Pentingnya Pendidikan Seks untuk Anak

shutterstock_130754645-optimized

Anda, terutama yang sudah menjadi orang tua atau memiliki adik remaja, pastinya menjadi sangat khawatir ketika mendengar berita di berbagai media massa yang berkaitan dengan aktivitas seks di antara remaja, baik yang dilakukan secara konsensual maupun dengan paksaan, sudah meningkat drastis belakangan ini. Kasus terakhir yang ramai diperbincangkan adalah mengenai seorang siswi SMP berinisial SA yang menjadi korban penculikan dan pemerkosaan. Akibat peristiwa ini, orang tua SA didampingi Komnas Perlindungan Anak dan dinas pendidikan setempat mengadakan pertemuan tertutup dengan pihak sekolah untuk membicarakan nasib SA sebagai seorang siswi di tempatnya menimba ilmu.

Kasus ini hanyalah sedikit dari banyak kasus yang berkaitan dengan aktivitas seks remaja. Diperkirakan, masih ada lebih banyak kasus pemerkosaan yang dilakukan dan menimpa remaja di luar sana, belum lagi kasus video porno yang diperankan oleh siswa siswi SMP dan SMA yang semakin merebak, hingga aborsi yang beresiko membahayakan nyawa si remaja putri. Lebih tragisnya lagi, tidak sedikit juga ditemukan anak di bawah umur menjadi korban dari pelecehan seksual oleh remaja berumur belasan tahun. Bahkan, dalam beberapa kasus, terungkap bahwa pelaku adalah saudara kandungnya sendiri.

Arif Rahman Hakim, seorang pakar pendidikan, memperkirakan fenomena ini bisa terjadi karena kurangnya pendidikan seks bagi anak. Wiwid Widyastuti selaku Kepala Bidang KB BKKBN Provinsi DIY juga berpendapat serupa dan menghimbau agar pendidikan seks dapat dilakukan sejak usia dini. Beliau bahkan telah mengajukan materi pendidikan seks agar dapat diterapkan di sekolah-sekolah kepada departemen pendidikan, tapi hingga kini usulannya belum juga bisa disetujui dikarenakan muatan mata pelajaran di sekolah sudah terlalu padat.

Padahal, menurut hasil penelitian Briggs dan Hawkins, orang tua justru cenderung mempercayakan guru atau pengasuh untuk bisa melindungi si anak dari semua aktivitas seksual yang tak diinginkan. Hal ini juga disebabkan karena banyak orang tua yang memiliki pengetahuan minim mengenai cara memberikan pendidikan seks kepada anak. Akibatnya jika ini semua dibiarkan, anak-anak yang didorong oleh rasa ingin tahu mereka bisa saja mendapatkan informasi yang salah mengenai seks dari lingkungan sekitarnya dan menjadi korban dari ketidaktahuannya ini.

Orang tua, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas perkembangan kehidupan anak mereka, diharapkan bisa menyikapi hal ini dengan lebih bijaksana. Salah satunya adalah mendesak diadakannya pendidikan seks di sekolah, atau dengan memberikan pengetahuan mengenai seks kepada anak di rumah (tentunya setelah mempelajarinya dengan benar).

Selalu ada kontroversi mengenai layak atau tidaknya pendidikan seks diberikan kepada anak-anak, sehingga orang tua ragu untuk memberikannya. Dalam cara apa pendidikan seks ini menjadi layak untuk diperbincangkan? Stigma yang tersebar di masyarakat adalah bahwa seks itu urusan esek-esek sehingga hanya patut dibicarakan oleh orang dewasa yang sudah bisa berpikir mengenai “benar-salah” dan bukan untuk dibicarakan ke anak-anak yang masih polos.

Bagi Prof. Dr. Sarlito Wirawan, pendidikan seks memiliki mekanisme yang sama dengan pendidikan lainnya (pendidikan Agama dan Moral Pancasila). Pendidik harus bisa mengirimkan nilai-nilai pengetahuannya secara bertahap dan sesuai dengan perkembangan

kognitif subjek didik. Pendidikan seks harus diberikan berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat, orang tua selaku pendidik harus menekankan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Toni Ayres juga mendukung pernyataan ini, dia mengatakan bahwa pendidikan seksualitas haruslah berimbang antara membahas tentang kesenangan yang bisa mereka dapatkan di dalam berhubungan seksual dengan konsekuensi yang bisa didapatkan (infeksi menular seksual, kehamilan yang tak diinginkan, aborsi, dan lain-lain). Singkat kata, pendidikan seks bukanlah tentang mendukung anak dan remaja untuk melakukan hubungan seksual, tapi menjelaskan fungsi alami seks sebagai bagian diri mereka serta konsekuensinya jika disalahgunakan.

(Bersambung ke bagian 2: Memberikan Pendidikan Seks yang Sesuai dengan Umur Anak. Klik di sini untuk membaca artikelnya.)

