Hati-hati dalam memberikan reward!
Seringkah anda mendengar kata-kata “Reward”? Dalam konteks pendidikan anak, biasanya kata-kata ini terucap pada saat orang tua ingin menghilangkan kebiasaan kemalasaan atau untuk mendorong prestasi anak. Biasanya di dalam benak mereka, pertanyaan seperti “Bagaimana agar anak saya dapat naik kelas ya?” atau “bagaimana agar anak saya pandai ya?” seringkali keluar. Dan tidak jarang juga solusi dari pertanyaan itu adalah kata-kata, “Gunakan saja sistem reward”
Apa sih reward itu? Istilah ilmiah untuk reward atau biasa disebut “reward and punishment” adalah “Operant Conditioning“, yaitu pemberian konsekuensi (berupa hal yang menyenangkan (reward) atau hukuman (punishment) ) untuk mengatur tingkah laku seseorang. Hal ini merupakan metode yang cukup mudah dilakukan karena hasilnya terlihat “nyata”, namun hati-hati dalam melakukan hal ini karena dapat menjadi “bumerang” apabila tidak dipikirkan masak-masak terlebih dahulu. Perhatikan cerita berikut:
Ibu Rini khawatir Lisa (anaknya) tidak naik kelas saat masih SD. Menjelang ujian akhir, ibu Rini menjanjikan Lisa sebuah komputer (reward)apabila dapat naik kelas. Dari kecil Lisa pun terbiasa untuk belajar demi mendapatkan hadiah, alhasil Lisa selalu naik kelas. Namun, saat Lisa kuliah di jurusan Ekonomi UI, ibunya tidak lagi menganggap bahwa Lisa memerlukan suatu “reward” agar ia mau belajar sungguh-sungguh. Ternyata, di tahun pertama kuliah, mata kuliah yang diikuti Lisa hampir tidak lulus semua. Lisa pun sama sekali tidak termotivasi untuk belajar dan memahami kuliah yang diikutinya. Ternyata, saat memilih jurusan kuliah, Lisa dijanjikan sebuah hadiah (reward) apabila ia dapat masuk ke fakultas Ekonomi UI.
Dalam cerita tersebut, tujuan Ibu Rini agar Lisa mau belajar sudah tercapai, namun Ibu Rini gagal menanamkan pengertian kepada Lisa bahwa belajar adalah hal yang penting bagi Lisa, bukan untuk Ibunya. Salah kaprah antara Lisa dan Ibu Rini telah terjadi bertahun-tahun dan menjadikan LIsa mempunyai pengertian bahwa selama ini ia belajar demi mendapatkan hadiah dari ibunya. Motivasinya untuk belajar pun karena ingin mendapatkan hadiah, bukan karena Lisa mengerti bahwa belajar dapat membuat dirinya menjadi pandai yang kelak akan berguna di masa depan.
Mengulik cerita tersebut, tindakan yang sebaiknya Ibu Rini lakukan adalah memberikan pengertian kepada Lisa bahwa belajar adalah hal yang penting dilakukan oleh Lisa dan akan memberikan keuntungan bagi Lisa di kemudian hari. Hal yang penting dilakukan adalah memastikan bahwa Lisa mengerti betul bahwa belajar itu penting bagi dirinya. Penggunaan sistem reward sebenarnya dapat digunakan sebagai “pemicu” sesaat, namun jangan sebaiknya jangan bergantung pada hal tersebut.
jadi, pastikan bahwa anak mengerti pentingnya belajar sebelum kita memberikan reward kepada mereka, apalagi reward yang bersifat materialistik. (khrisnaresa Adytia)
Sumber:
http://www.knowledgerush.com/kr/encyclopedia/Operant_conditioning/










[...] This post was mentioned on Twitter by paneno, paneno, Aries Wahyu Nugroho, Adzaniah, Adzaniah and others. Adzaniah said: RT @ruangpsikologi: hati-hati dalam menggunakan reward pada anak! baca http://ruangpsikologi.com/hati-hati-dalam-memberikan-reward http://bit.ly/aw9a4j [...]
Nanya dunks,
pertama, klo dari ranah behaviorisme, bisa ga kalao rewrdnya dibuat dalam bentuk shedule of reinforcement? jadi ga selamanya da dapet hadiah jika melakukan sesuatu.. Kedua, yang dimaksud memberikan pengertian itu dalam prakteknya seperti apa? Bisa kasih contoh konkrit? karena klo si anak dari awal udah males, terus dibilangin “biar nanti pas gede bisa jadi orang sukses” , dsb, terus di anak bilang “ah, ga mau, ga peduli, ga jadi orang sukses juga gapapa”, terus gimana? ada kiat2 khusus ga dari ranah kognitif untuk memberikan pengertian yang mudah diterima anak? Thx untuk jawabannya.
Mau share dnk..
Saya menerapkan reward ini setelah melihat hasil finger test yang dilakukan pada anak saya. Usianya sekarang 5 tahun. Dan untuk memotivasi dan menghilangkan kebiasaan2 yang tidak baik (misalnya nangis saat bangun tidur) maka saya akan berjanji untuk memberikan reward kalau dalam 3 hari berturut2 dia melakukan apa yang sudah dijanjikan. Setelah dia penuhi janjinya, maka reward itu saya berikan. Ternyata setelah saya amati, kebiasaan nangis kalau bangun tidur sangat berkurang dan saya tidak pernah menjanjikan reward lagi. Karena menurut saya sudah menjadi kebiasaan.
Terima kasih untuk sharing-nya, Mbak.
benar gak sih kalau reward lebih dapat berfungsi daripada punishment??minta sumber bacaan dong. .
makasi
mau share aja, artikelnya bagus banget. . dan lebih bagus lagi kalo ditambahin mengenai teori2 perkembangan, karena perilaku2 anak yang mungkin bagi kita merupakan perilaku yang buruk dan berbahaya bagi masa depannya, bisa kita intervensi secara tepat bila kita memahami tahap2 perkembangan anak. . bisa pake erik erikson, piaget, dkk. . buku john W Santrock sepertinya cocok buat referensi tambahan. . thx
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Gold Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen emosi freud gangguan gender homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif psikologi seks Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita Blog (10)
Essay (151)
Featured (146)
Headline (142)
Lain-lain (36)
News (6)
Psikologi Industri & Behavioral Economy (18)
Psikologi klinis (46)
Psikologi Olahraga (2)
Psikologi pendidikan (16)
Psikologi Perilaku Seksual (5)
Psikologi perkembangan (31)
Psikologi sosial (49)
Psikologi Umum & Eksperimen (32)
Uncategorized (8)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (38)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (23)
- Lois (RSS) (13)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (24)
- Penulis Tamu (RSS) (22)
- ramadion (RSS) (25)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed