Home » Essay, Featured, Headline, Lain-lain, Psikologi sosial

Hubungan romantis via internet

27 February 2010 2,557 views 9 Comments

Online Dating“Nt, seorang gadis ABG yang dilaporkan hilang sejak Sabtu (6/2/2010) malam hingga Senin malam ini, belum juga ditemukan… Ia diduga dibawa pergi salah satu teman pria yang dikenalnya melalui jejaring sosial Facebook…” http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/08/21171131/Hilang.Tiga.Hari..Nt.Belum.Ditemukan

Berita seperti di atas memang sering terdengar beberapa hari ini. Internet dengan segala kemudahannya seakan-akan mampu menyediakan akses untuk mendapatkan cinta. Melalui situs sosial yang sedang banyak digunakan masyarakat, banyak individu mencoba peruntungannya untuk mencari calon pasangan. Namun, internet dengan segala kemudahannya juga memiliki sisi tajam, salah satunya seperti kasus yang sedikit telah dijabarkan. Meskipun tidak sedramatis kasus di atas, cukup banyak pasangan yang berkenalan dan memiliki kisah cinta melalui internet.

Banyak yang berpendapat bahwa sebuah hubungan idealnya dilakukan secara langsung, tidak melalui layar computer. Namun bagaimana dengan hubungan cinta via internet yang saat ini sudah banyak dilakukan masyarakat? King, Ausin-Oden, dan Lohr (2009) menjelaskan bahwa dalam setiap hubungan pada dasarnya semua individu memiliki kecenderungan untuk mencari reward (ganjaran / akibat) yang positif. Jika usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan reward yang diterima, maka biasanya hubungan tersebut akan berakhir. Seperti saat salah satu pihak merasa bahwa apa yang dilakukan untuk menyenangkan pihak lain hanyalah sebuah hal yang sia-sia. Pasangan justru tidak mengapresiasi segala yang telah dilakukan, bukan kasih sayang yang diperoleh tapi hanya respon dingin yang diterima. Hal tersebut tidak hanya terjadi di dunia nyata, di dunia maya pun hal tersebut berlaku. Oleh karena itu King dkk berpendapat bahwa hubungan yang terjalin via internet tidak jauh berbeda dengan yang terjalin di dunia nyata.

Melalui penelitiannya, Scramaglia (2002) menemukan bahwa mereka yang menjalin hubungan melalui internet memiliki tingkat keintiman serta kepercayaan yang lebih besar dibandingkan mereka yang berhubungan di dunia nyata. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Pornsakulvanich, Haridakis, dan Rubin (2008) yang menjelaskan bahwa pengguna media internet menunjukkan tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi kepada pasangan online-nya. Hal tersebut bisa saja muncul dengan anggapan bahwa akan lebih mudah untuk kita menceritakan sesuatu kepada orang asing yang tidak akan kita temui. Pornsakulvanich (2008) juga menjelaskan bahwa keterbukaan dengan pasangan akan membuat hubungan yang dijalankan semakin baik.

Meskipun demikian, Scramaglia (2002) menemukan bahwa hubungan yang dimulai via internet kebanyakan tidak bertahan lama. Hayhoe (dalam Scramaglia, 2002) menjelaskan bahwa 70 % pasangan di Australia yang memulai hubungannya via internet hanya bertahan selama beberapa bulan. Sedangkan di Itali, jumlah tersebut meningkat menjadi 80 % saat pasangan melakukan ‘kopi darat’ atau bertemu dengan pasangan internetnya. Sayang sekali saya tidak bisa menemukan studi yang menjelaskan hal tersebut di Indonesia.

Hal lain yang saya temukan adalah mengenai karakteristik dari mereka yang memulai hubungan via internet. Scramaglia (2002) yang melakukan penelitiannya di Itali dengan subyek penelitian pria dan wanita usia 16 sampai 34 tahun menemukan bahwa 54% dari mereka yang memulai hubungan hubungan via internet adalah pelajar dan 32% dari mereka merupakan pekerja. Hampir seluruh partisipan pernah menjalani pendidikan di SMA. Latar belakang mereka pun bervariasi, dari berbagai kelas sosial dan berbagai level pekerjaan. Empat puluh persen di antara mereka masih melajang (single), 38 % sudah bertunangan, tinggal bersama pasangan, menikah, atau seudah bercerai.

Saya sering mendengar pendapat bahwa yang menggunakan internet adalah individu yang ‘kuper’, tidak punya teman, dan sebagainya. Pendapat tersebut juga dikemukakan Caplan; Morahan-Martin dan Schumacher (dalam Pornsakulvanich, 2008). Mereka menemukan bahwa orang-orang yang kesepian lebih banyak menggunakan internet dibanding mereka yang tidak kesepian. Interaksi online menurut orang-orang kesepian dirasa lebih ‘aman’ dan rewarding dibanding interaksi sosial didunia nyata. Hal tersebut tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan Scramaglia (2002), ia menemukan bahwa 60% dari mereka memiliki banyak teman dan hanya 8 % dari mereka yang tidak memiliki banyak teman.

Seperti kutipan di awal tulisan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa facebook tampaknya merupakan salah satu situs sosial yang sedang populer saat ini. Melalui facebook juga muncul rasa ketertarikan dan mungkin perasaan suka. Satu fakta atau ‘tips’ yang saya temukan adalah individu yang membuat profil yang melebih-lebihkan penampilan (seperti memasang foto orang lain), melebih-lebihkan status ternyata lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kekasih via internet. Hal lain yang dianggap mengganggu dan sering terjadi di banyak teman wanita saya adalah kiriman pesan (message) melalui inbox, wall, ataupun email yang isinya mengajak kenalan dan berharap mendapat tanggapan (Witty, 2008).

Saya memang tidak mempunyai data tentang jumlah pasangan yang memulai hubungan via internet. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa internet memang memberi banyak kemudahan, tidak terkecuali dalam hubungan romantis. Jika berkaca pada kasus diawal tulisan ini, kita juga harus berhati-hati dalam menggunakan internet sehingga terhindar dari kasus serupa.

Nova Ariyanto JoNo

Sumber:

Hilang tiga hari, Nt belum ditemukan. Diambil online dari http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/08/21171131/Hilang.Tiga.Hari..Nova.Belum.Ditemukan pada 20 Februari 2010


Pornsakulvanich, V., Haridakis, P., & Rubin, A.M. 2008. The influence of dispositions and Internet motivation on online communication satisfaction and relationship closeness. Computers in Human Behavior 24 (2008) 2292–2310

Scramaglia, R. 2002. Love and the web. European Review, Vol. 10, No. 3, 317–338

Whitty, M.T. 2008. Liberating or debilitating? An examination of romantic relationships, sexual relationships and friendships on the Net. Computers in Human Behavior 24 (2008) 1837–1850

Image from http://www.flickr.com/photos/34207237@N04/4315865952/

9 Comments »

  • bagaskece said:

    coba baca buku A. Ben-Ze’ev (2004) yg jdlnya “Love Online: Emotions on the Internet” deh..
    di situ lmyn bagus pembahasannya ttg percintaan di dunia maya
    kbtlan gw pnh bikin tugas ttg perselingkuhan melalui internet
    msh byk yg bs digali ttg “why” fenomena cinta di internet ini terjadi

  • Jono (author) said:

    kayaknya pernah liat
    di perpus psiko ui apa ya?
    thanks Gas

  • bagaskece said:

    iya, wkt itu gw bacanya dr buku perpus psiko
    dia membahasnya pake pendekatan teori cintanya sternberg (intimacy, passion, commitment) dan dikemas dgn bahasa yg ckp menarik dan ringan
    gw kyk lg promosi buku nih
    hahaha

  • Jono (author) said:

    hahahaha
    nnti gw coba baca dah

  • azzam said:

    apakah mungkin jika kita mengaitkan sejumlah orang yang berpindah dari dunia nyata mengisi ruang maya dengan motif kekecewaan? kekecewaan terhadap dunia nyata. karena saat saya membaca keseluruhan tulisan di atas. penulis menempatkan motif ‘keintiman’ sebagai faktor penarik,di titik ini saya mencoba menempatkan fenomena cyber love sesuai nalar. dan yang mengganggu dari konsep fenomena di atas adalah tidak di kaitkan permasalahan dengan konsep dunia maya itu sendiri. saya coba jabarkan agar pertanyaan saya jadi lebih bisa di mengerti.

