Bagaimana jika Ternyata Moral Tidak Berasal dari Agama?
Ya. Bagaimana jika ternyata moral tidak berasal dari agama? Pertanyaan itu muncul setelah para peneliti makin mengerti tentang apa itu moral. Selama ini, karena sifatnya yang abstrak, manusia beranggapan bahwa sesuatu yang membuat manusia baik (yaitu, moral) berasal dari Tuhan yang mengajarkannya melalui agama. Tapi kini, para ilmuwan mulai menemukan definisi konkrit dari moral, dan pengetahuan ini menyadarkan mereka bahwa ternyata moral tidak semistis yang selama ini dibayangkan.
Salah satu peneliti yang paling giat mempelajari moral adalah seorang ahli Biologi dari universitas Harvard, yaitu Marc Hauser. Definisi Hauser tentang moral, secara sederhana, adalah sesuatu di dalam diri manusia yang membuatnya mampu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, WALAUPUN kadang manusia tidak tahu apa alasannya. Contohnya, adalah saat Anda melihat seorang pengemis yang masih kanak-kanak. Kemungkinan besar Anda akan merasa bahwa hal yang baik adalah memberikan uang kepada pengemis itu, walau mungkin Anda tak tahu mengapa Anda merasa hal itu baik.
Hauser membuat beberapa soal untuk menguji moral manusia, yang beberapa diantaranya dapat Anda baca di sini. Coba lihat apakah Anda memiliki moral yang sama dengan sebagian besar masyarakat, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
1. Dani sedang berdiri di depan persimpangan rel, disamping sebuah tuas yang bisa digunakan untuk memindahkan lajur kereta. Sebuah kereta sedang melaju ke arah Dani. Di rel utama, terdapat 5 orang yang tidak menyadari datangnya kereta. Di rel yang berfungsi sebagai rel tambahan, terdapat 1 orang yang sedang duduk dan akan terlindas jika kereta lewat sana. Haruskah Dani memindahkan kereta ke rel tambahan untuk menyelamatkan 5 orang, tetapi membunuh 1 orang?

2. Alan juga berada di persimpangan rel, di samping tuas, dan sebuah kereta sedang melaju ke arahnya. Tetapi, 5 orang yang tidak menyadari datangnya kereta, berada di titik dimana persimpangan rel sudah menyatu kembali. Hanya saja, di rel tambahan ada seseorang yang sangat gendut, yang mana apabila kereta menabrak dia, kereta akan berhenti. Haruskah Alan memindahkan kereta ke rel tambahan agar kereta menabrak orang gendut dan menyelamatkan 5 orang?

3. Maman berada pada situasi yang sangat mirip dengan Alan. Tetapi, di rel tambahan, tidak ada orang gendut, melainkan sebuah besi besar yang juga akan menghentikan kereta jika tertabrak. Hanya saja, sayangnya ada seorang pejalan kaki yang sedang melintas, dan akan terlindas kereta jika kereta memasuki rel tambahan. Haruskah Maman mengarahkan kereta ke besi besar untuk menyelamatkan 5 orang, tetapi mengorbankan si pejalan kaki?

Ketiga cerita tersebut memiliki kesamaan, yaitu, mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Tetapi, karena kondisinya berbeda-beda, jawaban yang dihasilkan juga berbeda.
Untuk cerita kesatu, 90% responden Hauser mengijinkan Dani untuk memindahkan rel. Pada cerita kedua, mayoritas pembaca tidak akan menyetujui Alan untuk mengorbankan si orang gendut. Untuk cerita ketiga, mayoritas pembaca akan setuju Maman mengarahkan kereta ke besi besar, walaupun mengorbankan si pejalan kaki. Hal yang menarik adalah, banyak dari orang yang mengikuti penelitian Hauser (mungkin sama dengan Anda) tidak mengetahui alasan dari perbedaan jawaban ini. Pokoknya, mereka yakin itu yang terbaik. Inilah yang disebut dengan moral.
Lalu, bagaimana jika pertanyaan ini diberikan kepada orang ateis? Jika agama adalah sumber dari moral, harusnya jawaban orang ateis akan berbeda. Hauser menanyakan cerita di atas pada mereka yang tidak percaya Tuhan. Hasilnya? Tidak terdapat perbedaan dengan orang yang beragama.
Tapi, mungkin jawaban orang ateis tersebut disebabkan oleh budaya. Hauser pun membawa cerita-ceritanya ke suku Kuna, yang tidak banyak berinteraksi dengan budaya barat, dan tidak memiliki agama. Hasilnya? Kembali tidak ada perbedaan.
Lalu, jika moral terbukti ada di dalam diri setiap manusia, bahkan yang tidak beragama, maka darimanakah asal moral? Karena agama bukan jawabannya, maka saya berpaling ke salah satu tokoh sekuler untuk meminta penjelasan, yaitu Charles Darwin.
