Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi sosial

Ketika Kisah Romeo-Juliet Menjadi Nyata

17 January 2010 3,862 views 5 Comments

2269713827_4ce1911f16Pernah jatuh cinta pada seseorang atau memiliki pacar yang tidak disukai oleh orangtua Anda? Seberapa besar penilaian orangtua Anda tersebut berpengaruh terhadap diri Anda? Lebih jauh, seberapa besar hal tersebut berpengaruh terhadap hubungan Anda dengan pasangan Anda?

Hal yang wajar apabila pendapat atau penilaian orangtua memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap individu. Orangtua adalah salah satu bagian dari social networks* yang dapat memberikan pengaruh terhadap romantic relationship yang sedang dijalani oleh individu. Felmlee (2001) menemukan bahwa ketika social networks menunjukkan persetujuan terhadap sebuah hubungan, reaksi ini akan menguatkan ikatan antar pasangan tersebut. Sehingga, pendapat dari social networks cukup berpengaruh dan individu cenderung mencari persetujuan dari social networks.

Namun tidak jarang hal yang sebaliknya terjadi. Pada saat individu mendapatkan penolakan dari social networks mengenai hubungannya, semakin kuat keinginan individu untuk mempertahankan hubungannya. Secara umum, individu memiliki kecenderungan untuk berjuang mengatasi berbagai masalah yang menghalangi mereka mendapatkan tujuan mereka. Hal ini dikenal sebagai teori psychological reactance yang dicetuskan oleh Brehm. Teori ini menyatakan bahwa ketika individu kehilangan kebebasan bertindak atau memilih, mereka akan berusaha untuk mendapatkan kembali kebebasan mereka. Demikian pula saat individu merasa kehilangan kebebasannya akibat campur tangan dari social networks nya.

Ingat kisah Romeo and Juliet?

Mungkin kisah ini adalah salah satu kisah paling terkenal yang mengangkat psychological reactance theory, mengenai perjuangan sepasang pemuda dan pemudi untuk mendapatkan cinta mereka. Tak dapat dipungkiri, kisah-kisah semacam ini banyak dijumpai di kehidupan nyata. Ketika orangtua tidak menyetujui hubungannya dengan pasangan, individu tersebut semakin merasa jatuh cinta pada pasangannya. Pola seperti ini akhirnya dikenal sebagai romeo and juliet effect, yang pertama kali diteliti oleh Driscoll, Davis & Lipetz.

Berbagai penelitian menguatkan penelitian Driscoll, David & Lipetz yang menemukan korelasi positif antara campur tangan orang tua dengan bertambah kuatnya cinta dan kepercayaan. Pada tingkat tertentu, hubungan yang dirahasiakan menjadi lebih menarik, terutama apabila hubungan tersebut dikarenakan ketidaksetujuan dari orangtua (Wegner, Lane, & Dimitri, 1994). Selain itu, rasa tidak setuju dari keluarga mendorong pasangan untuk menghadapi dan menyesaikan masalah dengan anggota keluarga tersebut, sehingga menguatkan hubungan mereka (Felmlee, 2001).

Jadi, para orangtua, apa yang harus dilakukan untuk mempengaruhi anak namun tidak menciptakan psychological reactance pada diri mereka?

Ada empat strategi mempengaruhi seseorang yang paling sering digunakan. Keempat strategi ini seperti matriks positif – negatif dan langsung – tidak langsung. Keempat strategi itu adalah (Moss, 2008):
1. Positif dan langsung; mencakup argumen rasional dan logis
2. Positif dan tidak langsung; menggunakan humor dan berbicara dengan perspektif orang tersebut – dalam hal ini, orangtua mencoba melihat dari sudut pandang anak.
3. Negatif dan langsung; melalui kritik dan perintah, terkadang disertai dengan emosi seperti marah
4. Negatif dan tidak langsung; seperti dengan memanipulasi perasaan dengan airmata.
Diantara keempat strategi ini, strategi positif dan tidak langsung dianggap sebagai yang paling berhasil dalam mempengaruhi anak. Hindari penggunaan strategi langsung terhadap anak. Selain itu, jangan sampai menunjukkan penolakan secara berlebihan, karena dapat membuat pasangan sang anak akan terlihat lebih menarik daripada yang sebenarnya.

*cat.: Social networks terdiri dari orang-orang yang berhubungan dengan pasangan romantis. Namun, yang termasuk social networks ini juga harus memiliki opini terhadap hubungan tersebut (Fellows, t.thn).

Referensi:
Fellows, J. (t.thn). Personality Differences on Need for Approval for Romantic Relationships from Social Networks. Thesis. Haverford College Psychology Department
Felmlee, D. H. (2001). No Couple is An Island: A Social Network Perspective on Dyadic Stability. Social Forces, 79, 1259-1287.
Miller, R. S., Perlman, D., & Brehm, S. S. (2007). Intimate Relationship. New York: McGraw-Hill.
Moss, D. S. (2008, October 18). Psychological reactance theory. Retrieved September 28, 2009, from Psychlopedia: http://www.psych-it.com.au/Psychlopedia/article.asp?id=65
Rawlins, R. (2006). The Effect of Social Network Disapproval on Partners’ Dating Relationship: The Romeo and Juliet Effect. Thesis.Utah State University.
Wegner, D. M., Lane, J. D., & Dimitri, S. (1994). The Allure of Secret Relationship. Journal of Personality and Social Psychology, 66, 287-300.

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/tschopper/2269713827/

5 Comments »

  • Whisnu Thomas said:

    Hmm.. Artikel yang menarik. Dan 100 persen setuju. Btw, social network sama dengan subjective norm-nya Fishbein & Adjzen yah.. dan selain psychological reactance, gw rasa ada satu hal lagi yang juga mempengaruhi, yaitu justification of effort.. ketika orang tua bilang pacar kamu tuh begini..begitu (yang jelek-jelek), klo si anak bilang setuju, berarti dia merasa dirinya bodoh (karena kalau memang pacarnya seburuk itu, kanap dia mau?), akhirnya terjadi fenomena yang disebut cognitive dissonance, lalu dia menjelaskan pada orang tuanya bahwa mereka salah, sebenarnya banyak hal-hal baik yang bisa dilihat dari pacarnya (atau bahwa pacar saya bisa berubah kok..). lalu, karena orang tsb udah susah payah membela mati-matian mengenai pacarnya ke ortunya, maka sampailah pada pertanyaan kenapa harus sampai membela sedemikian rupa? akhirnya orang ybs menjawab karena cinta (padahal bukan, karena justification of effort doank). Dan itulah kenapa cintanya makin kuat dan seperti yang ditulis di kalimat terakhir, pasangannya jadi terlihat lebih menarik dari yang sebenarnya..

    Tapi gw salut sama artikelnya, banyak menambah wawasan baru untuk gw, dan apalagi untuk orang-orang lain yang belum ngerti dengan hal-hal seperti ini sama sekali.. btw, mana nama authornya yah? kok gw ga nemu?

  • ramadion said:

    @ Whisnu: penjelasan cognitive dissonance-nya sangat melengkapi artikel ini :D

    authornya Edelia. memang kalau di artikelnya tidak akan terlihat. tapi, kalau kamu klik di kolom “browse by authors” di bagian kanan tengah halaman ini, kamu bisa baca artikel-artikel yg ditulis hanya oleh Edelia (atau penulis-penulis lain).

  • vendy said:

    Herannya, saya pernah nemu kasus kayak begini, dan ortunya pakai strategi ke-4. Entah karena efek tahayul (aka pamali, semisal ndak boleh kawin dengan cowo yang beda x tahun karena bisa bawa sial), atau karena posisinya sebagai anak (fyi, dia cewe) yang memang sering kena pressure, akhirnya dia “terpaksa” putus.

  • Ayu R. Yolandasari said:

    Waaah..artikel yg menarik…

    Setuju dengan pernyataan ketidak setujuan social networking bisa membuat pasangan terlihat lebih menarik dan keinginan untuk mempertahankan menjadi lebih besar.terlebih jika pasangan yang ditolak tersebut tampak “berjuang” untuk mempertahankan hubungan,itu akan jadi nilai plus tersendiri.

  • fienso said:

    bagues, banget euy.. buat pencerahan,
    salam,
    fienso
    http://citraindahciputra.com

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word