<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Ketika Kisah Romeo-Juliet Menjadi Nyata</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Mon, 21 May 2012 19:32:47 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: fienso</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet/comment-page-1#comment-695</link>
		<dc:creator>fienso</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 07:03:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=866#comment-695</guid>
		<description>bagues, banget euy.. buat pencerahan,
salam,
fienso
http://citraindahciputra.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagues, banget euy.. buat pencerahan,<br />
salam,<br />
fienso<br />
<a href="http://citraindahciputra.com" rel="nofollow">http://citraindahciputra.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ayu R. Yolandasari</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet/comment-page-1#comment-582</link>
		<dc:creator>Ayu R. Yolandasari</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 13:33:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=866#comment-582</guid>
		<description>Waaah..artikel yg menarik...

Setuju dengan pernyataan ketidak setujuan social networking bisa membuat pasangan terlihat lebih menarik dan keinginan untuk mempertahankan menjadi lebih besar.terlebih jika pasangan yang ditolak tersebut tampak "berjuang" untuk mempertahankan hubungan,itu akan jadi nilai plus tersendiri.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Waaah..artikel yg menarik&#8230;</p>
<p>Setuju dengan pernyataan ketidak setujuan social networking bisa membuat pasangan terlihat lebih menarik dan keinginan untuk mempertahankan menjadi lebih besar.terlebih jika pasangan yang ditolak tersebut tampak &#8220;berjuang&#8221; untuk mempertahankan hubungan,itu akan jadi nilai plus tersendiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vendy</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet/comment-page-1#comment-571</link>
		<dc:creator>vendy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 08:28:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=866#comment-571</guid>
		<description>Herannya, saya pernah nemu kasus kayak begini, dan ortunya pakai strategi ke-4. Entah karena efek tahayul (aka pamali, semisal ndak boleh kawin dengan cowo yang beda x tahun karena bisa bawa sial), atau karena posisinya sebagai anak (fyi, dia cewe) yang memang sering kena pressure, akhirnya dia "terpaksa" putus.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Herannya, saya pernah nemu kasus kayak begini, dan ortunya pakai strategi ke-4. Entah karena efek tahayul (aka pamali, semisal ndak boleh kawin dengan cowo yang beda x tahun karena bisa bawa sial), atau karena posisinya sebagai anak (fyi, dia cewe) yang memang sering kena pressure, akhirnya dia &#8220;terpaksa&#8221; putus.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ramadion</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet/comment-page-1#comment-567</link>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 22:47:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=866#comment-567</guid>
		<description>@ Whisnu: penjelasan cognitive dissonance-nya sangat melengkapi artikel ini :D

authornya Edelia. memang kalau di artikelnya tidak akan terlihat. tapi, kalau kamu klik di kolom "browse by authors" di bagian kanan tengah halaman ini, kamu bisa baca artikel-artikel yg ditulis hanya oleh Edelia (atau penulis-penulis lain).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Whisnu: penjelasan cognitive dissonance-nya sangat melengkapi artikel ini <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>authornya Edelia. memang kalau di artikelnya tidak akan terlihat. tapi, kalau kamu klik di kolom &#8220;browse by authors&#8221; di bagian kanan tengah halaman ini, kamu bisa baca artikel-artikel yg ditulis hanya oleh Edelia (atau penulis-penulis lain).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Whisnu Thomas</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet/comment-page-1#comment-566</link>
		<dc:creator>Whisnu Thomas</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 13:50:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=866#comment-566</guid>
		<description>Hmm.. Artikel yang menarik. Dan 100 persen setuju. Btw, social network sama dengan subjective norm-nya Fishbein &amp; Adjzen yah.. dan selain psychological reactance, gw rasa ada satu hal lagi yang juga mempengaruhi, yaitu justification of effort.. ketika orang tua bilang pacar kamu tuh begini..begitu (yang jelek-jelek), klo si anak bilang setuju, berarti dia merasa dirinya bodoh (karena kalau memang pacarnya seburuk itu, kanap dia mau?), akhirnya terjadi fenomena yang disebut cognitive dissonance, lalu dia menjelaskan pada orang tuanya bahwa mereka salah, sebenarnya banyak hal-hal baik yang bisa dilihat dari pacarnya (atau bahwa pacar saya bisa berubah kok..). lalu, karena orang tsb udah susah payah membela mati-matian mengenai pacarnya ke ortunya, maka sampailah pada pertanyaan kenapa harus sampai membela sedemikian rupa? akhirnya orang ybs menjawab karena cinta (padahal bukan, karena justification of effort doank). Dan itulah kenapa cintanya makin kuat dan seperti yang ditulis di kalimat terakhir, pasangannya jadi terlihat lebih menarik dari yang sebenarnya..

Tapi gw salut sama artikelnya, banyak menambah wawasan baru untuk gw, dan apalagi untuk orang-orang lain yang belum ngerti dengan hal-hal seperti ini sama sekali.. btw, mana nama authornya yah? kok gw ga nemu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm.. Artikel yang menarik. Dan 100 persen setuju. Btw, social network sama dengan subjective norm-nya Fishbein &amp; Adjzen yah.. dan selain psychological reactance, gw rasa ada satu hal lagi yang juga mempengaruhi, yaitu justification of effort.. ketika orang tua bilang pacar kamu tuh begini..begitu (yang jelek-jelek), klo si anak bilang setuju, berarti dia merasa dirinya bodoh (karena kalau memang pacarnya seburuk itu, kanap dia mau?), akhirnya terjadi fenomena yang disebut cognitive dissonance, lalu dia menjelaskan pada orang tuanya bahwa mereka salah, sebenarnya banyak hal-hal baik yang bisa dilihat dari pacarnya (atau bahwa pacar saya bisa berubah kok..). lalu, karena orang tsb udah susah payah membela mati-matian mengenai pacarnya ke ortunya, maka sampailah pada pertanyaan kenapa harus sampai membela sedemikian rupa? akhirnya orang ybs menjawab karena cinta (padahal bukan, karena justification of effort doank). Dan itulah kenapa cintanya makin kuat dan seperti yang ditulis di kalimat terakhir, pasangannya jadi terlihat lebih menarik dari yang sebenarnya..</p>
<p>Tapi gw salut sama artikelnya, banyak menambah wawasan baru untuk gw, dan apalagi untuk orang-orang lain yang belum ngerti dengan hal-hal seperti ini sama sekali.. btw, mana nama authornya yah? kok gw ga nemu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

