Mengajarkan Membaca kepada Anak Disleksia

Disleksia Membaca

Bayangkan Anda sedang berada di Cina atau Arab. Bayangkan Anda berada di tempat umum yang semua petunjuknya ditulis dengan tulisan Cina atau Arab. Apakah Anda mengerti? Ataukah Anda bingung? Atau malah Anda beranggapan bahwa semua itu hanyalah sebuah tulisan-tulisan keriting yang tidak ada maknanya?

Begitulah kira-kira keadaan anak yang menderita gangguan belajar spesifik disleksia. Mereka terjebak dalam dunia yang penuh dengan tulisan-tulisan yang tidak dimengerti. Istilah disleksia mengacu pada gangguan membaca yang dimiliki oleh seseorang, seperti kesulitan membaca, memahami bacaan, kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b, d, q, p, v, u, n, dan lainnya. Berbeda dengan slow learner, anak yang didiagnosis disleksia harus memiliki IQ rata-rata atau di atas rata-rata.

Jika anak Anda dalam tahap belum bisa membedakan mana huruf-huruf yang mirip seperti b dan d, maka cara pengajaran yang perlu dilakukan adalah mempelajari hurufnya satu persatu. Misalnya fokuskan pengajaran kali ini pada huruf b. Tulislah huruf b dalam ukuran yang besar kemudian mintalah anak untuk mengucapkan sembari tangannya mengikuti alur huruf b atau membuat kode tertentu oleh tangan. Latihlah dan perkuatlah terus menerus sampai ia bisa menguasainya, setelah itu mulailah beranjak ke huruf d.
bedbed1

Terdapat dua cara untuk mengajarkan anak membaca kata-kata: melihat dan mendengar kata tersebut satu persatu. Buatlah kata yang dicetak dalam ukuran besar – misalnya ‘buku’, setelah itu kita ucapkan ‘buku’, lalu mintalah anak mengulangi apa yang kita ucapkan yaitu ‘buku’. Tunjukanlah kata tersebut terus menerus, tambahkanlah beberapa kata yang sudah ia ketahui, hingga ia mengenali dan dapat mengucapkannya langsung begitu ia melihat kata ‘buku’.

Ada beberapa anak  yang sudah bisa membaca namun ia memiliki masalah dengan pemahaman (comprehension). Menurut Baumer (1996) ada beberapa cara mengajar jika pemahaman anak Anda lemah:
1.    Memilih cerita yang menarik pada level dimana 98% ia bisa memahami kata-kata dalam cerita tersebut. Mintalah ia untuk membacakan secara keras dan bilang kepada kita apa yang telah ia baca.
2.    Jika anak tidak bisa melakukan ini, mintalah ia membaca tanpa bersuara, berhenti setiap paragraph dan menceritakan kepada kita apa yang telah ia baca.
3.    Ketika pemahamannya berkembang, tambahkan jumlah paragraph yang ia baca hingga ia bisa membaca dan paham keseluruhan halaman.
4.    Untuk membantu pemahamannya, Anda bisa memberikan arahan: menurutmu apa yang dirasakan si tokoh? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana akhir ceritanya?

Berdasarkan pengalaman saya mengajarkan anak disleksia, sebelum kita mengajarkannya mengenai pemahaman, kita harus mengidentifikasi sejauh mana kemampuannya. Jika ia tidak mampu memahami satu halaman, potonglah menjadi beberapa paragraph. Jika ia tidak bisa memahami beberapa paragraph, potonglah menjadi satu paragraf, dan seterusnya hingga sampai pada satu kalimat.

Membaca cerita bersama anak dirasa cukup efektif karena kita bisa langsung cross-check langsung pemahamannya. Misalnya ketika anak tidak paham kata ‘terbit, kita bisa menganalogikan ‘terbit’ dengan bertanya ‘kalau pagi hari, matahari muncul atau menghilang?’ lalu ketika anak menjawab ‘muncul’ kita menjelaskan bahwa itulah yang dimaksud dengan ‘terbit’. Menganalogikan kata-kata tidak dimengerti dapat mengajarkan anak untuk memberi tanda kata-kata yang belum ia pahami.

Dalam mengajari anak disleksia, kita harus hati-hati untuk tidak mengkritik terlalu jauh karena anak yang menderita disleksia rawan untuk memiliki motivasi dan self-esteem yang jatuh. Ketika anak mulai menyadari ia memiliki kesulitan dalam membaca dan ia sudah tertinggal jauh dari teman-temannya, ia akan membenci pelajaran membaca dan langsung menyerah (mogok) ketika menghadapi kata yang sulit. Aksi mogok ini bisa disiasati dengan cara belajar membaca melalui minatnya. Misalnya pada anak yang memiliki minat memasak, kita bisa mengajarkan membaca resep dan menyuruhnya memasak. Dari situ kita melihat sejauh mana pemahamannya terhadap bacaan.

Mengajar membaca anak disleksia adalah proses yang tidak mudah. Anak disleksia memiliki short term memory yang terbatas dan kosa kata yang minim sehingga membutuhkan banyak penguatan. Variaskan metode melalui permainan kata atau mengajak anak jalan-jalan sambil mengajari membaca tulisan-tulisan yang ada. Dan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran ini adalah berilah apresiasi pada sekecil apapun perkembangannya. (Nia Janiar)

Sumber:
Baumer, Bernice H. (1996). How to Teach Your Dyslexic Child to Read. New York: Kensington Publishing Corp.
Harwell, Joan M & Jackson, Rebecca Williams. (2008). The Complete Learning Disabilities Handbook: Ready-to-Use Strategies & Activites for Teaching Students With Learning Disabilites.  San Francisco: Jossey-Bass

Nia Janiar

Penulis adalah seorang sarjana Psikologi dari Universitas Pendidikan Indonesia. Perkenalannya dengan dunia psikologi membuat ia sempat terjun pada lembaga sosial masyarakat tentang HIV/AIDS dan anak jalanan.

    50 Comments
    • Reply September 17, 2009

      Introverto

      hmmmm…heheheh judulnya ada yang aneh tuch…

      Lebih enak begini ga ya: Mengajarkan Anak Disleksia Membaca?
      Kalo judul di atas jadinya kita belajar membaca anak disleksia..*sorry ngomen yang melenceng dari konten* :D

    • Nia Janiar
      Reply September 18, 2009

      Nia Janiar

      Oh, ya, terima kasih sudah sejeli ini. Akan segera diperbaiki.

    • Reply September 18, 2009

      toso

      iya tuh, judulnya ambigu :D

    • Nia Janiar
      Reply September 19, 2009

      Nia Janiar

      Iya.. iya.. sudah diperbaiki.. ehm.. kontennya dong yang dikomentarin :D

    • Reply September 26, 2009

      Igun

      Saya menambahkan langsung dari TKP nih mbak.. Ya, katakanlah Subjek berinisial “Y”, seorang pelajar kelas V SD di Bandung.

      Setelah melakukan assesment selama satu bulan berdasarkan perbandingan tiga macam assesmen informal (Analitical Reading Inventory, Equal Reading Inventory, dan Informal Reading Assesment) yang dilakukan oleh Hargrove, Kriteria2 yang muncul adalah :

      1.Kesalahan dalam membaca permulaan
      Ketika melafalkan abzad dari A sampai Z anak melakukan kesalahan pada huruf H yang dibaca N, huruf I yang dibaca T dan huruf X yang anak sulit untuk membacanya (mungkin karena tidak tahu??).

      2.Kesalahan dalam membaca Teknis

      Api dibaca Upi

      Pulau dibaca Palu

      Mobil dibaca Modil

      Tidak bisa membaca kata “Air”, “Ikan”, “Bau”, “Bola”, “Obor”, “Melon, “Gajah”, “Sandal”, Sempit”, “Monyet”, Payung”, “Sekolah”, “Helikopter”. Subjek tidak bisa membaca kalimat.

      3. Kesalahan dalam menentukan huruf saat didikte

      b dipilih d

      4. Kesalahan dalam menulis kata saat didikte

      Ayam ditulis Aya

      Dodi ditulis Bopo

      Bola ditulis Boal

      Babi ditulis Dadi

      Pohon ditulis popn

      Tono ditulis Toti

      Kucing ditulis Uieb

      5.Kesalahan dalam menulis kata

      Sandal ditulis Sadal

      Jerapah ditulis Jerpah

      Sempurna ditulis Sempuran

      Helikopter ditulis Hekoftr

      Payung ditulis Payang

      Pergi ditulis Pengi

      Sekolah ditulis Sekkolan

      Sepeda ditulis Sepda

      Dari berbagai kesalahan anak dari hasil assesmen di atas, dapat diketahui berbagai kesulitan yang dialami anak, yaitu sebagai berikut
      Letak Kesulitan

      1. Membaca Huruf

      Melafalkan huruf H, I, X,

      Tidak dapat membedakan huruf b dan d

      2. Membaca kata

      Tidak dapat melafalkan huruf diftong (ng, ny)

      Tidak dapat melafalkan gabungan huruf diftong-vocal (nya, ngu,…)

      Tidak dapat melafalkan vocal rangkap (ou, ua, ia, …)

      Tidak dapat melafalkan gabungan huruf konsonan-vokal-konsonan (ba-pak, ka-pal, pas-ti,…)

      Tidak dapat melafalkan gabungan huruf vocal-konsonan (as-pal, ir-na,…)

      3. Membaca kalimat

      Tidak dapat membaca kalimat

      4. Menulis huruf balok

      Kurang rapih dan terkadang sulit meniru huruf yang ada dalam kutipan

      5. Menulis kalimat

      Sering ada huruf-huruf yang terlewat dalam menyalin kutipan

      6. Dikte

      Kesulitan dalam merangkai huruf-huruf menjadi kalimat

      Ya, baru tahap identifikasi sih mbak..soalnya, subjeknya keburu mogok belajar & kabur kalo ane ke TKP :0

      Oke deh, siap dicoba tips-tips penanganannya..Trims :)

      -regards-

    • Nia Janiar
      Reply September 27, 2009

      Nia Janiar

      Hai, Igun. Kayaknya saya kenal nih.

      Ok, mudah-mudahan bisa ya. Seperti yang dibilang di atas, mudah-mudahan motivasinya enggak turun drastis – karena lebih susah menaikkan motivasi ketimbang belajar baca.

    • Reply December 21, 2009

      alia

      makasih… lagi ada masalah sama anak didik. kembar. yg satu sehat yang satu matanya agak kurang kompak. nah yg kedua ini yang mengalami kesulitan mengenal huruf. anak usia 4 tahun. perempuan. setiap kali saya minta mengikuti tulisan huruf ataupun angka, selalu terbalik. bisa kanan kiri bisa juga atas bawah.tapi tidak pernah terbalik pake sandal atopun sepatu. main puzzle 4 keping bisa lebih dari 5 menit dia menyelesaikan. termasuk gejala awal ga sih ? apa yg sebaiknya kulakukan segera ?

    • Nia Janiar
      Reply January 8, 2010

      Nia Janiar

      Maksudnya kurang kompak gimana, Mbak? Ada cacat lahir begitu?

    • Reply March 17, 2010

      melda

      Judulnya sudah benar. Jadi, tidak usah dirubah. Judul tersebut sudah memenuhi standar penulisan JUDUl pada sebuah artikel.

      Kalaupun ada alternatifnya, bisa seperti ini:

      1.Mengajarkan Anak Disleksia,Membaca

      2.Tips Mengajarkan Membaca untuk Anak Disleksia

      3. Tips Belajar Membaca bagi Anak Disleksia

      Meskipun saya mengajukan 3 judul alternatif, tapi saya tetap setuju pada JUDUL yg dibuat PENULIS, karena itu lebih CATCHY.

      Bagi siapapun yang membaca artikel ini, ia pasti sudah tau maksud si Penulis. Dalam bidang Jurnalistik, JUDUL yang SEDERHANA dan Catchy, akan lebih menstimulus PEMBACA untuk membaca artikel tersebut.

      BTW, thx untuk artikelnya. Sangat membantu saya dalam menangani murid2 saya di sekolah minggu. GBU!

    • Nia Janiar
      Reply March 26, 2010

      Nia Janiar

      Terima kasih untuk tanggapannya, Mbak Melda..

    • Reply April 6, 2010

      eka

      mba saya bukan mau komen tapi mau tanya, anak saya usia 7th, tapi membacanya masih gagap trus kalo dikte suka ada huruf yang hilang. kalo tulisan banyak dia males baca apalagi tulisannya kecil2, trus kalo di sekolah males nulis/ nyalin dari papan tulis, katanya males, cape. apakah ini gejala awal disleksia?

    • Nia Janiar
      Reply April 7, 2010

      Nia Janiar

      Adanya huruf yang hilang, baca yang masih belum lancar, dan kesulitan menyalin dari papan tulis memang masuk salah satu karakteristik disleksia. Namun ada beberapa karakteristik lain yang perlu dilihat:

      Apakah ada masalah pada regulasi anak (sering lupa menyimpan sesuatu di suatu tempat), sulit mengingat nama teman atau guru, koordinasi gerak anak kurang baik, atau sulit memahami instruksi sederhana atau kompleks?

      Dalam membaca, apakah kesulitan dalam memenggal kata (decoding) dan sulit membaca paham? Dalam berbicara, apakah kosa katanya beragam atau sedikit? Dan lainnya.

      Mengenai disleksia bisa dilihat apakah orang tua atau saudaranya ada yang mengalami kesulitan yang sama karena ini sifatnya genetik. Untuk lebih pasti, sebaiknya pergi ke psikolog atau dokter anak untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.

    • Reply July 20, 2010

      yulia

      mbak nia aku punya anak didik kelas 4 SD dia udah bisa baca tapi pemahaman tentang bacaan tersebut kurang. kalo ditanya dia selalu diam seperti takut salah kalo menjawab. gimana solusinya ya?makasih

    • Reply August 9, 2010

      jasmine

      kalau aku termasuk disleksia nggak ya?aku sulit untuk berbicara

    • Reply September 8, 2010

      Nita

      Hi…

      Mau nanya dnk.
      Anak saya usia 5 tahun, terkadang kalau MENULIS huruf atau angka terbalik (mirror effect). Tapi setelah kita tanya lagi, apakah hal itu sudah benar atau tidak, maka dia akan mengoreksi menjadi benar.

      Pertanyaan saya:
      1. Apakah anak saya termasuk disleksi menulis. Karena kalau membaca dia bisa lakukang dengan baik.
      2. Bagaimana cara mengurangi atau memperbaiki hal tsb.

      Terima kasih

    • Nia Janiar
      Reply September 9, 2010

      Nia Janiar

      @Mbak Yulia: Enggan bicara atau enggan menjawab bisa jadi dampak dari disleksia yang disandangnya (jika ia sudah ada diagnosis dari dokter bahwa ia disleksia) karena takut salah dan takut ditertawakan oleh temannya. Saya juga punya murid seperti itu, ia menjawab dengan suara kecil atau berbisik langsung di kuping saya. Cara yang saya lakukan adalah oke, dia boleh berbisik kepada saya lalu saya keraskan jawabannya. Jika benar, apresiasi seluruh kelas atau dalam kelompok kecil. Jika salah, yakinkan bahwa itu bagian dari proses belajar.

      Tentunya merasa tidak bisa sebelum menjawab ini tanda bahwa gangguan membacanya sudah mengenai self-esteemnya. Saran saya, lakukan pendekatan personal. Secara individual, bangun self-esteemnya dengan banyak pengalaman berhasil yang banyak (diberi soal yang mudah dan bertahap hingga soal sulit). Jika ia self-esteemnya sudah meningkat, bawa ia ke kelompok kecil (2-5 orang), dan seterusnya hingga setting klasikal (kelas besar)

      @Jasmine: Banyak faktor yang menunjukkan seseorang disleksia atau tidak, tidak bisa dilihat dari satu faktor saja.

      @Mbak Nita: Jika dilihat dari umur anaknya (5 tahun), anak Mbak Nita masih dalam proses belajar menulis. Beberapa ahli kedokteran mungkin percaya bahwa semakin dini anak didiagnosis, maka akan semakin baik karena akan dapat penanganan. Namun saya percaya bahwa anak, terutama dalam usia tahun, sedang mengalami proses perkembangan terutama dalam membaca dan menulis. Membacanya seperti apa? Apakah intonasi, kelancaran, dan ketepatan sudah tepat? Apakah anak paham bacaan tersebut? Tertukarnya huruf memang jadi salah satu karakteristik, tapi banyak karakteristik lain seperti visual-spasial (apakah kalau menulis bisa tepat berada di tengah-tengah garis buku tulis), persepsi, memori, dan lainnya.

      Saya juga menangani murid yang seperti itu yaitu sering tertukar namun ketika ditanya apakah sudah benar atau belum, maka ia sadar kesalahan.
      Bisa dilatih terus dengan visual dan sensori motorik, misalnya latihan menulis di atas pasir, menyusun huruf dengan manik-manik, melubangi huruf, diberi strategi seperti di atas (b dan d), dan lainnya.

      Untuk lebih aware dengan karakteristik anaknya, Mbak Nita boleh konsultasi ke psikolog untuk mendapatkan data secara menyeluruh.

    • Reply September 16, 2010

      nastiti

      Saya mau tanya, dulu saya punya anak didik di kelas les bahasa inggris, dia usia 7 tahun kelas 2 SD. namun masih sangat sulit melafalkan / mengucapkan bacaan dalam bahasa inggris.

      misalnya: pig –> dibaca ping, bird –> bing, cat –> keng.
      (semua berakhiran “ng”, padahal sudah sering saya arahkan untuk membaca yang benar dengan memandu, tetapi dia selalu lupa bila diulang sendiri)

      apakah ini disleksia?

      herannya,dalam bicara bahasa indonesia, dia normal dalam pengucapan lisan
      misalnya: babi , apel, dll
      tapi… dalam tulisan, dia menuliskan: babing, apeng, dll

      mohon jawabannya, terima kasih.

    • Reply September 20, 2010

      rika

      halo mbak
      pengen tau lebih jauh lagi tentang ciri ciri anak disleksia.
      anak saya umur 5 tahun kalo disuruh belajar membaca sulit sekali. dia lebih memilih menulis (itupun masih menyalin dari tulisan lainnya) ketimbang membaca. kalo dia salah pasti menangis. apakah anak saya termasuk disleksia juga? trims bfore

    • Reply October 13, 2010

      upik

      Mba Nia,ikutan nimbrung ya.
      Anak saya kelas 4 SD, kurang lancar membaca dibanding kakak2nya dulu dan teman2 sebayanya. juga agak tertinggal di pelajaran sekolah karena kesulitan memahami pelajaran, mudah lupa, dan gak suka membaca.
      Apa yang sebaiknya saya lakukan?thank’s

    • Nia Janiar
      Reply October 17, 2010

      Nia Janiar

      @Nastiti: Apakah disleksia? Yang mbak tuliskan adalah salah satu cirinya. Sebaiknya sarankan orang tuanya rujuk saja, Mbak, ke psikolog untuk mendapatkan pemeriksaan yang menyeluruh.

      @Rika: Anak yang sulit membaca bukan berarti anak itu disleksia.

      @Upik: Kesulitan memahami pelajaran bisa kita siasati dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajarnya. Jika visual, berikanlah banyak gambar, kinestetik, berikanlah banyak eksplorasi, dst. Jika kesulitan dalam soal abstrak, lakukan analogi yang dekat dengan keseharian.

      Mudah lupa bisa dilakukan strategi sendiri misalnya membuat buku saku, mengoranisasi informasi berupa poin2 penting dalam chart lalu ditempel di kamar, dll.

      Untuk meningkatkan minat membaca, bisa dilakukan sistem poin. Jika ia baca, berikan poin dan reward. Minat baca bisa dimasuki melalui minatnya terlebih dahulu. Misalnya jika ia suka dengan IPA, berikan buku-buku pengetahuan yang menarik.

    • Reply January 19, 2011

      maria

      Anak saya usia 5 tahun TK-A.belum pandai bicara,masih byk kata2 yg sulit dimengerti.dan sulit sekali memahami dan menghafal angka dan huruf.Apakah perlu ke psikolog untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh.kalau iya dimana saya bisa temui psikolog dan kira2 berapa ya biaya untuk itu? thank’s befofe.

      • Nia Janiar
        Reply January 22, 2011

        Nia Janiar

        Untuk penanganan dini, mbak boleh memeriksakannya ke psikolog atau dokter anak. Untuk biaya, saya kurang tahu, tapi mbak Maria bisa mendapatkan tenaga ahli di pusat terapi untuk anak.

    • Reply March 24, 2011

      titin

      Anak laki-laki saya usia 8 tahun kelas 2 SD kesulitan dalam membaca. Kalau saya baca ciri-cirinya sangat mirip dengan anak yang mengidap disleksia , yaitu b dibaca d, sering salah mengucapkan a,i,u,e,o. sering salah menunjukkan kanan atau kiri, bacaan yang sudah disebutkan sebelumnya sering lupa dll.
      Kemana saya harus konsultasi? kedokterkah atau psikolog?
      Mohon informasinya .. agar saya tidak terlambat untuk mengatasinya.
      thx before.

    • Nia Janiar
      Reply March 24, 2011

      Nia Janiar

      Ibu Titin bisa pergi ke dokter anak atau ke psikolog. Jika ke dokter, saya sarankan pergi ke dokter yang berada di tempat terapi agar jika terapi diperlukan, bisa segera diintervensi.

    • Reply April 7, 2011

      hildan

      mba mau tanya,apa anak disleksia harus disekolah berkebutuhan khusus?

    • [...] artikel sebelumnya, ruangpsikologi telah menjelaskan sedikit tentang disleksia. Disleksia adalah gangguan membaca [...]

    • Reply September 8, 2011

      mey

      Apa diseleksia ini penyakit yang butuh terapi dan pengobatan?Anak saya 6 tahun.Kesulitan membaca.Selalu lupa kata yang baru saja dibaca.Tadinya saya kira anak saya hanya sulit berkonsentrasi dan tidak suka membaca. Setela membaca artikel ini, saya memiliki persepsi berbeda. Apakah anak diseleksia akan terus mengalami kesulitan membaca,atau setelah bisa membaca maka masalah diseleksianya terselesaikan?

    • Nia Janiar
      Reply September 20, 2011

      Nia Janiar

      @Hildan: Untuk menunjang kebutuhan anak, memang sebaiknya disekolahkan di sekolah ABK. Karena di sana biasanya diajarkan strategi-strategi untuk anak disleksia dalam memahami bacaan, juga ada akomodasi khusus yang diberikan kepada anak disleksia.

      @Mey: Disleksia tidak bisa disembuhkan. Namun kemampuan anak dalam memahami bacaan akan meningkat jika ditangani dengan strategi-strategi baca yang tepat (apalagi jika dapat digunakan oleh anak secara mandiri).

    • Reply October 17, 2011

      odie

      Halo Ibu Nia,

      saya punya anak umur 8 thn dgn hsl tes IQ 137, kelas 3 bersekolah di sekolah national plus, dia juga mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, menulis agenda jg tdk lengkap,kalo banyak dia malas menulis, kadang msh terbalik penulisan b & d,serta dlm belajar kemandiriannya msh kurang/ harus terus ditemani ( ada org disampingnya) padahal kalo utk hal lain ( spt pakai baju, makan dan mandi ) dia sdh bisa sendiri.tetapi dlm bidang seni spt mengikuti gerak dan menghafal lirik lagu bisa dlm waktu singkat. lalu setiap hari pulang sekolah ritual dia pasti menggambar dulu di whiteboard yg sy sediakan dirumah termasuk jika ada hal baru yg menarik perhatian dia maka akan dia tuangkan dlm gambar ( contoh: suatu hari dia lihat ada kecelakaan di jalan dimana korban dibawa pake mobil ambulance, sampai di rumah dia lgs menggambar kejadian tadi lengkap beserta mobil ambulancenya). nah pertanyaan saya apakah prilaku anak saya mengarah ke keadaan disleksia?? lalu mau tanya untuk mengetahui anak itu menderita disleksia apakah hrs ada test ya?? dimana saya bisa untuk menjalani test tsb?

      Maaf suratnya jd panjang sekali…
      Mohon infonya.. thx…

      odie

    • Nia Janiar
      Reply October 24, 2011

      Nia Janiar

      Halo Ibu Odie,

      Kalau dilihat secara IQ, kemungkinan anak ibu masuk ke kategori gifted. Nah, untuk anak gifted sendiri memang ada kemungkinan comorbid disleksia. Kalau ibu mau periksa, bisa ke biro konsultasi/psikolog/atau pusat terapi untuk penanganan anak.

    • Reply October 26, 2011

      odie

      terima kasih atas tanggapannya ibu Nia,

      tapi saya kurang mengerti apa maksudnya dgn “gifted dan comorbid disleksia “ya??

      mohon dijelaskan dlm bahasa awam ya bu…

      terima kasih.

    • Reply January 7, 2012

      yulia dewi cahyani

      anak saya usia 5thn..termasuk disleksia jga..karana ga bisa membedakan b dan d….saya ragu apakah bisa mengikuti pelajaran d SD kelak?karna dsamping usianya yg kurang dari 6thn…kesulitan membacanya jga mempengaruhi keraguan tersebut?apa sarannya?bisakah anak saya melanjutkan k jenjang SD apakah ada kendala dkemudian harinya?tq atas jawabanya

    • Reply January 7, 2012

      ratnahanifa

      ijin share ya mbak nia. bermanfaat sekali artikelnya. thanks

    • Nia Janiar
      Reply April 23, 2012

      Nia Janiar

      @Bu Odie: Comorbid adalah “penyakit” atau “gangguan” yang menyertai “gangguan” utama. Misalnya anak ibu gifted, maka ia memiliki gangguan penyertanya yaitu disleksia. Namun tidak semua anak gifted memiliki penyerta disleksia.

      @Bu Yulia: Kalau ada hambatan di pendidikan selanjutnya, itu tergantung dari strategi yang dimiliki anak. Kalau anak tidak memiliki strategi dalam membaca (misalnya membaca memakai kertas penutup, mengingat perbedaan b dan d dengan jari, dst) maka ia akan kesulitan. Saran saya, gali bersama anak strategi atau cara-cara yang mempermudah anak mengenali huruf, terapkan secara konsisten dalam semua proses belajar mengajar. Selain itu, ada beberapa sekolah inklusi yang kurikulum dan metode pengajarannya dibuat secara khusus untuk anak-anak yang memiliki gangguan belajar.

      @Ratna: Silahkan :)

    • Reply April 28, 2012

      mainan anak

      mainan anak…

      [...]Mengajarkan Anak Disleksia Membaca | RuangPsikologi.Com Webzine Psikologi Modern[...]…

    • top Indonesian blogger…

      [...]Mengajarkan Anak Disleksia Membaca | RuangPsikologi.Com Webzine Psikologi Modern[...]…

    • Reply July 30, 2012

      URL

      … [Trackback] …

      [...] Find More Informations here: ruangpsikologi.com/mengajar-membaca-anak-disleksia [...] …

    • Reply September 16, 2012

      tina

      mba sya seorang guru anak didik saya susah membaca mengenal angka dan huruf.saya sudah mencoba dengan kartu huruf dan angka dia bisa menjawab namun dalam hitungan detik dia lupa lagi.
      1.mba anak itu termasuk anak yang mengalami disleksia/bukan?
      2.cara untuk mengajarinya gimana?

    • Reply January 21, 2013

      Dian Iskandar

      aduh, senangnya saya dapat link ini..

      saya merasa anak saya cenderung disleksia…..

      jadi pengen belajar banyak di blog ini….

    • Reply January 21, 2013

      Dian Iskandar

      terkait ciri2 dyleksia pada anak2 yg sempat saya goggling … yang terjadi pada Billa (putri saya, 4,5 thn) antara lain:

      – sulit mengurutkan irama kata dengan proposional, misalnya dia mengeja sudah benar, tapi yang keluar bukan kata2 itu.
      – mengeja satu kata, dengan bermacam ucapan, meskipun kata tersebut berada di halama n yang sama, tak jarang billa benar atas satu kata di halaman pertama, tapi di halaman berikutnya dia salah, meskipun pengejaan benar.
      – sulit mengeja dan bingung pada huruf yang mirip, seperti yang uni tulis di atas…
      – cenderung Billa bisa baca 4 suku kata dengan baik, tapi kadang dia gak ngerti apa yang dibacanya itu..
      – yang parah ya terbalik menulis, nulis BILLLA dengan ALLIB atau AAM dengan MAA
      kata KAKAK menjadi AKAK
      – rancu kiri kanan, siang malam, dan beberapa pilihan yang singkat.
      – tulisannya turuuuun atau naiiiik..
      – grasa grusu dan sulit melakukan sesuatu terorganisir…
      – lebih mudah memahami huruf A sebagai sebuah bidang dengan tiga sudut, ketimbang itu adalah huruf A saja…
      – dan kalau ditanya soal ngapain aja di sekolah, kadang bisa jelasin , kalau saya nanyanya “tadi main apa?” tapi kalau ditanya “tadi belajar apa?” Billa akan bilang, gak tau atau gak ngapa2in…

      mungkinkah putri saya suspect Disleksia mbak? berapa lama observasi harus saya lakukan, sebelum saya bawa ke psikolog anak di sekolahnya?

      makasih atas jawabannya…

    • Nia Janiar
      Reply January 29, 2013

      Nia Janiar

      Halo, Ibu Dian.

      Untuk lebih pasti, ibu bisa ke psikolog sekolah atau di luar sekolah. Ibu sepertinya sudah melakukan observasi dan sudah memiliki data tentang Billa. Sebaiknya, segera dibawa agar mendapakan diagnosis dan penanganan sedini mungkin, Bu. Jangan lupa sertakan dokumen seperti tulisan tangan, karya-karya, dan lainnya.

    • Reply July 8, 2013

      tasya

      baru2 ini sya dsruh les privat anak yang akan masuk SD tahun ini. orang tua mengeluhkan anak tersebut sulit membaca. stelah sya coba observ anak tsb slm 1 mggu. sya mrasa ada yg tidak beres. anak tsb terkadang tidak bisa membedakan antara b dan d, w dan m, p dan d. hapalan abjad untuk H K M N juga masih sulit. tidak bisa membaca untuk 2 kosa kata berakhiran konsonan, kosa kata pertama selalu lupa dan tergantikan dengan kosa kata lain misalnya ba-pak , dalam mengeja benar namun ketika dsuruh mengulangi dengan mengucapkan secara keseluruhan yang teringat hanya kosa kata akhir…. jadi kapak. meskipun begitu anak tsb saya akui jago dalam berhitung. tanpa menulis tanpa menggunakan jari misal saya tanya berapa hasil 2+3 ia hanya menerawang dan langsung menjawab 5. Apakah anak tsb termasuk disleksia? sebenarnya apa penyebab anak disleksia? apa faktor lingkungan yang tidak harmonis dan tekanan terhadap anak juga berpengaruh?
      terima kasih

    • Reply April 15, 2014

      ekha

      saya punya adik seharusnya dia kelas 3 SD tetapi karena dia tidak naik kelas Dia masih kelas 2 SD , dan sampai sekarang dia tidak tahu membaca dan menulis tapi dia sangat menyukai game online dan sangat handal memainkanya,apakah adik saya mengalami dyslexia dan bagaimana cara menaganinya,please kasih saranya ?

    • Ramadion Syam
      Reply April 17, 2014

      Ramadion Syam

      Halo Ekha,

      Untuk mengetahui apakah adikmu disleksia atau tidak, khususnya untuk anak yang belum diketahui sudah bisa membaca atau tidak, kamu harus membawanya untuk dicek oleh seorang psikolog.

      Soalnya, saat ini game online sudah tidak bisa dipakai untuk jadi indikator apakah seseorang sebenarnya bisa membaca atau tidak, karena untuk memainkannya kamu bisa bereksperimen dengan mencoba-coba mengklik fungsi yang ada.

      Apakah kamu atau keluarga sudah mencoba meluangkan waktu 1-2 jam sehari untuk mengajarkannya membaca atau menulis? Jika ya, bagaimana hasilnya?

    • Reply July 4, 2014

      Nur Laili Ikrima

      ini yang saya alami dilapangan, anak itu sulit membedakan huuf yang kembar seperti “b” dan “d”, “p” dan “q” dan seterusnya, ketika say dekti dia selalu tanya hadapnya kemana, karena membedakan posisi juga masih bingung/
      dia punya bakat dalam menggambar, bagaiman saya harus memberikan pembelajaran sesuai bakatnya.

      • Ramadion Syam
        Reply August 13, 2014

        Ramadion Syam

        Halo Nur Laili,

        Mungkin kamu bisa melatihnya dengan memberikan satu halaman yang berisikan kata-kata dengan huruf d dan b, atau p dan q.

        Lalu, minta anak tersebut untuk menjawab apakah hurufnya mengarah ke kanan atau ke kiri. Jangan biarkan anak selalu menanyakan arah hurufnya, agar kemampuan rekognisinya meningkat :)

    • Reply September 4, 2014

      meta

      Saya punya anak umur 6,5 tpi blm bisa baca pdhl tk aja 3 thun. Klo dsruh bljar membaca susahnya minta ampun.sukanya menggambar tentang imajinasinya. Tpi klo menghitung dia bisa. Jika didekte pasti tulisanya kurang sempurna. Di kelas kurang konsentrasi. Jadi jika mengerjakan sesuatu tidak tepat waktu.

    • Reply October 7, 2014

      lastri

      Mbak…mw tanya donk…. sy pny anak murid kelas 4 sd, pemahaman bacaannya msh sangat kurang sekali. Jangankan satu paragraf, misalnya diberi soal yg hanya satu kalimat sj, jawabannya g nyambung, kadang melenceng jauh sekali. Bagaimana ya treatment yg bisa sy lakukan?
      Mks banyak sebelumnya

    • Reply October 15, 2014

      Rohman

      saya mau nanya, pernahkah mbak menemukan kasus disleksia pada penulisan atau huruf selain latin (arab misalnya)…

    • Reply October 17, 2014

      sylvi oktarina

      Mba mau tanya donk…
      Anak kedua saya (Aliyah) umur 5,5 tahun.. saat ini sedang senang2nya belajar menulis.. tapi dari hasil observasi saya (observasi sederhana aja sih)
      – Aliyah agak sulut menghapal huruf abjad (A-Z) hingga saat ini masih banyak yang terlewat (padahal sudah diajari sejak umur 3 tahun)
      – terkadang Aliya (tanpa disadari) dia menulis terbalik dan harus dibaca dengan menggunakan cermin, yang ditulis bukan hanya 1 kata, tapi bisa 3 kata sekaligus… sedangkan kl disuruh dengan sengaja menulis terbalik dia nggak bisa..
      – Aliya termasuk cepat lupa.. misalnya Aliya mau menulis “baju baru”… setelah dia bisa menulis “baju” dia akan kesulitan untuk menulis “baru”, padahal suku kata “ba” telah dituliskan sebelumnya.
      – untuk mengucap kalimat terkadang dia suka kesulitan (seperti gagap)
      Apakah ini termasuk anak disleksia? treatment yang baiknya seperti apa ya? kl mau konsultasi sebaiknya kemana?
      untuk sementara Aliya belajar menulis dikte dan meniru tulisan yang ada…

      Terima kasih

    Leave a Reply