Apa yang harus dilakukan bila anak Masturbasi?

toddler

toddler2Pernahkah Anda terbayang menangkap basah anak, adik, atau saudara kecil Anda sedang bermasturbasi? Apa reaksi Anda? Bagaimana Anda harus bersikap? Simak artikel berikut ini.

Saudara kecil saya sering melakukan masturbasi dengan cara menggosok-gosokkan alat kelaminnya ke pegangan kursi. Ia melakukan hal itu jika dirasa tidak ada orang lain yang memperhatikannya. Sebelum tidur, ia seringkali memainkan alat kelaminnya. Orang tuanya belum melakukan tindakan apa-apa karena belum tahu bagaimana cara yang bijaksana untuk menganggapinya.

Masturbasi sering dianggap hal yang tabu dan memalukan sehingga orang yang melakukannya sering dikenakan peraturan tidak tertulis yang normatif. Masalah seksual yang tabu dibicarakan secara terbuka kepada anak membuat tanggapan orang tua seringkali tidak tepat misalnya dengan mengabaikan, memarahi, mencaci maki, atau memberi kekerasan fisik seperti dipukul. Orang tua seringkali merasa bingung apakah ini wajar dalam fase perkembangannya atau sudah memasuki gangguan seksual.

Definisi Masturbasi

Masturbasi berasal dari bahasa Latin masturbatio yang berarti pemenuhan dan pemuasan kebutuhan seksual terhadap diri sendiri dengan menggunakan tangan (manuturbomanu = tangan) (Intisari, 1999).

Menurut Alfred Kinsey, masturbasi merupakan suatu bentuk rangsangan yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh kepuasan erotik. Titik erotik pada perempuan adalah klitoris dan pada laki-laki adalah penis. Rangsangan ini tidak hanya bersifat taktil (rabaan atau sentuhan) melainkan juga berkenaan dengan masalah psikis.

Dalam perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud, terdapat sebuah fase phallic yang dilewati anak pada usia tiga tahun sampai lima tahun. Erogenous zone (zona erogen) di fase ini adalah alat kelamin. Alat kelamin menjadi lebih peka terhadap stimulasi sehingga memberikan sensasi-sensasi yang nikmat bila distimulasi. Oleh karena itu, anak-anak di usia ini seringkali menstimulasi alat kelamin mereka sendiri untuk memperoleh kenikmatan (masturbasi). Frekuensi dari perilaku ini bisa terjadi satu minggu sekali hingga beberapa kali dalam sehari. Secara umum, ini terjadi ketika anak mau tidur, bosan, sedang menonton televisi, atau sedang dalam tekanan (stres). Perlu diketahui bahwa seorang anak di fase phallic yang melakukan masturbasi bukanlah didorong oleh pikiran kotor ataupun moralitas yang rendah. Mereka melakukan itu semata-mata sebagai reaksi alamiah untuk melakukan eksplorasi dan alat kelamin mereka menjadi peka.

Apa yang harus saya lakukan?

Anda tidak perlu panik seperti berteriak, memarahi, atau memukul, ketika menemukan anak Anda masturbasi. Ia sedang mengeksplorasi alat kelaminnya maka yang harus orang tua lakukan adalah mengendalikan kapan perilaku tersebut terjadi. Katakan pada anak Anda bahwa ini tidak apa-apa tapi hal yang pribadi seperti ini tidak boleh dilakukan di depan orang lain misalnya hanya boleh dilakukan di kamar. Namun orang tua perlu berhati-hati dan jangan dibiarkan begitu saja karena anak akan berpikir bahwa orang tua memperbolehkan hal yang dilakukannya.

Cara mengendalikan masturbasi lainnya adalah dengan cara mengalihkan perhatiannya. Libatkan ia dalam aktivitas yang harus menggunakan tangan misalnya bermain play dough, membuat karya dari lego, dan lainnya. Orang tua juga bisa membacakan buku sebelum tidur agar perilaku masturbasi anak menjadi teralih. Selain itu jika hal ini terjadi di sekolah, orang tua harus mengkomunikasikan kepada guru di sekolah untuk melibatkan anak secara aktif dalam proses belajar ketika perilaku tersebut muncul.

