Home » Blog, Featured, Headline, Psikologi perkembangan

Mengenal Sindrom Asperger Melalui Mary and Max

20 February 2010 3,850 views 17 Comments

maryandmax2009Jika ditanya film apakah yang ringan namun berkualitas dan layak tonton, maka saya akan menjawab Mary and Max. Film yang berlatar belakang 1976 sampai 1994 ini adalah karya Adam Elliot yang memenangkan animasi terbaik di Asia Pacific Screen Awards pada November 2009. Walaupun animasinya tidak secanggih karya Pixar, emosi dan pesan yang ditampilkan di Mary and Max begitu kuat.

Film Mary and Max bercerita tentang Mary, seorang gadis 8 tahun yang memiliki tanda lahir di dahi dan sering dihina karenanya. Mary, yang tinggal di Australia, memiliki pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan namun tidak memiliki orang yang bisa ditanya. Ibunya seorang alkoholik dan ayahnya sibuk bekerja sebagai pegawai pabrik. Mary memiliki sebuah ide, ia memutuskan untuk memilih nama dan alamat orang yang secara acak didapat dari buku telepon ketika ia pergi bersama ibunya. Kemudian ia mengirim surat kepada orang yang namanya ada di sobekan kertas untuk bertanya pertanyaan pertama ‘darimana bayi berasal?’.

Surat itu tertuju pada Max Horowitz, seorang pria yang berumur 44 tahun dan tinggal di New York. Berbeda dengan Mary yang tinggal dikawasan pinggiran kota bersama orang tua, Max tinggal sendirian di pusat kota. Kesendiriannya ini diakibatkan oleh sindrom Asperger yang diidapnya sehingga Max sulit membangun komunikasi dan interaksi dengan orang lain.

Definisi dan Karakteristik Sindrom Asperger
Dalam psikologi perkembangan, terdapat pervasive developmental disorder (PDD) yang merupakan sekelompok gangguan perkembangan yang baru terlihat pada umur tiga tahun. Berdasarkan klasifikasi DSM IV, terdapat 5 bentuk PDD yaitu: 1) autism, 2) sindrom asperger, 3) childhood disintegrative disorder (CDD), rett disorder, dan 5) PDD NOS.  Dalam sindrom asperger, gangguan ini ditandai dengan keterbatasan kemampuan sosial (anak sulit menjalin relasi dengan orang lain), kurang koordinasi motorik, dan kurang konsentrasi. Perbedaan mendasar antara sindrom asperger dengan gangguan lain adalah memiliki kecerdasan yang normal atau di atas normal, memiliki kemampuan berbahasa yang baik, terutama dalam tata dan kosa kata, walaupun agak sulit mengerti bahasa “humor dan ironi”, dan memiliki keterpakuan minat yang sangat mendalam.

Karakteristik sindrom asperger digambarkan dengan baik oleh penulis film ini. Dalam cerita, tokoh Max mengungkapkan sendiri lima karakteristik yang ia miliki. Ia menyebutkan:

1)    I find the world very confusing  and chaotic because my mind is very literal and logical
Salah satu karakteristik pada sindrom asperger ini adalah ketidakmampuan membaca situasi sosial.  Misalnya ketika Max buang angin sembarangan di lift. Ia melihat hal tersebut sebagai suatu kejujuran dimana ia harus mengeluarkan gas tanpa ditahan. Namun orang lain malah melihat kejujuran yang ia maksud itu sebagai sesuatu yang tidak sopan. Max bingung dengan keadaan ini.
2)    I have trouble understanding the expression on people’s faces
Orang-orang yang berada memiliki PDD ini sulit berkomunikasi secara verbal dan non verbal dengan orang lain. Dalam film ini, diceritakan seorang wanita yang ditemui di overeaters anonymous menyukai Max dan selalu memberikan tanda-tanda non-verbal namun Max tidak mengerti. Karena tidak mengerti dengan ekspresi non-verbal orang lain, Max memiliki buku mengenai gambar ekspresi wajah bagaimana wajah yang marah, sedih, dan lainnya. Ketika ia berurusan dengan orang lain yang menunjukkan ekspresi tertentu, ia membaca bukunya untuk menebak apa yang dirasakan orang lain tersebut.
Dalam film ini, dicertakan Max pernah diserang oleh seekor burung ketika berjalan sehingga ia harus menggunakan helm kemanapun ia pergi. Ia dan helm tersebut membuat orang lain geli melihatnya sehingga Max ditertawakan. Max tahu orang lain tertawa padanya namun ia tidak mengerti kenapa mereka menertawakannya.
3)    Bad handwriting and hypersensitive, clumsy, and get very concerned
Hypersensitivitas yang dimiliki Max ditandai dengan sensitivitas sensori yang berlebih. Ini ditandai dimana Max mudah terkejut ketika mendengar suara dering telepon, ia menganggap New York – tempat tinggalnya – sangat tidak cocok baginya karena terlalu ramai, lampu-lampunya terang benderang, suara yang tiba-tiba, dan bebauan yang kuat. Max bilang ia ingin tinggal di bulan karena lebih hening.
Hipersensitivitas ini membuat Max menggunakan penyumbat hidung dan telinga ketika ia keluar dari apartment-nya.
4)    Like solving problems
Max bisa memecahkan Rubik’s Cube.
5)    I have trouble expressing my emotions
Selain tidak mengerti membaca ekspresi, orang dengan asperger sindrom pun sulit mengekspresikan emosinya. Dalam cerita ini ditandai dengan Max yang kesulitan untuk tersenyum walaupun ia melewati suatu hal yang menyenangkan. Lalu bagaimana jika orang dengan asperger sindrom merasakan cinta? Dalam film disebutkan pernah Max merasakannya namun sulit mengekspresikannya. Max mengatakan, “Love is a foreign language like a scuba diving or jogging”.

