Menyesuaikan Pendidikan Seks dengan Umur Anak

shutterstock_132619565-optimized

Kapankah kita harus membicarakan masalah masturbasi kepada anak atau adik kita? Saat mereka umur berapakah kita harus memberi pembekalan untuk mendeteksi dan menghindari pelecehan seksual? Saat anak atau adik kita sudah sebesar apakah, waktu yang tepat untuk menyiapkan mereka akan datangnya mimpi basah dan menstruasi? Tulisan di bawah ini akan menjelaskan semua pertanyaan tersebut dengan detail.

Berikut adalah penjelasan cara-cara memberikan pendidikan seks kepada anak dan remaja sesuai dengan umur mereka.

Baca juga penjelasan mengenai pentingnya memberikan pendidikan seks di sekolah di sini.

Umur 5 tahun
Anda mungkin kaget, bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks kepada seorang anak balita? Kenyataannya, kita bisa melakukannya dengan mudah. Pada rentang umur ini, di saat mengajarkan mengenai organ tubuh dan fungsi masing-masing organ tubuh, jangan ragu juga untuk memperkenalkan alat kelamin si kecil. Saat yang paling tepat untuk mengajarkannya adalah di saat Anda sedang memandikannya. Diharapkan untuk hindari penyebutan yang dianggap tidak sopan di masyarakat untuk menyebut alat kelamin yang dimilikinya. Anda tidak perlu membahas terlalu detail mengenai jenis kelamin anak Anda atau mengajarkannya dalam kondisi belajar yang serius.

Di usia ini juga, seorang anak sudah bisa diajarkan apa itu perempuan dan laki-laki. Jadi bila Anda memiliki dua anak yang berlawanan jenis, akan lebih mudah untuk Anda menjelaskan perbedaan penis dan vagina kepadanya. Anda juga bisa memberikan penjelasan mengenai darimana bayi berasal dengan menggunakan sebuah cerita agar si buah hati bisa lebih memahami dan tertarik untuk mendengarkannya.

Ajarkan juga kepada anak bahwa seluruh tubuhnya, termasuk alat kelaminnya, adalah milik pribadinya yang harus dijaga baik-baik. Dengan demikian, anak harus diajarkan untuk tidak menunjukkan kelaminnya secara sembarangan. Tekankan kepada mereka bahwa mereka memiliki hak dan bisa saja menolak pelukan atau ciuman dan segala macam bentuk kasih sayang yang dinyatakan melalui sentuhan fisik. Hal ini menjadi penting, karena disukai atau tidak, banyak pelaku pelecehan seksual adalah orang-orang yang dekat dengan kehidupan si anak. Orang tua juga diharapkan untuk tidak memaksa seorang anak untuk memeluk atau mencium orang lain jika dia tidak menginginkannya agar si anak bisa belajar untuk menyatakan penolakannya.

Umur 6 hingga 9 tahun
mom-and-daughterAnak-anak sering sekali menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual dari orang dewasa karena ketidakberdayaan dan ketidaktahuan yang bisa dimanfaatkan dengan mudah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

Masalah utama dalam kasus pencabulan anak adalah anak kecil tidak sadar bahwa dirinya telah mengalami pencabulan, baik karena keluguan si anak atau karena pelaku berdalih bahwa hal yang dilakukan adalah tanda “kasih sayang”. Maka ada baiknya, di rentang umur ini, si kecil diajarkan mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Orang tua bisa mengajarkan anak menolak untuk membuka pakaian bahkan jika ada imbalan sekalipun atau menolak diraba alat kelaminnya oleh temannya. Anak Anda harus diajarkan untuk berteriak sekencang mungkin meminta pertolongan dan melapor ke orang tua jika orang dewasa yang berada di sekitar mereka mengancam untuk memberikan hukuman atau mengintimidasi mereka di saat mereka menolak untuk melakukan hal-hal yang menurut anak tidak nyaman untuk dilakukan.

Selain itu, di rentang umur ini, Anda bisa menggunakan hewan tertentu yang tumbuh dengan cepat dan terlihat jelas perbedaan jenis kelaminnya (seperti: anak ayam) di saat bertumbuh dewasa untuk mengajarkan mengenai perkembangan alat reproduksi. Ajaklah anak anda untuk turut mengamati perkembangannya. Jika mereka tidak terlalu memperhatikan hingga detail terkecil, Anda bisa berikan informasi lebih lanjut nanti sembari menekankan bahwa alat kelamin mereka juga akan berubah seiring mereka bertumbuh dewasa nanti.

Perlu dipahami juga bahwa setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki rentang minat yang berbeda akan seks. Ada yang tidak mau membicarakannya sama sekali, ada yang merasa terganggu akan minat mereka sendiri terhadap seks, dan ada yang sangat tertarik sekali kepada seks. Orang tua harus memperhatikan hal ini di dalam diri anaknya agar saat menyampaikan materi seksualitas, si anak tidak merasa terpojokkan, malu, bodoh, ataupun menjadi terlalu liar dalam menyikapi seks.

Umur 9 hingga 12 tahun
Berikan informasi lebih mendetail apa saja yang akan berubah dari tubuh si anak saat menjelang masa puber yang cenderung untuk berbeda-beda di setiap individu. Ajarkan kepada anak bagaimana menyikapi menstruasi ataupun mimpi basah yang akan mereka alami nanti sebagai bagian normal dari tahap perkembangan individu. Pada umur 10 tahun, sebelum menjelang masa puber, Anda sudah bisa memulai topik mengenai kesehatan alat kelamin. Pastikan juga pada anak Anda, jika dia mengikuti semua peraturan kesehatan ini, maka mereka tak perlu banyak khawatir.

Umur 12 hingga 14 tahun
Data yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2010 menunjukkan bahwa 51 persen remaja di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi telah berhubungan seksual sebelum menikah. Penulis memang tidak mendapatkan angka pasti untuk data di tahun 2012, tetapi dengan adanya berita di berbagai media massa yang menyatakan adanya peningkatan dalam tingkat aktivitas seksual remaja, maka tentunya harus ada pendidikan yang memadai untuk menanggulangi hal ini.

Dorongan seksual di masa puber memang sangat meningkat, oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengajarkan apa itu sistem reproduksi dan bagaimana caranya bekerja. Penekanan terhadap perbedaan antara kematangan fisik dan emosional untuk hubungan seksual juga sangat penting untuk diajarkan. Beritahukan kepada anak segala macam konsekuensi yang ada dari segi biologis, psikologis, dan sosial jika mereka melakukan hubungan seksual. Beritahukan juga kepada anak remaja (khususnya perempuan) bahwa menolak berhubungan seksual dengan pacar bukan menandakan bahwa dia tidak menyintai pacarnya. Justru sebaliknya, jika pacar memaksa berhubungan seksual dan marah saat tidak dituruti, itu artinya pacar si anak yang tidak menyintai si anak.

Pendidikan seks dalam rentang umur ini juga harus mulai menekankan penggunaan fungsi alat kontrasepsi sejak dini, bukan saja untuk mencegah kehamilan tapi juga infeksi menular seksual.

Di masa ini, orang tua sangat diharapkan peranannya untuk mengklarifikasi informasi yang salah mengenai kehamilan dan cara-cara menghindari kehamilan. Orang tua selain mengajarkan keterbukaan komunikasi dengan anak terutama dalam membicarakan seksualitas, juga perlu menambahkan keuntungan menghindari aktivitas seksual terlalu dini sebelum mencapai masa dewasa.

Hindari penggunaan kata-kata yang menghakimi remaja agar ia tidak merasa ragu, takut, enggan ataupun marah saat membicarakan pengalaman seksual mereka jika mereka memang pernah melakukannya. Jika anak sudah pernah melakukan masturbasi/onani, katakanlah kepadanya mengenai jumlah seharusnya mereka melakukan masturbasi/onani dengan bahasa yang tidak menghakimi. Diharapkan dengan perlakuan seperti ini, si anak bisa mulai bertanggung jawab atas tubuh mereka sendiri dan tidak merasa cemas untuk membicarakan seksualitas secara terbuka kepada orang tua.

Jika orang tua merasa agak berat untuk membicarakan topik-topik seksual dengan anak, orang tua bisa meminta bantuan psikolog atau konselor untuk 1) memberikan pendidikan seksual kepada anak dan 2) membantu orang tua merasa nyaman membicarakan topik ini. Semoga dengan artikel ini, kita bisa mencegah pelecehan seksual dan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan atau diarahkan kepada anak atau adik kita.

Sumber yang dipakai:

Auleb, Ann. (2003). Human Sexuality. San Fransisco: San Fransisco State University.

Klen, J. (1987). Scared Sexless. American Health. April, pp 83–91

Triyadi,Bogi. http://news.liputan6.com/read/308777/BKKBN.51.Persen.Remaja.Jabotabek.Tidak.Perawan (diakses pada tanggal 16 Oktober 2012)

Benny Prawira

Benny Prawira terdaftar sebagai mahasiswa psikologi 2011 di Universitas Bunda Mulia. Sangat menikmati topik terkait positive psychology, transpersonal psychology, human sexuality,dan suicidology. Saat ini masih menggeluti isu terkait kesehatan seksual dan kesehatan jiwa masyarakat di beberapa organisasi.

