Orang Tua & Skema Gender Anak

rpsi-anak-gender-psikologi

Pada umumnya, orang percaya bahwa laki-laki adalah makhluk yang lebih rasional daripada perempuan. Laki-laki dipahami sebagai pemimpin, seorang yang mandiri, dominan, keras, asertif, dan sejumlah sifat lainnya yang kurang lebih bertolakbelakang dengan perempuan. Perempuan dipandang sebagai kelompok yang lemah, tidak cukup rasional, dan lebih dikendalikan oleh emosi. Lebih lagi, orang memberikan label “perempuan” dan “laki-laki” pada banyak hal. Misalnya, dalam hal pekerjaan.

Pekerjaan kerah biru adalah jenis karir yang dirintis oleh laki-laki. Ambil insinyur mesin, dokter, supir, ilmuwan sebagai contoh. Sementara itu, pekerjaan karir merah muda adalah pekerjaan yang dianggap menjadi “milik perempuan”. Pekerjaan ini melibatkan kegiatan yang bersifat pengasuhan dan pendidikan, seperti guru, perawat, dan pengasuh bayi. Dalam psikologi, pemahaman akan segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan dan laki-laki ini dikenal dengan istilah peran gender.

Konsep peran gender dapat dimengerti sebagai pandangan seseorang terhadap sikap, aktivitas, dan tingkahlaku yang pantas dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Peran gender perempuan kemudian lekat dengan sesuatu yang feminin dan peran gender laki-laki lekat dengan yang maskulin. Dilihat dari sudut pandang psikologi kognitif, pemahaman seseorang tentang peran gender tertata dalam sebuah skema yang merupakan hasil interaksi kondisi intrinsik dirinya dan informasi yang tersedia di lingkungan eksternal.

Salah satu sumber informasi yang berperan besar dan penting bagi individu adalah keluarga. Sebagai salah satu institusi sosial, keluarga berperan sebagai agen yang esensial dalam melakukan sosialisasi terhadap norma sosial yang berlaku di masyarakat, termasuk sosialisasi terhadap peran gender yang ada dalam masyarakat. Mengingat keluarga adalah komunitas awal bagi individu, maka dapat dikatakan bahwa konsepsi individu tentang peran perempuan dan laki-laki bermula dari pemelajaran yang diperolehnya dalam keluarga.

Sosialisasi terhadap peran gender bermula sedini mungkin dalam keluarga. Orang tua memulai proses sosialisasi dalam bentuk tindakan-tindakan yang mengarah pada pemetaan gender. Pemetaan gender adalah suatu proses pembedaan peran gender sesuai dengan jenis kelamin. Pada saat usia anak masih relatif muda, pemetaan gender terjadi dengan mempromosikan preferensi tertentu pada anak. Membiasakan anak perempuan dengan warna merah muda dan anak laki-laki dengan warna biru adalah salah satu contohnya.

Selain itu, orang tua juga cenderung memberi label pada jenis mainan anak. Barbie adalah boneka untuk anak perempuan sementara action figures adalah boneka untuk anak laki-laki. Seringkali orang tua, terutama ayah, memberikan batasan tegas mengenai jenis mainan yang boleh dimainkan kepada anaknya, terutama kepada anak laki-laki. Sebuah penelitian di tahun 1998 menunjukkan bahwa setengah dari responden mereka yang merupakan anak laki-laki berusia empat tahun mempunyai pemahaman bahwa ayah mereka menganggap “anak laki-laki tidak baik bermain mainan anak perempuan”.

Secara khusus, orang tua melakukan sosialisasi peran gender dengan mempromosikan aktivitas yang dianggap sesuai. Misalnya, anak perempuan lebih diharapkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring dan menyapu, sementara anak laki-laki dituntun untuk melakukan pekerjaan yang lebih “jantan”.

Pada saat usia anak lebih dewasa, misalnya di usia remaja, orang tua menunjukkan lebih banyak perhatian pada aktivitas anak dan kesesuaiannya dengan gender mereka. Anak laki-laki didorong untuk terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan olahraga, sementara anak perempuan didukung aktif dalam kegiatan yang bersifat feminin seperti klub memasak atau membuat kerajinan tangan. Orang tua akan lebih khawatir apabila anak laki-lakinya tertarik pada hal-hal yang berbau “perempuan”. Sekalipun pandangan masyarakat terhadap peran gender kian fleksibel, di Indonesia sendiri laki-laki yang menari tarian “feminine” seperti ballet masih terbilang sedikit.

Proses sosialisasi peran gender yang dilakukan orang tua tidak selamanya bersifat eksplisit. Menurut penelitian, orang tua menunjukkan gaya komunikasi yang berbeda terhadap anak sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibu ditemukan lebih sering berkomunikasi dengan anak perempuan dan bersifat lebih mendukung. Selain itu, orang tua juga melakukan perbedaan terhadap pengajaran tentang emosi kepada anaknya.

Dalam berbicara kepada anak, ibu lebih sering menggunakan kata bermuatan emosi daripada ayah. Apabila terjadi proses modeling, maka anak perempuan yang menjadikan ibu sebagai model akan menunjukkan ekspresi emosi dalam bahasa lebih sering daripada anak laki-laki yang menjadikan ayah sebagai model.

Pada akhirnya, anak belajar banyak tentang pola peran gender dari proses sosialisasi yang dilakukan orang tua. Mulai dari sikap mereka terhadap aktivitas tertentu hingga gaya komunikasi. Hasil sosialisasi dari orang tua ini kemudian akan berinteraksi dengan pemelajaran anak tentang peran gender lewat media, sekolah, teman, guru, dan segala aspek lingkungan eksternal anak lainnya. Anak kemudian memperoleh suatu skema peran gender yang akan menjadi bagian dari konsep dirinya.

Lewat pemahaman ini, orang tua mempunyai pilihan sehubungan dengan mengembangkan skema gender anak. Ia dapat menjadi seorang tradisional yang sangat menekankan pada perbedaan peran laki-laki dan perempuan dan menurunkan skema tersebut pada anaknya atau ia dapat menjadi seorang yang mengembangkan konsep egaliter (kesetaraan), di mana ia menghadapkan anaknya pada pilihan untuk terbebas dari stereotip gender yang seringkali merugikan*.

*Psikologi feministik sendiri mendukung pendidikan dan pengasuhan anak yang mengarah pada sosialisasi skema gender yang bersifat nonsexist atau mendukung kesetaraan gender (egaliter). Hal ini memungkinkan seorang individu untuk berkembang sesuai dengan aspirasi yang ada dalam dirinya tanpa perlu dihalangi segregasi gender.

Melita Tarisa

Penulis adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dengan kekhususan minat di area psikologi pendidikan dan perkembangan. Selain dua area tersebut, penulis juga punya ketertarikan khusus terhadap psikologi kognitif dan eksperimen sosial.

    7 Comments
    • Reply July 29, 2009

      Lestari

      salam..
      suka banget sama r.psi ini…

      berkenaan dengan artikel diatas, saya mau tanya, apakah sosialisasi gender oleh keluarga dapat mempengaruhi orientasi seksual si anak?

      makasih..

      • Melita Tarisa
        Reply July 29, 2009

        Melita Tarisa

        Hai, Lestari.
        Glad u’re enjoying the site. :)

        “Apakah sosialisasi gender oleh keluarga dapat mempengaruhi orientasi seksual si anak?”

        Jawab saya, “Iya.”
        Pertanyaan berikutnya mungkin “Seperti apa pengaruhnya?”

        Secara ilmiah, belum ada kesepakatan khusus dan pasti dalam memandang etiologi (penyebab) orientasi seksual manusia. Ada beberapa pendapat sehubungan hal itu :

        - orientasi seksual (os) ditentukan secara biologis, yang nantinya akan membawa kita kepada penelitian perbedaan struktur otak manusia homoseksual dan heteroseksual

        - os ditentukan oleh lingkungan (environment), seperti misalnya exposure terhadap perilaku homoseksual, nilai yang dianut oleh keluarga, dan lain sebagainya (mungkin bisa dibahas dalam tulisan tersendiri -akan saya usulkan ke kontributor r.psi hehe)

        - os merupakan hasil interaksi antara faktor biologi dan lingkungan.

        Salah satu teori yang cukup hangat diperbincangkan adalah Exotic Becomes Erotic (EBE) theory yang dikeluarkan oleh salah seorang psikolog dari Cornell University.

        Teori ini diramu berdasarkan hasil beberapa penelitian terakhir yang menunjukkan bahwa sebagian besar pria maupun perempuan homoseksual cenderung berperilaku nonkonformis – gender wise (gender-nonconforming). Hanya saja, saya juga kurang informasi mengenai perilaku nonkonformis tersebut. Apakah nonkonformis dalam arti bertolak belakang dengan perilaku gendernya ataukah semata “bebas gender”?

        Menurut teori EBE, homoseksualitas muncul lewat skema berikut.

        anak berperilaku nonkonformis (anak 1) merasa berbeda dengan anak-anak lain yang berjenis kelamin sama–> perbedaan menimbulkan ketertarikan anak 1 terhadap kelompok yang “berbeda” dengan dirinya [exotic] –> ketertarikan [exotic] menimbukan psychological arousal [erotic].

        Teori ini cukup masuk akal, walaupun nilai aplikasinya dalam memahami orientasi seksual homoseksualitas masih perlu dibuktikan.

        Jadi, ya, sosialisasi gender dapat mempengaruhi orientasi seksual anak karena itu akan membuka pandangan anak terhadap berbagai macam kemungkinan, termasuk orientasi seksual. Masalah yang utama adalah bagaimana pandangan orang tua terhadap orientasi seksual itu sendiri.

        Fleksibel kah? Atau rigid?

        Saya harap jawaban saya memuaskan.
        Silahkan direspon! :) :)

    • Melita Tarisa
      Reply July 29, 2009

      Melita Tarisa

      O iya, saya lupa bilang, teori EBE itu merupakan salah satu teori pendukung pendapat ketiga (os merupakan hasil interaksi antara faktor biologi dan lingkungan).

    • Reply July 29, 2009

      clarita

      Artikel yang menarik :)
      Mau tanya, peran gender, setau saya bukankah terdiri atas feminim-maskulin, sedangkan perempuan dan laki-laki itu adalah sex (jenis kelamin)nya yah? Dalam artikel di atas, disebutkan peran gender sebagai perempuan dan laki-laki. apakah itu sama artinya dengan feminim maskulin? Karena ada, misalnya, perempuan yang maskulin atau laki-laki feminim. begitu…
      terimakasih atas responnya.

    • Reply July 29, 2009

      Lestari

      salam…

      makasih atas jawabannya. cukup memuaskan…
      Jujur, saya tertarik dengan topik gender dan seksualitas, mungkin ada yang bisa memberi saya rujukan untuk lebih mendalami topik tersebut..

      terimakasih…
      sukses terus dengan ruangpsikologi ini.. :)

    • Melita Tarisa
      Reply July 29, 2009

      Melita Tarisa

      Untuk tulisan ini sendiri saya banyak dapat informasi dari buku-buku berikut.

      - Sex and Gender : Student Projects and Exercises by Cheryl Rickbaugh (1998). Buku ini seru banget deh. Isinya sejumlah kuesioner yang bisa dipakai untuk kegiatan penelitian kecil2an. Misalnya untuk melihat pandangan orang terhadap gender-appropriate sexual behavior. Perempuan atau laki-laki yang lebih permisif terhadap aktivitas seksual, dsb.

      - Half the Human Experience : The Psychology of Women dari Janet Shibley Hyde (2006). Buku ini adalah pelengkap kegiatan2 dari buku pertama. Hasil2 kegiatan yang kita dapat dari buku pertama dapat ditemukan penjelasannya (sebagian besar) di buku ini.

      Kalo tentang gender, terutama psikologi feministik, buku “Women and Gender : A Feminist Psychology” dari Rhonda&Unger (1992). Buku ini cukup informatif soal perjalanan perempuan dilihat dari sudut pandang psikologi.

      Kalau punya referensi seru, kami dibagi juga dong. :) :)

      P.S. Ketiga buku ini available di Perpustakaan F.Psi UI-Depok.

    • Melita Tarisa
      Reply July 29, 2009

      Melita Tarisa

      Hai Clarita. :)

      Feminin dan maskulin merupakan contoh karakteristik seseorang. Karakter feminin dalam diri seseorang lekat dengan sikap yang lemah lembut dan keibuan. Sementara itu, karakter maskulin mengarah pada pribadi yang independen, agresif. Kendati karakter ini bisa berkembang pada baik laki-laki maupun perempuan, seperti halnya saya nyatakan dalam tulisan ini, “peran gender perempuan kemudian lekat dengan sesuatu yang feminin dan peran gender laki-laki lekat dengan yang maskulin.” Hal ini berlaku secara umum.

      Peran gender dalam tulisan ini didefinisikan bukan dengan membaginya menjadi dua kategori : feminin dan maskulin. Peran gender adalah “pandangan seseorang terhadap sikap, aktivitas, dan tingkahlaku yang pantas dilakukan oleh perempuan dan laki-laki.”

      Artinya, setiap orang mempunyai pandangan atau pemahaman tentang apa yang pantas dilakukan oleh perempuan, apa yang pantas dilakukan oleh laki-laki.

      Misalnya, menurut X, laki-laki seharusnya adalah seorang yang tegas, tidak kenal menyerah, dan suka olahraga. Menurutnya pula, laki-laki tidak boleh melakukan kegiatan kerajinan tangan karena itu adalah hal yang pantas dilakukan perempuan. Dalam kasus ini, X mempunyai pandangan tradisional terhadap peran gender.

      Namun, ada juga Y, yang tidak melihat ada perbedaan peran gender yang harus diambil oleh laki-laki maupun perempuan. Y mempunyai pandangan yang nontradisional terhadap peran gender.

      Setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki, mempunyai pandangan yang berbeda terhadap peran gender. Bagaimana kita menjalani peran gender sendiri dapat diukur dengan menggunakan Bem Sex Role Inventory. Hasil BSRI akan menunjukkan peran gender yang kita ambil (tentu saja batasan peran gendernya tidak menggunakan pemahaman kita, tapi mengambil pemahaman umum yang ada di masyarakat) : feminin, maskulin, androgin, atau undifferentiated.

      Hope the answer’s pleasing!

    Leave a Reply