Home » Essay, Psikologi sosial

Hamil Demi Identitas Diri

25 May 2009 1,236 views No Comment

Cobalah berandai-andai bahwa kita adalah seorang dokter jaga di sebuah klinik SMA. Suatu hari di siang bolong, ada murid perempuan yang mendatangi kita dan meminta untuk dites kehamilan, dan pada saat mereka menemukan hasil yang negatif, mereka menunjukkan wajah yang kecewa.

Tanda tanya besar akan muncul dalam hati saya, bila hal tersebut terjadi pada saya. Namun kini tanda tanya itu sudah muncul di kepala saya, saat mengetahui bahwa ada sekelompok bermain remaja perempuan yang membuat perjanjian untuk sama-sama memiliki bayi dan membesarkannya bersama-sama. Mereka adalah remaja perempuan dari Glouchester High School di kota Massachusetts, Amerika Serikat dan kebanyakan dari mereka berusia kurang dari 16 tahun.

Hal yang mungkin menjadi pertanyaan adalah mengapa menginginkan kehamilan di usia tersebut? Respons wajar pada remaja yang mengalami kehamilan pada umur tersebut adalah “Ya ampun, apa yang akan kulakukan dengan anak ini?”, atau “Bagaimana aku akan membesarkan anakku?”. Satu hal yang dapat mungkin menjadi jawaban adalah budaya populer yang tersebar pada anak muda yang kurang mendapatkan arahan dari orang tua atau pihak-pihak yang lebih tua. Erik Erikson, seorang tokoh Psikologi yang memusatkan penelitiannya mengenai perkembangan hidup manusia, mengemukakan bahwa masa remaja adalah masa pencarian identitas. Mereka yang sedang di dalam masa sedang haus-hausnya mencari tahu siapakah mereka dan mempertanyakan kepada diri mereka akan menjadi siapakah mereka. Apabila para remaja tidak memiliki seseorang yang mampu mengarahkan mereka ke arah yang baik, maka remaja-remaja tersebut dapat hilang arah, seperti dalam kasus ini, remaja perempuan Massachusetts yang menginginkan hamil tanpa pemikiran panjang akan bagaimana bayi mereka dirawat dan dibesarkan.

“Apabila anda adalah remaja perempuan yang benar-benar berjuang untuk menemukan identitas diri, tanpa adanya dukungan dan arahan, maka menjadi seorang ibu adalah pilihan yang paling mungkin terjadi.”, tutur Patricia Quinn, direktur eksekutif dari Massachusetts Alliance on Teen Pregnancy, saat menyikapi fenomena perjanjian hamil sekelompok remaja perempuan Massachusetts ini. Ia juga menambahkan, “Kita harus melakukan lebih untuk remaja dan menunjukkan mereka jalan yang benar.”

Krisis identitas adalah salah satu hal yang terjadi saat remaja tidak menemukan seseorang yang dapat membimbing mereka dalam menemukan jati dirinya. Saat fenomena remaja-remaja Massachusetts ini membuat perjanjian untuk hamil bersama ini keluar, Sarah Brown, Komisaris Eksekutif dari National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy mengungkapkan bahwa ada kemungkinan terpengaruh pemberitaan tentang bertebarannya selebriti Holywood yang hamil. Belum lagi film festival indi “Juno” yang juga memiliki peran terhadap terjadinya fenomena tersebut. Film tersebut bercerita tentang remaja perempuan yang hamil akibat berhubungan seks dengan pacarnya, kemudian ia memutuskan untuk melahirkan anaknya untuk diberikan kepada pasangan suami istri yang dikaruniai anak. Hal yang menyedihkan adalah pengakuan dari Christen Callahan, seorang remaja alumni Glouchester High School yang memiliki anak saat ia berumur 15 tahun di stasiun televisi NBC. Saat ditanyakan apa yang biasanya dikatakan remaja perempuan yang hamil di umur tersebut, Callahan mengatakan, “Mereka (remaja perempuan yang hamil) biasanya akan berkata ‘oh, sepertinya orang tuaku tidak akan bermasalah dengan kehamilanku, dan mereka akan membantuku.”

Jalan keluar dari krisis identitas ini adalah identifying, salah satu bentuk dari konformitas sosial (baca artikel psigoblog sebelum ini). Dengan mengidentifikasikan diri mereka dengan artis atau selebritis idola mereka, para remaja ini merasa beban pencarian identitas mereka berkurang karena mereka telah membuat dirinya ’semirip’ mungkin dengan idolanya.

Hari ini mungkin fenomena ini mencengangkan, tetapi bisa jadi beberapa tahun mendatang ini adalah fenomena yang biasa saja. Pergerakan budaya berarti pergerakan sudut pandang, yang aritnya apa yang hari ini salah, bisa menjadi benar esok hari. Namun apakah kita yang hidup di hari ini harus pasrah menyerahkan status quo yang ada? Tentu tidak. Hari ini kita semua harus berjuang demi peradaban yang lebih baik di hari esok,. Oleh karena itulah, Patricia Quinn dan Sarah Brown tidak tinggal diam dengan keadaan remaja dari Glouchester High School. Mereka tidak ingin remaja perempuan yang ingin hamil dan membesarkan anak menjadi hal yang dimaklumi dan diterima oleh masyarakat pada nantinya. (khrisnaresa)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word