Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi sosial

Saat Identitas Diri Tenggelam dalam Kelompok

21 March 2010 2,582 views 6 Comments

tawuran

Joko, seorang penggemar tim sepakbola A adu mulut dengan Toni yang merupakan penggemar tim sepakbola B karena tidak sengaja saling menabrak. Mereka saling adu mulut di depan stadion Gelora Bung Karno, menjelang pertandingan antar tim A melawan tim B. Melihat dua orang dengan atribut tim kesayangannya masing-masing saling adu mulut, beberapa penggemar tim A menghampiri Joko dan tanpa banyak basa-basi, langsung mendesak Toni. Tak jauh dari situ, para penggemar tim B yang melihat Toni didesak datang menghampiri, dan membela Toni. Masalah ini pun tidak lagi menjadi masalah pribadi antar Joko dan Toni, dan menjadi saling adu jotos antar kelompok.

Hampir setiap minggu kita mendengar ada kerusuhan pada pertandingan sepakbola dalam negeri. Tidak jarang kita mendengar bahwa kerusuhan yang terjadi hanya dipicu oleh provokasi beberapa orang. Pertanyaannya, mengapa masalah segelintir orang dapat berlanjut menjadi kerusuhan dimana sekelompok orang terlibat?

Tidak hanya dalam pertandingan sepakbola, di dunia SMA, tawuran antar pelajar pun kadang membuat kita hanya bisa menggelengkan kepala atau bila ditarik mundur ke 10 tahun yang lalu, kita ingat bahwa ada penjarahan besar-besaran di tahun ‘98. Mengapa orang dapat menjadi sebegitu buasnya apabila mereka berada di dalam suatu kelompok? Mengapa seseorang yang tenang dan pendiam, dapat berubah total apabila ia berada di dalam sebuah kelompok? Hal tersebut sudah lama diteliti dan berusaha dipecahkan oleh beberapa ilmuwan psikologi.

Pada tahuan 1952, Festinger meneliti fenomena tersebut dan menamakannya deindividuation, yaitu situasi dimana perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma muncul di dalam suatu kelompok orang dimana masing-masing orangnya merasa identitas mereka melebur dengan identitas kelompoknya. Dengan meleburnya identitas setiap orang dengan identitias kelompok, maka otomatis mereka akan bertindak lebih ‘bebas’ karena orang-orang tersebut merasa tidak ‘terlihat’ atau tidak perlu bertanggung jawab karena melakukannya “ramai-ramai”. Contoh mudahnya adalah tawuran. Anak-anak sekolah A dan B  melakukan tawuran karena hanya alasan “tradisi” dan mereka menjadi lebih berani untuk merusak, melempar batu ke lawannya karena mereka melakukannya bersama-sama padahal tidak satu pun dari anak-anak tersebut memiliki masalah pribadi dengan lawannya.

Deindividuation dapat memperlemah kepatuhan seseorang untuk menaati norma-norma sosial yang ada,  seperti tidak melanggar peraturan yang berlaku dan lain-lain. Anak-anak remaja yang sedang berjalan berkelompok akan melakukan tindakan yang melanggar norma tanpa merasa bersalah untuk mencoret-coret tembok atau merusak fasilitas umum karena ada perasaan “kebersamaan” dalam melakukan tindakan tersebut. Selain itu, deindividuation dapat meningkatkan tingkat responsif suatu kelompok terhadap suatu pemicu baik positif maupun negatif. Sering kita mendengar atau bahkan melihat langsung bahwa sekelompok orang dapat dengan mudahnya mengamuk dan melakukan tindakan anarkis hanya karena hal-hal sepele.

Kedua hal di atas merupakan hal yang berbahaya dan patut diwaspadai oleh kita semua. Jangan sampai kita menjadi orang yang mudah terprovokasi atau dengan buta mengikuti apa yang dilakukan oleh kelompok kita. Di Indonesia, kerusuhan menjadi makanan sehari-hari dalam berita televisi, oleh karena itu sudah saatnya kita mengingatkan pada orang-orang di sekitar kita untuk tidak mudah terpancing emosinya. Beberapa tips untuk menurunkan efek deindividuasi pada kita:
Ingat bahwa kita harus bertanggung jawab secara pribadi terhadap apapun yang kita lakukan di dalam kelompok. Jadi, apapun yang dilakukan kelompok kita, kembali renungkan bahwa pada akhirnya, kita harus mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan sebagai pribadi, bukan sebagai kelompok. Pikirkan apa yang akan kita katakan secara individual bila kita diminta mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita perbuat. Dan juga Ingatlah bahwa kelompok kita bukanlah diri kita, oleh karena itu pikir dua kali sebelum melakukan tindakan di dalam kelompok.