Terdapat karakteristik lain yang berada di dalam payung PDD yang ditunjukkan Max namun tidak diceritakan:
1)    Rigid atau kekakuan yang ia miliki yaitu ia memiliki lebih dari dua pakaian olahraga yang selalu ia pakai dengan ukuran dan warna yang sama. Kekakuan biasanya membuat orang yang memiliki asperger sindrom ini memiliki rutinitas yang terjadwal. Biasanya, jika rutinitas itu berubah, mereka akan marah. Di film ini ditunjukkan ketika pertama kali Max menerima surat dari Mary dan ia mengelami anxiety attack karena rutinitasnya berubah. Dalam keseharian, contoh rutinitas yang tidak boleh berubah adalah orang yang biasanya harus melewati jalan tertentu ketika mencapai tujuan tertentu. Jika melewati jalan lain, biasanya orang itu akan marah.
2)    Perilaku yang cenderung normatif atau taat peraturan. Misalnya Max sangat terganggu ketika orang membuat puntung rokok sembarangan, heran dan menganggap bodoh orang-orang yang menebang pohon sembarangan padahal mereka sendiri membutuhkan oksigen, dan Max mempertanyakan kenapa orang-orang harus membuat jadwal bis sementara bis selalu datang telat.
3)    Pemilih dalam makanan juga salah satu karakteristik pada PDD. Walaupun ini tidak disebutkan oleh Max dalam cerita, namun terlihat sekali dimana Max hanya makan-makanan instan dan hotdog cokelat. Inilah yang membuat dirinya obesitas dan harus mengemui psikiater dan masuk ke dalam kelompok overeaters anonymous.
4)    Gangguan tidur. Max hanya tidur dua jam setiap malamnya.

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Max hoped Mary would  write again. He’d always wanted a friend. A friend  that wasn’t invisible, a pet or rubber figurine.

Mary dan Max bersahabat pena. Aksi saling balas surat yang berisi tentang cerita diri, kehidupan sehari-hari, dan kehidupan orang yang ada disekitar ini sangat menarik. Dunia yang sederhana dari sudut pandang Mary ditimpali dengan dunia yang kompleks dari sudut pandang Max – seorang Yahudi atheis. Hubungan tanpa tatap muka ini terus berlanjut selama 20 tahun. Lama kelamaan, Mary menganggap Max sebagai sahabat dan orang yang paling mengertinya, begitu pula dengan Max. You are my best friend. You are my only friend.

Lalu jika Max memiliki gangguan untuk berinteraksi dan berkomunikasi, lantas mengapa ia bisa mempertahankan persahabatannya dengan Mary?

Pada umumnya anak yang memiliki sindrom asperger suka berteman, walaupun dengan gaya bahasa dan mimik yang formal. Mereka sulit memulai percakapan dan sulit mengerti makna dan interkasi sosial. Jika dilihat dari psikologi sosial, seorang psikiater asal Wina bernama Alfred Adler, berpendapat bahwa pada dasarnya setiap manusia dimotivasikan oleh dorongan-dorongan sosial dan manusia adalah makhluk sosial. Dorongan ini dibawa sejak lahir meskipun tipe-tipe khusus hubungan manusia dan pranata-pranata sosial yang berkembang ditentukan oleh corak masyarakat tempat manusia itu dilahirkan. Setiap manusia berada dalam suatu konteks sosial sejak hari pertama hidupnya karena semenjak saat itu manusia terlibat hubungan antarpribadi bayi dan ibunya.

Jadi, jika mengikuti teori Adler, tidak peduli seseorang memiliki pribadi yang introvert atau bahkan mengidap Asperger seperti Max, pasti memiliki minat sosial. Walaupun tidak muncul secara spontan, ini adalah sebuah kodrat – singkatnya – bukan karena kebiasaan belaka. Oleh karena itu, tidaklah heran ketika munculnya sebuah ironi dalam keterbatasannya berhubungan sosial ketika Max berkata kepada Mary melalui suratnya, “I find human is interesting but I have trouble understanding them. I think, however, I will understand and trust you.” (Nia Janiar)

Sumber:
Supratiknya, A. 1993.  Teori-teori Psikodinamik (Klinis).  Yogyakarta: Kanisius
Deiner, Penny Low. 2005. Resources for Educating Children with Diverse Abilities. New York: Thomson Delmar

17 Comments »

  • adin said:

    wow.. tulisan yang menarik dibaca dari awal sampai akhir. thanks to share konsep psikologi yang rumit melalui hal sederhana. :)

  • Nia Janiar (author) said:

    Terima kasih ya. Mudah-mudahan bermanfaat.

  • maya said:

    Aku suka artikelnya.. makasih ya bu.. sangat bermanfaat, semoga bisa dijelaskan pada teman-teman yang lain saat case conference ya.. :)

  • pipit said:

    love it!!!! dibuat lagi yah resensi film2 yg berbau psikologi :)

  • ramadion said:

    @ Nia: berdasar amanah dari Pipit, kamu saya perintahkan untuk membuat artikel bagus macam ini lagi! :D

    -Ramadion-

  • Nia Janiar (author) said:

    @bu maya: Hahay, bikin artikel ini teh dalam rangka case conference nanti. Mgkn potongan filmnya bisa ditayangkan.

    @pipit: Makasih. Semoga nanti ada film/buku yang menarik untuk dibahas.

    @dion: *pura-pura gak baca*

  • maya said:

    Setuju nia…
    kayaknya metode yang bagus kalo case conferencenya bedah film dan bahas secara teori.. I like this… :)

    Di tunggu artikel2 yang lainnya..

  • ai said:

    like this!
    jd pengen tau film2 apa lagi yg berbau psikologi yg wajib dtonton *bukannya semua film ada unsur psikologinya y?* :D

    waah, psim c klo mo muterin film, film yg kayak gini aja deh. selain menghibur tapi ada ilmu psikologinya. :D

  • Nia Janiar (author) said:

    @bu maya: Tapi tergantung males motong filmnya atau enggak deh. Hehe.

    @ai: Film psikologi banyaak. Tinggal disebut mau kategori unsur psikologisnya yang mana. Hehe.

  • ncob said:

    wow… very interesting. even people with difficulties in social interaction have social interest. it make my shyness side become smaller and it’s willing me to be more open. thanks…

  • Nia Janiar (author) said:

    You are very welcome.

  • Nur Ali Muchtar said:

    wah, jadi kepengen nonton pilem mary and max nieh. thx tuk inponya

  • Nia Janiar (author) said:

    Sama-sama. Semoga bermanfaat ya.

  • KHAN said:

    tontonlah film My Name is KHAN,
    yg mngisahkan kisah
    mengharukan seorang muslim yg
    asperger sindrom.. Sangat2
    mnyntuh..

  • wAkhId said:

    I LIKE THIS, , , , , ,
    ilmu Q mEnjaDi bErtAmbah soAl psiKologi. . . .
    dAn suDah laMa Q peNgen tAu apa itu sIndrome aSperGer. . . . .
    dAn seKarang tErjaWab sudah. . . . .

  • K said:

    Sebelum memulai saya ingin mengakatakan bahwa saya Asperger. Penggambaran dalam film itu memang sesuai, tapi situasi yang dijadikan contoh adalah dalam taraf yang paling ekstrim. Begini, situasi yang diberikan itu tetap masuk dalam kategori langka bahwa untuk kalangan pengidap Asperger sendiri, dan sudah hampir menyentuh taraf “membesar-besarkan”. Karena penggarapan dalam sudut seperti itu, para Asperger bisa-bisa bakal dianggap “freak”. Nyatanya, jauhhhhhh lebih banyak Asperger yang terlihat normal dan baru terdiagnosis ketika sudah dewasa.

    To be honest, bukan bermaksud menyerang, deskripsi dari wikipedia lebih netral dan “wajar”. Satu hal lagi yang menarik, (dan saya pun tidak mengerti kenapa bisa terjadi demikian) coba Anda baca artikel-artikel tentang Asperger versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dalam artikel bahasa Inggris selalu ditekankan bahwa Asperger bukan sejenis penyakit yang harus disembuhkan, dan itu hanya masalah perilah cognitive ability yang berbeda saja. Sedangkan artikel dalam bahasa Indonesia nampak jelas, dan hampir selalu, menggambarkan mereka sebagai “freak”.

    Kenapa saya berkata seperti ini, karena pada dasarnya saya merasa tersinggung dengan artikel ini. Sekali lagi, ya Asperger itu memang diperlihatkan dengan baik dalam film tersebut, tapi itu adalah Asperger dalam kondisi yang sangat ekstrim, dan faktanya adalah termasuk langka penderita Asperger yang mencapai kondisi itu.

  • amiew said:

    si Max ini punya syndrom yang sama ngga sih sama film Adam?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word