Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi klinis, Psikologi pendidikan

Mos Asyik Tanpa Bullying (Bag. 2): Dampak Bullying & Kiat Menghindarinya

13 July 2009 2,697 views 2 Comments

Oleh: Arya Verdi Ramadhani M.Psi

stop-bullyBullying mungkin merupakan bentuk agresivitas antarsiswa yang memiliki akibat paling negatif bagi korbannya. Hal tersebut terjadi karena dalam peristiwa bullying terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka.

Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullying akan cenderung mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-being), penyesuaian sosial yang buruk, gangguan psikologis, dan kesehatan yang memburuk (Rigby, dalam Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005).

Korban bullying juga bisa mengalami penyesuaian sosial yang buruk sehingga ia terlihat seperti membenci lingkungan sosialnya, enggan ke sekolah, selalu merasa kesepian, dan sering membolos sekolah. Apabila kita melihat lebih jauh lagi, gangguan psikologis rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder) dapat timbul pada korban bullying.

Terganggunya kesehatan fisik juga disebutkan Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) sebagai salah satu dampak dari bullying. Contoh yang biasa terjadi adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bagi para korban bullying yang mengalami perilaku agresif langsung mungkin akan mengalami luka-luka pada fisik mereka.

Bullying Menghambat Aktualisasi Diri
Seorang psikolog terkemuka bernama Abraham Maslow menyebutkan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, dari mulai yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Hirarki kebutuhan tersebut dijabarkan Maslow sebagai berikut :

maslow

Dari gambar tersebut, Maslow ingin menjelaskan bahwa seseorang baru dapat melakukan aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, apabila orang tersebut telah merasa bahwa kebutuhan fisiologis (seperti makan dan minum), rasa aman, kebutuhan sosial, dan kebutuhan akan harga diri telah terpenuhi dengan baik.

Seorang siswa yang menjadi korban bullying dapat mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, selalu merasa ketakutan dan tidak aman, bahkan merasa bahwa dirinya tidak lagi mempunyai harga diri. Dalam kaitannya dengan Teori Maslow, kondisi-kondisi tadi dapat menghambat dirinya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam diri.

Ada sebuah contoh nyata terkait hal ini yang penulis dapatkan dari seorang siswa. Ia adalah seorang anak yang mempunyai potensi besar dalam bidang sepakbola sehingga ia memutuskan untuk bergabung dalam eskul sepakbola di sekolahnya. Namun, yang terjadi adalah sejak ia bergabung di eskul tersebut, dirinya kerap kali menjadi korban bullying dari kakak-kakak kelas yang juga anggota eskul tersebut. Pada akhirnya, akibat rasa takut dan cemas yang terus menerus melanda dirinya, ia pun kesulitan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Sayang sekali, bukan?

Mencegah Dampak Buruk Bullying
Setelah membaca pemaparan tentang bullying, jelas tidak ada manfaat sedikitpun dari bullying. Walaupun kerap terjadi di lingkungan sekolah, ada hal yang dapat dilakukan seorang siswa untuk menghapus perilaku tersebut. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan tidak menjadi seorang pelaku.

Rasa empati (kemampuan yang tinggi untuk mengalami dan memahami emosi orang lain ) kita terhadap orang lain juga perlu ditingkatkan. Cobalah untuk merasakan emosi yang mungkin dirasakan oleh seseorang yang menjadi korban bullying, dan kemudian bayangkan apabila diri kita sendiri yang menjadi korban bullying. Jelas tidak menyenangkan, bukan?

Peran selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menyebarkan informasi mengenai pengertian dan dampak negatif dari bullying kepada orang lain, khususnya sesama siswa sekolah. Hal ini dapat kita lakukan misalnya dengan menjadi penggagas sekaligus pelaksana Masa Orientasi Sekolah dengan tema MOS TANPA BULLYING.

Pada kegiatan MOS tanpa bullying, acara dapat dikemas dengan berbagai kegiatan-kegiatan yang mengasyikan, menarik, dan tentu saja bebas dari perilaku bullying. Kegiatan-kegiatan MOS tahun sebelumnya yang kurang bermanfaat dan menjurus kepada perilaku bullying jelas harus dihilangkan.

Kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dan melibatkan interaksi antara siswa baru dengan siswa lama perlu diadakan lebih banyak. Dengan demikian, suatu lingkungan yang menyenangkan dan kondusif untuk belajar akan semakin cepat dan mudah terbentuk.

Selalu ingat dalam pikiran masing-masing, bahwa siswa baru adalah adik-adik kita yang membutuhkan bimbingan. Bukan suatu objek yang dapat kita perlakukan semau kita. Apabila hal ini dapat terlaksana, niscaya semua siswa akan menjadikan lagu Paramitha Rusady sebagai lagu kesayangan karena masa sekolah mereka adalah masa-masa yang paling indah, tanpa bullying. Setuju?

Sumber:
Hurlock, E.B. (1973). Adolescent Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, LTD.

Jackson, S. & Rodriguez-Tome, H. (1993). Adolescence and Its Social Worlds.
UK: LEA Ltdingin Publishers.

Papalia, Diane E., Olds, Sally W., & Feldman, Ruth D. (2004). Human Development (9th Ed.). New York: McGraw-Hill, Inc.

Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13.

http://facultyweb.cortland.edu/~ANDERSMD/MASLOW/EXPLAIN.HTML

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=190100&actmenu=43

sumber foto:

http://www.flickr.com/photos/14569294@N06/3126343479/

http://www.flickr.com/photos/misscupcake/2311479325/


Informasi Penulis:
Arya Verdi Ramadhani M.Psi telah menyelesaikan program S2 program Klinis di Fakultas Psikologi UI. Dia aktif dalam berbagai kegiatan sosial, diantaranya, di LSM anti-bullying “Sejiwa”, dan sanggar  “Kokeci” yang berfokus pada pendidikan anak usia dini. Verdi pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi UI tahun jabatan 2005-2006.

Informasi Artikel:
Untuk melihat versi aslinya, silakan kunjungi www.aryaverdiramadhani.blogspot.com. Artikel ini diedit oleh “WriteRight!”, penyedia jasa Copywriting.


2 Comments »

  • yua said:

    wow wow WOW!
    website ini keren banget! :D
    thanks jadi dapat masukan buat tugas nih :)
    good job!!!!

  • ichan said:

    thankya… izin copy materinya… makasihhh

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word