Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Olahraga, Psikologi sosial

Saya suka Arsenal, anda suka tim apa?

18 March 2010 1,248 views 4 Comments

arsenalfans0108gett_784730c

“Kalo ga salah merhatiin, gw cukup sering liat status di Facebook dan updates di Plurk dan Twitter yang isinya emosi terkait tim sepak bola tertentu. Kalo tim yang didukung menang yaa isinya seneng, kalo kalah yaa sedih atau kesel… Di dunia nyata, kadang gw nemu temen (biasanya cowo) yang nampak BT seharian dan ternyata karena tim bola yang didukungnya kalah… gw bertanya gimana prosesnya sampe seseorang memutuskan untuk menggemari tim tertentu …?” http://www.facebook.com/notes/shanti-nurfianti-andin/jadi-bt-seharian-karena-chelsea-kalah-kenapa-dah/325260786785

Jujur saja, saya mungkin termasuk salah satu dari orang-orang yang tergambar dalam kutipan diatas. Meskipun saya tidak akan kesal selama satu hari penuh ketika tim kesayangan saya mengalami kekalahan, tapi tidak bisa dipungkiri saya pastinya akan merasa senang selama beberapa waktu jika mereka menang. Mungkin anda pernah mengalami kejadian serupa? Saat sebuah tim bertanding, hasil dari pertandingan tersebut bisa mempengaruhi ‘kehidupan’ anda? Atau mungkin orang-orang terdekat anda? Ketika kalah, maka emosi yang dirasakan mulai dari sedih, kecewa, hingga marah. Sedangkan ketika menang, tentu saja rasa senang yang dirasakan. Hal yang unik, mengingat, kita tidak ikut bertanding, bahkan, berhubungan dengan tim itu pun tidak. Ketika membaca notes di atas, saya pun mempertanyakan kepada diri saya mengapa saya menyukai tim sepak bola tertentu.

Untuk alasan regional, saya rasa merupakan hal yang wajar jika kita menyukai tim tertentu yang memang ‘tidak jauh’ secara geografis dari kita. Hal tersebut mungkin dikarenakan oleh adanya kemudahan akses untuk melihat mereka bertanding, kesamaan nilai dari tim dan individu, dan hal lainnya. Sebagai orang Indonesia, kita pasti akan mengelukan-elukan tim nasional kita ketika bertanding dengan negara lain. Namun ketika kita tidak mempunyai hubungan apapun dengan sebuah tim baik dalam level klub atau internasional (negara), akan muncul pertanyaan “Apa yang membuat kita menyukai, mendukung, atau merasa menjadi bagian dari tim tersebut?”

Funk dan James (2001) menjelaskan bahwa proses terjadi nya ‘hubungan’ antara individu dengan sebuah tim terdiri dari empat tahapan. Sebelumnya dijelaskan bahwa individu mungkin mengalami keempat tahapan tersebut, sedangkan beberapa individu hanya mengalami beberapa tahapan saja tanpa mengalami tahapan berikutnya. Semakin tinggi tahapan yang dialami, maka ‘hubungan’ yang dirasakan akan semakin kuat.

Tahap pertama adalah awareness atau sadar akan keberadaan sebuah tim. Penelitian menunjukkan bahwa individu biasanya sadar akan keberadaan sebuah tim karena dipengaruhi oleh lingkungan – orangtua, teman, pelatih, sekolah, gereja, komunitas, dan media (Kenyon dkk, dalam Funk dan James, 2001). Ditambahkan bahwa kesadaran individu tentang dunia olahraga dan sebuah tim olahraga juga dipengaruhi oleh orang-orang terdekat yang berperan signifikan pada setiap tahap perkembangannya. Misal, A mengenal sepak bola sejak kecil karena orang tuanya memiliki ketertarikan lebih terhadap olahraga tersebut, maka besar kemungkinan ia akan menyukai tim sepak bola yang sama seperti orang tuanya. Sedangkan B yang mengenal sepak bola di usia remaja akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menyukai tim yang sama-sama disukai oleh temannya. Sedangkan pada usia dewasa, kesadaran individu akan keberadaan suatu cabang olahraga atau tim olahraga tertentu juga dapat dipengaruhi oleh rekan kerja, pacar, komunitas, media, promosi tentang tim terbaru, kostum terbaru, ataupun liga terbaru.

Proses kedua adalah ketertarikan. Tahu tentang suatu cabang olahraga atau tim olahraga tertentu, tapi tidak tertarik terhadap keduanya menandakan bahwa individu sudah memiliki kesadaran namun bukan ketertarikan. Semakin banyak pengetahuan individu tentang suatu cabang olahraga atau tim, memberikan pemikiran atau perbandingan baginya sehingga dapat membuat ‘keputusan’ tim mana yang pada akhirnya lebih disukai. Lebih jauh dijelaskan bahwa ketertarikan merupakan hasil dari evaluasi dan perbandingan beberapa tim dan olahraga. Sutton, McDonald, Milne, Arnherst, Cimperman (1997) menjelaskan faktor yang paling mempengaruhi ketertarikan individu terhadap sebuah tim adalah prestasi. Faktor tersebut dapat muncul karena individu seakan-akan merasakan adanya keterkaitan dan kesuksesan yang dialami sebuah tim. Sedangkan menurut Funk dan James (2001) faktor yang paling berpengaruh adalah entertainment atau hiburan. Jika sebuah tim atau pemain mampu menyajikan permainan yang memukau, besar kemungkinan tim tersebut akan disukai oleh banyak orang. Adapaun faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah situasi social (penerimaan lingkungan,jika tidak mendukung sebuah tim –biasanya tim daerah maka akan dikucilkan); keadaan fisik (stadion yang menarik; dan faktor situasional seperti promosi sebuah tim (kostum tim yang didiskon dsb)

Tahap ketiga adalah attachment atau keterikatan. Seiring dengan berjalannya waktu, individu akan memiliki hubungan emosional antara diri dan tim yang disukainya (Krosnick dan Berent, dalam Funk dan James, 2001). Funk dan Pastore (dalam Funk dan James, 2001) menjelaskan saat individu menyukai sebuah tim, ia akan memiliki lebih banyak pengetahuan dan pengalaman (misal: nonton bareng dengan teman-teman, menonton langsung ke stadion dsb). Pengalaman dan ketertarikan tersebut akan semakin ‘mengikat individu’. Seperti layaknya sebuah hubungan asmara, semakin banyak tahu tentang pasangan, maka semakin besar kemungkinan mereka berhubungan.

Adanya ketertarikan terhadap sebuah tim ditambah lagi dengan pengalaman menyukai tim tersebut akan menimbulkan keterikatan. Sebagai contoh, A yang menyukai tim AB, seiring dengan berjalannya waktu akan semakin sering menonton tim AB ketika bertanding. Dengan demikian A akan semakin mengenal para pemain yang terdapat di dalam tim tersebut, kualitas permainan mereka, juga merasakan emosi tertentu saat tim tersebut kalah atau menang. Pada akhirnya A mampu menganggap bahwa ia adalah bagian dari tim tersebut, disinilah proses attachment itu terjadi.

Tahap terakhir adalah allegiance atau kesetiaan. Funk dan James (2001) menjelaskan bahwa kesetiaan muncul saat individu memiliki sikap pantang mundur terhadap timnya; menolak, menyalahkan. atau tidak menyukai tim lain; dan hal yang terkait dengan tim mampu mempengaruhi tingkah laku individu. Hal ini bisa dilihat seperti kutipan di awal tulisan ini, saat sebuah tim mengalami kekalahan, individu yang menyukai tim tersebut cenderung membela timnya, menyalahkan tim lain, terus membela tim yang disukai dan bisa mempengaruhi perasaan dan tingkah laku individu selama beberapa waktu tertentu.

Alasan seseorang menyukai sebuah tim tidaklah selalu sama antara satu individu dengan indvidu lainnya. Namun kurang lebih mereka akan mengalami proses seperti yang dijelaskan diatas. Dengan semakin canggihnya teknologi saat ini, semakin mudah bagi kita untuk menikmati tim favorit kita bertanding. Bagi mereka yang berkesempatan untuk menikmati pertandingan tim kesayangannya, hal tersebut bisa berakibat emosi positif jika menang dan emosi negatif hasilnya tidak sesuai harapan. Semoga saja tim favorit anda mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap keseharian anda.

Nova Ariyanto JoNo

Sumber:

Sutton, W.A., McDonald, M.A., Milne, G.R., & Cimperman, J. 1997. Creating and Fostering Fan Identification in professional sport. Sport Marketing Quarterly volume VI number 1.

Funk, D.C., & James, J. 2001. The Psychological Continuum Model: A Conceptual Framework for understanding an Individual’s Psychological Connection to Sport. Sport Management Review, 2001, 4, 119–150.

4 Comments »

  • Elmer dan Ucup said:

    hmmm menarik jon
    nais inpoh gan….

    tp mnrt gw ada hal lain jg yg membuat gw kesel klo tim gw kalah….

    sebagai gambaran..
    andaikan Juventus atau PSMS kalah. rasa was2 itu terjadi bkn karnena tim ini kalah saja.perasaan kesal justru timbul keesokan harinya atau bahkan beberapa hari kemudian.

    ilustrasi
    saat mulai berjalan ke kampus, masuk ke kantin. disana tampak seorang pemain basket siko, atau salah satu mantan ketua senat, atau beberapa pemain fc 08.apa yang terjadi kemudian…. yap bisa ditebak… terlontarlah beberapa cemoohan yg menyayat hati menusuk jiwa.
    hal ini jugalah yg mnjadi salah satu alasan gw kesal ketika tim gw kalah.

  • Jono (author) said:

    ya udahlah cuuupppp
    ganti pelatih udaaaah, tapi kalo sama tim paling bawah aja seri
    buat apa loe bangga-banggakan???

    *sesuai gak sama ilustrasi yang loe gambarkan?? hahahahha

  • Hobert Ospara said:

    Gila,,keren banget jon..maaf baru baca ya..gw ga bisa ngebuka site ini awalnya..jadi tertarik dan pengen baca lagi dah,,hohohoho..keep on writing bro..kayaknya mesti dikonkritkan ni psi.olahraganya..hehehe..thanks jon..=)

  • JoNo (author) said:

    Hobeeeeeeeetttt !!!

    Apakabar knalpot?? Huahahahahha

    Ayo bet,dibuat lah psi olahraga lagi
    Gw tunngu tulisan2 olahraga loe ya

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word