<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kecemasan Kematian dan Tingkah Laku Mengonsumsi Produk Dalam Negeri</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/produk-dalam-negeri/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/produk-dalam-negeri</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 04:07:37 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: mega puji saraswati</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/produk-dalam-negeri/comment-page-1#comment-780</link>
		<dc:creator>mega puji saraswati</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 09:17:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=503#comment-780</guid>
		<description>Sebagai penulis skripsi, mau mencoba memberikan tanggapan nih. Terlalu lama yah responnya? heuheueheuu... maaf, baru baca..

*untuk yang munculnya komunitas itu..*
Saat ada ancaman bom, secara tidak sadar timbul kecemasan kematian dalam diri masing-masing individu. Nah, untuk meredakan kecemasan ini individu tersebut berkumpul dengan individu lainnya dan membentuk sebuah komunitas yang berbau nasionalisme. Tindakan ini merupakan cerminan dari cara meredakan kecemasan yang "melakukan apa yang dianggap baik oleh budaya sekitar", yaitu dengan membentuk komunitas nasionalis. Mereka merasa dengan membuat komunitas berbau nasionalis, mereka telah melakukan hal yang dianggap benar dalam budaya mereka sehingga mereka merasa nyaman, dan kecemasan mereda.

*mengenai tingkah laku belanja*
HHmmm... mungkin tidak bisa langsung disimpulkan yah berpengaruh atau tidak. Karena belum tahu apakah orang-orang yang belanja itu adalah orang yang mengalami kecemasan kematian karena bom atau bukan. Untuk teori TMT, penting sekali dipastikan individu yang bersangkutan mengalami kecemasan kematian. Selain itu, juga perlu diketahui produk apa yang mereka belanjakan, apakah produk yang membuat mereka merasa aman ketika mengonsumsinya atau bukan. 

Berhubung tingkah laku manusia itu kompleks, banyak faktor yang memengaruhi, jadi tidak bisa langsung diambil kesimpulan yah apakah belanja di mall itu berhubungan dengan kejadian bom atau bukan =)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai penulis skripsi, mau mencoba memberikan tanggapan nih. Terlalu lama yah responnya? heuheueheuu&#8230; maaf, baru baca..</p>
<p>*untuk yang munculnya komunitas itu..*<br />
Saat ada ancaman bom, secara tidak sadar timbul kecemasan kematian dalam diri masing-masing individu. Nah, untuk meredakan kecemasan ini individu tersebut berkumpul dengan individu lainnya dan membentuk sebuah komunitas yang berbau nasionalisme. Tindakan ini merupakan cerminan dari cara meredakan kecemasan yang &#8220;melakukan apa yang dianggap baik oleh budaya sekitar&#8221;, yaitu dengan membentuk komunitas nasionalis. Mereka merasa dengan membuat komunitas berbau nasionalis, mereka telah melakukan hal yang dianggap benar dalam budaya mereka sehingga mereka merasa nyaman, dan kecemasan mereda.</p>
<p>*mengenai tingkah laku belanja*<br />
HHmmm&#8230; mungkin tidak bisa langsung disimpulkan yah berpengaruh atau tidak. Karena belum tahu apakah orang-orang yang belanja itu adalah orang yang mengalami kecemasan kematian karena bom atau bukan. Untuk teori TMT, penting sekali dipastikan individu yang bersangkutan mengalami kecemasan kematian. Selain itu, juga perlu diketahui produk apa yang mereka belanjakan, apakah produk yang membuat mereka merasa aman ketika mengonsumsinya atau bukan. </p>
<p>Berhubung tingkah laku manusia itu kompleks, banyak faktor yang memengaruhi, jadi tidak bisa langsung diambil kesimpulan yah apakah belanja di mall itu berhubungan dengan kejadian bom atau bukan =)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Novie Adzania</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/produk-dalam-negeri/comment-page-1#comment-436</link>
		<dc:creator>Novie Adzania</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 10:53:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=503#comment-436</guid>
		<description>Kalo gw memandangnya begini: Saat terjadi bom marriott 2 kemarin, kemudian ada sebuah gerakan (maaf, saya menyebutnya sebagai gerakan karena memang itu yg saya pahami, bukan suatu komunitas) yang disebut Indonesia Unite, dimana salah satu penggeraknya adalah Pandji Pragiwaksono, rapper yang membawakan lagu Kami Tidak Takut.


teroris sebagai pelaku dibalik peledakkan bom tersebut dianggap sebagai ancaman bagi orang Indonesia. bukan hanya ancaman kematian pada setiap individu (orang indonesia) tapi juga ancaman perusakan citra positif dari bangsa indonesia (negara yang tidak aman dan semacamnya). ancaman ini kemudian memberikan perasaan takut pada bangsa indonesia. nah, gerakan Indonesia Unite dan lagu Kami Tidak Takut tersebut ditujukan kepada orang indonesia untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut kepada teroris (si ancaman). bahwa kelakuan si ancaman ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap keutuhan bangsa. bahwa kelakuannya 'gak ngaruh' ama kita, bangsa indonesia. justru sebaliknya, kelakuannya ini membangkitkan semangat nasionalisme sebagai bangsa indonesia. 

operasionalisasi dari perasaan tidak takut ini ditunjukkan dengan perilaku yang berbelanja ke pusat perbelanjaan (fyi, saat bom marriott 1, butuh waktu jauh lebih lama untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, untuk dapat kepercayaan lagi dari para investor di bursa saham, untuk membangkitkan kembali perasaan berani ke luar rumah, ke pusat keramaian). 

jadi, bukan karena ada bom dan ada perasaan berduka lalu kita berbelanja. walaupun bisa saja ini terjadi untuk mengatasi stress akan kondisi yang ada (coping stress), seperti kata mas dion. 

juga, kalo menurut gw, iklan oli fastron menjadi sangat efektif karena iklan tersebut kluar dan di'udara'kan pada saat yang tepat, yaitu saat rasa nasionalisme bangsa indonesia 'pas lagi tinggi-tingginya', pas baru dapet 'ancaman berupa ledakan bom', pas punya 'musuh bersama' yaitu teroris. 

CMIIW yaaa.. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo gw memandangnya begini: Saat terjadi bom marriott 2 kemarin, kemudian ada sebuah gerakan (maaf, saya menyebutnya sebagai gerakan karena memang itu yg saya pahami, bukan suatu komunitas) yang disebut Indonesia Unite, dimana salah satu penggeraknya adalah Pandji Pragiwaksono, rapper yang membawakan lagu Kami Tidak Takut.</p>
<p>teroris sebagai pelaku dibalik peledakkan bom tersebut dianggap sebagai ancaman bagi orang Indonesia. bukan hanya ancaman kematian pada setiap individu (orang indonesia) tapi juga ancaman perusakan citra positif dari bangsa indonesia (negara yang tidak aman dan semacamnya). ancaman ini kemudian memberikan perasaan takut pada bangsa indonesia. nah, gerakan Indonesia Unite dan lagu Kami Tidak Takut tersebut ditujukan kepada orang indonesia untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut kepada teroris (si ancaman). bahwa kelakuan si ancaman ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap keutuhan bangsa. bahwa kelakuannya &#8216;gak ngaruh&#8217; ama kita, bangsa indonesia. justru sebaliknya, kelakuannya ini membangkitkan semangat nasionalisme sebagai bangsa indonesia. </p>
<p>operasionalisasi dari perasaan tidak takut ini ditunjukkan dengan perilaku yang berbelanja ke pusat perbelanjaan (fyi, saat bom marriott 1, butuh waktu jauh lebih lama untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, untuk dapat kepercayaan lagi dari para investor di bursa saham, untuk membangkitkan kembali perasaan berani ke luar rumah, ke pusat keramaian). </p>
<p>jadi, bukan karena ada bom dan ada perasaan berduka lalu kita berbelanja. walaupun bisa saja ini terjadi untuk mengatasi stress akan kondisi yang ada (coping stress), seperti kata mas dion. </p>
<p>juga, kalo menurut gw, iklan oli fastron menjadi sangat efektif karena iklan tersebut kluar dan di&#8217;udara&#8217;kan pada saat yang tepat, yaitu saat rasa nasionalisme bangsa indonesia &#8216;pas lagi tinggi-tingginya&#8217;, pas baru dapet &#8216;ancaman berupa ledakan bom&#8217;, pas punya &#8216;musuh bersama&#8217; yaitu teroris. </p>
<p>CMIIW yaaa.. <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ramadion</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/produk-dalam-negeri/comment-page-1#comment-224</link>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 03:16:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=503#comment-224</guid>
		<description>wah, kurang tah juga, Nia. kita kan harus bertanya sama mereka yang belanja, apa alasannya belanja? bisa saja, mereka termakan slogan, kan?

tapi, kemungkinan itu ada. karena, belanja memang dikenal sebagai salah satu cara yang sering dipakai manusia untuk katarsis.

yang pasti, negara juga bisa melakukan manajemen kerusakan dengan mengimbau cinta tanah air jika ada serangan. so, walau terjadi bom, kita tak hanya kena imbas buruknya saja :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, kurang tah juga, Nia. kita kan harus bertanya sama mereka yang belanja, apa alasannya belanja? bisa saja, mereka termakan slogan, kan?</p>
<p>tapi, kemungkinan itu ada. karena, belanja memang dikenal sebagai salah satu cara yang sering dipakai manusia untuk katarsis.</p>
<p>yang pasti, negara juga bisa melakukan manajemen kerusakan dengan mengimbau cinta tanah air jika ada serangan. so, walau terjadi bom, kita tak hanya kena imbas buruknya saja <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mynameisnia</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/produk-dalam-negeri/comment-page-1#comment-223</link>
		<dc:creator>mynameisnia</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 14:28:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=503#comment-223</guid>
		<description>Waktu kemarin ada bom, beberapa hari kemudian masyarakat Jakarta sudah berani pergi ke mall untuk belanja. Ada sebuah slogan 'Kami Tidak Takut' yang diusung oleh sebuah komunitas untuk menganggapi fenomena ini untuk menunjukkan masyarakat Jakarta tidak takut dengan teror bom.

Gue mau tanya dong, ini konsepnya sama gak dengan kasus BOM kemarin dengan perilaku belanja (terlepas produk dalam negeri atau enggak), apakah mereka juga bisa dikatakan cemas pada kematian sehingga mereka berbelanja atau gimana? Karena bagi gue ini juga sebuah ironi, dimana orang-orang baru mati kemarin ini kok malah belanja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu kemarin ada bom, beberapa hari kemudian masyarakat Jakarta sudah berani pergi ke mall untuk belanja. Ada sebuah slogan &#8216;Kami Tidak Takut&#8217; yang diusung oleh sebuah komunitas untuk menganggapi fenomena ini untuk menunjukkan masyarakat Jakarta tidak takut dengan teror bom.</p>
<p>Gue mau tanya dong, ini konsepnya sama gak dengan kasus BOM kemarin dengan perilaku belanja (terlepas produk dalam negeri atau enggak), apakah mereka juga bisa dikatakan cemas pada kematian sehingga mereka berbelanja atau gimana? Karena bagi gue ini juga sebuah ironi, dimana orang-orang baru mati kemarin ini kok malah belanja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

