Neuropsikologi Ganja

Oleh: “Kong Ali”
Otak manusia sering disebut-sebut sebagai daerah terakhir yang paling sulit untuk dijelajahi di seluruh alam semesta. Ketika hadiah nobel diberikan kepada Camillo Golgi dan Ramon Cajal pada tahun 1906, umat manusia masih jauh dari memahami bagaimana cara kerja sistem syaraf. Nobel yang diberikan pun kontroversial karena kedua ilmuwan tadi masih mengemukan pendapat yang masing-masingnya berbeda tentang struktur syaraf manusia. Kedatangan mikroskop elektron pada dekade 1950-an baru memberi titik terang dengan menguatkan pendapat Cajal dan rekannya Sherrington bahwa sel syaraf adalah satuan kerja terkecil yang menyusun sistem syaraf manusia.
Hingga tahun 1990-an awal, seluruh ahli syaraf di dunia masih berpikir bahwa sinyal pada otak manusia dewasa hanya bergerak dalam satu arah saja, dari sel syaraf pre-sinaptik ke sel syaraf post-sinaptic. Namun penemuan di awal tahun 90-an oleh ilmuwan di Universitas Maryland di Amerika dan Universitas Rene Descartes di Paris mengisyaratkan adanya mekanisme baru dalam cara sel syaraf berkomunikasi dengan satu sama lain, yaitu dari sel syaraf pos-sinaps kembali ke sel syaraf pre-sinaps dengan menggunakan jasa molekul “pembawa pesan” yang bernama neurotransmiter. Jalur kedua dalam arah komunikasi ini diberi nama DSI (depolarization-induced suppression of inhibition) atau dikenal juga dengan istilah retrogade signalling. Selama ini komunikasi dua arah antara sel syaraf diketahui hanya terjadi saat sel saraf masih dalam taraf perkembangan.
Identitas molekul pembawa pesan ini menjadi misteri hingga akhirnya pada tahun 2001, ilmuwan dari Universitas California, San Fransisco dan ilmuwan dari Universitas Kanazawa, Jepang secara terpisah namun bersamaan menemukan bahwa molekul anandamide dan molekul 2-AG yang merupakan endocannabinoid sebagai molekul misterius ini.
Molekul endocannabinoid merupakan molekul pembawa pesan yang khusus menempel pada reseptor cannabinoid. Reseptor cannabinoid sendiri merupakan salah satu reseptor jenis G-protein terbanyak di otak, reseptor ini ditemukan dengan kepadatan tinggi di bagian-bagian seperti korteks cerebral, hipokampus, hipotalamus, otak kecil (cerebellum), basal ganglia, batang otak, tulang belakang dan amygdala. Istilah “cannabinoid” sendiri berasal dari tanaman ganja atau “cannabis” yang menghasilkan berbagai molekul aktif (sampai saat ini baru diketahui 60 jenis molekul) yang disebut fitocannabinoid atau cannabinoid dari tanaman. Tanaman ganja adalah satu-satunya spesies tanaman yang diketahui sampai saat ini menghasilkan molekul cannabinoid, keberadaan reseptor cannabinoid yang melimpah di berbagai bagian otak manusia membuat efek ganja begitu kompleks pada kesadaran manusia.
Sebelum Raphael Mechoulam yang merupakan ilmuwan dari Israel menemukan bahwa otak manusia juga menghasilkan molekul yang sama persis fungsinya dengan molekul cannabinoid dari tanaman ganja, ganja telah menjadi tanaman obat-obatan yang paling legendaris di dunia. Ganja pernah disebut sebagai tanaman obat dengan kegunaan terbanyak di dunia (Christian Rätsch, 2001). Catatan mengenai ganja dalam sejarah muncul pertama kali dalam kitab pengobatan tertua di dunia, pen’ tsao ching yang berasal dari Cina. Kitab ini merupakan kumpulan dari catatan-catatan yang dibuat oleh kaisar Shen Nung yang hidup pada masa 2900 SM. Ganja juga disebut sebagai satu dari lima tanaman suci dalam Atharva veda, salah satu kitab suci umat Hindu (Aldrich, 1977), sementara di Persia ganja disebut dalam kitab Zend-Avesta pada urutan pertama dari 10000 (sepuluh ribu) jenis tanaman berkhasiat obat.
