Home » Featured, Headline, Psikologi Perilaku Seksual

Jangan takut berfantasi seksual

30 January 2010 481 views No Comment

2584513091_28494c1d19Pada tulisan sebelumnya, ‘Tentang masturbasi yang mungkin (tidak) anda ketahui”, saya telah menjelaskan bahwa masturbasi dilakukan dengan berfantasi tentang perilaku seksual. Pada tulisan ini, saya akan menjelaskan lebih dalam mengenai fantasi seksual itu sendiri. Ketika berfantasi, individu bebas ‘melakukan apa saja’ yang menjadi kehendaknya. Individu juga dapat menjadi ‘egois’ karena tidak harus memikirkan kepentingan pasangan ataupun pendapat orang lain, (Wilson, dalam Wilson, 1997).

Munculnya pikiran, imajinasi, fantasi yang berkaitan dengan perilaku seksual banyak dipengaruhi oleh hormon testosteron. Hormon testosteron sendiri dimiliki oleh pria dan wanita. Meskipun jumlahnya lebih banyak dimiliki oleh pria, namun fantasi seksual tidak hanya dimiliki pria. Talbot dkk (dalam Meuwissen dan Over, 1991) menemukan bahwa 90% wanita berfantasi tentang perilaku seksual untuk meningkatkan hasrat seksual mereka.

Secara biologis, pria mampu menghasikan sperma dalam jumlah yang tidak terbatas sedangkan wanita memiliki sel telur yang lebih sedikit. Symons (dalam Wilson, 1997) berpendapat bahwa kedua hal tersebut mempengaruhi fantasi seksual yang dimiliki pria dan wanita. Pria lebih banyak berfantasi tentang pasangan baru atau melakukan group sex (melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu wanita) karena kemampuannya untuk membuat hamil beberapa wanita secara bersamaan. Sedangkan wanita lebih banyak berfantasi tentang pasangan yang berkualitas (memiliki status sosial yang tinggi, berpenghasilan tinggi, setia) karena keterbatasannya bereproduksi. Wanita cenderung mencari pasangan yang bisa ’membuahi’, merawat sel telur mereka yang jumlahnya sedikit tersebut. Hal ini mungkin bisa dilihat dari fenomena groupies didalam dan luar negeri, dimana banyak fans wanita yang ‘rela’ melakukan apa saja untuk bertemu dan dekat dengan selebritis, karena selebritis dianggap sebagai pasangan yang layak dan mampu merawat sel telur mereka.

Meuwissen dan Over (1991) meneliti 110 wanita heterosexual dengan rata-rata usia 26 tahun yang aktif secara seksual untuk mengetahui fantasi seksual apa yang paling mempengaruhi hasrat seksual wanita. Melalui hasil penelitian tersebut diketahui bahwa wanita yang merasa ’puas’ dengan kehidupan seksualnya, wanita yang tidak memiliki masalah seksual, dan wanita yang memiliki skor femininitas tinggi menganggap bahwa fantasi yang paling meningkatkan hasrat seksual mereka adalah fantasi yang berkaitan dengan organ genitalia, seperti saat di-oral oleh pasangan atau saat melakukan hubungan seksual.

Para wanita yang berusia di bawah 26 tahun dan memiliki skor femininitas agak tinggi menganggap bahwa fantasi yang paling menggairahkan adalah fantasi yang berkaitan dengan keintiman. Contohnya, membayangkan sedang berduaan dengan pasangan di tempat tidur, bermanja-manjaan dengan pasangan, mengusap-usap rambut pasangan (Meuwissen dan Over, 1991). Hal tersebut didukung oleh Ellis dan Symons; Wilson (dalam Wilson, 1997) yang menjelaskan bahwa wanita lebih banyak berfantasi tentang sentuhan-sentuhan yang menunjukkan keintiman serta sisi emosional ketika melakukan hubungan seksual. Wanita juga diketahui dua kali lebih banyak berfantasi melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang disayangi dalam situasi yang romantis dibandingkan pria.

Para wanita di bawah 26 tahun yang sedang menggunakan pil kontrasepsi dan paling sedikit melakukan masturbasi menganggap bahwa fantasi yang paling menggairahkan adalah fantasi menjadi partner yang dominan atau sexual power fantasy; dimana ia melakukan sexual intercourse dengan orang terkenal, menangkap seorang pria dan memaksanya melakukan seks, melakukan hubungan seks di tempat umum, dsb (Meuwissen dan Over, 1991). Jika dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa wanita lebih ingin menjadi partner yang ’dominan’, hal tersebut bertolak belakang dengan hasil penelitian Wilson (dalam Wilson, 1997). Berdasarkan hasil penelitiannya, wanita lebih ingin menjadi ’korban’ ketika melakukan hubungan seksual. Mereka cenderung berfantasi tentang partner yang ’dominan’, ’powerful’, ’forceful’. Melalui penelitiannya, diketahui pula fantasi seperti itu lebih banyak dilakukan oleh wanita dibanding pria.

Bagi para wanita yang paling aktif secara seksual, wanita yang memiliki pasangan tetap, dan wanita yang paling sedikit bermasturbasi, fantasi yang paling menggairahkan adalah forbidden sexual activity (seperti melakukan seks dengan pasangan sambil diperhatikan orang lain, masturbasi di hadapan pasangan, melakukan sexual intercourse dengan orang asing).

Penjelasan di atas memang lebih banyak membicarakan fantasi seksual wanita karena menurut Wilson (1997), para pria umumnya lebih banyak berfantasi tentang karakteristik fisik dari pasangan seksualnya ketika berfantasi. Contohnya, ingin melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang memiliki bentuk tubuh tertentu, berdada besar, pinggang kecil, wajah cantik, dsb. Satu hal lain yang perlu diingat adalah pria lebih banyak berfantasi tentang wanita yang berada di sekitarnya, sedangkan wanita meskipun menginginkan intimacy mereka juga sering berfantasi tentang pasangan yang memiliki status sosial tinggi.

Kebanyakan dari kita mungkin membayangkan bahwa individu yang sering berfantasi adalah individu yang tidak aktif secara seksual. Namun, data dari Leitenberg dan Henning (dalam Doskoch, 2009) menjelaskan bahwa individu yang sering berfantasi ternyata lebih sering melakukan hubungan seksual, lebih banyak terlibat dalam berbagai aktivitas seksual, memiliki lebih banyak pasangan, dan lebih sering melakukan masturbasi dibanding individu yang tidak sering berfantasi. Fantasi seksual juga diketahui memiliki hubungan yang signifikan dengan sehatnya kehidupan seksual. Dengan adanya penemuan tersebut, Doskoch (2009) menyimpulkan bahwa fantasi seksual bukanlah hal yang aneh. Hal yang aneh adalah ketika seseorang tidak memiliki fantasi seksual. Lebih lanjut diketahui hanya sekitar 5% pria dan wanita yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki fantasi seksual.

Data-data di atas merupakan data yang diperoleh dari berbagai penelitian yang dilakukan di luar Indonesia. Mengacu pada perbedaan budaya antara Indonesia dan negara tempat penelitian dilakukan, maka tidak semua penjelasan di atas dapat dikatakan ’cocok’, ’sesuai’ untuk masyarakat Indonesia. Bagaimana dengan fantasi Anda?


Nova Ariyanto JoNo

Doskoch, P. 2009. The safest sex. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/articles/200910/the-safest-sex?page=2 tanggal 06 Januari 2010.

Meuwissen I., & Over, R. (1991). Multidimensionality of the content of female sexual fantasy. Behar. Res. Thu. Vol. 29, No. 2, pp. 179-189, 1991.

Wilson, G.D. (1997). Gender differences in sexual fantasy: an evolutionary analysis. Person. Individ. Diff Vol. 22, No. I. pp. 27-31, 1997.

Picture from http://www.flickr.com/photos/annatheodora/2584513091/

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word