Jadilah individu yang pintar dan anggota kelompok yang pandai. (Khrisnaresa)

Sumber:
Festinger, L., Pepitone, A. and Newcomb T. (1952). Some consequences of deindividuation in a group. Journal of Abnormal and Social Psychology, 47, 382-389.
http://www.encyclo.co.uk/define/deindividuation
http://social-therapy.suite101.com/article.cfm/the_process_of_deindividuation

6 Comments »

  • ilyas said:

    nice post, hmmm ga boleh terpancing emosi

  • Posnianus Oloan said:

    Bolehlah kalau pada tahun 1952, FESTINGER meneliti fenomena tawuran dan kerusuhan yang disebutnya sebagai “deindividuation”, yaitu situasi dimana perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma muncul di dalam suatu kelompok orang dimana masing-masing orangnya merasa identitas mereka melebur dengan identitas kelompoknya.

    Saya kurang setuju dengan yang dikatakan sebagai “….meleburnya identitas pribadi ke dalam identitas kelompok……”.

    Kalau menurut saya, peristiwa tawuran dan kerusuhan, terjadi sesungguhnya adalah hasil dari orang-orang yang sebetulnya tidak memiliki identitas pribadi yang jelas dalam dirinya, begitu masuk dan melihat identitas baru dengan situasi dan kondisi yang sangat berbeda dan bertolak belakang seperti apa yang ada dalam dirinya sendiri, pribadi tersebut ternyata bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh banyak orang ndalam kelompok barunya.

    Fenomena ini bisa terjadi justru dihasilkan oleh orang-orang yang saya yakin tidak memiliki identitas dan jati diri. Kumpulan orang yang tidak memiliki identitas yang jelas, akan melakukan apapun yang ada dalam pikiran mereka secara spontan. Apalagi bila terjadinya di dalam satu kelompok. Bila sudah terbentuk kelompok, apalagi kelompok itu dibentuk dari orang-orang yang tidak memiliki jati diri, maka pikiran untuk menyerang orang lain adalah keinginan paling kuat yang ada karena begitu kelompok terbentuk, tumbuhlah satu kekuatan baru untuk menyerang orang lain selain yang tidak termasuk dalam kelompoknya. Kita ambil contoh saja dari terbentuknya Angin tornado. Pada awalnya Tornado adalah angin-angin kecil. Tapi pada waktu tornado tumbuh menjadi satu kelompok yang besar, timbullah efek dari gerakan kelompok, yaitu merusak yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan kelompok tawuran. Karena sudah terbentuk besar, pengrusakan dimana-mana pasti terjadi. Jadi bisa dikatakan, Kelompok yang dihasilkan oleh individu yang tidak memiliki identitas yang jelas, apabila menjadi besar, justru efeknya adalah merusak. Namu, kelompok yang terbentuk dari individu yang telah memiliki jati diri yang kuat, ketika menjadi satu kelompok yang besar, justru akan melebur dan membentuk sifat baru yang lebih menguntungkan. Begitu menurut saya….

  • ramadion said:

    @ Posnianus:
    sebuah hipotesa yang menarik. tentu saya sangat mengharapkan posnianus mencoba mendapatkan data empirisnya. kami dengan senang hati akan ikut mempromosikan jurnal anda nantinya, sebuah jurnal yang membongkar Festinger :D

  • karyawan said:

    Baru dengar kalimat “deindividuation”. Thanks utk penjelasannya.
    Bolehkan saya berpendapat lain. Utk saran diatas tentang tanggung jawab, hal tersebut bukan yg ada saat berada di lapangan pertempuran. Menurut saya itu adalah gensi dan sifat ego manusia yg tak terkalahkan. Sombong kata lainnya.

    Menurunkan amarah dari dalam dirinya sendiri, saya belum mengenal mudah marah dari keturunan. Lebih tepatnya dari kebiasaan sejak kecil. Kenapa saya berpendapat begitu, karena saya dulu sangat pemarah dan mudah di sulut menjadi kemarahan yg besar. Sekarang, alhamdulillah semua bisa terkendali. Karena saya sudah mengurangi ego dan tak mau mendapat PENGAKUAN dari lingkungan.

  • Khrisnaresa adytia (author) said:

    @posnianus: terimakasih atas masukannya. :) saya juga pernah membaca teori dari zimbardo mengenai deinviduation ini. Kalau dia membahas apa yang posnianus kemukakan, yaitu seseorang yang secara buta mengikuti tindakan kelompoknya.

    zimbardo waktu itu sedang melakukan eksperimen “Stanford prison experiment” dan menemui fenomena menarik mengenai deindividuation. Di bukunya “lucifer effect” dibahas secara mendalam mengenai eksperimen dan fenomena-fenomena deindividuation. :)

  • andin said:

    umumnya cowo emang berani klo keroyokan..liat aj cowo berani godain cewe klo lg brg2 sm tmn2nya.y cewe jg gtu c klo ngumpul psti gosip (better)..
    hehehe..
    kdg saat thimpit dlm kelompok,qt mrasa kuat dan bs senak jidat..ga inget konsekuensiny..pd dasarnya manusia cenderung rebel,pngn bebas nglakuin ap yg diinginkn..saat b’ada d tengah2 klmpk.qt mmanfaatkn ksmptn.toh klo dhukum brg2..

    individual=egois
    deindividual+rusuh=egois jg..
    sama aj..hehe

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word