    kita semua sepakat dunia maya dan dunia nyata adalah dua jenis dunia yang berbeda. seperti di tulis di atas fenomena dunia maya yang semakin semarak karena berdasarkan motif “tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi”. di sini saya setuju. namun, yang juga harus di perdalam adalah pemahaman dengan dunia maya.dunia maya hadir bukan tanpa pembelajaran. komputer,email,keyboard,tata cara penggunaan,dan lain sebagainya butuh waktu untuk di mengerti sehingga nanti para pengguna dapat menunaikan rutinitas dunia maya sesuai target kenyamanan yang ingin mereka capai. jadi perpindahan dari dunia nyata ke dunia maya adalah perpindahan dari ‘yang telah terbiasa’ menuju suatu ‘dunia antah’

    saya pun sepakat dengan penulis perihal dunia maya yang menghasilakan “tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi” karena saya dan penulis telah bergabung dalam dunia maya. lalu sebagian orang yang baru akan masuk kedunia maya,tentunya belum mengenal dampak yang saya kutip lagi dari atas “tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi”

    jadi kembali lagi ke pertanyaan saya di atas,apakah bisa di kaitkan fenomena dunia maya dewasa ini dengan motif kekecewaan pada dunia nyata? saya akui saya berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. jadi masukan dari teman-teman di sini bagi saya adalah nilai pengetahuan yang tak terhingga.

    karena saya percaya banyak orang mencari keintiman di dunia maya-mengutip percakapan di film Deception
    ‘intimacy without intricacy’

  • Jono (author) said:

    azzan
    ini ada beberapa tambahan:
    Scramaglia (2002)menemukan bahwa pada awalnya beberapa dari mereka yang menggunakan internet untuk mencari pasangan bisa berawal dari rasa ingin tahu, mencari hiburan, karena mereka memang tipe individu yang ‘pemalu’. Pada beberapa kasus partisipan penelitian menjelaskan bahwa mereka melakukan hal tersebut karena ingin keluar dari kehidupan mereka yang menjemukan: hidup dikota kecil, tidak ada kegiatan berarti, tidak mengenal orang-orang yang menarik, kesepian, merasa homesick, sedang tidak akur dengan pasangan.

    Mereka pada dasarnya hanya ingin bertemu orang baru. Karena kemudahan yang diberikan internet mereka merasa bisa berada di dua tempat sekaligus sehingga bertemu orang-orang baru tidak serepot sebelumnya.

    Tapi lagi-lagi, saya menekankan bahwa hasil penelitian diatas merrupakan hasil penelitian yang dilakukan di Italia. Berdasarkan diskusi ringan yang pernah saya lakukan dengan beberapa teman yang berhubungan romantis via internet, saya melihat beberapa kesamaan hasil penelitian tersebut disini. Satu yang paling jelas terlihat adalah karena mereka merasa kesepian, walaupun teman saya tidak bisa dibilang tidak punya teman. Ia merasa lebih mudah menceritakan sesuatu kepada orang lain yang bisa memberi masukan secara objektif. Dan hal tersebut kemudian mengarah kembali pada tingkat self-disclosure yang sudah dijelaskan sebelumnya.

    Semoga membantu

  • Waspadai Ranjau Cinta yang Tersebar di Internet « Internet Sehat said:

    [...] Penulis: Nova Ariyanto JoNo @ RuangPsikologi.com, diambil dari sumber aslinya yang berjudul Hubungan Romantis via Internet [...]

  • Mantan Kekasih yang (Sulit) Dilupakan | RuangPsikologi.Com Webzine Psikologi Modern said:

    [...] mudah untuk menghubungi mantan kekasih kita dibanding mencari kekasih yang baru. Jika dalam artikel sebelumnya saya menjelaskan media internet sebagai akses untuk mencari pasangan baru, internet disisi lain juga [...]

  • merlyn said:

    saya punya asumsi tersendiri tentang hal ini. orang yang memiliki hubungan romantis di internet bisa jadi karena dia sulit mendapatkan orang yang ia inginkan di dunia nyata (contohnya ingin mendapatkan pasangan bule tetapi di lingkungannya tidak memungkinkan). selain itu, bisa jadi orang tersebut memiliki karakter yang ingin mendapat persetujuan melulu. saya sering menjumpai orang yang faking good kalau ia di internet. jadi, kita senang jika ada orang lain yang memuji ataupun yang setuju dengan opini kita dan itu sulit kita dapatkan jika kita berada di lingkungan nyata. mohon koreksi saya jika ada kesalahan.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word