Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi pendidikan

Menyelami Rasa Cinta Tanah Air : Aku Cinta Indonesia?

11 August 2009 3,781 views 2 Comments

indonesia1Ada banyak tanda yang diberikan kepada kita, masyarakat Indonesia, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dalam diri kita masing-masing. Mulai dari pelajaran kewarganegaraan di berbagai jenjang pendidikan, penuturan sejarah dan fakta yang menyanjung kemakmuran Indonesia, hingga sepotong bait dalam lagu kebangsaan Indonesia raya ini :

“Indonesia Raya, merdeka merdeka. Tanahku, Negriku, yang kucinta.
Indonesia Raya, merdeka merdeka. Hiduplah Indonesia raya.”

Kecintaan pada tanah air kemudian ditunjukkan dalam berbagai cara oleh masyarakat Indonesia. Ada yang berjuang mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia dalam bidang olahraga, seni, dan ilmu pengetahuan, ada yang siap membela Indonesia dengan menjadi tentara, ada juga yang berusaha menjadi pribadi manusia Indonesia yang baik dalam kesehariannya, dan selalu saja akan ada tanya, “Selain karena secara faktual dan hukum tercatat sebagai orang Indonesia, kenapa kita harus mencintai Indonesia?”

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tentang negara dan bangsanya mulai berkembang pada usia lima tahun. Pada usia itu, anak mulai mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari suatu bangsa. Hal itu juga disertai pengetahuan geografi dasar seperti mengenali nama ibu kota negara tempat ia tinggal, bendera negara, dan sebagainya. Pada usia sepuluh tahun, anak mulai dapat menggambarkan karakteristik-karakteristik yang menjadi ciri khas bangsanya. Di Indonesia, hal ini diperkuat dengan disusunnya kurikulum pendidikan kewarganegaraan di tingkat sekolah dasar dan menegah. Secara langsung, anak Indonesia diajar untuk mengenali karakteristik bangsanya sesuai petunjuk buku pegangan sekolah : murah senyum, suka menolong, ramah, dan sebagainya.

Anak memaknai dirinya sebagai bagian dari bangsa dan negaranya dengan menunjukkan semangat etnosentrisme. Definisi etnosentrisme di sini disempitkan pada sikap menunjukkan preferensi terhadap bangsa dan negaranya sendiri di banding yang lain. Hal ini, menurut Tajfel dkk. disebabkan oleh pengalaman anak berinteraksi dengan sikap dan perilaku yang memang menunjukkan preferensi terhadap bangsa dan negaranya. Artinya, anak akan cenderung melekatkan sikap dan perilaku yang menurutnya baik sebagai bagian dari skap dan perilaku bangsanya.

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, Tajfel dkk. melakukan sebuah eksperimen yang melibatkan anak-anak dalam rentang usia 6-12 tahun. Eksperimen tersebut dilakukan di enam negara : Inggris, Belanda, Austria, Skotlandia, Belgia, dan Italia. Dalam eksperimen tersebut, anak-anak dihadapkan pada dua puluh tiga foto laki-laki dan diminta untuk menyelesaikan dua buah tugas. Pada tugas pertama, mereka diminta untuk menilai tingkat kesukaan mereka pada laki-laki dalam foto. Respon mereka terukur dari skala 1 sampai 4, di mana 1 adalah “Aku sangat suka dia” dan 4 adalah “Aku sangat tidak suka dia.” Kemudian, mereka diberitahu bahwa sebagian dari orang dalam foto tersebut berasal dari negara yang sama, sedangkan sebagian lagi tidak. Tugas mereka selanjutnya adalah menentukan siapa saja dari kumpulan foto tersebut yang berasal dari negara yang sama dengan mereka.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya kecenderungan anak-anak untuk menganggap orang yang mereka sukai sebagai orang yang berasal dari negara yang sama dengan mereka. Hal ini menunjukkan preferensi anak terhadap bangsanya sebagai sesuatu yang “baik” dan “disukai”. Namun, kecenderungan ini menurun seiring pertambahan usia (dilakukan perbandingan kelompok usia 6-8 tahun dan 9-12 tahun). Anak-anak yang lebih dewasa diperkirakan sudah bisa mempertimbangkan faktor karakteristik fisik orang dari negara asalnya saat melakukan tugas kedua. Hal ini diperkuat dengan membandingkan hasil eksperimen di lima negara (Austria, Inggris, Belanda, SKotlandia, dan Belgia) dengan hasil di Italia. Anak-anak Italia dapat lebih akurat menentukan kelompok orang yang berasal dari negara yang sama dengan mempertimbangkan perbedaan ciri fisik mereka dengan orang-orang di lima negara lain (kebanyakan orang di negara tersebut berambut pirang, Italia berambut gelap).

Di skala nasional, rasa cinta yang bernapaskan etnosentrisme dapat berfungsi sebagai media promosi kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa. Schaefer (2006) menilai perilaku merendahkan bangsa dan negara atau budaya lain dapat menumbuhkan semangat patriotik bagi suatu bangsa. Bangsa Indonesia cukup akrab dengan bentuk cinta tanah air yang bernapaskan etnosentrisme ini. Bahkan, ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Soekarno sempat memanfaatkan napas etnosentrisme ini untuk menumbuhkan semangat persatuan dengan menyebarluaskan jargon “Ganyang Malaysia”, “Amerika kita Seterika”, “Jepang kita Panggang”, dan “Inggris kita Linggis” (baca tulisan ini).

Lebih dalam lagi, rasa cinta terhadap tanah air kemudian berkembang sebagai semangat kebangsaan yang dilandaskan pada kesadaran akan “keanggotaan dalam suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu” (definisi nasionalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kecintaan ini didasarkan kesadaran akan identitas bangsanya dan semangat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, tidak semata untuk membela bangsa dari ancaman dalam maupun luar negeri. Seperti ketika kita bangga Pulau Komodo masuk dalam nominasi Keajaiban Dunia dan tergerak untuk memberikan suara dalam voting UNESCO, bukan karena saingan kita Malaysia, tapi karena bagi kita, keindahan Indonesia begitu membanggakan untuk dibagi dengan dunia.

Seperti apakah cintamu untuk Indonesia?

2 Comments »

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word