Tingkatkan kontak fisik dengan anak Anda. Beberapa anak akan mengurangi perilaku masturbasinya ketika mereka mendapatkan pelukan yang penuh afeksi dari orang tua sepanjang hari. Yakinkanlah bahwa anak Anda menerima setidaknya satu jam per hari waktu yang berkualitas bersama Anda.

Masturbasi adalah hal yang normal. Masturbasi menjadi tidak normal ketika dilakukan di tempat umum ketika mereka sudah masuk umur lima atau enam tahun. Ini bukan berarti anak Anda memiliki gangguan seksual, kecuali jika orang tua bertindak berlebihan dan membuat mastrubasi menjadi hal yang kotor dan dosa akan mempengaruhi kondisi emosional anak seperti perasaan bersalah dan sexual hang-ups.

Nia Janiar

Penulis adalah seorang sarjana Psikologi dari Universitas Pendidikan Indonesia. Perkenalannya dengan dunia psikologi membuat ia sempat terjun pada lembaga sosial masyarakat tentang HIV/AIDS dan anak jalanan.

    4 Comments
    • Reply October 12, 2009

      Putra

      Sekarang bagaimana ya dengan anak yg usianya sudah agak lebih tua (di atas 5 tahun) dimana faktor insting (versi Freud) ditambah dengan copying dari lingkungan sekitarnya (seperti film, internet, teman, dsb yg mana tentu kita sulit mengontrolnya di masa skrg ini) ?
      Terlebih “diperparah” dengan kondisi tuntutan pekerjaan orangtua saat ini yang untuk mampu menyediakan 1 jam sehari saja memperhatikan anak, sulitnya bukan main…

    • Reply October 12, 2009

      Jo

      Maaf, saya tdk melihat apa yg salah dg masturbasi slama si anak tahu bahwa melakukan hal itu didepan publik adlh melanggar norma susila yg brlaku di masyarakat. Jd hrus dilakukan tdk didepan umum. soal dosa atw tidak…. Apa ada survey yg menyatakn bhw anak yg masturbasi sjk kecil besarnya mengadopsi freesex life style atw tdk perawan lg??…maaf lagi, pria n wanita dewasa pun mlakukan masturbasi bhkan dilakukn dg sengaja krn jauh dari istri/suami. Jd ini malah brdampak positif. bgmana kalo si anak tanya, knpa ia tdk boleh melakukan masturbasi sdg ibu/ayahnya boleh???…. jgn ajarkn anak diskriminasi atw perlakukan mrka sbg anak bodoh hnya krn mrka msih kecil. Tp beri pengertian knpa n bgmana bisa trjadi. pendidikan seks dr usia dini jauh lbih baik drpd ortu yg sok bijaksana melarang jgn begini n jgn bgitu. anak tdk dpt jwbn yg memuaskn dr ortu psti cari di tmpt lain. N ini adlh kesalahan fatal dr para ortu2 dg budaya Indonesia yg trtutup.

    • Reply October 14, 2009

      Putra

      Mungkin yang dimaksudkan oleh artikel ini & yg jg saya tangkap adalah ketika perilaku masturbasi menjadi sesuatu yg berlebihan di luar proporsinya. Selain itu bisa jadi perilaku ini tidak lagi sekedar sebagai sebuah penyaluran hasrat biologis, tapi menjadi sebuah pelarian dari kurangnya afeksi atau sebagai bentuk kurang “terampilnya” anak dalam mengendalikan id-nya. Jadi bukannya melarang perilaku ini tapi lebih mengarahkan anak untuk belajar mengendalikannya secara natural.

    • Nia Janiar
      Reply October 14, 2009

      Nia Janiar

      Setuju dengan Putra.

    Leave a Reply