    7 Comments
    • [...] ke bagian 2: Memberikan Pendidikan Seks yang Sesuai dengan Umur Anak. Klik di sini untuk membaca [...]

    • Reply January 2, 2014

      ria

      mbak, saya mau tanya. kalau anak kelas 5 SD perilakunya sudah seperti orang dewasa seperti menyurug teman-teman lakinya untuk memegang buah dadanya itu termasuk permasalahan apa ya mbak? apa termasuk puber terlalu dini? selain itu dia juga sering keluar malam

      • Ramadion Syam
        Reply January 3, 2014

        Ramadion Syam

        Selamat pagi mbak Ria,

        Sebetulnya untuk tahu kenapanya, seorang psikolog harus duduk dulu bersama anak tersebut. Tapi kalau yang bisa saya perkirakan adalah sosialisasi yang salah. Mungkin anak tersebut menyontoh perilaku itu dari acara TV yang tidak diawasi oleh orang tua. Atau, ada orang-orang di dekatnya yang mengajarinya hal tersebut.

        Menurut saya, mbak Ria coba konsultasikan hal ini ke psikolog, minimal satu kali untuk tahu apa yang harus dilakukan. Karena kalau perilaku ini bertahan sampai dewasa, anak tersebut bisa melakukan aktivitas seks yang beresiko.

    • Reply April 14, 2014

      Fena fariski

      Klau Manstrubasi bagi perempuan bahaya gak ?
      kalau laki laki juga bahaya gak ?
      termasuk bahaya kesehatan dan mentalnya ada gak?
      makasih

      • Ramadion Syam
        Reply April 17, 2014

        Ramadion Syam

        Masturbasi hanya berbahaya jika: a) dilakukan berlebihan dan b) menggunakan alat yang tidak bersih.

        a) Produksi sperma laki-laki rata-rata selesai dalam 3 hari, yang membuat laki-laki akan merasakan dorongan seksual. Dorongan ini akan hilang sendiri jika sudah “mimpi basah”. Tapi, sebagian laki-laki lebih memilih untuk masturbasi, yang mana hal ini dapat dimaklumi. Jika dalam 3 hari sekali (2 minggu sekali) laki-laki masturbasi, maka masih normal. Tapi, jika sudah sangat ekstrim, misalnya 2 kali masturbasi dalam 1 hari, maka ini sudah berlebihan. Hanya saja, yang terganggu paling fokusnya dalam pekerjaan atau sekolah, secara fisik tidak ada gangguan.

        Kalau wanita, biasanya merasakan dorongan seksual saat masa subur, yaitu sekitar 1 minggu dalam sebulan. Masalah berlebihan atau tidaknya bisa diperkirakan dari hitungan di atas.

        Kembali ke masalah terganggunya fokus dalam hidup, jika seseorang sudah sangat sering masturbasi dan hanya bisa fokus pada seks, sebaiknya ia diajak berkonsultasi ke psikolog. Karena, bentuk “kecanduan” ini cukup serius.

        b) Masturbasi pasti menggunakan alat bantu, minimal tangan. Jadi, pastikan tanganmu bersih saat memilih untuk masturbasi. Atau jika kamu menggunakan alat bantu lain (flesh light, dildo, vibrator, dll), pastikan kamu mencucinya setelah dan sebelum dipakai.

    • Reply September 2, 2014

      Nur

      Salam,
      Saya masih bingung menjelaskan ttg hal ini pada anak2 saya yg 12 th. Apakah saya harus menjelaskan dengan detail bagaimana cara berhubungan dan bagaimana cara melepaskan sendiri dorongan seks tersebut? Sejauh mana saya pantas menjelaskan hal-hal tersebut dan bagaimana agar anak menjadi tidak terdorong untuk mencobanya? Terima kasih.

    • Reply October 28, 2014

      MASHUDI

      Mau tanya, anak saya (laki-laki) yang berumur 5 tahun dan 6 tahun sudah suka memegang alat kelaminnya dan memainkanya. kalau ditegor kakaknya bilang adik main geli geli… dan kalau kakaknya ditegor adiknya juga bilang yang hal sama. kami orang tua sudah memberi teguran kalau melakukan itu akan mengakibatkan “burungnya” akan sakit, kena kuman, dll.
      kira-kira ada saran yang lebih baik untuk menghentikan perilaku tersebut. dan kira2 apa resikonya.
      terima kasih

    Leave a Reply