Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi perkembangan

Labeling Pada Anak

28 June 2009 3,622 views 34 Comments

Sudah setengah jam seorang anak yang berumur sembilan tahun itu berada di bawah meja. Sebelumnya saya, dia, dan teman-temannya sedang asyik menonton film lewat in focus di kelas. Suatu kali ia tidak sengaja menyenggol kabel in focus sehingga layar menjadi biru. Teman-temannya langsung menyalahkannya. Marah, ia pun lari keluar kelas dan bersembunyi di bawah meja guru.

Sebut namanya Kaisar, seorang anak yang didiagnosis autis asperger. Kaisar cenderung memperlihatkan emosi yang datar dan jarang terlihat perilaku stereotype seperti tapping atau flapping. Rekan-rekan saya yang lain tidak ada yang berani mendekatinya dengan asumsi jika hubungan belum dalam namun mengintervensi terlalu jauh, dikhawatirkan anak akan mempersepsikan berbeda dan akan menambah masalah. Karena gemas karena Kaisar kelewat lama di bawah meja, saya mengambil suling dan merangkak ke bawah meja.

Kehadiran saya membuat Kaisar terganggu tentunya. Daripada mengajaknya ngobrol, saya memainkan lagu dari suling yang saya bawa. Apa yang saya lakukan hanya mendapatkan sedikit perhatian dari Kaisar. Teringat bahwa Kaisar sangat menguasai F1 – bahkan ia tahu sejarah dan kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di setiap musim dan ketika ia menceritakan tentang F1, ia dapat berbicara dengan lancar namun kaku dan sulit merasakan apakah lawan bicaranya tertarik atau tidak dengan minatnya – saya pun bertanya-tanya siapa pembalap kesukaanya. Ketika hati Kaisar mulai luluh, saya bertanya mengapa Kaisar ada di bawah meja. Kaisar menjawab, “Karena aku penyendiri dan aku suka sendiri. Kata tiga dokter, aku ini autis. Tapi dokter yang lain bilang aku ini enggak autis, tapi sifat-sifatnya masih ada. Aku suka di bawah sini karena disini banyak barang-barang yang enggak penting, seperti aku dan kamarku.” Saya bertanya darimana Kaisar tahu bahwa ia autis dan menganggap dirinya tidak penting, ia menjawab dari teman dan orang tuanya.

Diagnosis dokter mengenai gangguan perkembangan anak seperti ADHD, ADD, PDD-Nos, dan lainnya, menjadi trend sendiri bagi para orang tua untuk melabelkan anaknya. Sepengetahuan saya dari para orang tua yang saya temui, sepertinya orang tua seolah-olah bangga jika anaknya didiagnosis ‘autis’ atau ‘hiperaktif’ ketimbang sakit ‘TBC’ atau ‘polio’. Masalah yang terjadi adalah jika orang tua yang menganggap gangguan perkembangan anak bukanlah masalah yang perlu ditutup-tutupi dan membuat anak tahu – entah dari orang lain, lingkungan, atau dari orang tuanya sendiri.

Menurut kamus Merriam-Webster, label adalah deskripsi atau identifikasi melalui kata atau frase. Label diberikan kepada anak untuk mendeskripsikan beberapa perilaku yang dimiliki anak. Labeling positif seperti ‘anak pintar’ biasanya diberikan kepada anak yang juara kelas, labeling negatif seperti ‘anak bodoh’ biasanya diberikan kepada anak yang sulit menyerap pelajaran – tanpa mau tahu apakah gaya belajar anak terakomodasi dengan baik atau tidak dan biasanya kemampuan anak diukur dari pelajaran science ketimbang seni atau sosial.

Labeling Negatif

Dalam kasus di atas, Kaisar diberikan label atau “cap” bahwa ia adalah anak autis. Anak akan percaya dengan label jika hal tersebut diberikan oleh orang-orang berpengaruh di kehidupan mereka: orang tua. Masalah yang terjadi dalam pemberian label terhadap perilaku anak adalah anak cenderung berperilaku sesuai label yang diberikan kepada mereka terutama jika label dikuatkan oleh lingkungan sekitar yang bertindak seolah-olah bahwa label tersebut benar. Akibatnya akan baik jika label yang diberikan positif sehingga anak akan berperlaku sesuai harapan yang diberikan lingkungan mereka, namun akan berakibat buruk jika label yang diberikan negatif, ini memungkinkan anak bertindak melebihi label yang diberikan kepada mereka seperti ‘toh saya sudah di-cap nakal, jadi sekalian saja saya nakal’.

Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992), label negatif dapat membuat anak kesulitan membangun self-esteem yang baik. Kurcinka berpendapat labeling tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku anak tetapi juga perlakuan orang tua itu sendiri. Orang tua yang menggunakan kata positif daripada label negatif cenderung bertindak kepada anaknya dengan perilaku dan penghargaan yang lebih baik.

Perlu diingat bahwa labeling tidak selamanya buruk. Label pada anak dengan gangguan belajar dan/atau perilaku akan membuat anak mendapatkan dukungan dan pelayanan khusus seperti terapi atau obat-obatan. Label diaplikasikan untuk memfokuskan perhatian orang tua dan para ahli dalam memberikan perlakuan terhadap gangguan yang dimiliki anak. Namun terkadang orang lupa dengan akibatnya. Seperti Kaisar, secara tidak langsung label juga membuat anak terstigmatisasi dari kehidupan normalnya.

34 Comments »

  • vendy said:

    sebetulnya perlu ga sih kita memberi label buat anak2? apa kebanyakan orang tua sekarang lupa pada masa anak2nya, atau cenderung ga mau inget lagi masa anak2nya?

  • Nia Janiar (author) said:

    sebelumnya, maksud lupa pada masa anak-anaknya itu apa ven?

  • vendy said:

    kasus nyatanya terjadi sama para sepupu gw. ortu mereka (paman n tante gw) lebih sering keliatan ngomelin mereka biarpun mereka ga ngelakuin kesalahan apa2. saat gw tanya paman n tante gw soal sejarah masa kecil mereka, mereka bangga kalau mereka pernah hidup di jaman yang keras (aka, sering dimarahin ato sering ditabok dengan alasan ga jelas).

    dan saat itu, gw blom pernah tanya begini : “Kalian seneng kalo kalian bisa jadi replika dari orang yang jadi tukang marah dan tukang tabok itu?Biarpun zaman dah beda?”

    walhasil, sekarang para sepupu gw udah ga betah tinggal di rumah, jadi pemberontak, suka berantem sama ortunya, atau males contact rumah sendiri.

  • Nia Janiar (author) said:

    Kalau dari cerita di atas, kayaknya paman dan tante lo gak lupa karena justru mereka bangga. Gimana bisa bangga kalau lupa.. hehe.

    btt.

    Perlu gak sih labeling itu? Menurut gue, itu perlu. Karena labeling tidak selamanya negatif, labeling positif bisa menjadi support atau reinforcement tersendiri buat si anak.

    Tapi kalau pada masa kecilnya paman dan tante lo dikerasin tanpa alasan dan sekarang disambungkan kepada anaknya, jadi rumit, karena si anaknya sekarang dimarahin atas alasan yang gak jelas. Bisa jadi perilaku sepupu lo yang pemberontak karena ya sudah kepalang jelek ya jelek sekalian.

  • ramadion said:

    halo Vendy, itu yang disebut Alice Miller sebagai Poisonous Paedagogy. Dengan memarahi dan memukul, orang tua mengira mereka berbuat baik karena bisa mendisiplinkan anak. padahal, cara asuh seperti itu akan memberikan luka psikologis pada anak. punishment (dan reward) harus jelas alasannya, dan cara memberikan tetap harus dengan penuh tanggung jawab.

  • Nia Janiar (author) said:

    Iyuup. Thanks Dion untuk tambahannya!

  • vendy said:

    kalau dicari2 di wiki, kayaknya poisonous pedagogy lebih ngarah ke punishment. tapi apakah poisonous pedagogy ini bisa bikin empati (ato mungkin EQ) jadi memble?

  • ramadion said:

    Vendy di mana? gue ada bukunya. mau minjem?

    EQ itu kan klo ga salah tentang mengenal keadaan emosi diri. kayaknya EQ orang dewasa yg kecilnya jadi korban poisonous paedagogy emang agak terganggu. tapi ga berhubungan langsung. jadi, orang yg kecilnya dibesarkan dengan salah, biasanya punya gangguan emosi, jadi selalu ngerasa insecure. orang yang sibuk dengan insekuritas pasti ga punya cukup kapasitas utk mengetahui perasaan yang dia rasakan, kan?

    empati juga secara garis besar sama. mungkin orang-2 itu ga sempat ngurusin orang, soalnya diri sendiri dah repot. i have to reread that book :(

  • Nia Janiar (author) said:

    vendy di singapur.

  • Nia Janiar (author) said:

    Kalau kasusnya memang poisonous pedagogy dan ditanya pengaruhnya terhadap EQ dan empati, gue mau mencoba menjelaskan (kayaknya jauh gitu dari labeling, hehe).

    Pertama, empati itu adalah salah satu karakteristik dari EQ. Karakteristik yang lain adalah self-awareness, self-motivation, dan lainnya. Jadi, empati termasuk ke dalam EQ. Jika mau menyorot empatinya aja, hayo.

    Anak yang tumbuh dan berkembang tentunya perlu penghargaan dari orang tua tentang apa yang anak itu telah capai. Namun jika harapan mendapat penghargaan dan malah mendapat omelan tanpa alasan atau orang tua membuat anak sebagai objek dan berusaha membuat anak patuh, anak akan merasa tidak dicintai, maka anak akan me-repress perasaan2nya sehingga ia akan memproduksi perasaan diacuhkan dan lainnya.

    Menurut Isa Helfield, memiliki masalah untuk deal dengan perasaan2 yang di-repress ketika kecil ya konsekuensinya jadi kurang empati.

    Terlepas dari kasus lo ya, Ven, kebayang gak? Bagaimana bisa orang memberikan empati pada lingkungan jika kecilnya dia tidak diberikan cinta dan kasih sayang melalui penghargaan?

  • vendy said:

    buku? maksudnya bukunya Daniel Goleman?
    masa kecil tanpa penghargaan yah? kebayang koq. malah faktanya ada (dari kasus sepupu gw…lagi).

    dari beberapa sepupu gw itu, empatinya agak modar, dan dari beberapa yang lain lebih memilih untuk melakukan praktek “silence is golden” + selalu pake tanya biarpun tuh anak emang, dari mata gw, empatinya blom modar.

    jadi, ada 2 kategori: yang satu sanguin-sableng, yang kedua melankolis-repress emotion. tapi semua dimasukkan dalam kategori labeling yang sama, kayak “anak ga pinter” ato “anak suka ngelawan”.

    balik lagi. kalo gw telusurin history mereka, ya, mereka memang tumbuh dengan banyak racun berupa komentar2 negatif dan ga terlepas dari tangan yang melayang.

  • Nia Janiar (author) said:

    Buku Alice Miller mungkin maksudnya.

    Dari sepengelihatan lo, kira-kira mereka gimana dengan deal dengan lingkungannya?

  • ramadion said:

    wah, rujuk ke psikolog, gih. atau, lo ajak ngobrol dengan mendalam :)

  • vendy said:

    wah, ini yang susah.
    kl g ngebahas masalah ini, masing2 dah bubar jalan, alias “elu-elu, gue-gue”.

  • Nia Janiar (author) said:

    :))

  • ramadion said:

    susahnya emang gitu, sih. psikolog pun ga bisa ngebantu klo orangnya ngerasa hidupnya ga ada masalah. biasanya, kita bisa masuk klo orang ini dirujuk oleh ortunya(atau, perusahaan tempat dia kerja). cuma, klo ortunya yang jadi biang keladi, makin susah lah.

    gue salut sama lo yang care sama sodara2 lo.

  • vendy said:

    sebetulnya karena gw blom pernah ngerasain “keluarga” versi sesungguhnya, jadilah gw selalu pengen tau soal keluarga sepupu gw. dan hasilnya ternyata mengejutkan.

  • ramadion said:

    sebenernya, di dunia ini, keluarga ideal macam The Brady Bunch itu ga ada (atau, kalau pun ada, bisa diitung pake jari). gemana klo Vendy bikin gambaran lebih lengkap tentang sepupu lo. sapa tau ada hal2 lain yang bisa dianalisis.

  • vendy said:

    errrr… secara gamblang, lebih mirip Osbourne family, tapi versi kelamnya doang…

  • Melita said:

    Ehm, ehm. Maaf banget telat komen.

    [saat gw tanya paman n tante gw soal sejarah masa kecil mereka, mereka bangga kalau mereka pernah hidup di jaman yang keras (aka, sering dimarahin ato sering ditabok dengan alasan ga jelas)]

    Ini alasan klasik yang dijunjung oleh orang tua untuk menjelaskan pola asuh mereka yang melibatkan “sedikit kekerasan”. Logika mereka kurang lebih begini :

    “gw diasuh dengan pola asuh yang keras (melibatkan omelan dan tabokan), I survive. I succeed. Anak gw juga semestinya bisa survive n succeed dengan penerapan pola asuh yang serupa”

    Beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak didasarkan pada alasan itu. Istilah ilmiahnyah dalam psikologi adalah “cross-generational transmission of parents’ aggression”.

    Beberapa penelitian tentang child abuse menunjukkan bahwa orang tua yang melakukan tindak kekerasan terhadap anaknya kebanyakan juga mendapat perlakuan yang serupa dari orang tuanya. Gampangnya, pola asuh itu “diturunkan” dari generasi ke generasi.

    Paman dan tantenyah Vendi memperlakukan anaknya dengan “kasar” (dengan memberi “label”, misalnya) bisa jadi karena alasan di atas.

  • Melita said:

    Oh, soal perlu atau enggak, gw setuju deh sama Nia. :)

  • Nia Janiar (author) said:

    Gimana, Ven?

  • Nia Janiar (author) said:

    Kok pake ‘deh’? Haha..

  • vendy said:

    dari komentarnya Melita, ga salah juga sih. in other words, apa kita sebetulnya punya kecenderungan untuk membuat “kloning psikologis” dari diri kita sendiri untuk diturunkan kepada anak kita? supaya ada pihak lain yang bisa merasakan segala penderitaan yang pernah kita hadapi dalam hidup?

  • Nia Janiar (author) said:

    Gue baca pernah baca kekerasan secara fisik dan verbal terhadap anak. Mau gue coba jelasin disini tapi ini nyampur sama pendapat gue. Jadi CMIIW.

    Seringkali kita mendengar kalau orang tua yang meng-abuse anaknya punya track record bahwa ia pun di-abuse dulunya. Kecenderungan kloning psikologis? Mungkin. Karena begini, orang tua ketika kecil bisa jadi merasa dia layak mendapatkan perlakuan kasar dari orang tuanya karena ia merasa tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya untuk menjadi anak baik. Yang perlu digaris besar disini adalah perasaan layak mendapatkan perlakuan kasar. Oleh karena itu, ia menurunkan itu kepada anaknya dengan tujuan agar anaknya bisa menjadi ‘anak baik’, namun dengan cara yang dirasa benar akibat modeling ketika kecil: kekerasan.

  • vendy said:

    singkat kata, child abuse bisa mematikan empati anak?

  • Nia Janiar (author) said:

    Kalau berkurang - seperti yang pernah jelaskan di atas - iya. Tapi kalau total mematikan, tergantung dari lingkungan dimana ia dibesarkan. Misalnya setelah di abuse, seseorang tinggal sama sepupunya yang lebih caring. Contoh lainnya seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak ia dapatkan seperti penghargaan di lingkungan luar (sekolah, tempat kerja, dll). Tapi kalau lingkungan mendukung, bisa jadi seperti kasus psikopat2 itu.

  • Nia Janiar (author) said:

    *tidak mendukung - maksudnya.

  • aep said:

    klo temen2 punya referensi buku yang khusus membahas tentang labeling..kirim ke email aku ya..makasih

  • aep said:

    oh ya lupa email aku aep_zigma@yahoo.co.id..maksih..bantuan temen2 sanngat membantu ..maksih

  • Anak Indigo? Siapakah Mereka? | ruangpsikologi.com said:

    [...] gangguan kekurangan perhatian,  dan juga autis. sehingga mereka sering diusahakan agar sembuh dari suatu label penyakit yang tidak benar [...]

  • Nia Janiar (author) said:

    @aep: ini bukunya

    Mary Sheedy Kurcinka, Raising Your Spirited Child (Harper Collins, 1992)

  • tere said:

    AQ PENGEN TAU DONK REFRENSI BUKU TERKAIT LABELING
    ALNA LG NYUSUN SKRIPSI NEH
    AQ BUTUH REFRENSI TTG TEORINYA GT

  • Anak Indigo « Super(b)ego Blog said:

    [...] gangguan kekurangan perhatian,  dan juga autis. sehingga mereka sering diusahakan agar sembuh darisuatu label penyakit yang tidak benar [...]

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word