Homoseksual di Mata Psikologi

homosexual

Saat ini, homoseksualitas sudah tidak dianggap sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Tentu saja acuan dari pernyataan diatas adalah DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder / buku acuan diagnostik secara statistikal untuk menentukan gangguan kejiwaan) yang dibuat oleh ‘kiblat’ ilmu kejiwaan saat ini, yaitu APA alias asosiasi psikiatri Amerika. Di dalam DSM, yang sudah masuk ke edisi ke empat, homoseksualitas sudah tidak masuk ke dalam kategori gangguan kejiwaan manapun. Salah satu alasannya adalah karena syarat bagi sebuah perilaku untuk diklasifikasikan sebagai gangguan jiwa dalam DSM adalah jika perilaku tersebut mengganggu kehidupan orang yang menderitanya. Ttemuan di lapangan menyatakan bahwa para homoseksual dapat hidup dengan normal dan bahagia.

Situs dari asosiasi psikologi Amerika (American Psychological Association) juga mengatakan dengan tegas bahwa homoseksualitas bukan sebuah gangguan. Kesimpulan yang mereka nyatakan ini berasal dari temuan bahwa, seperti yang di pakai oleh DSM untuk menyimpulkan bahwa homoseksualitas bukanlah sebuah gangguan, orang yang berorientasi seksual homoseksual (gay) dapat hidup dengan normal seperti orang lain.

Berikut adalah sejarah dari ditariknya homoseksual dari klasifikasi gangguan kejiwaan (Mental Disorder) oleh dunia ilmu kejiwaan:

Masa Psikologi Klasik – Jung, Adler dan Freud menyatakan bahwa homoseksualitas adalah sebuah gangguan kejiwaan. Saya belum menemukan penjelasan dari pandangan Jung dan Adler, tapi menurut Freud, homoseksualitas adalah sebuah bentuk fiksasi (berhentinya perkembangan mental) dari satu dimensi dari tahap perkembangan mental seseorang, sehingga orang normal adalah orang yang berhasil berkembang menjadi seorang heteroseksual.

DSM-I (DSM versi pertama) yang diterbitkan pada tahun 1952– menyatakan bahwa homoseksualitas adalah gangguan kepribadian sosiopathik. Artinya, orang yang memiliki orientasi seksual homoseksual memiliki kepribadian yang menyimpang dari norma sosial, dan penyimpangan ini harus diperbaiki.

DSM-II yang diterbitkan tahun 1968 – menghapus homoseksual dari daftar penyakit sosiopath dan memindahkannya ke daftar Sexual Deviation (penyimpangan seks).

DSM-III yang diterbitkan pada tahun 1973 – menyatakan bahwa homoseksualitas dinyatakan sebagai sebuah gangguan HANYA jika orientasi seksual homoseksual orang tersebut mengganggu dirinya (dia tak mau menjadi homoseksual). DSM-III kemudian mengalami revisi dan pada edisi revisi ini, homoseksualitas sudah tidak dianggap sebagai sebuah gangguan sama sekali. Alasannya adalah, karena para komite DSM menyatakan bahwa adalah normal bagi seorang homoseksual untuk merasa terganggu dengan orientasi seksualnya pada saat ia pertama kali menyadari bahwa ia seorang homoseksual. Oleh karena itu perasaan terganggu yang dirasakan seorang homoseksual bukanlah sebuah gangguan.

Robert L. Spitzer, ketua komite pembuatan DSM III menyatakan bahwa homoseksualitas tidak lebih dari sebuah variasi orientasi seksual. Tidak lebih.

Sumber yang dipakai:

www.apa.org

www.psych.org

Sumber foto:http://www.flickr.com/photos/tutiturumtutu/2111834100/

Ramadion Syam

Terpukau dengan semangat sharing di dunia digital, Dion pun ingin membagikan sesuatu ke penghuni dunia maya. Tidak berbakat menyanyi, menari, dan memang secara general tidak sedap dipandang, Dion pun memilih dunia menulis. RuangPsikologi.com adalah proyek serius satu-satunya yang dia punya. Email Dion di: dion@ruangpsikologi.com

28 Comments
  • Reply October 28, 2009

    vendy

    “Robert L. Spitzer, ketua komite pembuatan DSM III menyatakan bahwa homoseksualitas tidak lebih dari sebuah variasi orientasi seksual.”

    berarti bisa lempeng lagi dong?

  • ramadion
    Reply October 29, 2009

    ramadion

    halo vendy,

    maaf baru balas. maksud Spitzer di atas adalah, ada orientasi seksual yang menurut kamu “lempeng” dan ada yang homoseksual. jadi, dua hal itu dianggap terpisah. dan bukan berarti homoseksual bisa di-“lempeng”-in. khususnya mereka yang secara genetis memiliki orientasi seksual ke sesama jenis.

    saya rasa, orang-orang homoseksual (beberapa adalah teman saya) tidak mau untuk dipaksa menyukai mahluk yg memang tidak mereka sukai (tidak ada hasrat utk menyukai). saya pribadi sih, berusaha menghormati pilihan mereka :D

  • Reply October 29, 2009

    vendy

    hahaha :D
    makanya jadi bingung

    tapi kalo memang dibilang genetis sih, bukan berarti tertutup kl nenek moyang kita ada yang GLBT jg kan? (minjem kalimat dari mbah wiki)

  • Reply October 30, 2009

    Ayu R. Yolandasari

    sekedar menambahkan, siapa tau bisa melengkapi informasi dan memperkaya pandangan mengenai orientasi seksual (homoseksualitas),tp sepertinya kudu dicari lagi sumbernya….:D

    menurut Alfred C. Kinsey, seksualitas itu sifatnya cair (kurang lebih begitu)… ditambah dengan pernyataan Freud (kalo ga salah), pada dasarnya, manusia terlahir biseksual…

    jadi, sebenarnya setiap manusia memiliki probabilitas yang sama untuk menjadi homo maupun hetero, tergantung secara fisiologis dan sosial kemana mengarahkannya…

    bahkan, Kinsey telah membuat skala orientasi seksual mulai dari hetero sampai homo… bisa dilihat di:

    http://www.kinseyinstitute.org/resources/ak-hhscale.html

    intinya sih mereka juga manusia, punya kebebasan untuk menentukan hidup mereka mau seperti apa…terlepas itu menyimpang r ga…

    mengutip salah satu pernyataan seorang teman:

    “Apa sih yang disebut normal? normal hanyalah suatu term yang menyatakan klo sesuatu atau seseorang memiliki kesamaan dengan mayoritas.”

    seandainya, hetero berada di negeri homo pun, ia akan dianggap menyimpang bukan???
    :)

  • Reply October 30, 2009

    vendy

    @Ayu: soal terlahir sebagai bisex, kayaknya ada yang pernah ngomong hal yang sama juga (Boyke kl ga salah)

    tp bicara soal “variasi” ini, kan tetep kena batasan yg disebut norma. susah ah.

  • Nia Janiar
    Reply October 30, 2009

    Nia Janiar

    Anw, Ven, toh yang bilang homoseksual juga si norma atau masyarakat luar ‘kan?

    Misalnya begini:

    Ada seorang yang transeksual, ganti kelamin dari cowok ke cewek. Baginya, dia itu hetero karena ‘pan gue cewek dan gue demen sama cowok’, namun bagi orang lain itu tetep homoseksual karena ‘bagaimanapun, lo tetep laki2′.

    Jadi, ini sepertinya tentang bagaimana orang lain yang melihat.

  • Nia Janiar
    Reply October 30, 2009

    Nia Janiar

    Mungkin maksud Vendy bukan dokter Boyke, tapi C.G. Jung yang bilang bahwa manusia itu biseksual. Heheu.

  • Reply October 30, 2009

    vendy

    yah, relatif sih
    soalnya norma dkk punya “belenggu” paling kuat

    soal manusia bi itu, gw ralat: Boyke minjem kalimat mbah Jung :D

  • ramadion
    Reply October 31, 2009

    ramadion

    @ vendy: makanya, kita sebagai penggiat psikologi, yang sudah meneliti dan menemukan bahwa homoseksual, (berdasarkan data) tidak berbahaya bagi diri mereka sendiri dan orang lain, harus mensosialisasikan hal ini. agar, kita sebagai manusia yang mengaku beradab bisa memperlakukan orang lain yang “berbeda” tapi tidak berbahaya dengan beradab :D

  • Reply October 31, 2009

    rachel

    Hallo, sorry for crossposting message.

    Menarik sekali melihat respon diskusi tentang konsep mengenai homoseksualitas. Saya dapat menyimpulkan bahwa sampai sekarang “heteronormativity” masih mencerminkan keadaan yang ada.
    Heteronormativity adalah hasil penelitian dari feminist mengenai pandangan masyarakat mengenai orientasi seksualitas. Kita masih menganggap bahwa heteroseksual merupakan sebuah hal yang normative. Ingat normative (secara statistik hanya berdasarkan modus; bukan normal).
    Hal ini terjadi karena opresi seksualitas yang mengedepankan fungsi reproduksi. Akibat dari heteronormativity adalah adanya konsep orient (seperti barat yang dianggap lebih ‘wah’ dan prestigious dibandingkan timur–begitupun heteroseksual yang dianggap lebih bermoral, desirable, dan lebih baik dibandingkan homoseksual.). Kita tanpa sengaja menganggap bahwa heteroseksual lebih superior dibandingkan homoseksual. Oleh karena itu ada anggapan untuk “meluruskan kembali” dan sebagainya.

    Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa seksualitas merupakan spektrum abstrak yang sangat luas dan tak dapat diterangkan secara parsial; oleh karena itu dalam mencermatinya perlu dilakukan usaha mengintegrasikan berbagai ilmu seperti psikologi untuk memberikan edukasi bagi masyarakat yang sudah terkena “moral panick” yang selalu menyambungkan seksualitas dengan moralitas–yang amat tidak relevan.

  • Nia Janiar
    Reply November 3, 2009

    Nia Janiar

    Setuju dengan Rachel.

  • Reply March 9, 2010

    icang

    itulah jika nafsu hanya dipadandang berdasarkan kepuasan dan logika…tanpa memperhatikan norma agama…apakah kita hanya seorang makhluk sosial dan mengesampingkan kita juga makhluk rohani……apakah nafsu harus dipuaskan dengan cara mereka sendiri?…apakah kita yang dikendalikan nafsu?bukannya kita yang mngendalikan nafsu?bukankah kita sudah belajar dari kitab terdahulu jika mereka adalah kaum yang dzolim?sebaiknya kita introspeksi masing2 atas dasar apa kita memandang homoseksual?solidaritas?bagaimana jika menimpa keluarga kita?kepuasan dan kebebasan?apakah hidup untuk kepuasan seksual?saya hargai mereka yang memiliki pendaat berbeda tapi hidup tidak hanya berdasar logika dan nafsu

  • Reply March 9, 2010

    ramadion

    @ icang: banyak juga homoseksual yang tidak memilih utk punya preferensi seksual sama, icang. kelainan pada otak lah yang membuat mereka seperti itu. jadi, bukan hanya masalah logika dan nafsu, tapi juga masalah fisiologis.

  • Reply June 26, 2010

    andri

    maaf ni, gw ngga jago psikologi tapi gw punya beberapa temen yang homoseksual.
    Jadi menurut mereka, mereka udah ngerasa mereka suka sesama jenis dari waktu pertama kali mereka suka sama orang. ada yang dr kelas 4 SD, ada yg dr kelas 3 SD, bahkan ada yang dr kelas 2 SD. Jadi kalo gw mikirnya homoseksual tu bukan karena pengaruh lingkungan, tapi udah dari sononya “lain”. karena gw taunya umur segitu manusia masih belum bisa ngebedain mana yang bener mana yang salah, masih belum bisa memilih, masih jujur sama dirinya sendiri. Jadi gw ngebayanginnya waktu mereka merasa “oh, gw suka deh sama tu cowok/cewek”, mungkin sama aja kayak merasa “oh, rambut gw pirang/hitam/coklat”.
    Trus kalo bisa diubah apa ngga, mereka balik lagi nanya ke gw “Loe sendiri bisa ngga suka sama cowo dan berhubungan seksual sama cowo?”. Nnngg.. gw si ngga. Loe?

    Kalo soal agama dan homoseksual, nah ini seru nih. haha heboh sendiri.
    Jadi ada di antara temen gw yang homo itu, ada 1 yang “lebih rajin sholat” dan dia berkeyakinan “gw homo, tapi gw mau jadi muslim yang baik juga”. Di sini gw salut banget sama dia, karena gw tau dunia islam sangat menolak mentah-mentah tentang homoseksual. Dan dia masih mau menganut agama islam dengan baik walopun ditolak. gw saat itu juga yang “woow!”.
    dia juga menyayangkan banget islam itu sangat menolak, memusuhi, menghujat, dsb dsb homoseksual. padahal dengan mereka dimusuhi oleh islam, mereka ini jadi takut sama islam. dan kalo takut, mereka jatohnya jadi menjauhi islam donk, jauh dari islam = duniawi dan sex oriented. Jadi, kalo misalnya aja islam mau lebih merangkul dan membimbing (tanpa menghalalkan) homoseksual ke jalan yang benar, gw rasa semua bisa jadi lebih harmonis.
    Dengan catatan : “membimbing ke jalan yang benar” itu bukan memaksa merubah mereka jadi heteroseksual, tapi melindungi mereka dari perbuatan yang duniawi dan sex-oriented, dan membuat mereka menjalani kehidupan yang lebih islami.

    sekian. :)

  • [...] This post was mentioned on Twitter by Rivayana Natasya. Rivayana Natasya said: RT @riawaji: #psychology Homoseksual di Mata Psikologi http://ruangpsikologi.com/homoseksual (via @ruangpsikologi) [...]

  • Reply February 20, 2011

    Siti rahyu

    Firman Allah subhanallahu wata’ala :
    “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka”
    (Qs . Ar-Ra’d ayat 11)

  • Reply March 24, 2011

    yudhian

    …hmm…
    setuju homo bukan penyimpangan kejiwaan..tapi..berarti homo penjahat donk???…karena memang tidak mengganggu kehidupan pribadinya…tapi mengganggu kehidupan yang lain…

    ;)

  • Reply September 4, 2011

    hamba yang lemah

    i’m a gay,,,maf sblumnya,,aku hnya ingin berbagi pengalaman pada temen” bagaimana kehidupan seorang GY,,jika tuhan memberikan pilihan padaku untuk hidup sebagai GY atau mati sekarang,aku akan lebih memilih pilihan yg kedua,betapa menyakitkan hidup dlm keadaan sepertiku,betapa lelahnya mengarungi perjalanan hidup yg sangat panjang dg gaya hidup orang lain yg aku sendiri tak menyukainya,seolah olah aku harus hidup sebagai orang munafik dan pembohong,,kenapa aku harus hidup dalam keadaan sperti ini di tengah” kluaga yg baik??terkadang terbesit dalam benaku untuk menyalahkan masa lalu,tapi smua itu hnya mnjadi sia”,,aku tak menyalahkan orang tuaku ( yg bodoh )dlm hal mndidik anak khususnya dlm seks orientated,yg tidak mngajarka aku (lk) harus berbuat sperti mereka (LK) dg spenuhnya,,krna di waktu kecil aku selalu berpakaian perempuan bekas pakaian kakaku (PR) dan bermain bersama mereka ( pR) orang tuaku memberiku pakaian kk (PR) karna memang tak punya baju lain ( aku tak menyalahkan )orang tuaku tak melarangku untuk tidak bermain seperti anak prempuan krna org tuaku TAK tahu dunia pendidikan bagi anak untuk meluruskan behaviour mereka,,dan dari beberapa temanku juga mempunyai kebiasaan nakal (ngajak mainan seks sesama jenis),dan dari pribadiku juga seolah telah ada kecintaan terhadap sesama jenis stelah aku bergaul dg mereka yg nakal dlm seks orientated,,tapi anehnya mereka yg dlu mengajaku untuk berbuat demikian,mereka bisa menikah dan suka dengan perempuan,aku yang diajak malah bertahun” usaha seolah makin dingin terhadap prmpuan,,ku sejak kecil hidup di pesantren ( panti asuhan ) untuk mlanjutkan sekolah karna orang tuaku tak punya,,yah nmnya juga pesantren tempat berkumpul dan ketika mereka mmbuka baju pke CD atau mndi telanjangan,karna mereka menganggap tidak mengapa krna ssma laki” ga malu,,bagiku sangat mnderita hdup sperti ini,harus tidur dengan mereka yg aku mnyukainya,ibarat kata ketika seorang laki” dan pr tidur bersamaan,,cobaan pun akan semakin berat untuk menghindari perbuatan yg di larang,,dan akupun harus berada dlm keadaan sperti itu betapa beratnya?? bisakah anda bayangkan ketika harus tidur bersama org yg di cintainya,dan bangun di tengah malam dan mmndangi org yg di cintainya?? ya dstulah awal dari kerusakan iman seseoarang,karna akn datang rasa belas kasih berlanjut cinta dan nafsu akn berantai mengemudikan emosi dan pikiran mereka,aku sangat lelah dan cape harus hidup sperti ini,bertahun” ku berusaha untuk mnjadi sperti mereka,tapi hnya sia” belaka,ku tak mau menerima diri ini apa adanya karna bila ku menerima diri ini apa adanya aku berada dlm posisi yg salah ( terlarang) ku mncoba mngnali siapa diriku dan berdamai untuk yg lebih baik,harus mnahan rasa cinta yg sketika harus berubah dg lara karna hukum agama dan sosial,,ku hnya berharap dengan cita”ku yg masih tersisa tuk mnghabiskan sisa hidupku di jalan yg di naungi RidhoNya amiinnn,,ya Allah ya tuhanku jika Engkau tak mnghndaki aku hidup sperti mereka,,biarkanlah aku Hidup di sisiMu dengan RidhoMu ya Rabb

  • Jono
    Reply September 4, 2011

    Jono

    thanks ya buat sharenya..
    semoga saja dengan berbagi bsa sedikit meringankan beban yang dirasakan

    klo memang butuh bantuan profesional, di kampus saya (Psikologi UI) insyaAllah bisa menerima dengan tangan terbuka

    semoga membantu

  • Reply February 16, 2012

    Merlyn Revelia

    artikel yang menarik untuk berdiskusi puanjang lebuar. hehe….
    ada satu hal yang ingin saya ketahui, apakah ada dampak negatif bagi individu yang berorientasi homoseksual itu? misalnya ketika mereka ingin punya anak, gimana prediksi perkembangan mental anaknya? apakah akan ada kebimbangan role model pada diri anak? mohon infonya. trims :)

    • Reply March 13, 2014

      atiiikaaah

      bang Ramadion kan udah bilang klo diasuh orangtua sejenis terbukti tidak menyebabkan anak tersebut menjadi homoseksual.
      trus tambahan juga, dosen saya pernah cerita klu penelitian saat ini menunjukkan bahwa anak yg diasuh orang tua homoseksual nggak beda kok dg anak2 lain yang di asuh orang tua heteroseksual. baik dalam perkembangan emosiol si anak ataupun hubungan anak dengan dengan teman sebayanya dan orang dewasa.

  • Reply July 31, 2012

    Homepage

    … [Trackback] …

    [...] Read More here: ruangpsikologi.com/homoseksual [...] …

  • Reply August 7, 2012

    forfait-mobile

    … [Trackback] …

    [...] Read More here: ruangpsikologi.com/homoseksual [...] …

  • Reply August 7, 2012

    tatuaggi

    … [Trackback] …

    [...] Informations on that Topic: ruangpsikologi.com/homoseksual [...] …

  • Reply September 1, 2012

    aldy

    seandainya satu dekade aja semua makhuk manusia terjangkit homoseksual atau lesbian, bakal musnah tuh makhluk manusia di muka bumi karena gak punya keturunan. ngerii.

  • Reply March 10, 2014

    Alnilam

    Tidak bisa dikatakan homoseksual itu terjadi karena pengaruh genetika, sehingga seolah-olah jadi homoseks itu takdir dan dianggap normal. Mana yang lebih besar pengaruhnya, biologis atau lingkungan, itu pandangan kuno. Sekarang dikatakan kedua faktor saling terkait satu sama lain, tidak bisa dipisahkan. Sekarang sedang diperdebatkan pernikahan sesama jenis, terutama di Prancis. Walaupun sudah dilegalkan masih banyak yg kontra pernikahan sesama jenis. Salah satu alasan kelompok kontra itu adalah perubahan nilai2 keluarga dan pengaruh negatif terhadap anak yg diasuh dua orangtua yang sejenis.

  • Ramadion Syam
    Reply March 13, 2014

    Ramadion Syam

    @Alnilam: Yang pasti, anak yang diasuh orangtua sejenis terbukti tidak menyebabkan anak tersebut menjadi homoseksual, kok. Coba baca buku Human Development yang ditulis oleh Diane Papalia :)

Leave a Reply