Darwin mengatakan, bahwa manusia yang ada di masa ini, adalah manusia yang berhasil melewati seleksi alam. Karena manusia membutuhkan bantuan mahluk lain untuk selamat, maka manusia yang berhasil bertahan adalah mereka yang memiliki sifat baik atau penolong (altruis). Sifat baik ini kemudian diturunkan secara gen ke generasi selanjutnya, sehingga menjadi bagian dari cara berpikir manusia, bahkan kadang tanpa disadari. Oleh karena itu, pada saat lahir, manusia normal sudah memiliki seperangkat aturan baik-buruk yang ia warisi dari orang tuanya.
Saya melihat penjelasan Darwin ini cukup masuk akal dan dapat dibuktikan melalui data historis dan genetis. Lalu, benarkah kita tidak butuh agama untuk menjadi orang baik?
Sumber:
- Hauser, M (2006). Moral Minds: How Nature Designed our Universal Sense of Right and Wrong. New York: Ecco.
- Diskusi mengenai teori Darwin.
Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/vrot01/2931675783/









dear all,
saya akan pelajari lebih dahulu
tx atas infonya
menggugah pertanyaan sempit saya, dr analogi diatas:
apakah saya yg memindahkan tuas, harus menjadi org yg beragama?
ataukah saya yg tidak memindahkan tuas, maka tidak beragama?
secara evolusi darwin teralu jauh dan blur
apa tingkat moral org, 1jt th yg lalu, lebih baik?
atau secara revolusi
apakah tingkat moral jaman ortu saudara, lebih baik?
ntah kenapa temen ciplay saya, dinilai kurang mempunyai moral,
yg notebene berasal dari daerah yg keras
bagaimana saat belum terlahir agama??
saya merasa moral saya tak berasal dari agama,
tetapi agama jg mengajarkan moral melalui norma2 yg disetujui..
sama demikiannya dgn pergaulan yg mengajarkan moral..
dengan tujuan situasi stabil, win-win solution..
apakah rakyat rrc yg tak beragama, tak punya moral?
ohh ya, ini comment + pertanyaan pertama saya disini.
salam kenal + maaf ‘ngelantur ngalor ngidul’
WM
halo Wisnu Murti,
wah, pertanyaannya banyak banget. untuk masalah moral sebelum agama, juga ada yang bertanya di fanpage. saya menjawab begini:
sebagai budaya, agama kalah cepat lahir dari berbagai “way of life” yang mengajarkan kebaikan. sebagai contoh, Yoga yang mengajarkan keseimbangan alam dan kehidupan harmoni dengan mengalahkan ambisi itu tercatat sudah hadir di dunia sebelum agama-agama monotheis dan polytheis ada di dunia.
kalau kita melihat ajarannya, Yoga adalah ajaran yang high-moral. jadi, memang “dari sananya” manusia bermoral. apakah maksud “dari sananya” itu? saya sih masih merasa argumen darwinian di artikel memberi jawaban yang paling sederhana. dimana menurut Occam’s Razor, sebaiknya kita mengambil penjelasan yang paling sederhana dan paling tidak spekulatif.
masalah teman ciplay kamu, saya rasa dia jadi korban labeling dan prejudice, deh. menurut kamu dia punya moral? ya kamu yang dekat dengan dia lah, saya rasa, yang benar.
dan masalah memindahkan tuas dan beragama, saya rasa artikel di atas cukup jelas menjawab (khusus untuk masalah ini): tidak. kamu tidak perlu beragama untuk memindahkan atau tidak memindahkan tuas.
Moral memang tidak selalu identik dengan agama. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, terkadang ada orang yang sangat mengerti agama, tetapi dalam pergaulannya kurang menghargai sesama. Sebaliknya ada orang yang pengetahuan agamanya biasa-biasa saja, tapi dia sangat baik dan suka menolong. Tapi saya sangat yakin, dengan agama dan menjalankan semua syariatnya dengan ikhlas, Insya Allah kita bisa menjadi individu yang lebih bermoral.
untuk cerita ke-1 dan 3, mgkn hslnya akan berbeda kl ceritanya diberi konteks. misalnya, si pejalan kaki (yg 1 org itu) diceritakan sebagai seseorang yg sangat disayangi oleh si partisipan (mis. orangtua, pasangan, dsb.). atau misalnya si pejalan kaki itu adl org yg pny otoritas tinggi, atau pny pengaruh sosial yg besar dlm masyarakat.
kalau dlm situasi tsb (yg gw tulis di atas) lbh byk partisipan yg memilih mengorbankan 5 org (krn tau bhw si pejalan kaki adl seseorang yg pntg bg dirinya), apakah bs dibilang kl partisipan2 itu ga bermoral?
@bagas : menyelamatkan orang yang tidak memberikan keuntungan pribadi ? no way jose .. ini gak ada hubungannya sama moral, tapi insting bertahan hidup.
@moderator : komen gw yang panjang diatas apus aja, itu komen rada tolol.
@ nia: pemikiran yang bagus
@ bagas: kalau dihubungkan dengan teori evolusi, masih masuk tuh. orang yang disayangi atau orang yang punya otoritas kan dianggap PENTING untuk survival individu. jadi, masuk akal kalau manusia akan mengorbankan 5 orang (atau lebih) demi orang-orang itu
Cukup menjadi dasar pemikiran bahwa sebaiknya orang-orang beragama menganggap diri mereka lebih baik secara moral dibanding orang-orang lain yang tidak beragama (atau dianggap tidak mengindahkan ajaran agama).
Nice article here…
@pio & dion: jd kl mslh yg dihadapi dimasukkan ke dalam konteks yg gw sbt di atas, maka mslhnya menjadi urusan survival dan bukan morality? lalu morality hny bs dilihat ketika mslh yg dihadapi tdk menyertakan hal2 yg berhubungan dgn kepentingan survival si pelaku?
Saya atheis dan saya bermoral..
Buat saya.. Siapa pun yang harus mati itu sudah ditakdirkan..
Harusnya opsi ditambah 1.. Kalo memindahkan rel dan KAMU yang mati, akankah kamu melakukannya.. Itu adalah orang paling BERMORAL yang ada.. Entah dia theis ataupun atheis..!
@bagas : kalau mengacu kepada definisi hauser, yup.
dia penting (berpengaruh) untuk kehidupan saya = survival instinct.
survival instinct = alasan.
menyelamatkan si gendut daripada 5 orang itu bukan survival instinct, lantas tidak beralasan. tapi kenapa 80% memilih jawaban itu ?
jengjengjengjeeeeeeeeeng
@bagas :
tidak membunuh orang karena gak mau ditangkep polisi ? bukan moral
tidak membunuh orang karena itu dosa ? bukan moral
@Rama.. maaf baru bisa comment lagi, baru sampe rumah
saya mau tanya, agak ott dan mengganjal sandal..
tapi nyambung2 dikit gpp ya..
anu.. otak saya tak sampai nih, masih sma
mohon dicerahkan sedikit..
1. apakah moral itu berasal dari agama?
2. atau dari defence bertahan hidup?
3. atau dari ketenangan batin?
4. parameternya apa ya?
inget2 dikit menurut Nietzsche, lupa baca dmn..
Moral tuh ada 2, kalo gak salah ya.. majikan dan pembantu..
yg majikan itu yg membuat dirinya bangga, dan yoi asik ama dia..
yg pembantu itu yg menekankan kedamaian, enjoy, piss men..
agama masuk kategori ke 2 menurut dia..
herd instinct in the individual
yg dari jaman dulu kala pastinya agama mengajarkan kedamaian
moral yg di genjleng dgn dogma baik dan buruk,
sehingga menimbulkan manifestasi dosa,
moral dosa moral dosa..
jawaban sebelumnya, kurang masuk ke saya..
maaf saya tak mendapatkannya dari Yoga,
karena menurut saya moral itu dinilai oleh sekitar.. bukan pribadi..
dalam artian yg sempit, sesempit pemikiran saya..
saya malah mendapatkan kemoralan yg ke 2, ’si pembantu’,
–dihilangkan atas permintaan pemberi komentar–
i love u full.. Pio…
pertanyaannya ada 4 diatas.. mohon bantuannya ya..
mas bro Rama..
*maaf seribu maaf ngalor ngidul..
pemikiran saya kolot tapi nyolot..
tapi saya open minded kok..
bonus 1 lagi pertanyaan:
ketika perilaku tak bermoral pun kadang bisa memiliki tameng Agama..
dengan kekuatan Bulan, akan menghukummu.. bletakk.. mokad..
ketemu 7 sailor dibulan..
dimanakah peran agama? Nia?
nb:
sedang menunggu kalimat jadul tapi sakti..
sangat mematikan komentar2 dan enak diucapkan:
“itu mah tergantung individu masing2″..
Wuaaasheeekkk..
@wisnu : heh ganja kok bawa2 gw, gak ngerti gw begituan.
1. tidak. agama = hukum. hukum dilanggar -> siksa. survival instict bilang, “jangan lakukan hal yang mengganggu eksistensi diri”.
2. survival instinct = bukan moral. hal tertentu dilakukan agar eksistensi tetap terjaga.
3. syntax error. definisikan “ketenangan batin”. kalo maksudnya hasil pemikiran (perhitungan), ya berarti bukan moral.
4. menilai sesuatu itu baik atau buruk TANPA alasan (hauser)
gw pake definisi moral yang ada di artikel ini.
