<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Bagaimana jika Ternyata Moral Tidak Berasal dari Agama?</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 03:54:38 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: raysat3d</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2/comment-page-1#comment-1284</link>
		<dc:creator>raysat3d</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 08:22:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=568#comment-1284</guid>
		<description>Dalam ketiga kasus di atas, sy memilih utk tidak memindahkan tuas. Bagi saya, nilai nyawa manusia tidak bisa diukur melalui kuantitas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam ketiga kasus di atas, sy memilih utk tidak memindahkan tuas. Bagi saya, nilai nyawa manusia tidak bisa diukur melalui kuantitas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Didien</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2/comment-page-1#comment-778</link>
		<dc:creator>Didien</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 14:25:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=568#comment-778</guid>
		<description>mau komen, tp nunggu moderatornya eksis dlu :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mau komen, tp nunggu moderatornya eksis dlu <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anakunik</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2/comment-page-1#comment-667</link>
		<dc:creator>anakunik</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 15:24:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=568#comment-667</guid>
		<description>maaf nimbrung lagi dan memperpanjang diskusi ini. saya setuju dengan pernyataan Laskar Pelangi, bahwa moral adalah fitrah manusia. 

kalo ngomongin pengaruh fenotip - genotip pada perilaku manusia mah emang ga bakal ada habisnya kayak ngomongin duluan mana ayam sama telor.

tapi saya percaya, manusia lahir dengan kecenderungan terhadap kebaikan lalu ditengah perjalanan hidupnya bisa dipengaruhi banyak hal yang akhirnya merusak standar kebaikan yang dia miliki.

Agama hadir sebagai petunjuk, pembeda, pengingat.

susah emang, memikirkan Dia yang Maha Tinggi, Tak-terbatas, dengan otak dan ilmu kita yang terbatas.

Kalo percaya ya manusianya bisa selamat, kalo ga percaya pun Tuhan ga akan rugi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maaf nimbrung lagi dan memperpanjang diskusi ini. saya setuju dengan pernyataan Laskar Pelangi, bahwa moral adalah fitrah manusia. </p>
<p>kalo ngomongin pengaruh fenotip - genotip pada perilaku manusia mah emang ga bakal ada habisnya kayak ngomongin duluan mana ayam sama telor.</p>
<p>tapi saya percaya, manusia lahir dengan kecenderungan terhadap kebaikan lalu ditengah perjalanan hidupnya bisa dipengaruhi banyak hal yang akhirnya merusak standar kebaikan yang dia miliki.</p>
<p>Agama hadir sebagai petunjuk, pembeda, pengingat.</p>
<p>susah emang, memikirkan Dia yang Maha Tinggi, Tak-terbatas, dengan otak dan ilmu kita yang terbatas.</p>
<p>Kalo percaya ya manusianya bisa selamat, kalo ga percaya pun Tuhan ga akan rugi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyagung</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2/comment-page-1#comment-664</link>
		<dc:creator>Priyagung</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 06:34:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=568#comment-664</guid>
		<description>Hmm..

Saya rasa semuanya terjebak pada kalimat cerita yg sudah terbataskan. Itu cerita yg sudah di kondisikan, bagaimana kalau mind set qta keluar dari cerita tersebut dengan mengubah mind set, bahwa ketiga cerita di atas orang2nya harus/bisa di selamatkan semuanya.

Beragama atau tidak, saya yakin kalau ada pilihan utk menyelamatkan org semuanya, kebanyakan org akan memilih hal itu. Ini bukti bahwa dalam diri manusia ad suatu 'hal' yang mengharuskan berbuat demikian (berbuat baik). Atau banyak org yg bilang itu 'Nurani' yg bicara. Dengan kata lain semua memiliki sumber yg sama.

Maka dari sini teori Darwin sudah terbantahkan. Teori Darwin berlaku hanya dalam situasional, atau bisa juga di katakan manusia hanya bisa merespon lingkungan (seleksi alam) yg terjadi.



salam...

Apa iya manusia hanya memiliki kemampuan seperti itu ?!

Coba konfrontasikan pandangan Darwin itu dengan Viktor E Frankl. Bahwa manusia tidak hanya produk lingkungan, dia juga memiliki 'kekuatan' atau kemampuan untuk membuat makna pada setiap pilihan. Meskipun itu berada dalam situasionalnya yg sulit (kondisi yg mengancam eksistensi hidupnya atau org lain). 

Salah satu kelebihan yang diberikan manusia yg tidak dimiliki makhluk lain, adalah berpikir dan kebebasan memberikan makna...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm..</p>
<p>Saya rasa semuanya terjebak pada kalimat cerita yg sudah terbataskan. Itu cerita yg sudah di kondisikan, bagaimana kalau mind set qta keluar dari cerita tersebut dengan mengubah mind set, bahwa ketiga cerita di atas orang2nya harus/bisa di selamatkan semuanya.</p>
<p>Beragama atau tidak, saya yakin kalau ada pilihan utk menyelamatkan org semuanya, kebanyakan org akan memilih hal itu. Ini bukti bahwa dalam diri manusia ad suatu &#8216;hal&#8217; yang mengharuskan berbuat demikian (berbuat baik). Atau banyak org yg bilang itu &#8216;Nurani&#8217; yg bicara. Dengan kata lain semua memiliki sumber yg sama.</p>
<p>Maka dari sini teori Darwin sudah terbantahkan. Teori Darwin berlaku hanya dalam situasional, atau bisa juga di katakan manusia hanya bisa merespon lingkungan (seleksi alam) yg terjadi.</p>
<p>salam&#8230;</p>
<p>Apa iya manusia hanya memiliki kemampuan seperti itu ?!</p>
<p>Coba konfrontasikan pandangan Darwin itu dengan Viktor E Frankl. Bahwa manusia tidak hanya produk lingkungan, dia juga memiliki &#8216;kekuatan&#8217; atau kemampuan untuk membuat makna pada setiap pilihan. Meskipun itu berada dalam situasionalnya yg sulit (kondisi yg mengancam eksistensi hidupnya atau org lain). </p>
<p>Salah satu kelebihan yang diberikan manusia yg tidak dimiliki makhluk lain, adalah berpikir dan kebebasan memberikan makna&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ramadion</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/moral-dan-agama-2/comment-page-1#comment-646</link>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 12:14:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=568#comment-646</guid>
		<description>@ rabbi:
bukan ngawur, tapi berkembang :D

yup, moral harus dijelaskan panjang lebar dulu sebelum diskusi di atas terjadi. tapi, untuk artikel saya, definisi terbatas moral yang saya berikan di atas sudah cukup :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ rabbi:<br />
bukan ngawur, tapi berkembang <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>yup, moral harus dijelaskan panjang lebar dulu sebelum diskusi di atas terjadi. tapi, untuk artikel saya, definisi terbatas moral yang saya berikan di atas sudah cukup <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

