Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Industri & Behavioral Economy

Kecemasan Kematian dan Tingkah Laku Mengonsumsi Produk Dalam Negeri

30 August 2009 1,914 views 4 Comments

3127697570_fc82a5443b

Oleh: Mega Puji Saraswati S.Psi

Ketika membaca judul diatas, apakah Anda lalu bertanya-tanya “Apa benar kecemasan kematian dan tingkah laku mengonsumsi produk dalam negeri dapat dihubungkan? Bila ya, bagaimana caranya?”. Pertanyaan semacam itu merupakan hal yang wajar. Secara logika, kedua hal tersebut memang sulit dicari hubungannya. Namun, ternyata kedua hal ini berhubungan, dan hubungan antara keduanya terjadi di luar kesadaran kita (Pyszczynski, Greenberg, & Solomon, 1999). Dengan adanya hubungan antara dua hal ini, apakah kecemasan kematian dapat dijadikan sebagai strategi pemasaran produk dalam negeri? Untuk mengaji lebih dalam, saya mengambil contoh oli Fastron sebagai salah satu contoh produk dalam negeri.

Pada sebuah bengkel mobil, seorang pelanggan menunggu sambil membaca koran yang hari itu memiliki headline “Bangkit Indonesia”. Saat itu, baik di televisi maupun radio, disiarkan pidato yang menyerukan kebangkitan Indonesia. Hal tersebut membuat pelanggan yang membaca koran bergumam “Gimana caranya?”. Pemilik bengkel menjawab “Caranya? Pakai pelumas Pertamina. Kualitas dunia. Untungnya buat bangsa, buat kita-kita juga. Kita untung, bangsa Untung”. Pelanggan itu langsung menyuruh montir mengganti oli mobilnya dengan oli Fastron Pertamina. Adegan ini diiringi lagu “Maju Tak Gentar” dengan latar belakang bendera merah putih (Square Box Cinetech, 2007).

Cerita di atas diambil dari sebuah iklan Fastron Pertamina tahun 2007. Iklan tersebut membawa nama bangsa untuk memromosikan produknya. Iklan ini juga dilatarbelakangi oleh lagu perjuangan ”Maju Tak Gentar” dan bendera merah putih di beberapa bagian di akhir iklan. Hal tersebut membuat iklan ini bersifat patriotik. Iklan ini membuat orang yang melihatnya merasa bersemangat dan menumbuhkan nasionalisme pada Indonesia. Karena iklan yang bersifat patriotik ini, oli Fastron, produk yang diiklankan dalam iklan tersebut, memiliki nilai positif dimata konsumen Indonesia. Nilai positif pada oli Fastron muncul karena membeli oli Fastron berarti menguntungkan bangsa. Pertanyaannya adalah, bila dihubungkan dengan kecemasan kematian, bagaimana kaitan kecemasan kematian dengan iklan nasionalis ini? Apakah kecemasan kematian dapat dimanfaatkan dalam publikasi iklan ini?

Berbicara tentang kecemasan kematian, pada 17 Juli 2009 lalu terjadi ledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Ledakan ini memberikan dampak yang cukup besar bagi Indonesia. Nama baik Indonesia di mata dunia tercemar. Salah satu contohnya adalah pembatalan tur Asia klub sepak bola Manchester United ke Indonesia. Pihak manajemen tim membatalkan kunjungannya karena merasa keamanan tim terancam. Dampak lainnya adalah timbulnya kecemasan yang melanda warga Indonesia, khususnya Jakarta. Ditambah lagi, pihak kepolisian belum dapat menangkap pihak yang mendalangi aksi teror ini. Hal itu menunjukkan, teror bom berikutnya dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan siapa saja dapat menjadi korbannya. Dengan adanya ancaman kematian ini, munculah kecemasan kematian pada warga Indonesia. Apakah kondisi seperti ini dapat dimanfaatkan dalam strategi pemasaran oli Fastron?

Penjelasan lebih lanjut tentang kecemasan kematian dan respon konsumen pada produk dalam negeri, dapat dipahami melalui terror management theory (TMT). Menurut TMT, manusia yang mengalami kecemasan kematian akan berusaha meredakannya (Pyszczynski, 2004). Mereka meredakan kecemasan kematian ini dengan dua cara. Pertama, menaati prinsip dan aturan dalam budaya, yaitu dengan melakukan hal-hal yang dianggap baik dalam budayanya. Kedua, meningkatkan harga dirinya (Rosenblatt, Greenberg, Solomon, Pyszczynski, & Lyon, 1989). Kedua hal ini membuat mereka merasa tenang dalam menghadapi kematiannya sehingga kecemasan kematian mereda (Pyszczynski, 2004).

Sebuah penelitian eksperimen yang melibatkan 108 pelajar SMA Negeri 43 Jakarta membuktikan kecemasan kematian dan identifikasi sebagai orang Indonesia berpengaruh terhadap intensi membeli produk dalam negeri (Saraswati, 2009). Partisipan yang berada dalam kondisi kecemasan tinggi memiliki intensi membeli kaos buatan Indonesia (stimulus produk) yang lebih tinggi dibandingkan partisipan dalam kondisi kecemasan rendah atau kontrol.

Produk yang berhubungan dengan kelompok partisipan direspon lebih positif saat partisipan mengalami kecemasan kematian (Greenberg, Pyszczynski, Solomon, Rosenblatt, Veeder, & Kirkland, 1990). Produk dalam negeri sebagai objek yang mencerminkan kelompok individu, dinilai lebih positif saat individu mengalami kecemasan kematian. Hal ini ditunjukkan dengan intensi membeli kaos buatan Indonesia yang lebih tinggi pada kelompok kecemasan tinggi dibandingkan kelompok kecemasan rendah atau kontrol. Intensi membeli yang lebih tinggi terhadap produk dalam negeri merupakan usaha individu dalam menaati prinsip dan aturan budayanya. Mereka berusaha melakukan hal yang dianggap baik dalam budayanya. Objek yang berhubungan dengan negara, dianggap sebagai hal yang mendukung prinsip dan nilai yang terdapat dalam budaya.

Temuan yang dihasilkan dalam penelitian Saraswati (2009) sesuai dengan hipotesis TMT, yaitu kecemasan kematian mendorong individu untuk meredakannya, yang salah satunya dilakukan dengan menaati prinsip dan aturan budaya (Rosenblatt, et al. 1989). Temuan ini menunjukkan bahwa, iklan nasionalisme, seperti iklan Oli Fastron, efektif bila ditayangkan di sela-sela berita televisi tentang bencana alam, kecelakaan, penyakit, ataupun serangan teroris yang menyebabkan kematian. Mengingat serangan teroris ledakan bom hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, iklan oli Fastron efektif bila ditayangkan setelah berita ledakan bom yang menyebabkankan korban meninggal dan luka-luka. Berita seperti ini dapat membuat konsumen yang melihatnya mengalami kecemasan kematian.

Setelah membaca keseluruhan artikel ini, Anda mungkin dapat memahami hubungan kecemasan kematian dan tingkah laku mengonsumsi produk dalam negeri lebih jelas. Namun, bila Anda berminat memerdalam pemahaman, saya menyediakan beberapa referensi yang dapat dibaca lebih lanjut. Semoga strategi pemasaran ini dapat diterapkan di Indonesia sehingga meningkatkan penjualan produk dalam negeri.
(Mega Puji Saraswati – mega.wannabemyself@gmail.com)

Referensi:

Ferraro, R., Shiv, B., & Bettman, J. R. (2005). Let Us Eat and Drink, for Tomorrow We Shall Die: Effects of Mortality Salience and Self-Esteem on Self-Regulation in Consumer Choice. Journal of Consumer Research, 32, 65 – 75.

Greenberg, J., Pyszczynski, T., Solomon, S., Rosenblatt, A., Veeder, M., & Kirkland, S. (1990). Evidence for Terror Management Theory II: The Effects of Mortality Saliance on Reactions to Those Who Threaten or Bolster the Cultural Worldview. Journal of Personality and Social Psychology, 58(2), 308-318.

Pyszczynski, Tom. (2004). What Are We So Afraid Of? A Terror Management Theory Perspective on the Politics of Fear. Social Research, 71(4), 827-848.

Pyszczynski, T., Greenberg, J., & Solomon, S. (1999). A Dual-Process Model of Defense Against Conscious and Unconscious Death-Related Thoughts: An Extension of Terror Management Theory. Psychological Review, 106(4), 835-845.

Rosenblatt, A., Greenberg, J., Solomon, S., Pyszczynski, T., & Lyon, D. (1989). Evidence For Terror Management Theory: I The Effects of Mortality Salience on Reactions to Those Who Violate or Uphold Cultural Values. Journal of Personality and Social Psychology, 57(4), 681-690.

Saraswati, Mega Puji. (2009). Membeli Oli Fastron Setelah Menyaksikan Berita Kematian: Pengaruh Saliansi Mortalitas dan Identifikasi sebagai Orang Indonesia terhadap Intensi Membeli Produk Dalam Negeri. Depok: Program Studi Sarjana   Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Square Box Cinetech. (3 Januari 2007). Nasionalisme. PT. Pertamina, Indonesia.

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/33418734@N03/3127697570/

Informasi Penulis:

Mega Puji Saraswati S.Psi meraih gelar sarjanyanya dengan mempertahankan penelitiannya tentang efek kecemasan terhadap kematian dengan peningkatan penjualan produk dalam negeri. Ternyata, beberapa bulan setelah sidang skripsinya, teror bom yang menimbulkan kecemasan terhadap kematian terjadi di Indonesia. Mega kebetulan juga fans dari klub sepak bola Manchester United yang batal bertandang ke Indonesia dikarenakan teror bom tersebut.

4 Comments »

  • mynameisnia said:

    Waktu kemarin ada bom, beberapa hari kemudian masyarakat Jakarta sudah berani pergi ke mall untuk belanja. Ada sebuah slogan ‘Kami Tidak Takut’ yang diusung oleh sebuah komunitas untuk menganggapi fenomena ini untuk menunjukkan masyarakat Jakarta tidak takut dengan teror bom.

