Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Umum & Eksperimen

Menulislah dan Jangan Bunuh Diri

26 April 2010 3,742 views 26 Comments

tulisanDear diary,
Hari ini ayah dan ibu bertengkar lagi. Kali ini bertengkarnya hebat sekali. Mereka saling berteriak. Kadang memukul, kadang menjambak. Aku dan adikku hanya bisa bersembunyi di balik lemari. Kami berpelukkan erat sekali.
Diary, katakan, apa yang harus kulakukan?

Di lingkungan saya, mayoritas teman-teman saya mempunyai diary atau buku harian yang diisi dengan cerita tentang hal-hal yang sudah seseorang lalui, pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan yang dilewati, kesenangan atau kesedihan yang dialami, dan lainnya. Bedanya di zaman serba maju ini, buku harian diganti dengan jurnal online seperti blog. Jika kita perhatikan blog yang dimiliki orang lain, biasanya berisikan mengenai cerita-cerita atau opini-opini pribadi.

Ada sebuah proses melepaskan emosi yang dirasakan yang disebut katarsis. Katarsis ini diperlukan untuk melepaskan konflik-konflik di alam bawah sadar atau pengalaman traumatis misalnya perceraian, penyakit yang serius, perubahan dalam pekerjaan atau lingkungan pekerjaan, kematian seseorang yang dicintai, dan lainnya. Contoh katarsis adalah seseorang merasakan ketegangan atau stress di tempat kerja, mereka membutuhkan sebuah akitivitas yang melepas ketegangan seperti berolahraga, yoga, atau jalan-jalan dengan teman-teman.

Menurut saya, daripada seseorang menyimpan perasaan sendiri sehingga dapat menyebabkan symptom-symptom psikologis seperti histeria atau fobia, maka menulislah dan jangan bunuh diri. Jika bisa merangkai kata dengan baik, buatlah puisi, kumpulan cerita pendek, atau sebuah novel. Menulis dapat menjadi media katarsis yang baik dan tidak mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Hasil penelitian dari Southern Methodist University dan Ohio State University College of Medicine menunjukkan bahwa menulis dapat memberi kontribusi secara langsung untuk meningkatkan kesehatan yaitu salah satunya meningkatkan produksi T-cell (sel yang berperan dalam kekebalan tubuh).

Jika kita menengok ke dunia sastra dimana Virginia Woolf, seorang penulis sastra besar dengan karya yang terkenal Mrs. Dalloway, memiliki gangguan manik depresif. Dalam kondisi maniknya, Woolf bisa berbicara dua sampai tiga hari tanpa berhenti, tidak memperhatikan orang lain di ruangan atau apapun yang dikatakan kepadanya, lalu perlahan-lahan ucapannya menjadi inkoheren, hanya campuran kata-kata yang tidak saling berhubungan. Sedangkan dalam kondisi depresinya, Woolf melakukan percobaan bunuh diri dengan menelan 100 butir veronal. Puncaknya adalah ia menenggelamkan diri di sungai bersama bongkahan-bongkahan batu yang disimpan di sakunya.

Petter Dally, seorang psikiater, berkata “Kebutuhan Virginia dalam menulis adalah, di antara lain, untuk membuat kegelisahan mental yang dimilikinya menjadi masuk akal dan memegang kendali atas kegilaannya. Melalui novelnya, ia membuat dunia pribadinya menjadi kurang menakutkan. Menulis terkadang menjadi siksaan tetapi ini memberikan kenikmatan yang tidak terkira baginya.”

Maka, mulai sekarang, menulislah. Tuliskan semua perasaan sakit, takut, frustasi, marah, sedih, pada kertas. Katakanlah semua hal yang ingin dan perlu Anda katakan tanpa perlu takut bahwa buku harian akan menilai atau mengkritik Anda. Gunakan tulisan sebagai tempat yang aman untuk mengeluarkan apapun yang Anda rasakan. Menulis itu murah, Anda hanya harus menyediakan kertas dan pensil/pulpen. Dalam menulis, Anda tidak memerlukan sebuah bakat. Caranya mudah: mulailah dengan kalimat “Hari ini saya merasa …”

Menulislah dan jangan bunuh diri. (Nia Janiar)

Sumber:
http://psychology.about.com/od/cindex/g/catharsis.htm
Boeree, George. 2000.  Freud and Psychoanalysis. Artikel dapat diakses dari http://webspace.ship.edu/cgboer/psychoanalysis.html
Bruve, Ray. 1998. Strange but True: Improve Your Health through Journaling. Artikel dapat diakses dari http://www.selfhelpmagazine.com/article/journaling
Bushman, Brad J. Baumeister, Roy F. Stack, Angela D. 1999. Catharsis, Aggression, and Persuasive Influence: Self-Fulfilling or Self-Defeating Prophecies?. Jurnal dapat diakses dari http://cabinet.auriol.free.fr/Documents/cache_catharsis.htm
McManamy, John. 2008. Virginia Woolf and Her Madness: The thought of going under one more time was more than she could take. Artikel dapat diakses dari http://www.mcmanweb.com/woolf.html

26 Comments »

  • nuances pen said:

    Benar tumpahkan dalam tulisan, anda akan mendapat komentar yang menentramkan hati anda! Ayo menulis!

  • Nia Janiar (author) said:

    Ayo! Semangat!

  • adin said:

    Hari ini saya merasa …. tulisan ini pas banget. menulislah dan jangan bunuh diri. nice writing, nia =)

  • tikaa said:

    oh jadi ini arti katarsis sebenarnya :D

  • Nia Janiar (author) said:

    Thanks, Adin. Happy writing!

  • Nia Janiar (author) said:

    Betul!

  • intim said:

    nice artikel… sangat bermanfaat

  • nur said:

    hari ini aku merasa sangat tertekan karena orang yang aku cintai ternyata tidak membalas cintaku, aku merasa depresi terlebih hri ini aku akan bertemu dia di kels itu pun klo di hri ini dia kuliah meskipun dalam hatiku aku sangat mengharapkn dia datang dn memint maaf padaku dan mengatakan klo di mencintaiku .. tpi itu tidk mungkin krn cinta kami adlh cinta terlrang

  • Menulis Untuk Kesehatan Rohani. « Infoku Infomu said:

    [...] Dengan menulis ada sebuah proses melepaskan emosi yang dirasakan yang disebut katarsis. Katarsis ini diperlukan untuk melepaskan konflik-konflik di alam bawah sadar atau pengalaman traumatis misalnya perceraian, penyakit yang serius, perubahan dalam pekerjaan atau lingkungan pekerjaan, kematian seseorang yang dicintai, dan lainnya. Contoh katarsis adalah seseorang merasakan ketegangan atau stres di tempat kerja, mereka membutuhkan sebuah aktivitas yang melepas ketegangan seperti berolahraga, yoga, atau jalan-jalan dengan teman-teman. ( ruangpsikologi.com ) [...]

  • Putus cinta bukan akhir dunia | RuangPsikologi.Com Webzine Psikologi Modern said:

    [...] menarik nafas panjang, yoga atau bahkan menulis jurnal. Seperti yang dijelaskan pada artikel ‘Menulislah dan jangan bunuh diri’ menulis mampu mengurangi tingkat stress yang [...]

  • ratih said:

    Writing is our life…:D

  • cica said:

    Aku juga mengalaminya. Aku suka menulis prosaliris, semacam cerpen stengah puisi. Dengan trauma masa kecil dan kehidupanku yg sangat keras, aku sangat beruntung karena sampai sekarang aku masih hidup dan waras. Orang mencoba bunuh diri karena tidak sanggup lagi menghadapi tekanan hidup dan khawatir menjadi tidak waras.
    Menurutku menulis cerpen or puisi itu lebih bagus daripada menulis curhat langsung, karena aku pernah menulis curhat langsung dan dibaca oleh orang lain (teman, ortu). Kejadian itu membuatku semakin stress, dan trauma untuk menulis diary, karena orang itu menjadikan masalahku sebagai bahan olok2an.
    Klo menulis masalah dalam bentuk cerpen or puisi, or prosaliris, lebih terlihat seperti karya sastra. Klo terbaca orang (atau sengaja kita kasih liat ke orang lain), kondisi terburuk cuma dibilang sastrawan tidak berbakat, he3x….

  • Nia Janiar (author) said:

    Wah, terima kasih sudah berbagi, Cica. Yang kalimat terakhir betul sekali tuh. Kalau ada salah satu karya pendek yang bisa dibagi di sini, silahkan lho :)

  • senjayuz said:

    kenapa sampe hari ini cuma bisa nangis ya gw???

  • bambang haryanto said:

    Nasehat yang cerdas, mBak Nia Janiar. Dulu, sebagai seseorang yang “berbakat” hipokondria, takut terkena beragam penyakit :-( dan ketika bercampur dilanda pelbagai masalah pribadi, saya berusaha mencairkan ketakutan-ketakutan dan rasa buntu itu dengan menulis.

    Ketika semua kemelut itu sudah berpindah, yang semula bergumpal-gumpal dan ruwet di benak, lalu kini pindah ke kertas, akal sehat lalu bisa bekerja untuk mengurai segala persoalan yang ada. Saya kemudian bisa memperoleh perspektif, lalu mengusahakan diri untuk menemukan solusi, dimulai dari yang bisa saya kerjakan mulai saat itu pula.

    Menulis itu, ajaib !
    Menulis itu menyehatkan !
    Semula dari menulis di buku-buku harian, kini saya sudah mampu menulis buku komedi.

  • Nia Janiar (author) said:

    @Senjayuz: Apa karena belum menemukan cara katarsis lainnya?

  • Widi said:

    Betul banget lebih baik menulis dari pada bertindak bunuh diri atau hanya sekedar berpikir untuk bunuh diri. Banyak cara berkatarsis dan setiap orang punya cara dan kesukaan tersendiri bagaimana ia menyalurkan energi negatif yang sedang dirasakan agar berubah menjadi positif lagi salah satunya dengan menulis, entah itu menulis di diary atau menulis sms atau juga menulis email. Apapun bentuknya selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain tulislah, siapa tau bagi kita itu masalah tapi inspirasi untuk orang lain. Mari menulis!

  • diaz said:

    q patah hati dimana cintaq cuma dipermainkan,padahal q sudah merasa memberikan segala”nya,cinta,kasih sayang,waktu,bahkan keprawananq,duluu q berfikir “terima kasih tuhan inilah saatnya q bersama keluarga kecilq n brikan kami kebahagiaan ammmin”teryata q salah besar q memang tumbuh besar tapa kasih sayang orang tua pertemuan dngn bpkq cuma bisa kunikmati sekali itupun setahun sekali sdngkan ibu q pergi entah kemana saat dia datang menggisi relung hati yg kosong membawa kebahagiaan kecil dlm hidupq q merasa nyaman.tapi teryata dia menyakitikulebih dari siapapun didunia ini hancurlah impianq bgt jg masa depanq n saat ini q ingin tertawa dengan gembiraaaa HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA INIKAH AKHIR KISAH HIDUPQ TANPA ORANG YG MENCINTAI N MENYAYANGIKU SAAT Q HIDUP Q ADA Q NYATA DIDEPAN KLIAN KNP KALIAN TIDAK PEDULII PDAKU

  • nona sakid said:

    perjalanan hidup yg sangat panjang,,
    Papa mama bercerai sejak aku msh sd..
    hidupku yg terlalu keras,aku dpaksa mjd dewasa sblm waktunya..hingga pd akhirna aku bertemu dgnnya..seorang pria yg sdh berkeluarga.aku bnr2 mencintainya,hingga akupun mau myerahkan keperawananku.
    Aku kumpul kebo sampai 4thn,dah 3x aku gugurin bayiku krn aku blm siap nikah n mjd istri ke2,,
    Mgkn ini adalah pilihan yg salah..

    Semua berjalan sangat menyakitkan,san aku ga bs mengakhiri affair ini..dy ga mgkn ninggalin istrinya buat aku..
    aku sakit.

  • ammank said:

    ternyata masalah yg dihadapi orang, semakin didengar semakin kita merasa msalah kita blum apa2……….
    semangattttttttttttttt saudaraku.

  • depe said:

    mau tanya; kalo cara mengukur katarsis emosi itu dengan apa ya???apakah bisa dengan skala sikap????adakah contoh pengukurannya????mohon responnya..terimakasih

  • Nia Janiar (author) said:

    Yang lain, ada yang bisa bantu?

  • Physician Assistant Programs said:

    Keep It Up…

    thank you For writing this I enjoyed the info…

  • depe said:

    mohon infonya mengenai cara mengukur perilaku katarsis..
    pliiiiiisss

  • Nia Janiar (author) said:

    Saya belum menemukan info tentang pengukuran skala katarsis. Pilihannya bisa dibikin skala sendiri dengan psikometri. Yang lain ada yang bisa bantu?

  • yanha said:

    kereeeennnn ….!!!
    hari ini saya merasa …………

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word