Sumber yang dipakai:

Sarwono, Sarlito Wirawan (1986).Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks. Jakarta: Rajawali

Briggs, F. and Hawkins, R.M.F. (1997). Child protection: A guide for teachers and early childhood professionals. Sydney: Allen & Unwin

Susanto, Heri. dan Riza. “Kurangnya Pendidikan Seks Di Sekolah”. http://www.jogjatv.tv/berita/27/09/2012/kurangnya-pendidikan-seks-di-sekolah (diakses pada tanggal 16 Oktober 2012)

Nurochma, Itta Siti dan Azar Pungkashadi. http://www.indosiar.com/fokus/kurangnya-pendidikan-seks-tingkatkan-kriminalitas_24516.html (diakses pada tanggal 16 Oktober 2012)

Taruna, Johan dan Her. http://www.indosiar.com/fokus/pihak-sekolah-bantah-keluarkan-siswi-korban-perkosaan_99774.html (diakses pada tanggal 16 Oktober 2012)

http://charle294.wix.com/herpespictures

http://en.wikipedia.org/wiki/Fallopian_tube

http://www.telegraph.co.uk/women/sex/9761231/Sex-education-is-just-that-leave-love-out-of-it.html

 

 

Benny Prawira

Benny Prawira terdaftar sebagai mahasiswa psikologi 2011 di Universitas Bunda Mulia. Sangat menikmati topik terkait positive psychology, transpersonal psychology, human sexuality,dan suicidology. Saat ini masih menggeluti isu terkait kesehatan seksual dan kesehatan jiwa masyarakat di beberapa organisasi.

    6 Comments
    • Reply January 24, 2013

      Kevin

      Masalah utama dari pendidikan seks di Indonesia sebenernya pola pikir orang tua yang masih kolot dimana seks adalah hal yang tabu untuk dibicarakan di dalam keluarga. Saat orang tua berusaha untuk meredam topik seks, anak-anak mereka membuat lelucon seks di peer group nya dan terkadang (terutama pada laki-laki) seks sering dijadikan patokan seorang anak laki-laki itu bisa disebut dewasa dan manly

    • Reply January 24, 2013

      Kevin

      Ini pengalaman gue sendiri.

      Karena kurangnya pendidikan seksualitas di saat masa pra-pubertas, akhirnya gue menekatkan diri untuk membuka situs pornografi di usia 12 tahun dan sempat mengalami ketagihan hingga saya berusia 15 tahun.

      Ini pengalaman temen gue.

      Teman gue sudah melakukan hubungan intim dengan pacarnya, ketika mereka berusia 13 tahun juga. Untungnya tidak terjadi kehamilan, tetapi bocornya informasi tersebut membuat mereka dikucilkan di seluruh kalangan SMP-nya.

      Jadi, menurut gue karena kurangnya pendidikan seksualitas bagi anak dan remaja, mereka akan mencari cara mereka sendiri untuk mengetahui. Celakanya, remaja pra-pubertas tidak dapat mengetahui mana cara yang benar dan salah, karena kita selama ini tabu dengan seksualitas.

      Pendidikan seksualitas ini adalah salah satu langkah preventif untuk mencegah korban seperti saya dan teman saya.

    • [...] Baca juga penjelasan mengenai pentingnya memberikan pendidikan seks di sekolah di sini. [...]

    • Benny
      Reply January 26, 2013

      Benny

      Thanks to Kevin atas sharing nya. I really appreciate it. Memang masih banyak halangan untuk bisa menerapkan pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah. Meski demikian, advokasi akan pendidikan seks ini terus berusaha dilakukan oleh organisasi-organisasi yang terkait. Mari kita berharap akan adanya hasil dari advokasi ini, untuk kehidupan remaja yang lebih baik.

    • Reply February 8, 2013

      aprilia ms

      naluri seks itu alamiah. suatu hal yg wajar jika setiap manusia, ketika memasuki masa pubertas, mulai tertarik terhadapnya. saya pribadi juga mencari informasi sndr, baik dari internet maupun obrolan dgn teman2. namun, edukasi seks dari organisasi yg kompeten (mgkn agak sulit mengharapkannya ada dlm kurikulum sekolah) tetap diperlukan. sebab media seperti internet bisa menjadi bumerang jika digunakan tanpa pendampingan.

      pengalaman saya mengajar murid kelas 4, 5, dan 6 SD di sebuah bimbingan belajar membuat mata saya terbuka. betapa internet menjadi media yg begitu dekat dgn anak2 tsb namun pengaruh negatifnya yg justru lebih banyak diserap. begitupun dgn pengaruh lingkungan pergaulan anak dan remaja yg makin meluas. contohnya, seorang anak kls 6 SD sangat sulit berkonsentrasi dlm setiap mata pelajaran. ternyata krn ia terus teringat adegan film biru yg ditontonnya bersama sepupunya. seorang anak kls 6 SD lainnya dgn penuh semangat bercerita kpd teman2nya mengenai video2 bertema seks yg ia tonton di internet. belum lagi ketika mereka menyebut istilah (maaf) onani, impotensi, lesbian dsb. sungguh mengagetkan, tapi itu kenyataan. saya hanya bisa menanggapi dgn respon yg disesuaikan dgn usia mrk. dan berharap saya tdk salah dlm memberikan respon tsb.

      jika orang tua dan keluarga tidak berperan serta, maka mereka akan mencari tahu dari teman2 terdekat dan media yg paling mudah dijangkau, yakni internet. ini bukan lagi hal tabu jika kita membuka mata lebar2, baik di dunia nyata maupun dunia maya. mungkin hanya masih sulit utk dibicarakan secara terbuka krn kita belum mau berpikiran terbuka terhadap topik yg satu ini. semoga jalan keluar dari permasalahan ini lekas ditemukan.

    • Reply August 30, 2013

      Anna

      Pendidikan Seksual dan Kesehatan Reproduksi kadang-kadang seperti dua sisi mata pisau. Di satu sisi bertujuan baik, dengan memberikan informasi yang tepat dan bertanggung jawab. Tapi di sisi lain, terkadang memancing pelajar untuk mencari tahu lebih banyak, mencari tahu sendiri, atau bahkan mencoba sendiri. Menurut saya pendidikan ini hampir sama dilematisnya dengan pemberian informasi tentang narkoba.

    Leave a Reply