    Gue mau tanya dong, ini konsepnya sama gak dengan kasus BOM kemarin dengan perilaku belanja (terlepas produk dalam negeri atau enggak), apakah mereka juga bisa dikatakan cemas pada kematian sehingga mereka berbelanja atau gimana? Karena bagi gue ini juga sebuah ironi, dimana orang-orang baru mati kemarin ini kok malah belanja.

  • ramadion (author) said:

    wah, kurang tah juga, Nia. kita kan harus bertanya sama mereka yang belanja, apa alasannya belanja? bisa saja, mereka termakan slogan, kan?

    tapi, kemungkinan itu ada. karena, belanja memang dikenal sebagai salah satu cara yang sering dipakai manusia untuk katarsis.

    yang pasti, negara juga bisa melakukan manajemen kerusakan dengan mengimbau cinta tanah air jika ada serangan. so, walau terjadi bom, kita tak hanya kena imbas buruknya saja :D

  • Novie Adzania said:

    Kalo gw memandangnya begini: Saat terjadi bom marriott 2 kemarin, kemudian ada sebuah gerakan (maaf, saya menyebutnya sebagai gerakan karena memang itu yg saya pahami, bukan suatu komunitas) yang disebut Indonesia Unite, dimana salah satu penggeraknya adalah Pandji Pragiwaksono, rapper yang membawakan lagu Kami Tidak Takut.

    teroris sebagai pelaku dibalik peledakkan bom tersebut dianggap sebagai ancaman bagi orang Indonesia. bukan hanya ancaman kematian pada setiap individu (orang indonesia) tapi juga ancaman perusakan citra positif dari bangsa indonesia (negara yang tidak aman dan semacamnya). ancaman ini kemudian memberikan perasaan takut pada bangsa indonesia. nah, gerakan Indonesia Unite dan lagu Kami Tidak Takut tersebut ditujukan kepada orang indonesia untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut kepada teroris (si ancaman). bahwa kelakuan si ancaman ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap keutuhan bangsa. bahwa kelakuannya ‘gak ngaruh’ ama kita, bangsa indonesia. justru sebaliknya, kelakuannya ini membangkitkan semangat nasionalisme sebagai bangsa indonesia.

    operasionalisasi dari perasaan tidak takut ini ditunjukkan dengan perilaku yang berbelanja ke pusat perbelanjaan (fyi, saat bom marriott 1, butuh waktu jauh lebih lama untuk membangkitkan perekonomian Indonesia, untuk dapat kepercayaan lagi dari para investor di bursa saham, untuk membangkitkan kembali perasaan berani ke luar rumah, ke pusat keramaian).

    jadi, bukan karena ada bom dan ada perasaan berduka lalu kita berbelanja. walaupun bisa saja ini terjadi untuk mengatasi stress akan kondisi yang ada (coping stress), seperti kata mas dion.

    juga, kalo menurut gw, iklan oli fastron menjadi sangat efektif karena iklan tersebut kluar dan di’udara’kan pada saat yang tepat, yaitu saat rasa nasionalisme bangsa indonesia ‘pas lagi tinggi-tingginya’, pas baru dapet ‘ancaman berupa ledakan bom’, pas punya ‘musuh bersama’ yaitu teroris.

    CMIIW yaaa.. :D

  • mega puji saraswati said:

    Sebagai penulis skripsi, mau mencoba memberikan tanggapan nih. Terlalu lama yah responnya? heuheueheuu… maaf, baru baca..

    *untuk yang munculnya komunitas itu..*
    Saat ada ancaman bom, secara tidak sadar timbul kecemasan kematian dalam diri masing-masing individu. Nah, untuk meredakan kecemasan ini individu tersebut berkumpul dengan individu lainnya dan membentuk sebuah komunitas yang berbau nasionalisme. Tindakan ini merupakan cerminan dari cara meredakan kecemasan yang “melakukan apa yang dianggap baik oleh budaya sekitar”, yaitu dengan membentuk komunitas nasionalis. Mereka merasa dengan membuat komunitas berbau nasionalis, mereka telah melakukan hal yang dianggap benar dalam budaya mereka sehingga mereka merasa nyaman, dan kecemasan mereda.

    *mengenai tingkah laku belanja*
    HHmmm… mungkin tidak bisa langsung disimpulkan yah berpengaruh atau tidak. Karena belum tahu apakah orang-orang yang belanja itu adalah orang yang mengalami kecemasan kematian karena bom atau bukan. Untuk teori TMT, penting sekali dipastikan individu yang bersangkutan mengalami kecemasan kematian. Selain itu, juga perlu diketahui produk apa yang mereka belanjakan, apakah produk yang membuat mereka merasa aman ketika mengonsumsinya atau bukan.

    Berhubung tingkah laku manusia itu kompleks, banyak faktor yang memengaruhi, jadi tidak bisa langsung diambil kesimpulan yah apakah belanja di mall itu berhubungan dengan kejadian bom atau bukan =)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word