Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Umum & Eksperimen

Manfaat psikologis dan fisiologis dari berpuasa

30 August 2010 2,181 views 3 Comments

hungry

Tidak terasa, bulan Ramadhan tahun 2010 sudah kita lalui setengahnya dengan berpuasa untuk umat Muslim. Rutinitas makan di pagi buta sebelum matahari terbit, dan makan setelah mendengar adzan Maghrib telah dilalui. Rumah makan dan kantin yang biasanya selalu ramai membludak di jam makan siang, di bulan ini penjualan mereka terpaksa sedikit menurun. Bunyi perut dan nafas bau, serta lemas dan susah konsentrasi membuat produktivitas kita menurun pun kini dimaklumi oleh semua orang. Tetapi jangan khawatir, dengan melalui hari-hari dgn cobaan, rupanya berpuasa memiliki efek positif baik secara fisiologis dan psikologis.

Kenapa sih kita suka pusing-pusing di saat berpuasa?

Secara fisiologis, berpuasa berarti “meliburkan” organ-organ pencerna. Energi yang biasa dipakai untuk mencerna makanan, saat puasa, digunakan untuk mempurifikasi tubuh. Proses ini disebut autolysis / auto-digestion, yaitu tubuh kita mendapatkan energi dengan memakai substansi dan sisa-sisa metabolisme dlm tubuh. Namun pada saat proses auto-digestion, karena menggunakan material sisa-sisa di dalam tubuh termasuk racun dan lain-lain bersirkulasi di dalam tubuh, hal tersebut menyebabkan sakit kepala, mual, dan gejala fisik lainnya. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang tidak melanjutkan puasa. Kondisi tidak nyaman menjadi alasan bagi mereka untuk tidak melanjutkan karena auto-digestion berhenti apabila kita makan (Bragg & bragg, 1999; ehret, 1966). Dari proses auto-digestion tersebut, kita mendapatkan keuntungan baik secara psikologis maupun secara fisiologis.

Keuntungan psikologis

Berpuasa dapat memurnikan sel-sel di dalam tubuh, termasuk sel otak. Ternyata, pada 50 tahun terakhir di russia, terapi berpuasa telah ditemukan sebagai perawatan terhadap pengidap schizophrenia yang paling efektif. Dr. Yuri Nikolayev di tahun 1972, seorang direktur di Moscow Psychiatric institute, melaporkan bahwa penggunaan puasa telah sukses dala mmenyembuhkan lebih dari 7000 pasien yang menderita berbagai macam penyakit mental, termasuk schizophrenia. (fasting.com)

Keuntungan fisiologis

Proses auto-digesting yang membersihkan sisa racun di dalam tubuh dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, misalnya penyakit kardiovaskular, penyakit pencernaan, atau pun penyakit pernafasan seperti asma dan lain-lain. (Bragg & Bragg, 1999; Burroughs, 1976; Ehret, 1966; www.fasting.com).

Keuntungan fisiologis yang kedua adalah dapat membuat berat badan kita terkontrol. Tentunya dengan jumlah porsi makan saat sahur dan buka puasa yang dijaga. Keuntungan ini biasanya yang selalu dicari oleh wanita.

Keuntungan yang terakhir adalah, berpuasa dapat membantu kita mengurangi bahkan menghilangkan adiksi terhadap zat-zat tertentu yang biasa kita konsumsi setiap harinya. Misalnya nikotin dalam rokok, ataupun kafein dalam kopi. Kebiasaan kita untuk merokok di waktu senggang di siang hari ataupun menyeruput kopi dapat berkurang karena waktu berpuasa yang cukup panjang.

Selain menjadi kewajiban dan memberikan pahala untuk kita, berpuasa ternyata sangat bermanfaat untuk kesehatan psikologis dan fisiologis kita. Selamat berpuasa!(Khrisnaresa)

Sumber gambar: http://www.flickr.com/photos/-ella-/2888958472/

3 Comments »

  • ramadion said:

    setau gw sih, lemes pas puasa itu lebih krn sugesti. kakak ipar gw pernah bikin penelitian fisiologis orang puasa (klo ga salah, gula darah). ternyata, tingkat gula darah sama aja ama yg ga puasa.

  • faisal said:

    Tapi pak, kenapa orang2 dari agama dan negara yang ga berpuasa, sehat2 aja yah kondisi fisik dan mentalnya.. Malah perekonomiannya jauh lebih maju (eg: Sweden, Norway, Finland).
    Terus puasa dokter rusia di atas itu kaya gimana yah?! Dari imsak sampe maghrib juga kah? Apakah puasa yg dari imsak sampai maghrib memiliki dampak yang sama dengan puasa2 tersebut di atas?

  • abu halim said:

    Berpuasa memiliki manfaat yang positif pada individu secara psikologis dan fisiologis. banyaknya dokter yg memerintahkan berpuasa bagi penderita diabet itu sudah dibuktikan secara ilmiah, kalau ada kasuistik seperti dikatakan ramadion maka tidak bisa digeneralisir apalagi belum diteliti secara ilmiah serta mempelajari faktor lain yg mungkin mempengaruhi kondisi tersebut.

    @faishol; negara-negara yang perekonomian maju tidak memiliki hubungan dengan manfaat puasa bagi individu. adapun anggapan negara2 tersebut memiliki kesehatan mental dan fisik yg sehat belum dapat dibuktikan. dan sy kira ini hanya asumsi belaka tanpa fakta yg valid.

    berlepas dari puasanya ilmuwan rusia, kalau anda mempelajari tentang hakikat ibadah puasa di dalam islam maka anda akan menemukan suatu konsep ibadah yg ideal karena tercakup di dalamnya berbagai manfaat yg meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia (Fisik, Psikis, dan spiritual), bukan hanya menahan lapar dan dahaga semata.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word