Home » Essay, Psikologi perkembangan

Remaja Indonesia: Bedakan Fantasi dan Cita-cita

24 May 2009 1,647 views One Comment

Sawitri Supardi Sadarjoen, Psikolog, menulis di Kompas minggu, 16 maret 2008 dalam rubrik konsultasi. Beliau menulis tentang Orientasi Masa Depan yang dimiliki oleh anak remaja perkotaan sekarang ini. Berikut cuplikan mimpi masa depan yang menjadi obsesi dari seorang remaja berusia 20 tahun dengan inisial O:

“Aku ingin punya rumah cukup besar berisi barang-barang dari Ace Hardware yang membuat hidupku nyaman. Punya satu mobil untuk harian dan satu mobil untuk balapan, satu mobil untuk istri dan mobil untuk anak (untuk dimodifikasi oleh anak). Punya bisnis dimana-mana yang selalu mengucurkan uang banyak sampai bingung cara menghabiskannya, jadi dermawan terkenal dan saleh tetapi tetap gaul, walaupun sudah punya istri. Istri bohay, care edan, baek, pengertian, perfect, dan punya anak-anak yang cantik dan ganteng, hidup keluarga bahagia, segala masalah keluarga dapat diatasi, naik haji bareng keluarga dan yakin suatu hari naik Sorga.”

*O sudah dua semeseter mogok kuliah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Selama mogok, O hanya bermalas-malasan di kamar, kadang mandi kadang tidak, dan pergi bermain ke rumah temannya sampai larut malam.

*Image taken from www.dilbert.com

Sawitri Supardi Sadarjoen menuliskan bahwa remaja perkotaan menjalani hari-harinya dengan santai, tidak terarah, mengikuti alur seperti halnya air mengalir tanpa arah yang jelas, tergantung di landasan dimana air itu bisa mengalir dan akhirnya semua yang mereka alami, kesenangan menjadi pengarah utama dalam hidup mereka; malas membaca, malas belajar, bahkan malas berpikir, bersikap tidak serius, dan cenderung lari dari masalah .

Membaca artikel di rubrik konsultasi tersebut, saya setangah sependapat mengenai apa yang dialami remaja perkotaan membuat kesenangan menjadi pengarah utama dalam hidup mereka. Belum ada penelitian yang saya baca menyimpulkan hal tersebut. Namun, bila membaca testimonial dari O, cukup mengkhawatirkan untuk mengetahui apa yang menjadi pikiran si O dengan apa yang sebenarnya ia lakukan tidak sejalan. Singkatnya: Bagaimana cara untuk mendapatkan semua hal yang menjadi mimpi O kalau hari-harinya hanya bermalas-malasan.

Kisah si O tersebut hendaknya menjadi bahan penting untuk introspeksi diri kita sendiri: Bedakan Fantasi dan Cita-cita. (Khrisnaresa)

One Comment »

  • acha said:

    cita-citanya si O kurang lebih seperti karakter Boy di Catatan Si Boy 1 dan 2. mungkin Catatan Si Boy bisa menjadi wacana perbandingan dengan cita-cita anak muda jakarta. coba dianalisa, ne. gw masih kurang paham tentang psikoanalisis soalnya. hahaha.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word