Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi sosial

Kenapa Manusia Melakukan Poligami

29 October 2009 2,116 views 2 Comments

poligamiSecara natural, ternyata manusia bukanlah mahluk yang setia. Tentunya definisi setia yang saya gunakan di sini adalah definisi setia yang sangat ketat, yaitu, benar-benar menutup diri kepada hubungan cinta (romantic relationship), atau hal-hal yang mungkin akan berkembang menjadi hubungan cinta, di luar hubungan yang telah dimiliki. Kenapa saya katakan manusia tidak setia? Karena secara natural, manusia cenderung memperhatikan lingkungannya untuk mencari orang-orang yang potensial untuk menjadi pasangan cintanya, walau pun pada saat itu dia sudah memiliki pasangan.

Nando Pelusi, seorang psikolog klinis, menemukan bahwa manusia seringkali menciptakan ‘asuransi cinta’ bagi dirinya. Yaitu, mendekati atau sekedar memikirkan orang-orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi pasangan dirinya, sebagai cadangan jika hubungan yang telah dimiliki manusia itu saat ini kandas. Bahkan, ditemukan bahwa ternyata banyak pemakai jasa layanan pencari pasangan di internet (online dating) sebenarnya sudah berada dalam ikatan pernikahan.

Alasan dari perilaku ini diperkirakan adalah warisan dari evolusi. Manusia, demi memastikan agar dirinya dapat berreproduksi, akan membawa dirinya sejauh mungkin dari kemungkinan tidak memiliki pasangan. Artinya, memiliki ikatan cinta dengan seseorang rupanya tidak cukup untuk membuat seorang manusia merasa aman. Dia tetap merasa harus memiliki ‘jaring pengaman’ andaikata dia terlepas dari hubungan ini.

Hanya saja, memikirkan orang lain (yang mungkin dapat menjadi pasangan anda) saat anda sudah memiliki pasangan, tidak berarti seseorang tidak dapat berkomitmen pada hubungan yang sedang dijalani. Tapi, kedua pasangan harus benar-benar memfokuskan dirinya pada hubungan yang sedang dijalani. Mereka harus secara aktif mencintai pasangannya, dan dapat menerima si pasangan apa adanya. Kalau tidak? Kita mengenal yang namanya selingkuh dan ketidaksetiaan, bukan? Apalagi, kalau mendapat sokongan dari budaya, perilaku poligamilah yang akan terjadi.

Sebagai penutup, Arriaga dan Agnew, peneliti psikologi sosial, mengatakan bahwa salah satu syarat sebuah hubungan dapat dipertahankan saat pasangan itu bertengkar adalah, bahwa orang lain yang berpotensi menjadi pasangan baru tidak “available”.

Sumber:

www.psychologytoday.com

Baron, R.A., Byrne, D., & Branscombe, N.R. (2006). Social Psychology. New York: Pearson.

Sumber Foto:

http://www.flickr.com/photos/36264112@N08/3342470227/

2 Comments »

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word