Mengajarkan Anak Disleksia Membaca
Bayangkan Anda sedang berada di Cina atau Arab. Bayangkan Anda berada di tempat umum yang semua petunjuknya ditulis dengan tulisan Cina atau Arab. Apakah Anda mengerti? Ataukah Anda bingung? Atau malah Anda beranggapan bahwa semua itu hanyalah sebuah tulisan-tulisan keriting yang tidak ada maknanya?
Begitulah kira-kira keadaan anak yang menderita gangguan belajar spesifik disleksia. Mereka terjebak dalam dunia yang penuh dengan tulisan-tulisan yang tidak dimengerti. Istilah disleksia mengacu pada gangguan membaca yang dimiliki oleh seseorang, seperti kesulitan membaca, memahami bacaan, kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b, d, q, p, v, u, n, dan lainnya. Berbeda dengan slow learner, anak yang didiagnosis disleksia harus memiliki IQ rata-rata atau di atas rata-rata.
Jika anak Anda dalam tahap belum bisa membedakan mana huruf-huruf yang mirip seperti b dan d, maka cara pengajaran yang perlu dilakukan adalah mempelajari hurufnya satu persatu. Misalnya fokuskan pengajaran kali ini pada huruf b. Tulislah huruf b dalam ukuran yang besar kemudian mintalah anak untuk mengucapkan sembari tangannya mengikuti alur huruf b atau membuat kode tertentu oleh tangan. Latihlah dan perkuatlah terus menerus sampai ia bisa menguasainya, setelah itu mulailah beranjak ke huruf d.


Terdapat dua cara untuk mengajarkan anak membaca kata-kata: melihat dan mendengar kata tersebut satu persatu. Buatlah kata yang dicetak dalam ukuran besar – misalnya ‘buku’, setelah itu kita ucapkan ‘buku’, lalu mintalah anak mengulangi apa yang kita ucapkan yaitu ‘buku’. Tunjukanlah kata tersebut terus menerus, tambahkanlah beberapa kata yang sudah ia ketahui, hingga ia mengenali dan dapat mengucapkannya langsung begitu ia melihat kata ‘buku’.
Ada beberapa anak yang sudah bisa membaca namun ia memiliki masalah dengan pemahaman (comprehension). Menurut Baumer (1996) ada beberapa cara mengajar jika pemahaman anak Anda lemah:
1. Memilih cerita yang menarik pada level dimana 98% ia bisa memahami kata-kata dalam cerita tersebut. Mintalah ia untuk membacakan secara keras dan bilang kepada kita apa yang telah ia baca.
2. Jika anak tidak bisa melakukan ini, mintalah ia membaca tanpa bersuara, berhenti setiap paragraph dan menceritakan kepada kita apa yang telah ia baca.
3. Ketika pemahamannya berkembang, tambahkan jumlah paragraph yang ia baca hingga ia bisa membaca dan paham keseluruhan halaman.
4. Untuk membantu pemahamannya, Anda bisa memberikan arahan: menurutmu apa yang dirasakan si tokoh? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana akhir ceritanya?
Berdasarkan pengalaman saya mengajarkan anak disleksia, sebelum kita mengajarkannya mengenai pemahaman, kita harus mengidentifikasi sejauh mana kemampuannya. Jika ia tidak mampu memahami satu halaman, potonglah menjadi beberapa paragraph. Jika ia tidak bisa memahami beberapa paragraph, potonglah menjadi satu paragraf, dan seterusnya hingga sampai pada satu kalimat.
Membaca cerita bersama anak dirasa cukup efektif karena kita bisa langsung cross-check langsung pemahamannya. Misalnya ketika anak tidak paham kata ‘terbit, kita bisa menganalogikan ‘terbit’ dengan bertanya ‘kalau pagi hari, matahari muncul atau menghilang?’ lalu ketika anak menjawab ‘muncul’ kita menjelaskan bahwa itulah yang dimaksud dengan ‘terbit’. Menganalogikan kata-kata tidak dimengerti dapat mengajarkan anak untuk memberi tanda kata-kata yang belum ia pahami.
Dalam mengajari anak disleksia, kita harus hati-hati untuk tidak mengkritik terlalu jauh karena anak yang menderita disleksia rawan untuk memiliki motivasi dan self-esteem yang jatuh. Ketika anak mulai menyadari ia memiliki kesulitan dalam membaca dan ia sudah tertinggal jauh dari teman-temannya, ia akan membenci pelajaran membaca dan langsung menyerah (mogok) ketika menghadapi kata yang sulit. Aksi mogok ini bisa disiasati dengan cara belajar membaca melalui minatnya. Misalnya pada anak yang memiliki minat memasak, kita bisa mengajarkan membaca resep dan menyuruhnya memasak. Dari situ kita melihat sejauh mana pemahamannya terhadap bacaan.
Mengajar membaca anak disleksia adalah proses yang tidak mudah. Anak disleksia memiliki short term memory yang terbatas dan kosa kata yang minim sehingga membutuhkan banyak penguatan. Variaskan metode melalui permainan kata atau mengajak anak jalan-jalan sambil mengajari membaca tulisan-tulisan yang ada. Dan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran ini adalah berilah apresiasi pada sekecil apapun perkembangannya. (Nia Janiar)
Sumber:
Baumer, Bernice H. (1996). How to Teach Your Dyslexic Child to Read. New York: Kensington Publishing Corp.
Harwell, Joan M & Jackson, Rebecca Williams. (2008). The Complete Learning Disabilities Handbook: Ready-to-Use Strategies & Activites for Teaching Students With Learning Disabilites. San Francisco: Jossey-Bass









hmmmm…heheheh judulnya ada yang aneh tuch…
Lebih enak begini ga ya: Mengajarkan Anak Disleksia Membaca?
Kalo judul di atas jadinya kita belajar membaca anak disleksia..*sorry ngomen yang melenceng dari konten*
Oh, ya, terima kasih sudah sejeli ini. Akan segera diperbaiki.
iya tuh, judulnya ambigu
Iya.. iya.. sudah diperbaiki.. ehm.. kontennya dong yang dikomentarin
Saya menambahkan langsung dari TKP nih mbak.. Ya, katakanlah Subjek berinisial “Y”, seorang pelajar kelas V SD di Bandung.
Setelah melakukan assesment selama satu bulan berdasarkan perbandingan tiga macam assesmen informal (Analitical Reading Inventory, Equal Reading Inventory, dan Informal Reading Assesment) yang dilakukan oleh Hargrove, Kriteria2 yang muncul adalah :
1.Kesalahan dalam membaca permulaan
Ketika melafalkan abzad dari A sampai Z anak melakukan kesalahan pada huruf H yang dibaca N, huruf I yang dibaca T dan huruf X yang anak sulit untuk membacanya (mungkin karena tidak tahu??).
2.Kesalahan dalam membaca Teknis
Api dibaca Upi
Pulau dibaca Palu
Mobil dibaca Modil
Tidak bisa membaca kata “Air”, “Ikan”, “Bau”, “Bola”, “Obor”, “Melon, “Gajah”, “Sandal”, Sempit”, “Monyet”, Payung”, “Sekolah”, “Helikopter”. Subjek tidak bisa membaca kalimat.
3. Kesalahan dalam menentukan huruf saat didikte
b dipilih d
4. Kesalahan dalam menulis kata saat didikte
Ayam ditulis Aya
Dodi ditulis Bopo
Bola ditulis Boal
Babi ditulis Dadi
Pohon ditulis popn
Tono ditulis Toti
Kucing ditulis Uieb
5.Kesalahan dalam menulis kata
Sandal ditulis Sadal
Jerapah ditulis Jerpah
Sempurna ditulis Sempuran
Helikopter ditulis Hekoftr
Payung ditulis Payang
Pergi ditulis Pengi
Sekolah ditulis Sekkolan
Sepeda ditulis Sepda
Dari berbagai kesalahan anak dari hasil assesmen di atas, dapat diketahui berbagai kesulitan yang dialami anak, yaitu sebagai berikut
Letak Kesulitan
1. Membaca Huruf
Melafalkan huruf H, I, X,
Tidak dapat membedakan huruf b dan d
2. Membaca kata
Tidak dapat melafalkan huruf diftong (ng, ny)
Tidak dapat melafalkan gabungan huruf diftong-vocal (nya, ngu,…)
Tidak dapat melafalkan vocal rangkap (ou, ua, ia, …)
Tidak dapat melafalkan gabungan huruf konsonan-vokal-konsonan (ba-pak, ka-pal, pas-ti,…)
Tidak dapat melafalkan gabungan huruf vocal-konsonan (as-pal, ir-na,…)
3. Membaca kalimat
Tidak dapat membaca kalimat
4. Menulis huruf balok
Kurang rapih dan terkadang sulit meniru huruf yang ada dalam kutipan
5. Menulis kalimat
Sering ada huruf-huruf yang terlewat dalam menyalin kutipan
6. Dikte
Kesulitan dalam merangkai huruf-huruf menjadi kalimat
Ya, baru tahap identifikasi sih mbak..soalnya, subjeknya keburu mogok belajar & kabur kalo ane ke TKP :0
Oke deh, siap dicoba tips-tips penanganannya..Trims
-regards-
Hai, Igun. Kayaknya saya kenal nih.
Ok, mudah-mudahan bisa ya. Seperti yang dibilang di atas, mudah-mudahan motivasinya enggak turun drastis - karena lebih susah menaikkan motivasi ketimbang belajar baca.
makasih… lagi ada masalah sama anak didik. kembar. yg satu sehat yang satu matanya agak kurang kompak. nah yg kedua ini yang mengalami kesulitan mengenal huruf. anak usia 4 tahun. perempuan. setiap kali saya minta mengikuti tulisan huruf ataupun angka, selalu terbalik. bisa kanan kiri bisa juga atas bawah.tapi tidak pernah terbalik pake sandal atopun sepatu. main puzzle 4 keping bisa lebih dari 5 menit dia menyelesaikan. termasuk gejala awal ga sih ? apa yg sebaiknya kulakukan segera ?
Maksudnya kurang kompak gimana, Mbak? Ada cacat lahir begitu?
Judulnya sudah benar. Jadi, tidak usah dirubah. Judul tersebut sudah memenuhi standar penulisan JUDUl pada sebuah artikel.
Kalaupun ada alternatifnya, bisa seperti ini:
1.Mengajarkan Anak Disleksia,Membaca
2.Tips Mengajarkan Membaca untuk Anak Disleksia
3. Tips Belajar Membaca bagi Anak Disleksia
Meskipun saya mengajukan 3 judul alternatif, tapi saya tetap setuju pada JUDUL yg dibuat PENULIS, karena itu lebih CATCHY.
Bagi siapapun yang membaca artikel ini, ia pasti sudah tau maksud si Penulis. Dalam bidang Jurnalistik, JUDUL yang SEDERHANA dan Catchy, akan lebih menstimulus PEMBACA untuk membaca artikel tersebut.
BTW, thx untuk artikelnya. Sangat membantu saya dalam menangani murid2 saya di sekolah minggu. GBU!
Terima kasih untuk tanggapannya, Mbak Melda..
mba saya bukan mau komen tapi mau tanya, anak saya usia 7th, tapi membacanya masih gagap trus kalo dikte suka ada huruf yang hilang. kalo tulisan banyak dia males baca apalagi tulisannya kecil2, trus kalo di sekolah males nulis/ nyalin dari papan tulis, katanya males, cape. apakah ini gejala awal disleksia?
Adanya huruf yang hilang, baca yang masih belum lancar, dan kesulitan menyalin dari papan tulis memang masuk salah satu karakteristik disleksia. Namun ada beberapa karakteristik lain yang perlu dilihat:
Apakah ada masalah pada regulasi anak (sering lupa menyimpan sesuatu di suatu tempat), sulit mengingat nama teman atau guru, koordinasi gerak anak kurang baik, atau sulit memahami instruksi sederhana atau kompleks?
Dalam membaca, apakah kesulitan dalam memenggal kata (decoding) dan sulit membaca paham? Dalam berbicara, apakah kosa katanya beragam atau sedikit? Dan lainnya.
Mengenai disleksia bisa dilihat apakah orang tua atau saudaranya ada yang mengalami kesulitan yang sama karena ini sifatnya genetik. Untuk lebih pasti, sebaiknya pergi ke psikolog atau dokter anak untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.
mbak nia aku punya anak didik kelas 4 SD dia udah bisa baca tapi pemahaman tentang bacaan tersebut kurang. kalo ditanya dia selalu diam seperti takut salah kalo menjawab. gimana solusinya ya?makasih
kalau aku termasuk disleksia nggak ya?aku sulit untuk berbicara
Hi…
Mau nanya dnk.
Anak saya usia 5 tahun, terkadang kalau MENULIS huruf atau angka terbalik (mirror effect). Tapi setelah kita tanya lagi, apakah hal itu sudah benar atau tidak, maka dia akan mengoreksi menjadi benar.
Pertanyaan saya:
1. Apakah anak saya termasuk disleksi menulis. Karena kalau membaca dia bisa lakukang dengan baik.
2. Bagaimana cara mengurangi atau memperbaiki hal tsb.
Terima kasih
@Mbak Yulia: Enggan bicara atau enggan menjawab bisa jadi dampak dari disleksia yang disandangnya (jika ia sudah ada diagnosis dari dokter bahwa ia disleksia) karena takut salah dan takut ditertawakan oleh temannya. Saya juga punya murid seperti itu, ia menjawab dengan suara kecil atau berbisik langsung di kuping saya. Cara yang saya lakukan adalah oke, dia boleh berbisik kepada saya lalu saya keraskan jawabannya. Jika benar, apresiasi seluruh kelas atau dalam kelompok kecil. Jika salah, yakinkan bahwa itu bagian dari proses belajar.
Tentunya merasa tidak bisa sebelum menjawab ini tanda bahwa gangguan membacanya sudah mengenai self-esteemnya. Saran saya, lakukan pendekatan personal. Secara individual, bangun self-esteemnya dengan banyak pengalaman berhasil yang banyak (diberi soal yang mudah dan bertahap hingga soal sulit). Jika ia self-esteemnya sudah meningkat, bawa ia ke kelompok kecil (2-5 orang), dan seterusnya hingga setting klasikal (kelas besar)
@Jasmine: Banyak faktor yang menunjukkan seseorang disleksia atau tidak, tidak bisa dilihat dari satu faktor saja.
@Mbak Nita: Jika dilihat dari umur anaknya (5 tahun), anak Mbak Nita masih dalam proses belajar menulis. Beberapa ahli kedokteran mungkin percaya bahwa semakin dini anak didiagnosis, maka akan semakin baik karena akan dapat penanganan. Namun saya percaya bahwa anak, terutama dalam usia tahun, sedang mengalami proses perkembangan terutama dalam membaca dan menulis. Membacanya seperti apa? Apakah intonasi, kelancaran, dan ketepatan sudah tepat? Apakah anak paham bacaan tersebut? Tertukarnya huruf memang jadi salah satu karakteristik, tapi banyak karakteristik lain seperti visual-spasial (apakah kalau menulis bisa tepat berada di tengah-tengah garis buku tulis), persepsi, memori, dan lainnya.
Saya juga menangani murid yang seperti itu yaitu sering tertukar namun ketika ditanya apakah sudah benar atau belum, maka ia sadar kesalahan.
Bisa dilatih terus dengan visual dan sensori motorik, misalnya latihan menulis di atas pasir, menyusun huruf dengan manik-manik, melubangi huruf, diberi strategi seperti di atas (b dan d), dan lainnya.
Untuk lebih aware dengan karakteristik anaknya, Mbak Nita boleh konsultasi ke psikolog untuk mendapatkan data secara menyeluruh.
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Silver Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksistensialisme eksperimen filsafat freud gangguan homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan presentasi psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (19)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (21)
- Lois (RSS) (10)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (19)
- Penulis Tamu (RSS) (19)
- ramadion (RSS) (22)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Twitter Blog
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed