Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi sosial

Mengajak Diri untuk Mengatasi Kecemasan saat Berbicara di Depan Umum

17 November 2009 2,614 views One Comment

fear-of-psOleh: Nadira Quamila

Berbicara di depan umum menurut saya bukanlah sesuatu hal yang mudah. Bagaimana dengan Anda? Berapa banyak dari Anda yang merasakan kecemasan yang luar biasa saat harus memberikan informasi di hadapan banyak orang? Tidak bisa tidur di malam sebelumnya, detak jantung yang semakin cepat, panik yang luar biasa, tangan yang dingin, tubuh berkeringat dan gemetar adalah sebagian kecil dari gejala-gejala yang mungkin saja pernah kita alami menjelang saat kita akan berbicara di muka umum.

Kecemasan saat berbicara di depan orang banyak dapat mempengaruhi performa kita. Ada orang yang seolah-olah kehilangan kata-katanya saat harus berbicara di depan umum. Untuk mengatasi keadaan ini agar tidak berlarut-larut, kita perlu melakukan perubahan secara perlahan-lahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa cemas sebelum berbicara di depan umum adalah:

1. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik dan berlatih
Sebelum berbicara di depan umum, cobalah untuk melatih cara berbicara kita, body language, dan lain-lain. Latihan dapat dilakukan misalnya di depan kaca atau merekam presentasi kita untuk didengarkan kembali dan dievaluasi. Kita dapat juga menyiapkan catatan kecil yang berisi poin-poin penting yang akan kita sampaikan. Persiapan yang matang dapat mengurangi rasa takut.

2. Berdamai dengan ketakutan itu sendiri.
Ketika rasa takut itu datang, cobalah katakan kepada diri sendiri hal-hal yang dapat meningkatkan perasaan aman dan nyaman dalam diri kita. Jangan berfokus pada hal-hal yang menyeramkan.

3. Perhatikan orang-orang dan lingkungan sekitar
Langkah ini akan membantu untuk mengalihkan kita dari perasaan-perasaan takut dan tidak nyaman yang bersumber dari dalam diri kita. Melihat objek-objek yang ada di tempat kita berdiri saat itu menutup kesempatan pikiran kita untuk membayangkan hal-hal yang menakutkan.

4. Deep breathing
Bernapas dalam-dalam akan memberikan sinyal kepada tubuh bahwa kita tidak sedang berada dalam situasi bahaya dan respon-respon fisiologis pun akan berjalan normal.

Dalam public speaking, kita harus berusaha menyadari bahwa yang menjadi fokus di sini adalah audiens, yaitu orang-orang yang mendengarkan informasi yang kita berikan, dan bukan kita. Terlalu berfokus terhadap diri sendirilah yang akhirnya memunculkan ketakutan atau kecemasan saat kita berbicara di depan orang banyak. Mulailah untuk berpikir, apa yang dapat kita berikan kepada audiens, dan bukan bagaimana mereka akan memandang diri kita.

Sebagai public speaker kita harus membuat audiens merasa diterima. Caranya adalah dengan membangun hubungan dengan orang-orang yang menjadi audiens kita, baik melalui kontak mata, bahasa tubuh, maupun kata-kata yang kita gunakan.

*Salah satu bentuk tampil dimuka umum adalah dengan melakukan seni drama teater. Jika anda ingin lebih mengenal tentang seni drama tersebut, maka datanglah ke TIM Marzuki pada tanggal 20-22 Nov 2009, karena pada tanggal tersebut akan berlangsung Teater Tragedi Macbeth yang disadur dari karya Shakespeare

Sumber:
Esposito, Janet E. (2000). In the Spotlight : Overcoming Your Fear of Public Speaking and Performing 1St Ed. Bridgewater: Electronic & Database Publishing, Inc.

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/41247877@N04/3800631622/

Tentang Penulis:

Nadira Quamila adalah mahasiswa fakultas Psikologi UI angkatan 2008. Di sela-sela kesibukannya menjadi panitia acara-acara di kampus, Nadira masih menyempatkan diri untuk berbagi pengetahuan lewat tulisan di www.ruangpsikologi.com.

One Comment »

  • solita said:

    ihiy nanad :)aku comment yaa..

    “… membangun hubungan dengan orang-orang yang menjadi audiens kita, baik melalui kontak mata, bahasa tubuh, maupun kata-kata yang kita gunakan.”

    menurut gw, interaksi ini yg cukup penting, karna yg sering terjadi, materi yang si pembicara omongin tuh menarik , tapi karna package penyampaiannya kurang menarik (kurang ada interaksi dengan audiens), audiens jadi males buat dengarin.
    nah, klo udh berhasil dpt tanggapan (apapun itu, termasuk senyum dan anggukan kepala) dr audiens biasanya rasa gugupnya berkurang. ya kan? hihi.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word