Sejarah yang panjang dari khasiat tanaman ganja bukan hanya isapan jempol dari masa lampau. Ilmuwan di seluruh dunia saat ini mulai menemukan betapa pentingnya peranan reseptor cannabinoid dan molekul endocannabinoid dalam tubuh manusia. Cannabinoid berperan pada sistem reproduksi (Park, McPartland & Glass, 2003), pemulihan stress dan menjaga keseimbangan dalam tubuh (Di Marzo V, Melck D, Bisogno T, De Petrocellis L, 1998), perlindungan sel syaraf (Panikashvili D, Mechoulam R, Beni SM, Alexandrovich A, Shohami E, 2005), reaksi terhadap stimulus rasa sakit (Cravatt BF, Lichtman AH, 2004), regulasi aktifitas motorik (Van der Stelt M, Di Marzo V, 2003), mengontrol fase-fase tertentu pada pemrosesan memori (Wotjak CT, 2005), berperan dalam modulasi respon kekebalan dan imunitas tubuh (Klein TW, Newton C, Larsen K, Lu L, Perkins I, Nong L, Friedman H, 2003; Massa F, Marsicano G, Hermann H, Cannich A, Monory K, Cravatt BF, Ferri GL, Sibaev A, Storr M, Lutz B, 2004), bahkan berpengaruh juga dalam sistem kardiovaskular dan pernafasan dengan mengatur detak jantung, tekanan darah dan fungsi saluran pernafasan (Mendizabal VE, Adler-Graschinsky E, 2003).
Dalam mekanisme pemrosesan informasi dalam otak manusia, cannabinoid dan endocannabinoid diketahui memainkan peranan yang sangat penting. Ketika ditemukan bahwa jalur baru pengiriman sinyal dalam otak ini juga terjadi pada otak manusia dewasa, implikasinya memicu banyak penemuan baru di dunia neurosains. Endocannabinoid kemudian diketahui berperan dalam proses long-term potentiation atau penguatan sinaps antar sel syaraf, sebuah proses yang penting dalam menyimpan informasi baru yang diterima oleh otak. Pada tahun 2003, Giovanni Marsicano dari Institut Psikiatri Max Planck di Munich menemukan satu lagi peran penting molekul endocannabinoid dan reseptornya dalam salah satu proses kognitif paling penting pada otak mamalia, yaitu proses melupakan. Giovanni menemukan bahwa tikus-tikus percobaannya yang kekurangan reseptor cannabinoid (CB1) lebih sulit melupakan rasa takut dan sakit yang muncul dari stimulus kejutan listrik yang dipasangkan dengan stimulus suara dibandingkan dengan tikus-tikus dengan jumlah reseptor CB1 yang normal. Walaupun stimulus suara sudah tidak lagi dipasangkan dengan stimulus listrik, tikus-tikus yang kekurangan reseptor CB1 tetap menampilkan rasa takut dan rasa sakit walau hanya diberi stimulus suara.
Melupakan ternyata merupakan proses kognitif yang sangat penting pada otak manusia. Abnormalitas jumlah reseptor CB1 atau produksi molekul endocannabinoid telah menjadi hipotesis banyak ilmuwan sebagai penyebab atau faktor penting yang berpengaruh dalam kondisi-kondisi seperti stress paska trauma, fobia dan rasa sakit yang kronis. Lebih penting lagi, melupakan juga merupakan proses yang vital ketika seseorang ingin mengingat sesuatu karena otak manusia sebenarnya menyerap semua informasi dan stimulus yang diterima lewat indera. Tanpa mekanisme melupakan, atau gangguan pada prosesnya, manusia akan kesulitan mengingat sesuatu karena tidak tahu mana yang harus diingat dari begitu banyaknya informasi dan stimulus yang masuk ke otak.
Demikianlah sedikit cerita mengenai molekul pembawa pesan bernama endocannabinoid yang ternyata juga dihasilkan oleh hanya satu spesies tanaman di muka bumi, yaitu ganja. Tanaman yang sepanjang sejarah telah menjadi zat terlarang yang paling banyak dikonsumsi oleh manusia di seluruh dunia sampai saat ini dimana jumlah pemakainya merupakan terbanyak sepanjang zaman (Global Cannabis Regulation Model, 2004).
Daftar pustaka
Nicoll, Roger A., Alger, Bradley E. 2004. Brain’s Own Marijuana. Scientific American.
Purves, Dale. 2004. Neuroscience 3rd Edition. Sinauer Associates, Inc. USA.
Riedel, Gernot & Platt, Bettina. 2004. From Messengers to Molecules: Memories Are Made of These.
Eurekah.com & Kluwer Academic/Plenum Publishers.
sumber foto: http://www.flickr.com/photos/rafaelrubira/116187705/
Informasi Penulis:
Kong Ali adalah seorang pengagum ajaran marxisme-leninisme yang percaya bahwa tanaman ganja bisa menjadi salah satu jalan revolusi industri dan budaya.









Cannabinoid = Kelompok senyawa terpenophenolic yang terdapat dalam tanaman Cannabis sativa L dan diproduksi secara alami dalam sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh hewan dan manusia. Ada tiga jenis senyawa cannabinoid : fitocannabinoid yang dihasilkan secara alami oleh tanaman ganja, endogenous cannabinoid atau endocannabinoid yang diproduksi alami oleh tubuh manusia dan hewan; serta cannabinoid sintetis, senyawa serupa yang dihasilkan di dalam laboratorium.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Cannabinoid)
Sinaps = Sambungan khusus dimana sel saraf (neuron) saling mengirimkan sinyal ke satu sama lain dan juga sel non-saraf seperti sel otot dan kelenjar. Sinaps memungkinkan sel saraf untuk membentuk sirkuit pada sistem saraf pusat. Sinaps sangat penting bagi kalkulasi biologis yang mendasari persepsi dan pikiran. Sinaps juga menghubungkan sistem saraf dengan sistem lain pada tubuh serta mengontrolnya.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Chemical_synapse)
Pre-sinaptik = Berhubungan dengan ujung yang mengirimkan sinyal pada sinaps.
(http://www.biology-online.org/dictionary/Presynaptic)
Post-sinaptik = Terletak setelah sinaps, atau terdapat pada tempat dimana sinaps sudah dilewati oleh sinyal.
(http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/postsynaptic)
Retrograde signalling = Dalam neurosains, retrogade signalling adalah fenomena dimana sinyal bergerak dari sel saraf postsinaptik ke sel saraf presinaptik. Endocannabinoid diketahui memainkan peran dalam retrogade signalling, dengan molekul yang disintesis pada sel saraf postsinaptik dan bekerja pada sel saraf presinaptik. Retrogade signalling juga berperan dalam LTP (long term potentiation), sebuah mekanisme yang diperkirakan mendasari proses belajar dan pembentukan memori, walaupun hal ini masih kontroversial.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Retrograde_signaling)
Long-term potentiation = Dalam neurosains, long-term potentiation (LTP) adalah bentuk jangka panjang dari plastisitas sinaptik. Secara khusus, ini adalah peningkatan jangka panjang dalam komunikasi antara dua neuron yang dihasilkan dari merangsang keduanya secara bersamaan. Neuron berkomunikasi lewat sinaps, dan secara teoritis memori diperkirakan dibentuk oleh modifikasi sinaps ini; sehingga LTP dipertimbangkan sebagai mekanisme selular yang mendasari proses belajar dan pembentukan memori.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Long-term_potentiation)
Informasi yg sangat menarik! Tapi bisa tolong dijelaskan kesimpulannya dgn bahasa yg lebih simpel? Saya bingung krn di artikelnya terlalu berat buat saya.. Thx!! Nice info
Apa itu sm ma sistem opiat otak???
Coz wktu kuliah fsio saya dptkan kl sistem opiat otak,oleh hipotalamus adalah endorfin,dan dr batang otak adalah enkefain dan metenkefain…
Truz apa sih yg menstimulasinya?
Impuls sakit itu sendri?
pntesn byk bgt org yg mgkonsumsi ganja,spy mslah2nya pd hilg smw yaaah wlwpun hny sbntr.tp kbnykn ngeganja bs jd org bgo
@ rinaldi: mungkin kesimpulan penulis (Kong Ali) adalah jangan hanya karena membuat mabuk (sehingga di larang agama), kita benar-benar meninggalkan tanaman ganja dari ruang keingintahuan kita. ternyata, ganja mempunyai banyak manfaat. sehingga, kita harus tetap meneliti tanaman ini. siapa tahu, nanti kita membutuhkannya.
@ wendri: setau gue, endorfin dan cannabinoid itu beda. sistem opiat otak berfungsi untuk me-reward manusia klo melakukan hal-hal yang mendukung survivalnya (misal, makan atau melakukan hubungan seks). sedangkan cannbinoid sekedar menjadi “tombol” komunikasi antar saraf. sehingga, cannabinoid tidak di stimulasi, memang dia jadi bagian dari komunikasi saraf.