@ Wisnu Murti:
ada satu ciri dari ilmu pengetahuan, yaitu kita tidak bisa bicara banyak jika belum ada bukti. paling jauh, kita hanya bisa memakai logika berpikir yang dianggap benar.
untuk empat pertanyaan kamu, saya rasa sudah terjawab dalam artikel. karena, sampai sejauh ini, seperti itulah yang dibuktikan oleh penelitian. coba artikel di atas dibaca lagi. sepertinya ini bukan masalah otak kamu yang tidak sampai, tapi otak kamu yang brillian itu berpikirnya ribet.
masalah moral yang bentuknya majikan dan pembantu, saya tidak tahu. karena seperti yang kamu baca dari artikel-artikel saya, saya selalu mendasarkannya pada penelitian. dan penelitian masalah moral memang masih sangat hati-hati (sehingga belum banyak buktinya).
nah, Nietzsche bukanlah peneliti. dia seorang filsuf yang mengutarakan pemikirannya berdasarkan pemikiran dia pribadi, bukan bukti data. saya tidak memegang kata-kata filsuf yang belum disokong oleh penelitian yang valid. mungkin karena pemikiran saya sederhana sekali. ada data = (seabsurd apa pun) saya terima. tidak ada data = (sekeren apa pun kedengarannya teori tersebut) tidak saya terima.
jadi, mari baca jurnal penelitian sebelum menyokong perkataan filsuf
@Pio: mantab ^_^ b
@Rama: gpp ya, biar seru2an aja ya topiknya..
adakah data yg lebih jelas drpd Evolusi?
karena tak ada catatan ataupun hidup
yg terlalu lama untuk menemaninya.
Bukti data Moral orang jaman dulu lebih buruk itu apa?
membunuh ahli nujum? perang? kanibalisme?
dilawan dgn
kemiskinan? korupsi? mematikan usaha org lain? teman makan teman?
bisa saja saya sembarang bilang
orang dulu tuh lebih sengsara daripada sekarang?
buktinya? Evolusi? teknologi? budaya?
pincang statement saya..
dan ketika teori menjadi sebuah penelitian tak terpuaskan..
marilah kita mencari teori2 yg lain..
lagipula pewarisan genetika itu teorinya Mendel
dan kenapa tak menerima teori individu, Rama?
terucapnya sebuah teori dari orang besar
tentu melalui proses yg tidak kecil pula..
terjadinya bukti khan dari imajinasi jg..
ada bukti selain darwin?
@wisnu : bukti dari imajinasi ? bisa tolong dijelaskan ?
@ wisnu: mungkin sebelum kita melanjutkan, Wisnu coba pahami dulu teori evolusi yang saya pakai. kalau malas baca, bisa menyimak video-video dokumenter di Youtube, kok. gratis, hehehe… untuk teori lain, saya belum sempat membaca. mungkin Wisnu bisa mengajukan? tapi, harus ada data pendukungnya, ya
kenapa saya hanya menggunakan penjelasan Darwin di artikel ini? karena, seriously, satu teori saja harus dipahami dengan benar. kalau tidak, banyak kesalahpahaman atau ignorance yang akan terjadi.
Religion and Social Issues
Global publics are sharply divided over the relationship between religion and morality. In much of Africa, Asia, and the Middle East, there is a strong consensus that belief in God is necessary for morality and good values. Throughout much of Europe, however, majorities think morality is achievable without faith. Meanwhile, opinions are more mixed in the Americas, including in the United States, where 57% say that one must believe in God to have good values and be moral, while 41% disagree.
The survey finds a strong relationship between a country’s religiosity and its economic status. In poorer nations, religion remains central to the lives of individuals, while secular perspectives are more common in richer nations.1 This relationship generally is consistent across regions and countries, although there are some exceptions, including most notably the United States, which is a much more religious country than its level of prosperity would indicate. Other nations deviate from the pattern as well, including the oil-rich, predominantly Muslim — and very religious — kingdom of Kuwait.
The survey also measured global opinion about contemporary social issues, finding a mix of traditional and progressive views. Throughout Western Europe and much of the Americas, there is widespread tolerance towards homosexuality. However, the United States, Japan, South Korea, and Israel stand apart from other wealthy nations on this issue; in each of these countries, fewer than half of those surveyed say homosexuality should be accepted by society. Meanwhile, in most of Africa, Asia and the Middle East, there is less tolerance toward homosexuality.
Regarding gender issues, there is a broad consensus that both boys and girls should receive an education. In all 47 countries surveyed, at least seven-in-ten respondents believe that education is equally important for boys and girls. Most publics also believe that men and women are equally qualified for political leadership, although there is less agreement on this issue. Notably, in several predominantly Muslim publics — including Mali, the Palestinian territories, Kuwait, Pakistan and Bangladesh — majorities say that men make better political leaders. The survey also asked about another often contentious gender issue: Muslim women wearing the veil. In 15 of 16 Muslim publics surveyed, majorities say women should have the right to decide whether they wear a veil. Women generally are more likely than men to express this opinion.
http://pewglobal.org/reports/display.php?ReportID=258
Evolutionary psychology of religion is based on the hypothesis that religious belief can be explained by the evolution of the human brain. As with all other organ functions, cognition’s functional structure has been argued to have a genetic basis, and is therefore subject to the effects of natural selection. Like other organs and tissues, this functional structure should be universally shared amongst humans and should solve important problems of survival and reproduction. Evolutionary psychologists seek to understand cognitive processes by understanding the survival and reproductive functions they might serve, and some have theorized that Voltaire’s famous saying “if God did not exist, it would be necessary to invent Him” can thus be argued in a scientific context.
http://en.wikipedia.org/wiki/Evolutionary_psychology_of_religion
The evolution of morality refers to the emergence of human moral behavior over the course of human evolution. Morality can be defined as a system of ideas about right and wrong conduct. In everyday life, morality is typically associated with human behavior and not much thought is given to the social conducts of other creatures. The emerging fields of evolutionary biology and in particular sociobiology have demonstrated that, though human social behaviors are complex, the precursors of human morality can be traced to the behaviors of many other social animals. Sociobiological explanations of human behavior are still controversial. The traditional view of social scientists has been that morality is a construct, and is thus culturally relative.
http://en.wikipedia.org/wiki/Origin_of_morality
Kesimpulan sotoy bin asal:
Agama dan moralitas mempunyai hubungan korelasional, tetapi bukan kausalitas.
@Pio..
helicopter davinci.. tatt tarattt…
tapi imagine john lennon gmn?
@Rama
darwin seriously pincang..
ya maaf.. saya tak fokus ke darwin tok,
coz ntah kenapa saya membaca sisi yg lain..
seriously Moral orang jaman dulu tak lebih buruk..
ketika yg baik itu menjadi biasa.. yg buruk menjadi luar biasa..
dan lebih mudah meniru yg buruk.. ‘keseimbangan?’
@wisnu : maksudnya ide / hasil pemikiran ? ya itu belom jadi bukti lah wis ..
Ikutan comment ah.. menurut gw sih agama bukan fokus ngajar moralitas, tapi doktrin keselamatan. Contohnya, liat tuh teroris, mereka beragama dengan sangat kuat, tapi hasilnya?? itu karena doktrin keselamatan itu yang mereka pegang. Moralitas itu cuma embel-embel, tapi setidaknya dengan memegang agama dengan baik terkadang kita inget ketika mau melakukan hal kurang baik kita jadi sadar bahwa kita salah. Klo pake bahasa behaviorisme sih punishment-nya jadi lebih kuat (karena dinyatakan berdosa).
@Dion: Salut sama prinsip empirisnya.. di kalangan psikologi sekitar gw masih banyak yang keras kepala dan lebih percaya kata orang dibanding hasil penelitian.
@Phebee: Ciri khas penelitian ilmiah adalah harus punya penjelasan bagaimana hubungan variabel yang satu dan yang lain. jadi kalau dibilang hubungan korelasional dan bukan kausalitas, dari mana muncul hubungan korelasionalnya yah? dari human brain yang mengatur religiusitas dan moralitas secara bersamaan atau gimana?
@ Wisnu Thomas:
Mungkin anda kurang menyimak artikel ini dari awal.
Sampai detik ini pun, penelitian empiris yang ingin melihat hubungan antara moralitas dan religiusitas sedang dilaksanakan.
Namun, jika anda sudah terlampau ingin melihat penjelasan empirisnya,
mungkin bisa dilihat melalui
http://en.wikipedia.org/wiki/Evolutionary_psychology_of_religion
http://en.wikipedia.org/wiki/Origin_of_morality
itu pun penjelasannya masih sangat minim.
jd, sbnrnya moral itu ada apa ngga?
menurut penjelasan dlm artikelnya, perbuatan “bermoral” itu mrupakan hsl evolusi
brarti moral itu hny sbg alat utk survival..sama seperti perilaku lain yg msh ada sampai skrg
atau..adakah perilaku manusia yg bukan merupakan hasil proses evolusi?
kalau ada, apa contohnya?
kalau tdk ada, apa manfaat dr ilmu perilaku kalau teori evolusi merupakan penjelasan ultimate mengenai perilaku manusia?
@pio:
“tidak membunuh orang karena gak mau ditangkep polisi ? bukan moral
tidak membunuh orang karena itu dosa ? bukan moral”
>>dlm sbuah situasi, mgkn seseorang pny sejuta alasan utk tdk membunuh.
apakah yg dikatakan bermoral itu adl ketika dia tdk menyadari/mengetahui apa alasan utk tdk membunuh?
kl begitu, berarti moralitas berada di luar kesadaran?
@ bagas: moral itu ada. dan menurut yang gue pegang saat ini, tidak ada perilaku yang bukan hasil dari evolusi.
iya, moral “hanyalah” alat untuk survival. tapi, bukankah tujuan utama kita hidup adalah untuk men-survive-kan gen kita ke generasi selanjutnya? jadi, survival adalah faktor penting dalam hidup.
apa manfaat ilmu perilaku? tentu untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengintervensi. tapi, tentu bukan jawaban itu yang Bagas mau. manfaat kita mengetahui moral adalah:
1. memenuhi sifat natural kita untuk mengetahui segala hal yang berhubungan dengan kita, dan sifat natural kita untuk melabel semua hal. seperti, kemauan untuk melindungi satu pasangan romantis, mencegahnya untuk berhubungan seks dengan manusia lain selain kita, menyiapkan kebutuhannya agar dia tetap tinggal bersama kita. itu berangkat dari kebutuhan survive (meneruskan gen), yaitu mempunyai anak. tapi, kita dengan otak kanan kita melabelnya dengan “cinta”. begitu pula dengan moral. walau pun moral “hanya” untuk survival, tapi kita sudah melabelnya dan mempersepsinya dengan pandangan indah seperti “moral” yang kita rasakan.
2. untuk mensyukuri bahwa kita memiliki karakteristik ini. moral membuktikan bahwa kita adalah manusia yang beradab. karena, orang yang memiliki moral, tidak lebih buruk dari binatang… karena beberapa binatang tingkat tinggi juga memiliki sebentuk moral. (dan kita juga harus bersyukur, karena orang tua kita memiliki karakteristik “bermoral” dalam gen mereka, kita dan anak cucu kita kemungkinan besar akan survive)
3. tentu untuk menggunakan moral sebagai alat yang dapat membantu kita. jika kita tahu manusia bermoral, dan moral lebih bersifat “tidak disadari”, saat kita butuh bantuan orang lain, jangan approach dia dari kognisi yang disadari, tapi dari afeksi. (tentu lawan dari fungsi ini juga berlaku, yaitu agar kita tidak menjadi korban dari orang lain yang mencari keuntungan dari sifat bermoral kita)
>>> gue rasa, i rest my case here. diskusi ini mulai bergerak keluar arsenal pengetahuan gue yang sarjana aja belum. tentu gue ga akan bisa melawan Bagas yang pengetahuan dan pengalamannya sudah di atas gue.
@bagas : gw coba jawab dengan sangat simpel –menurut definisi hauser, yup.
budaya (dan agama) tidak membentuk moral (merujuk hasil penelitian diatas), jadi ya diluar kesadaran.
@bagas : menurut definisi david hume, moral adalah simpati.
tidak membunuh karena gak mau keluarga orang yang akan dibunuh itu sedih merasa kehilangan ? itu moral.
intinya, menurut gw kita cuma berdiskusi definisi moral daritadi hahaha
setelah gw pikir2, kok definisi moral hauser ma hume rada sama ya ? gmana caranya mempelajari simpati coba ?
@dion:
“tentu gue ga akan bisa melawan Bagas yang pengetahuan dan pengalamannya sudah di atas gue.”
>> wahahaha..gila loe yon..ga gitu juga lah yon..
ini kan ruang diskusi, bukan medan perang
pertanyaan gw jg culun2 koq
oiya, gw menemukan artikel jurnal penelitiannya (bukan buku, tp artikel jurnal). mdh2an sih bnr artikel ini yg dimaxud dlm bukunya
ini linknya:
http://www.cdnresearch.net/pubs/others/Hauser_MindLang.pdf (A Dissociation Between Moral Judgments and Justifications, oleh MARC HAUSER, FIERY CUSHMAN, LIANE YOUNG, R. KANG-XING JIN AND JOHN MIKHAIL)
di sana dijelasin bhw slh satu metode analisisnya adl dgn menilai justifikasi atau alasan si partisipan menetapkan pilihannya. dari penilaian itu, justifikasi dimasukkan ke dlm 3 kategori: 1) sufficient; 2) insufficient; dan 3) discountable.
nah, mengenai hslnya yg mengatakan bahwa mayoritas partisipan ga tau alasan knapa memilih perilakunya, bagi gw mgkn agak meragukan. mnurut penelitiannya, hny 68 partisipan yg dinilai justifikasinya. 45 di antaranya dimasukkan ke dlm kategori discountable, sehingga dikeluarkan dr analisis. lalu yg tersisa hanya 23 partisipan; 20 insufficient, 3 sufficient. kecilnya data ini lah yg menurut gw membuat hsl analisisnya meragukan.
@pio
“In conclusion, our results challenge the view that moral judgments are solely the product of conscious reasoning on the basis of explicitly understood moral principles. Though we sometimes deliver moral judgments based on consciously accessed principles, often we fail to account for our judgments. When we fail, it appears that operative, but not expressed principles, drive our moral judgments. (hal. 17-18)”
kl menurut pemahaman gw dr kalimat2 tsb, Hauser ga sepenuhnya mengatakan bhw moral itu berada di luar kesadaran.
@bagas : ckakakakak gas, coba loe baca lagi apa yang baru loe tulis. tulisan loe itu membenarkan omongan gw
“Though we sometimes deliver moral judgments based on consciously accessed principles, often we fail to account for our judgments.”
menurut gw, dia hny mengatakan bahwa kadang kita gagal utk mengetahui alasannya. tetapi penilaiannya tetap dilakukan secara sadar.
@bagas : oooops my bad, tapi yang gw tangkep malah ada dua
1. \”Though we sometimes deliver moral judgments based on consciously accessed principles\”
con : tidak ciuman di mall.
2. \”often we fail to account for our judgments. When we fail, it appears that operative, but not expressed principles, drive our moral judgments\”
con : ngasih uang ke pengamen anak2.
yang gw tangkep dari kata2 itu, menurut hauser, moral judgment itu ada yang dari budaya, ada yang memang sudah tertanam.
jadi ada yang sadar, ama ada yang ga sadar.
HAHAHAHHAHAHAH pusing.
tapi ya kalo dilakukan secara sadar, orang yang bermoral tu berarti orang yang mengikuti budaya.
misal di indonesia, ciuman di mall itu dianggap tidak bermoral. di eropa sih santai.
berarti moral itu sama aja budaya donk (tidak universal) ? berarti hauser omongannya kontadiktif donk ?
au ah hahahaha
oh, si hauser melakukan penelitian itu ingin membuktikan kalau moral itu bukan cuma hasil budaya atau agama (solely the product of conscious reasoning on the basis of explicitly understood moral principles), tapi juga operative principles –ini bagian yang gak sadar.
yang berarti orang yang tidak berbudaya dan tidak beragama pun harusnya tetap bermoral.
ya itu intinya, menurut gw.
@ bagas: sebenernya, gue juga mundur karena jurnal buat skripsi gue ga ketemu2 :p
mungkin, hasil pemikiran Immanuel Kant bahwa mahluk rasional tidak boleh dipakai sebagai ‘alat’ walau pun alasannya untuk menguntungkan orang lain, adalah sebuah insight dari moral. mungkin Kant telah menangkap “logika” dari moral manusia yang kita perdebatkan di atas. mungkin, itu yang menjadi alasan setiap orang… walau mereka tidak menyadarinya.
tapi, gue ga bisa ngebahas lebih jauh karena: 1. jurnal skripsi harus dicari. 2. Kant seorang filsuf, gue seorang data oriented.
@pio:
nih penelitian sblmnya dr Hauser dkk. yg hslnya (di luar dugaan mereka) jg blm bs meyakinkan kl moral tuh bersifat unconscious alias intuitif
http://www.wjh.harvard.edu/~cushman/research/Research_files/cushman_etal_2006_2.pdf
(The Role of Conscious Reasoning and Intuition in Moral Judgment: Testing Three Principles of Harm - Oleh: Fiery Cushman, Liane Young, dan Marc Hauser)
makin hari, makin mantab nih web.. ^^
@ bagaskece:
“atau..adakah perilaku manusia yg bukan merupakan hasil proses evolusi?
kalau ada, apa contohnya?”
kalau boleh jujur, semakin ke sini, gw semakin menyadari bahwa sebenernya seluruh perilaku kita ini tak lebih dari hasil evolusi yang berlangsung selama berjuta-juta tahun atau bahkan triliunan tahun..
gw emang belum bisa memberikan penjelasan empirisnya..
tapi berdasarkan penjelasan kasat mata aja dan kalau memang penjelasan dan penemuan Von Koegniswald, dkk. benar bahwa manusia merupakan proses perjalanan dari Meganthrophus Paleo Javanicus menuju Homo Sapiens hingga Homo-homo yang lainnya..
menurut gw perubahan itu merupakan salah satu indikator bahwa perilaku manusia berevolusi dari yang paling primitif hingga yang detik ini..
dulu manusia hanya bisa berproduksi dengan menggunakan alam yang ada di sekitarnya, sekarang manusia berproduksi tidak hanya menggunakan alam, tetapi juga bisa mengolah, mengubah, hingga menciptakan alam..
pertanyaan iseng,
apakah nanti mungkin pada waktunya manusia bisa menciptakan alam semesta yang baru?
yang pasti manusia sedang berusaha untuk mencoba menciptakan atau setidaknya menerka2 asal mulanya alam semesta dengan membangun Mega Laboratorium Nuklir di Eropa, CERN, dan katanya di Amerika juga..
“kalau tdk ada, apa manfaat dr ilmu perilaku kalau teori evolusi merupakan penjelasan ultimate mengenai perilaku manusia?”
dan kalau mau jujur lagi, dengan perkembangan ilmu neuroscience dan evolutionary psychology, evolutionary biology, dan evolutionary2 yang lainnya..gw sedang merefleksikan hal tersebut..
Moral adalah sesuatu yang fitrah yang telah dimiliki oleh seseorang dari lahir, dan dalam perkembangan menuju kedewasaan hal itu terpengaruh oleh berbagai macam hal yang bisa menurunkan atau menaikkan kualitasnya
@ Laskar Pelangi: informasi yang bagus
kalau dicocokkan dengan penelitian di atas, tidak kontradiktif…
kebanyakan komen, males bacanya
tapi mnurutku perlu dibahas lagi, sebenernya yang dimaksud dg moral dalam kajian psikologi itu apa????
“sesuatu yang membuat orang mampu menilai sesuatu itu baik???” atau seperti yg ditulis di artikel tersebut??
artikel : “Pokoknya, mereka yakin itu yang terbaik. Inilah yang disebut dengan moral”
klo yg disebut moral adalah sesuatu yg paling diyakinin seseorang sbg tindakan terbaik n benar, maka patokan moral itu ada dalam diri individu tsb dong???? bukan masalah benar atau tidak, namun seberapa yakin seseorang dg tindakanya tersebut sbg sesuatu yg terbaik n benar tuk dilakukan
kayaknya sbelum bicara panjang, masih harus dijelaskan sejelas2nya, artian moral itu sendiri dari kacamata psikologi
makin lama, berasa makin ngawur topiknya, cos yg menjadi pembahasan kita itu apa? stahuku yg dijadikan topik itu kan: apakah moral berasal dari agama???
@ rabbi:
bukan ngawur, tapi berkembang
yup, moral harus dijelaskan panjang lebar dulu sebelum diskusi di atas terjadi. tapi, untuk artikel saya, definisi terbatas moral yang saya berikan di atas sudah cukup
Hmm..
Saya rasa semuanya terjebak pada kalimat cerita yg sudah terbataskan. Itu cerita yg sudah di kondisikan, bagaimana kalau mind set qta keluar dari cerita tersebut dengan mengubah mind set, bahwa ketiga cerita di atas orang2nya harus/bisa di selamatkan semuanya.
Beragama atau tidak, saya yakin kalau ada pilihan utk menyelamatkan org semuanya, kebanyakan org akan memilih hal itu. Ini bukti bahwa dalam diri manusia ad suatu ‘hal’ yang mengharuskan berbuat demikian (berbuat baik). Atau banyak org yg bilang itu ‘Nurani’ yg bicara. Dengan kata lain semua memiliki sumber yg sama.
Maka dari sini teori Darwin sudah terbantahkan. Teori Darwin berlaku hanya dalam situasional, atau bisa juga di katakan manusia hanya bisa merespon lingkungan (seleksi alam) yg terjadi.
salam…
Apa iya manusia hanya memiliki kemampuan seperti itu ?!
Coba konfrontasikan pandangan Darwin itu dengan Viktor E Frankl. Bahwa manusia tidak hanya produk lingkungan, dia juga memiliki ‘kekuatan’ atau kemampuan untuk membuat makna pada setiap pilihan. Meskipun itu berada dalam situasionalnya yg sulit (kondisi yg mengancam eksistensi hidupnya atau org lain).
Salah satu kelebihan yang diberikan manusia yg tidak dimiliki makhluk lain, adalah berpikir dan kebebasan memberikan makna…
maaf nimbrung lagi dan memperpanjang diskusi ini. saya setuju dengan pernyataan Laskar Pelangi, bahwa moral adalah fitrah manusia.
kalo ngomongin pengaruh fenotip - genotip pada perilaku manusia mah emang ga bakal ada habisnya kayak ngomongin duluan mana ayam sama telor.
tapi saya percaya, manusia lahir dengan kecenderungan terhadap kebaikan lalu ditengah perjalanan hidupnya bisa dipengaruhi banyak hal yang akhirnya merusak standar kebaikan yang dia miliki.
Agama hadir sebagai petunjuk, pembeda, pengingat.
susah emang, memikirkan Dia yang Maha Tinggi, Tak-terbatas, dengan otak dan ilmu kita yang terbatas.
Kalo percaya ya manusianya bisa selamat, kalo ga percaya pun Tuhan ga akan rugi.
mau komen, tp nunggu moderatornya eksis dlu
Dalam ketiga kasus di atas, sy memilih utk tidak memindahkan tuas. Bagi saya, nilai nyawa manusia tidak bisa diukur melalui kuantitas.
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Gold Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen emosi freud gangguan gender homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif psikologi seks Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita Blog (10)
Essay (148)
Featured (140)
Headline (136)
Lain-lain (35)
News (6)
Psikologi Industri & Behavioral Economy (17)
Psikologi klinis (44)
Psikologi Olahraga (2)
Psikologi pendidikan (15)
Psikologi Perilaku Seksual (5)
Psikologi perkembangan (29)
Psikologi sosial (45)
Psikologi Umum & Eksperimen (31)
Uncategorized (7)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (35)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (23)
- Lois (RSS) (13)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (24)
- Penulis Tamu (RSS) (22)
- ramadion (RSS) (22)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed