Enam Life-Skill Terpenting di Abad 21

enam-life-skill

Dua puluh tahun lalu, jika ingin sukses, kita cukup mengasah otak setajam mungkin. Jika kita pintar, dengan ciri-ciri diterima dan lulus dari fakultas favorit di universitas ternama, maka masa depan yang cerah sudah dapat dipastikan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, muncul tantangan-tantangan baru yang tak bisa dihadapi hanya dengan intelijensia. Tantangan-tantangan tersebut antara lain: derasnya arus informasi dengan tingkat kebenaran yang bervariasi, meningkatnya tuntutan kerja karena sekarang pekerjaan bisa mengejar kita ke rumah setelah memasyarakatnya smartphone, ketidakpastian ekonomi, persaingan yang ketat dan lain-lain.

Tantangan-tantangan ini harus dihadapi dengan kemampuan (life skills) yang tepat. Beberapa ahli psikologi berteori bahwa mereka sudah menemukan seperangkat life skills yang dapat menjawab kebutuhan kita ini (Galinsky, 2010). Life skills yang dibahas oleh ahli psikologi ini bisa kita dapatkan dengan mengasah fungsi eksekutif otak kita (fungsi yang mengatur dan mengkombinasikan kemampuan intelektual, sosial, emosi dan perhatian kita). Dengan meningkatnya kemampuan kita mengatur fungsi eksekutif otak kita maka kepintaran kita akan menjadi lebih optimal, karena kita dapat memakainya sesuai dengan kondisi yang dihadapi, mencari celah yang tidak terpikirkan oleh orang lain dan mengistirahatkannya pada saat harusnya tidak dipakai.

Berikut adalah 6 life skills yang essential di era informasi ini:

  1. Focus dan self control
    Saat banyak sekali distraksi dalam hidup dan tuntutan untuk multi-tasking (mengerjakan beberapa pekerjaan bersamaan), kemampuan untuk bisa fokus sangatlah penting. Jika tidak mampu untuk memfokuskan diri, maka sekian banyak tugas yang kita dapatkan tidak akan selesai dengan baik. Selain itu, ketidakmampuan diri kita untuk fokus akan menyebabkan terhambatnya perkembangan diri, karena kita tidak mendapatkan hasil yang maksimal pada saat ada kesempatan untuk belajar. 

    Tak kalah pentingnya adalah bentuk fokus yang berhubungan dengan masa depan, yaitu self-control. Maksudnya, kita harus mampu menolak keuntungan kecil yang datang lebih cepat untuk mengejar keuntungan besar yang akan datang di masa datang (misalnya, memutuskan untuk sekolah lebih tinggi daripada cepat-cepat bekerja). Dalam dunia kerja, self-control dapat berbentuk menolak tawaran yang kurang menguntungkan tetapi menguras tenaga jika ada kesempatan yang lebih menguntungkan di masa depan.Fungsi otak yang perlu diasah untuk meningkatkan fokus dan kontrol diri adalah:kemampuan memusatkan perhatian, mengingat peraturan-peraturan yang harus diikuti dan kemampuan menahan respon awal untuk meraih tujuan yang lebih besar.
    Cara melatih kemampuan ini:

    Cari tahu hal apa saja yang membantumu fokus dan menggunakannya. Jika pada saat bekerja kamu membutuhkan stimulasi lagu klasik agar lebih tenang, jangan lupa membawa radiomu kemana-mana. Tapi jika kamu membutuhkan ketenangan, mungkin ada baiknya kamu membeli headphone penangkal suara.
    Sediakan waktu untuk berhenti dan memilah informasi. Ada saatnya kamu harus melihat kembali stimulus yang kamu dapatkan dan memutuskan mana yang harus dibuang dan mana yang harus ditindaklanjuti.
    Sediakan waktu untuk istirahat.
    Latihlah kemampuan melihat jauh ke depan. Sesekali, cek pilihan untuk masa depan yang kamu miliki saat ini, kemudian bayangkan apa saja keuntungan dan kerugian dari tiap pilihan.

     

  2. Mengambil perspektif dari sisi orang lain
    Pada dasarnya, kesuksesan akan datang pada mereka yang bisa melihat kebutuhan orang lain. Saat kita sekolah, kita akan mendapatkan nilai bagus jika bisa mengerjakan tugas sesuai standar dari guru yang memberikannya. Dalam dunia kerja, kita harus mampu melihat kebutuhan orang lain sehingga bisa menyediakan barang atau jasa yang akan dipakai banyak orang. Jika kita hanya bertumpu pada intelektual kita maka ada kemungkinan usaha kita tidak membuahkan hasil. Misalnya, karena membuat suatu produk yang diatas kebutuhan masyarakat tapi akhirnya tak terbeli karena ongkos pembuatannya yang mahal.Executive functions dalam perspective taking: kemampuan mengontrol pikiran kita sehingga kita bisa mengambil cara pandang orang lain (inhibitory control), bisa melihat suatu hal dari berbagai sudut (cognitive flexibility) dan kemampuan untuk mengakui bahwa cara pandang orang lain juga valid (reflection).

    Cara melatihnya:
    Role playing.
    Diskusi tentang apa kira-kira yang dirasakan orang lain (studi kasus).
    Jika kamu berada di pihak produsan, bisa dengan mengambil data dari calon pelanggan tentang kebutuhan mereka.

  3. Komunikasi
    Kesuksesan tidak mungkin diraih sendiri. Saat kita masih berada di bangku sekolah, tugas-tugas yang memerlukan pengumpulan data yang banyak harus dikerjakan secara berkelompok. Saat kerja, untuk mendapatkan untung besar, barang atau jasa harus diproduksi secara massal. Proses ini memerlukan delegasi tugas dan kerja sama. Jika orang-orang di dalamnya tidak dapat berkomunikasi dengan baik, niscaya orang ini akan selalu menjadi mereka yang berada di bawah untuk mendapatkan instruksi dan tidak akan menjadi pemimpin. 

    Fungsi otak dalam komunikasi: kemampuan menjelaskan apa yang mau kita sampaikan dan kemampuan menahan cara pandang kita agar orang lain dapat memasukkan pendapatnya (yang sesuai dengan tujuan kita).Cara melatihnya:
    Perbanyak ikut forum diskusi (klub buku dan lain-lain).
    Belajar bahasa asing, karena dengan kembali meng-evaluasi proses berkomunikasi dalam bahasa lain, kemampuan komunikasi kita secara umum juga akan lebih tertata.
    Sesekali cek apakah struktur kata-kata kita sudah menggambarkan apa yang kita mau.
    Bermain tebak-tebakan, dengan mendeskripsikan hal yang akan ditebak.
    Asah skill komunikasi di media lain (menggambar, menari, main musik, membuat film dan lain-lain).

  4. Making connections
    Kita harus selalu membuat ide baru agar tidak tertinggal oleh kemajuan yang dibuat oleh pesaing kita. Hal ini dimulai dari kemampuan mengkategorikan hal-hal di dunia sebagai berguna dan tidak. Kemudian, langkah berikutnya adalah melihat kategori baru yang tidak dilihat orang lain. Akhirnya, kita akan memiliki kemampuan membuat koneksi baru antara satu kategori dengan kategori lain sehingga muncul inovasi baru. Salah satu contoh dari proses ini adalah, bagaimana penyedia wisata di Australia melihat hubungan antara berselancar di laut dengan gurun pasir yang banyak dimiliki Australia, sehingga akhirnya membuat objek wisata berselancar di atas pasir. 

    Cara lain dalam menemukan inovasi baru adalah dengan memecah-mecah suatu konsep untuk membangunnya kembali menjadi hal yang baru, seperti seniman daur ulang yang bisa membuat karya indah dari sampah.Fungsi otak yang dipakai dalam making connections: working memory (untuk mengingat atribut yang bisa digabungkan dengan atribut lain) dan cognitive flexibility (untuk melihat fungsi baru dari suatu konsep atau barang).

    Cara melatihnya:
    Kumpulkan beberapa benda dan cari berbagai cara untuk mengkategorikannya. Misalnya, antara apel, sendal, piring, selang dan bola. Kita bisa mulai membuat beberapa kategori dari yang sederhana seperti “barang yang berada di dalam dan di luar rumah” sampai yang kompleks seperti, “barang yang bisa dipakai untuk membuat karya seni”.
    Melatih diri dengan mencoba melihat fungsi lain dari benda-benda di sekitarmu. Misalnya, melihat baju lama sebagai bahan untuk membuat boneka kain perca.

  5. Berpikir kritis
    Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan besar. Untuk memastikan bahwa keputusan yang kita buat itu tepat, maka informasi yang mendasari keputusan tersebut harus benar. Di sini kemampuan untuk berpikir kritis berperan untuk menyaring informasi yang masuk ke dalam otak kita. 

    Berpikir kritis adalah proses menelaah kebenaran sumber informasi. Orang yang berpikir kritis tidak akan menerima begitu saja informasi yang dia dapat. Dia akan mengecek apakah sumbernya terpercaya dan datanya diambil dengan cara yang tidak benar. Dengan memiliki informasi yang akurat, prediksi ke depan yang dilakukan orang tersebut akan lebih akurat.Cara melatihnya:
    Ingatlah terakhir kali kita harus mengambil keputusan sulit lalu evaluasi apakah cara kita mengambil keputusan sudah tepat atau belum.
    Diskusikan mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar kita dan cari sumber data yang paling dipercaya.
    Analisa kembali bukti-bukti dari hal yang selama ini kita percaya begitu saja.
    Cek perkataan orang yang memiliki agenda tersembunyi. Misalnya, tokoh masyarakat yang ikut bicara saat ada kepentingan politik untuk mempengaruhi opini masyarakat.
    Ikut forum ilmiah.
    Berkunjung ke museum sains.
    Membaca dan mengkritisi perkataan para ahli.

  6. Berani menerima tantangan
    Cara pasti untuk meningkatkan keahlian dan pemasukan kita adalah dengan menyelesaikan tantangan-tantangan baru. Peningkatan keahlian ini juga akan membuat kita berada di depan dari pesaing-pesaing kita. Hanya saja, penghalang terbesar dari mengerjakan tantangan baru adalah stress. Maka, mengalahkan stress adalah salah satu langkah dalam menghadapi tantangan. Terdapat dua cara yang dapat kita pakai dalam menghadapi stress, yaitu membicarakan stres dengan orang terdekat dan bersama-sama mencari pemecahannya serta ambil waktu untuk menenangkan diri di tengah stres.

Itulah dia 6 life-skills yang akan mengoptimalkan modal IQ yang kamu miliki. Kalau kamu memiliki cara-cara lain yang bisa dipakai untuk melatih 6 life-skills ini, silakan share kiat-kiatnya di bagian komentar, ya.

*Catatan: Penulis artikel hanya membahas 6 life-skills karena beropini bahwa life skills ke-7 –“Self Directed, Engaged Learning”– lebih condong sebagai kemampuan yang harus diasah pada anak-anak.

Sumber yang dipakai:

Galinsky, Ellen. (2010). Mind in the Making: The Seven Essential Life Skills Every Child Needs*. New York: Harper Studio.

Khrisnaresa Aditya

Khrisnaresa yang biasa dipanggil Pane ini adalah seorang sarjana Psikologi lulusan Universitas Indonesia angkatan 2004. Dibekali dengan semangat dan juga studi singkat mengenai Print Media Writing & Creative Writing di Macquarie University, Sydney, Australia, ia bersama teman-teman membangun RuangPsikologi.com.

1 Comment
Leave a Reply