@ ayu: dari obrolan-obrolan gue dengan pengguna ganja, masalah ganja bikin bego masih kontradiktif. ada temen gue yang pemain game, yang katanya pemakaian ganja membuat “ketangguhan” dia berkurang. ada juga yang bersikukuh ganja tidak merusak otak, karena bukan berbentuk oksidan seperti alkohol
wah pantesan orng yg ngeganja tuh ktnaya otak mereka bisa bkerja secara multi tasking,,,
tetap meniliti ganja? setuju..
legalitas ganja kan masih rancu, diberbagai negara ada yg mengganggap legal dan ilegal. kekurangan dan kelebihannya pun masih dipertanyakan.. bahkan sebelum ngebaca artikel ini saya mikir ganja itu hanya bisa merusak badan kita aja, gak ada dampak positifnya sama sekali.
wah kalo bener2 ada penelitian yg bisa ngebuktiin kalo ganja itu lebih banyak manfaatnya, oke banget tuh..! hehehe
saya berpendapat, asalakan masih dalam batasnya (tidak berlebihan) dan tidak merugikan orang lain, gak ada kata haram tuh hehehe..
@ wendri & dion :
Sistem endocannabinoid beda sama opiat, tetapi secara garis besar sama cara kerjanya… dimana ada molekul neurotransmitter dan ada reseptor dimana molekul tadi bisa menempel dan mempengaruhi aktifitas sel syaraf. Berbagai zat narkotika dan psikotropika mengandung molekul2 psikoaktif yang masing-masing punya reseptornya di otak manusia (tanpa reseptor, molekul tadi tidak akan dapat beinteraksi dengan syaraf manusia dan tidak bisa dikategorikan sebagai “psikoaktif”).
Yang menarik adalah, dari mulai nikotin, opium, kokain, jamur halusinogen (’magic mushroom’) hingga kecubung, semuanya memiliki pasangan reseptor di otak manusia. Fakta ini menunjukkan bahwa secara genetik manusia memiliki hubungan evolusi yang dekat dengan tanaman-tanaman “memabukkan”. Ada juga kesimpulan lain yang menyebutkan kalo tanaman-tanaman memabukkan-nya yg punya adaptasi yang tinggi sehingga bisa memproduksi molekul-molekul yang disukai oleh spesies manusia
Selain berperan dalam komunikasi antar syaraf, penulis juga sudah membeberkan panjang lebar “peran” cannabinoid dalam berbagai sistem pada tubuh manusia di paragraf ke-6… endocannabinoid (cannabinoid yang diproduksi oleh tubuh manusia sendiri) ternyata memiliki peran yang sangat penting dalam survival spesies manusia, salah satunya; kandungan cannabinoid dalam air susu ibu ternyata merangsang bayi untuk aktif menyusui dan mencari puting ibunya; endocannabinoid juga berperan dalam peningkatan sensitifitas indera manusia (pendengaran, penglihatan dll) pada saat-saat tertentu dimana ketajaman indera dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan fisik atau memperkuat (reinforce) pengalaman yang dirasakan.
Inilah mengapa banyak pemakai ganja merasakan nafsu makan yang lebih tinggi saat menghisap ganja daripada saat sadar, selain itu ’sensasi’ makanan-minuman yang masuk juga lebih ‘kaya’ dengan ‘informasi’ dalam bentuk stimulus-stimulus yang membuat banyak orang merasakan masakan-masakan yang diberi ganja jauh lebih gurih dan nikmat.
gw demen bgt tuh essaynya Ki ageng woles hehehe..punya FB gak?
lam kenal sebelumnya .. ..referensi darimana klo otak punya tnyt reseptor2 ‘ajaib’ itu?
tp itu semua gak di bakarkan cara pemakaiannya?
Ki Ageng Selow punya FB, kok. coba di search saja username itu. atau, username Mbah Surip. doi suka ganti2 username soalnya :p
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Gold Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen emosi freud gangguan gender homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif psikologi seks Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita Blog (10)
Essay (148)
Featured (140)
Headline (136)
Lain-lain (35)
News (6)
Psikologi Industri & Behavioral Economy (17)
Psikologi klinis (44)
Psikologi Olahraga (2)
Psikologi pendidikan (15)
Psikologi Perilaku Seksual (5)
Psikologi perkembangan (29)
Psikologi sosial (45)
Psikologi Umum & Eksperimen (31)
Uncategorized (7)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (35)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (23)
- Lois (RSS) (13)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (24)
- Penulis Tamu (RSS) (22)
- ramadion (RSS) (22)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed