<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Hubungan romantis via internet</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 03:37:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: merlyn</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet/comment-page-1#comment-1336</link>
		<dc:creator>merlyn</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 07:30:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=964#comment-1336</guid>
		<description>saya punya asumsi tersendiri tentang hal ini. orang yang memiliki hubungan romantis di internet bisa jadi karena dia sulit mendapatkan orang yang ia inginkan di dunia nyata (contohnya ingin mendapatkan pasangan bule tetapi di lingkungannya tidak memungkinkan). selain itu, bisa jadi orang tersebut memiliki karakter yang ingin mendapat persetujuan melulu. saya sering menjumpai orang yang faking good kalau ia di internet. jadi, kita senang jika ada orang lain yang memuji ataupun yang setuju dengan opini kita dan itu sulit kita dapatkan jika kita berada di lingkungan nyata. mohon koreksi saya jika ada kesalahan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya punya asumsi tersendiri tentang hal ini. orang yang memiliki hubungan romantis di internet bisa jadi karena dia sulit mendapatkan orang yang ia inginkan di dunia nyata (contohnya ingin mendapatkan pasangan bule tetapi di lingkungannya tidak memungkinkan). selain itu, bisa jadi orang tersebut memiliki karakter yang ingin mendapat persetujuan melulu. saya sering menjumpai orang yang faking good kalau ia di internet. jadi, kita senang jika ada orang lain yang memuji ataupun yang setuju dengan opini kita dan itu sulit kita dapatkan jika kita berada di lingkungan nyata. mohon koreksi saya jika ada kesalahan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mantan Kekasih yang (Sulit) Dilupakan &#124; RuangPsikologi.Com Webzine Psikologi Modern</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet/comment-page-1#comment-1122</link>
		<dc:creator>Mantan Kekasih yang (Sulit) Dilupakan &#124; RuangPsikologi.Com Webzine Psikologi Modern</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 13:26:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=964#comment-1122</guid>
		<description>[...] mudah untuk menghubungi mantan kekasih kita dibanding mencari kekasih yang baru. Jika dalam artikel sebelumnya saya menjelaskan media internet sebagai akses untuk mencari pasangan baru, internet disisi lain juga [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] mudah untuk menghubungi mantan kekasih kita dibanding mencari kekasih yang baru. Jika dalam artikel sebelumnya saya menjelaskan media internet sebagai akses untuk mencari pasangan baru, internet disisi lain juga [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Waspadai Ranjau Cinta yang Tersebar di Internet &#171; Internet Sehat</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet/comment-page-1#comment-717</link>
		<dc:creator>Waspadai Ranjau Cinta yang Tersebar di Internet &#171; Internet Sehat</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 01:47:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=964#comment-717</guid>
		<description>[...] Penulis: Nova Ariyanto JoNo @ RuangPsikologi.com, diambil dari sumber aslinya yang berjudul Hubungan Romantis via Internet [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Penulis: Nova Ariyanto JoNo @ RuangPsikologi.com, diambil dari sumber aslinya yang berjudul Hubungan Romantis via Internet [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jono</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet/comment-page-1#comment-682</link>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 05:33:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=964#comment-682</guid>
		<description>azzan
ini ada beberapa tambahan: 
Scramaglia (2002)menemukan bahwa pada awalnya beberapa dari mereka yang menggunakan internet untuk mencari pasangan bisa berawal dari rasa ingin tahu, mencari hiburan, karena mereka memang tipe individu yang 'pemalu'. Pada beberapa kasus partisipan penelitian menjelaskan bahwa mereka melakukan hal tersebut karena ingin keluar dari kehidupan mereka yang menjemukan: hidup dikota kecil, tidak ada kegiatan berarti, tidak mengenal orang-orang yang menarik, kesepian, merasa homesick, sedang tidak akur dengan pasangan. 

Mereka pada dasarnya hanya ingin bertemu orang baru. Karena kemudahan yang diberikan internet mereka merasa bisa berada di dua tempat sekaligus sehingga bertemu orang-orang baru tidak serepot sebelumnya.

