prescription online pharmacy.PillSpot.org. Vitamins@buy.online” rel=”nofollow”>.…

    Categories: Mental HealthAnti-allergic/Asthma.Antidiabetic.Anxiety/Sleep Aid.Antidepressants.Antibiotics.Pain Relief.Mens Health.Weight Loss.Blood Pressure/Heart.Stop SmokingAntiviral.Womens Health.Vitamins/Herbal Supplements.Skin Care.Eye Care.St…

  • hilda angelina said:

    atheis sebenernya konsep pemikiran dr feuerbach yg sebenarnya kritik terhadap idealisme hegel dimana fllsafat hegel itu merupakan teologi tersamar yang harus diputarbalikkan.. bukan Allah yang konkrit, melainkan manusialah yg konkrit ada, Allah hanyalah sebuah objek pemikiran bagi manusia, bnr kata prof di AS itu, dlm aliran psikoanalisa, Tuhan itu cuma proyeksi aja, setuju jg sm pendapat lois, emang kebanyakan dr tmn2 yg skrg udah menganut paham atheis berangkat dr kekecewaan yg besar thd Tuhan itu sendri.. tp keputusan seseorang untuk percaya adanya Tuhan atau tdk, mari biarkan org dgn keyakinan nya sendiri

  • jibb said:

    iya atheist di indonesia tercukupi kebutuhannya karena jual lonte dan bandar judi. sementara yg jamaah kantor pemerintah karena korupsi yg mereka halalkan. itulah atheist di indonesia, dah jadi lonte germo koruptor pun masih punya HOPE/aturan tuhan yg mereka buat sendiri hexhx……..

  • Feline said:

    Aku mantan atheis, tp skrng bukan penganut paham theis juga.
    Alasan utama memeluk paham atheis dulu sebenanrya bukan kecewa pada Tuhan, tp lebih pd kekecewaan pada agama.

    Bukan mengatakan agama buruk, pada dasarnya ada kebenaran di setiap agama, tp agama sudah terlalu banyak tercampur dgn berbagai kepentingan lain, seperti politik(dulu agama sering digunakan penguasa untuk menakut-nakuti rakyatnya). Sebagian agama menampakkan seolah2 Tuhan itu makhluk tak berperasaan yang ketika dikecewakan sedikit saja bs membunuh dgn seenaknya(betapa manusiawinya?). Tak masuk akal jika Tuhan seperti itu.

    Terlalu banyak ketidakkonsistenan dan itu benar2 membingungkan.

    Tidak ada yg salah dgn Tuhan. Dia ada. Agama hanya pedoman buatan manusia dan itu bs salah.

  • Dian Fitriani (Opit) said:

    i hate that when some people find out that i’m agnostic-atheist , they assume that i am a terrible person. Belief in deity doesnt determine whether someone is good or not.

    im probably more of an agnostic than an atheist and i want to keep it that way for a while now. i dont find the idea of a god or a higher authority ridiculous. but i choose not to believe because it is more to my liking not to. religion shouldnt stop you from becoming friends with someone. it also shouldnt justify someone telling you that you will go to hell for not believing in their god.

  • suradi said:

    saya agak aneh kalau ada yang tidak percaya (100persen) bahwa alam semesta ini yang tidak terbayang ada ujungnya dengan segala kemegahannya tidak ada penciptanya, apapun namanya itu, hanya mungkin orang jadi atheist bukannya tidak mempercayai adanya something/someone sebagai creator tapi mungkin karena menganggap something/God itu tidak ada pengaruh dalam kehidupannya berdasarkan kekecewaan atas gagalnya harapan yang digantungkan pada God/Supernaturan being ( atau kalau mau disebut kekuatan alam silahkan), kalau God/Allah/HaShem/Holy Ghost/Dewa/Deity itu kan merupakan nama yang diberikan kepada penguasa/pencipta alam semesta ini? dan sangat ngga logis kalau yang beranggapan bahwa alam semesta ini tercipta tanpa suatu power yang mengatur dengan rapi.

  • shape said:

    hehm, gw lmyn tertarik ama pembicaraan ini, tp klo mnrt gw Tuhan itu uda pasti ada, simpel nya aja siapa yg ciptain manusia prtm kali klo bukan Tuhan, karna beribu ribu tahun yg lalu manusia itu blom ada,,
    logika kita memang tidak bisa menjawab semua pertanyaan kita tentang Tuhan karna kita ini hanyalah salah satu ciptaannya,,
    Dan tidak mungkin ada ciptaan yg jauh lbh pintar dari penciptanya,,
    thanks

  • yudhian said:

    …sy dulu atheis…sampai pada tahap saya ingin mengakhiri hidup…lucunya koq saya takut mati…???
    logika awam sy mengatakan…” hidup saya begitu sulit,lebih baik berakhir, tapi kenapa saya takut untuk mengakhiri hidup saya..bukankah ketika Tuhan tidak ada maka otomatis dosa pun tidak ada…tapi kenapa saya tidak berani mengakhiri hidup saya..? ”

    Apa yang saya takutkan? darimana ketakutan itu muncul…? itu proses saya menjadi agnostik…

    dan untuk meyakini suatu agama sya pun “Menantang Tuhan”

    dan hari ini saya (Alhamdulillah) memeluk agama Islam…setelah kesana kemari…

    Teman2 sekalian,saya penggemar psikologi tapi bukan ahli psikologi? ada yang bisa bantu utk menganalisis proses saya tersebut?

    siapa tahu berguna untuk yang kawan2 yg lain dan untuk ilmu pengetahuan… :)

  • gits said:

    yapyap, sebelum mampir ke artikel ini, gw mampir dulu ke artikel “tentang kematian”. Ga bermaksud meng-generalisasikan, tapi boleh kan kalo gw bilang, “semua manusia pada dasarnya takut mati”, baik yg atheis maupun yang theis pasti di dalam dirinya ada secuil maupun perasaan takut yang melimpah ruah ketika dihadapkan dengan kematian. Dan setiap makhluk berinsan pasti akan mengingat Tuhan di detik-detik menuju kematiannya, wether jaman dulunya dia memiliki kesehatan sosial yang tinggi atau tidak, tapi kodratnya manusia itu makhluk yang lemah. Akan ada titik dimana kita menyerahkan segalanya pada kekuatan yang lebih besar. :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word