Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Perilaku Seksual, Psikologi sosial

Gosip, selebriti, dan remaja

20 June 2010 1,878 views 9 Comments

3662289070_23c5b53beb Beberapa hari ini kasus tentang video porno yang ‘diperankan’ beberapa individu yang mirip dengan selebritis tanah air memang sedang marak-maraknya dibahas. Dari pagi sampai malam, dari acara gosip sampai berita di prime-time tidak habis-habisnya membahas kasus tersebut .

Sebagian besar dari kita tentu akan menganggap bahwa gosip hanya merupakan berita negatif, saya pun termasuk didalamnya. Namun ternyata, penelitian menjelaskan bahwa gosip merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan norma dan nilai social yang banyak digunakan oleh remaja, khususnya remaja putri. Melalui gosip, remaja dikatakan mendapatkan gambaran yang lebih jelas terhadap norma-norma yang ada di masyarakat. Apa yang harus dihindari, apa yang dianggap buruk oleh lingkungan dsb. Hal tesebut terjadi karena gosip yang terjadi diantara remaja lebih banyak merupakan evaluasi negatif terhadap orang lain berupa cemohan, ejekan, dan celaan. Dengan mengetahui apa yang dinilai buruk maka remaja dikatakan lebih dapat menghindari hal yang digosipkan. Lalu bagaimana dengan gosip selebriti yang saat ini ramai dibicarakan? apakah dengan mengetahui gosip tersebut maka remaja akan menghindari hal tersebut? atau malah sebaliknya?

Gosip sendiri, khususnya yang gosip selebriti, tentu membawa dampak yang cukup besar. Selebriti sendiri, dikatakan bisa mempengaruhi 75 % fase kehidupan remaja. Selebriti seperti musisi, bintang film, tapi juga individu lain yang sering mereka lihat, atau yang disebut public figures. Beberapa peneliti berpendapat bahwa remaja tersebut juga menganggap selebriti tersebut sebagai role model atau idola. Sebuah studi juga menjelaskan bahwa media dan selebriti menyediakan sebuah ‘budaya’ bagi remaja yang didalamnya mereka dapat mengembangkan peran gender, nilai norma masyarakat, bahkan remaja juga bisa belajar tentang hubungan romantis dan seksualitas. Dengan kata lain, besar kemungkinan apa yang dilakukan selebriti akan pula dilakukan oleh remaja.

Saat ini, banyak yang mengkhawatirkan dampak video porno kepada remaja. Apakah kita harus membicarakannya dengan remaja? menjelaskan segala sesuatnya? apakah akan berdampak terhadap seksualitas? bagaimana mengurangi efeknya?. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa frekuensi serta saat pertama kali orangtua membicarakan masalah seksualitas dengan anak dapat memprediksi perilaku seksual yang dilakukan. Jika saat itu anak belum melakukan hubungan seksual, besar kemungkinan anak akan menunda hubungan seksual tersebut. Tidak hanya itu, remaja yang memiliki komunikasi seksual dengan orang tua, cenderung untuk lebih menunda melakukan hubungan seksual. Sedangkan untuk remaja yang telah melakukan hubungan seksual saat komunikasi dilakukan, maka remaja tersebut lebih cenderung untuk menggunakan kontrasepsi serta lebih sedikit memiliki pasangan seksual.

Jika pembekalan agama tidak dirasakan cukup bagi remaja. Perlu kembali diingatkan bahaya utama dari perilaku seksual pra-nikah. Selain kehamilan yang dapat merusak masa depan, hal lain yang tidak kalah berbahaya adalah ketagihan akan hubungan seksual. Tiger Woods, salah satu pegolf terbaik yang pernah ada dimuka bumi, bahkan dikatakan ketagihan akan hubungan seksual yang pada akhirnya merusak perkawinannya serta hidupnya. Hal ini lah yang tidak kalah penting diberitahukan kepada remaja. Bahwa melakukan hubungan seksual akan membatasi gerak-geriknya sebagai individu, karena akan banyak sekali waktu, tenaga, dan mungkin uang, yang akan diarahkan untuk memuaskan hasrat seksual yang muncul karena ketagihan.

Tanpa dorongan media dan lingkungan pun, remaja sudah memiliki banyak masalah yang tidak semuanya bisa ditangani dengan baik. Karena itu, peran orangtua, lingkungan sekitar, guru, sekolah, sangatlah penting, karena lingkungan yang harus terus menjaga dan membimbing remaja.

Nova JoNo Ariyanto

Sumber:

Conrad, C., S. (2007). Hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja dalam berpacaran. Depok: F. Psi UI

Donna, E., & Lynne-Enke, J. 1991. The Structure of Gossip: Opportunities and Constraints on Collective Expression among adolescent. American Sociological Review; Aug 1991; 56, 4; ProQuest Science Journals pg. 494

Giles, D.C., & Maltby, J. 2004. The role of media figures in adolescent development: relations between autonomy, attachment, and interest in celebrities. Personality and Individual Differences 36 (2004) 813–822.

Picture taken from http://www.flickr.com/photos/haizi-hyg/3662289070/

9 Comments »

  • vendy said:

    hmm . . .
    apakah bisa dibilang kalau kita sebagai manusia, hanya pada fase tertentu akan menjadikan seseorang menjadikan orang lain (artis, misalnya) sebagai acuan hidup?

    dan ketika kita sadar bahwa semua manusia bisa khilaf dan kalap, fondasi kagum itu luluh lantak berkat rumor negatif (baca: gosip jelek); lantas, kekaguman itu ibarat pedang bermata dua?

    *maap kalau saya agak rewel :D

  • novya azhari said:

    Adanya video porno yang beredar saat ini membuat resah bagi semua orang. Apalagi orang tua yang memiliki anak remaja, karena pada masa ini mereka sedang mencari identitas diri dan menjadi tahap coba2. mungkin kontrol yang baik dari orang tua bisa meminimisasi perilaku menyimpang dari remaja.

  • JoNo (author) said:

    apakah bisa dibilang kalau kita sebagai manusia, hanya pada fase tertentu akan menjadikan seseorang menjadikan orang lain (artis, misalnya) sebagai acuan hidup?

    –> mm.. saya agak kurang yakin dengan istilah yang ‘acuan hidup’ yang digunakan. Bisa jelaskan maksudnya apa dulu? tapi di beberapa sumber memang dijelaskan bahwa pengaruh tersebut akan lebih besar di remaja, karena memang sudah menjadi tugas perkembangannya untuk mencari identitas. Salah satu caranya adalah dengan melihat figur-figur, tidak terkecuali artis. Untuk pendapat saya pribadi, proses pengidolaan mungkin muncul pada tingkat yang lebih dini, dimana seorang anak mengidolakan sosok orangtua. Tapi ini hanya pendapat saya pribadi saja :).

    dan ketika kita sadar bahwa semua manusia bisa khilaf dan kalap, fondasi kagum itu luluh lantak berkat rumor negatif (baca: gosip jelek); lantas, kekaguman itu ibarat pedang bermata dua?

    –> Lagi-lagi, saya kurang paham nih ‘istilah pedang bermata dua’? tapi kalau fondasi kagum bisa luluh lantak saya rasa itu kembali ke masing-masing kekuatan fondasi. Tergantung sejauh apa individu mengidolakan idola tersebut. Mm, tapi nanti saya jelaskan lagi kalau sudah ada acuan teorinya ya :)

  • ramadion said:

    artikel ilegal ni! Muhammad Nuh kan dah bilang, ga boleh edukasi seks di sekolah! mo ngelawan menteri lo? hahahahahaa…

  • JoNo (author) said:

    ini hanya masukan Yon, haha

  • andi ardillah said:

    jonooo…bangga deh sama tulisan2 lo di sini. hebaaat……. jadi penulis gih jon. ato ga masukin ke majalah2 gitu. gw serius mujinya.

  • JoNo (author) said:

    aaah andi so sweeeet banget deeeeh
    iloveu looooh (hati berbunga mata berbinar)

    *cupcupcupmuah

  • Frans said:

    Kendala dari usulan anda adalah mengkomunikasikan hal-hal tentang seksual antara orang tau dan anak masih dianggap tabu. Saya rasa kita harus meruntuhkan terlebih dahulu tembok ” tabu ” ini. Menurut anda, bagaimana caranya?

  • JoNo (author) said:

    Kendala dari usulan anda adalah mengkomunikasikan hal-hal tentang seksual antara orang tau dan anak masih dianggap tabu. Saya rasa kita harus meruntuhkan terlebih dahulu tembok ” tabu ” ini. Menurut anda, bagaimana caranya?

    –> sejujurnya pak/mas, saya sampai saat ini masih belum menemukan ramuan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan hal ini. Dlam berbagai diskusi pun kami selalu belum menemukan titik ujung mau mulai dari mana, apa yang sebaiknya disampaikan. Namun demikian, yang terbaik pernah kami diskusikan adalah memulai dari anatomi tubuh, seperti ini penis, ini vagina, lalu kemudian dibicarakan secara bertahap fungsi-fungsinya masing-masing.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word