Tapi lagi-lagi, saya menekankan bahwa hasil penelitian diatas merrupakan hasil penelitian yang dilakukan di Italia. Berdasarkan diskusi ringan yang pernah saya lakukan dengan beberapa teman yang berhubungan romantis via internet, saya melihat beberapa kesamaan hasil penelitian tersebut disini. Satu yang paling jelas terlihat adalah karena mereka merasa kesepian, walaupun teman saya tidak bisa dibilang tidak punya teman. Ia merasa lebih mudah menceritakan sesuatu kepada orang lain yang bisa memberi masukan secara objektif. Dan hal tersebut kemudian mengarah kembali pada tingkat self-disclosure yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Semoga membantu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>azzan<br />
ini ada beberapa tambahan:<br />
Scramaglia (2002)menemukan bahwa pada awalnya beberapa dari mereka yang menggunakan internet untuk mencari pasangan bisa berawal dari rasa ingin tahu, mencari hiburan, karena mereka memang tipe individu yang &#8216;pemalu&#8217;. Pada beberapa kasus partisipan penelitian menjelaskan bahwa mereka melakukan hal tersebut karena ingin keluar dari kehidupan mereka yang menjemukan: hidup dikota kecil, tidak ada kegiatan berarti, tidak mengenal orang-orang yang menarik, kesepian, merasa homesick, sedang tidak akur dengan pasangan. </p>
<p>Mereka pada dasarnya hanya ingin bertemu orang baru. Karena kemudahan yang diberikan internet mereka merasa bisa berada di dua tempat sekaligus sehingga bertemu orang-orang baru tidak serepot sebelumnya.</p>
<p>Tapi lagi-lagi, saya menekankan bahwa hasil penelitian diatas merrupakan hasil penelitian yang dilakukan di Italia. Berdasarkan diskusi ringan yang pernah saya lakukan dengan beberapa teman yang berhubungan romantis via internet, saya melihat beberapa kesamaan hasil penelitian tersebut disini. Satu yang paling jelas terlihat adalah karena mereka merasa kesepian, walaupun teman saya tidak bisa dibilang tidak punya teman. Ia merasa lebih mudah menceritakan sesuatu kepada orang lain yang bisa memberi masukan secara objektif. Dan hal tersebut kemudian mengarah kembali pada tingkat self-disclosure yang sudah dijelaskan sebelumnya.</p>
<p>Semoga membantu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: azzam</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/hubungan-romantis-via-internet/comment-page-1#comment-681</link>
		<dc:creator>azzam</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 14:51:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=964#comment-681</guid>
		<description>apakah mungkin jika kita mengaitkan sejumlah orang yang berpindah dari dunia nyata mengisi ruang maya dengan motif kekecewaan? kekecewaan terhadap dunia nyata. karena saat saya membaca keseluruhan tulisan di atas. penulis menempatkan motif 'keintiman' sebagai faktor penarik,di titik ini saya mencoba menempatkan fenomena cyber love sesuai nalar. dan yang mengganggu dari konsep fenomena di atas adalah tidak di kaitkan permasalahan dengan konsep dunia maya itu sendiri. saya coba jabarkan agar pertanyaan saya jadi lebih bisa di mengerti.

kita semua sepakat dunia maya dan dunia nyata adalah dua jenis dunia yang berbeda. seperti di tulis di atas fenomena dunia maya yang semakin semarak karena berdasarkan motif "tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi". di sini saya setuju. namun, yang juga harus di perdalam adalah pemahaman dengan dunia maya.dunia maya hadir bukan tanpa pembelajaran. komputer,email,keyboard,tata cara penggunaan,dan lain sebagainya butuh waktu untuk di mengerti sehingga nanti para pengguna dapat menunaikan rutinitas dunia maya sesuai target kenyamanan yang ingin mereka capai. jadi perpindahan dari dunia nyata ke dunia maya adalah perpindahan dari 'yang telah terbiasa' menuju suatu 'dunia antah'

saya pun sepakat dengan penulis perihal dunia maya yang menghasilakan "tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi" karena saya dan penulis telah bergabung dalam dunia maya. lalu sebagian orang yang baru akan masuk kedunia maya,tentunya belum mengenal dampak yang saya kutip lagi dari atas "tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi"

jadi kembali lagi ke pertanyaan saya di atas,apakah bisa di kaitkan fenomena dunia maya dewasa ini dengan motif kekecewaan pada dunia nyata? saya akui saya berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. jadi masukan dari teman-teman di sini bagi saya adalah nilai pengetahuan yang tak terhingga.

karena saya percaya banyak orang mencari keintiman di dunia maya-mengutip percakapan di film Deception 
'intimacy without intricacy'</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>apakah mungkin jika kita mengaitkan sejumlah orang yang berpindah dari dunia nyata mengisi ruang maya dengan motif kekecewaan? kekecewaan terhadap dunia nyata. karena saat saya membaca keseluruhan tulisan di atas. penulis menempatkan motif &#8216;keintiman&#8217; sebagai faktor penarik,di titik ini saya mencoba menempatkan fenomena cyber love sesuai nalar. dan yang mengganggu dari konsep fenomena di atas adalah tidak di kaitkan permasalahan dengan konsep dunia maya itu sendiri. saya coba jabarkan agar pertanyaan saya jadi lebih bisa di mengerti.</p>
<p>kita semua sepakat dunia maya dan dunia nyata adalah dua jenis dunia yang berbeda. seperti di tulis di atas fenomena dunia maya yang semakin semarak karena berdasarkan motif &#8220;tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi&#8221;. di sini saya setuju. namun, yang juga harus di perdalam adalah pemahaman dengan dunia maya.dunia maya hadir bukan tanpa pembelajaran. komputer,email,keyboard,tata cara penggunaan,dan lain sebagainya butuh waktu untuk di mengerti sehingga nanti para pengguna dapat menunaikan rutinitas dunia maya sesuai target kenyamanan yang ingin mereka capai. jadi perpindahan dari dunia nyata ke dunia maya adalah perpindahan dari &#8216;yang telah terbiasa&#8217; menuju suatu &#8216;dunia antah&#8217;</p>
<p>saya pun sepakat dengan penulis perihal dunia maya yang menghasilakan &#8220;tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi&#8221; karena saya dan penulis telah bergabung dalam dunia maya. lalu sebagian orang yang baru akan masuk kedunia maya,tentunya belum mengenal dampak yang saya kutip lagi dari atas &#8220;tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi&#8221;</p>
<p>jadi kembali lagi ke pertanyaan saya di atas,apakah bisa di kaitkan fenomena dunia maya dewasa ini dengan motif kekecewaan pada dunia nyata? saya akui saya berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. jadi masukan dari teman-teman di sini bagi saya adalah nilai pengetahuan yang tak terhingga.</p>
<p>karena saya percaya banyak orang mencari keintiman di dunia maya-mengutip percakapan di film Deception<br />
&#8216;intimacy without intricacy&#8217;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

