<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Mengenal Gangguan Kepribadian Paranoid: Definisi, Gejala, Penyebab dan Penanggulangan</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 06:30:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: INDRA DINATA</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid/comment-page-1#comment-1846</link>
		<dc:creator>INDRA DINATA</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 04:57:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=855#comment-1846</guid>
		<description>Saya jelas bisa mengatakan bahwa istrinyalah yang benar,karena dia sangat senang jika dipertemukan dengan psikolog,orang2 dengan mental defensif seperti si suami dan mertua tidak akan pernah nyaman dengan orang netral atau psikolog.Saya bisa mengatakan demikian karena saya berinteraksi dengan orang2 begitu.Ciri2 orang demikian sbb:
1.Mudah menyalahkan orang lain
2.Mudah membalikan fakta
3.Mudah lupa dengan kebaikan orang
4.Tidak mengerti sebab akibat
5.Sangat membela keluarga dalam konflik bukan membela dalam arti sebenarnya.
6.putus nyambung dalam berelasi.
7.Manis dalam kata2 interaksi tingkat awal
8.Tidak merasa ada masalah dalam dirinya.(self learningnya kurang).

Hemat saya keluarga dari pihak istri harus membantu agar posisi tawar sang istri lebih kuat,tapi saya yakin pihak suami tidak menginginkan hal itu.Yang saya khawatirkan jika fisik si istri tidak kuat ia akan depresi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya jelas bisa mengatakan bahwa istrinyalah yang benar,karena dia sangat senang jika dipertemukan dengan psikolog,orang2 dengan mental defensif seperti si suami dan mertua tidak akan pernah nyaman dengan orang netral atau psikolog.Saya bisa mengatakan demikian karena saya berinteraksi dengan orang2 begitu.Ciri2 orang demikian sbb:<br />
1.Mudah menyalahkan orang lain<br />
2.Mudah membalikan fakta<br />
3.Mudah lupa dengan kebaikan orang<br />
4.Tidak mengerti sebab akibat<br />
5.Sangat membela keluarga dalam konflik bukan membela dalam arti sebenarnya.<br />
6.putus nyambung dalam berelasi.<br />
7.Manis dalam kata2 interaksi tingkat awal<br />
8.Tidak merasa ada masalah dalam dirinya.(self learningnya kurang).</p>
<p>Hemat saya keluarga dari pihak istri harus membantu agar posisi tawar sang istri lebih kuat,tapi saya yakin pihak suami tidak menginginkan hal itu.Yang saya khawatirkan jika fisik si istri tidak kuat ia akan depresi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fira</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid/comment-page-1#comment-1811</link>
		<dc:creator>Fira</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 05:28:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=855#comment-1811</guid>
		<description>Maaf saya mau bertanya:

Ada sepasang suami istri, sudah menikah hampir sepuluh tahun. Ditahun terakhir sang istri menuduh suaminya gemar selingkuh, Zina dan main perempuan dan meminta untuk diceraikan. Sang suami memberi tahu keluarga besar istri bahwa sang istri mengalami delusi-halusinasi (delusional disorder), karena berdasarkan pengakuan sang suami, dia sama sekali tidak pernah selingkuh,main perempuan atau Zina. Singkatnya saya ingin menceritakan pengakuan korban (istri)yang dia alami selama 10 tahun pernikahan sehingga dia dinyatakan delusional disorder (delusion of jeolus) oleh suaminya sendiri (bukan oleh psikolog/psikiater):

1.  Korban (istri) mengaku, dituduh mengalami delusi ketika di tahun kedua pernikahan menemukan bekas perselingkuhan suaminya dengan pembantu di kamar. Ketika ditanyakan oleh ke suami dan mertua mereka mengatakan bahwa "kamu berhalusinasi", padahal korban memegang/menyentuh, tahu merek dan bentuknya, mereka hanya mengatakan.."buang itu" ..hanya diam..dan mengatakan bahwa istri mengalami delusi. Keesokannya sang istri diperlakukan sangat  baik oleh suami dan mertua. Kejadian ini banyak terulang, dan istri selalu dinyatakan mengalami halusinasi jika memergoki bekas perselingkuhan suaminya dengan pembantu. Istri pun mengalah dan dia jadi merasa bahwa dirinya hanya berhalusinasi, karena tidak ada yg mendukung dia dirumah itu. Pembantu pun menghindar, jika istri ingin berbicara (karena masih tinggal dengan mertua, pembantu di bawah kekuasaan mertua). Sebenarnya istri selalu mengumpulkan "barang" yg dia temukan, tetapi hilang, mengingat dia punya kegiatan lain seperti mengantar anak sekolah pada saat itu, dan aktif di pengajian ibu-ibu, maka kemungkinan hilang barang dirumah mertua sangat dimungkinkan.

2. Istri selalu dinyatakan halusinasi oleh suami dan mertua, maka dari itu pada tahun ke-empat pernikahan akhirnya sang istri meminta untuk di bawa ke psikiater/psikolog, tetapi sang suami tidak menurutinya (berdasarkan pengakuan istri). 

3. Istri mengalah, menerima kenyataan bahwa Mungkin dirinya sakit, bahkan berharap, biarlah dia yang sakit dari pada suami dan mertuanya yang berperilaku Tak BERMORAL. Pendekatan secara agama dia lakukan, kadang sang suami memperlihatkan perilaku normal, tetapi setiap hubungan rumah tangga harmonis, pada saat yang bersamaan pula sang suami bertengkar dengan ibunya (mertua istri). setelah 5 tahun pernikahan, akhirnya mereka hidup mandiri (pisah dari mertua). sang istri mengaku memiliki harapan baru, berharap tidak akan mengalami halusinasi lagi.

4. 5 tahun hidup mandiri, dia tidak melihat bekas-bekas perselingkuhan suaminya, tetapi dia sering mendapati suaminya keluar malam, dan tidak menyentuhnya selama 1 tahun (padahal hidup bersama). Dia sudah terbiasa karena ketika tinggal dengan mertua suaminya hanya menyentuh 3-6 bulan sekali. (pengakuan istri: lebih ketagihan dengan pembantu dan wanita lain)--&gt; pengakuan ini dianggap delusi oleh suaminya.

4. 10 tahun pernikahan akhirnya keluarga besar istri mengetahui permasalahan ini, akibat sang istri meminta untuk diceraikan. Keluarga istri menyarankan untuk di bawa dulu ke psikolog, istri sangat senang dibawa ke psikolog karena inilah saatnya bagi dia untuk mengetahui, apakah benar dirinya sakit atau tidak (bahkan dia pun membutuhkan pembuktian itu)

5. Ketika pengobatan ke psikolog, sang istri selalu di dampingi oleh keluarga (suaminya terkadang ikut-terkadang tidak). Secara tiba-tiba, sang suami menyatakan pengobatan ke psikolog tidak perlu dilanjutkan, berdasarkan pengakuan suami, hal tersebut tidak efektif, suami menyatakan seperti itu karena sang psikolog meminta ibu mertua untuk datang menghadap psikolog. Sang suami berkeberatan, dan meng-cut konsultasi ke psikolog.

6.Sang istri ketika ditanya oleh keluarga mengaku paranoid kepada suami dan mertuanya.Takut, merasa terancam, tidak menemukan kenyamanan dan ingin berpisah (cerai). Perlu diketahui sekarang mereka memiliki 3 orang anak dan masih dibawah umur, tidak bekerja. Sang istri mengaku sudah tidak tahan dengan perilaku suaminya, dia rela kehilangan suaminya yang secara ekonomi sangat mapan.

7. sang suami ketika ditanya oleh keluarga istri dan psikolog menyatakan bahwa 10 tahun pernikahan tidak terjadi apa2 dan hidup bahagia, istri tidak mengalami delusi, baru ditahun kesepuluh ketika sang istri menuduhnya selingkuh dan minta cerai, dia mengatakan kepada keluarga besar bahwa istrinya telah sakit jiwa. Suami pun mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa sang istri mengalami delusi seperti itu akibat dirinya yang sibuk 3 bulan belakangan, di lingkungan pengajian ibu2 sedang ramai membahas poligami dan kasus perselingkuhan, serta faktor genetis. (Padahal dikeluarga besar istri tidak ada riwayat seperti itu).

Bagaimana y dengan kasus ini, bahkan psikolog pun mengatakan bahwa ini masalah yang rumit, apakah benar sang istri mengalami delusi.. ??
Mohon bantuan analisanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf saya mau bertanya:</p>
<p>Ada sepasang suami istri, sudah menikah hampir sepuluh tahun. Ditahun terakhir sang istri menuduh suaminya gemar selingkuh, Zina dan main perempuan dan meminta untuk diceraikan. Sang suami memberi tahu keluarga besar istri bahwa sang istri mengalami delusi-halusinasi (delusional disorder), karena berdasarkan pengakuan sang suami, dia sama sekali tidak pernah selingkuh,main perempuan atau Zina. Singkatnya saya ingin menceritakan pengakuan korban (istri)yang dia alami selama 10 tahun pernikahan sehingga dia dinyatakan delusional disorder (delusion of jeolus) oleh suaminya sendiri (bukan oleh psikolog/psikiater):</p>
<p>1.  Korban (istri) mengaku, dituduh mengalami delusi ketika di tahun kedua pernikahan menemukan bekas perselingkuhan suaminya dengan pembantu di kamar. Ketika ditanyakan oleh ke suami dan mertua mereka mengatakan bahwa &#8220;kamu berhalusinasi&#8221;, padahal korban memegang/menyentuh, tahu merek dan bentuknya, mereka hanya mengatakan..&#8221;buang itu&#8221; ..hanya diam..dan mengatakan bahwa istri mengalami delusi. Keesokannya sang istri diperlakukan sangat  baik oleh suami dan mertua. Kejadian ini banyak terulang, dan istri selalu dinyatakan mengalami halusinasi jika memergoki bekas perselingkuhan suaminya dengan pembantu. Istri pun mengalah dan dia jadi merasa bahwa dirinya hanya berhalusinasi, karena tidak ada yg mendukung dia dirumah itu. Pembantu pun menghindar, jika istri ingin berbicara (karena masih tinggal dengan mertua, pembantu di bawah kekuasaan mertua). Sebenarnya istri selalu mengumpulkan &#8220;barang&#8221; yg dia temukan, tetapi hilang, mengingat dia punya kegiatan lain seperti mengantar anak sekolah pada saat itu, dan aktif di pengajian ibu-ibu, maka kemungkinan hilang barang dirumah mertua sangat dimungkinkan.</p>
<p>2. Istri selalu dinyatakan halusinasi oleh suami dan mertua, maka dari itu pada tahun ke-empat pernikahan akhirnya sang istri meminta untuk di bawa ke psikiater/psikolog, tetapi sang suami tidak menurutinya (berdasarkan pengakuan istri). </p>
<p>3. Istri mengalah, menerima kenyataan bahwa Mungkin dirinya sakit, bahkan berharap, biarlah dia yang sakit dari pada suami dan mertuanya yang berperilaku Tak BERMORAL. Pendekatan secara agama dia lakukan, kadang sang suami memperlihatkan perilaku normal, tetapi setiap hubungan rumah tangga harmonis, pada saat yang bersamaan pula sang suami bertengkar dengan ibunya (mertua istri). setelah 5 tahun pernikahan, akhirnya mereka hidup mandiri (pisah dari mertua). sang istri mengaku memiliki harapan baru, berharap tidak akan mengalami halusinasi lagi.</p>
<p>4. 5 tahun hidup mandiri, dia tidak melihat bekas-bekas perselingkuhan suaminya, tetapi dia sering mendapati suaminya keluar malam, dan tidak menyentuhnya selama 1 tahun (padahal hidup bersama). Dia sudah terbiasa karena ketika tinggal dengan mertua suaminya hanya menyentuh 3-6 bulan sekali. (pengakuan istri: lebih ketagihan dengan pembantu dan wanita lain)&#8211;&gt; pengakuan ini dianggap delusi oleh suaminya.</p>
<p>4. 10 tahun pernikahan akhirnya keluarga besar istri mengetahui permasalahan ini, akibat sang istri meminta untuk diceraikan. Keluarga istri menyarankan untuk di bawa dulu ke psikolog, istri sangat senang dibawa ke psikolog karena inilah saatnya bagi dia untuk mengetahui, apakah benar dirinya sakit atau tidak (bahkan dia pun membutuhkan pembuktian itu)</p>
<p>5. Ketika pengobatan ke psikolog, sang istri selalu di dampingi oleh keluarga (suaminya terkadang ikut-terkadang tidak). Secara tiba-tiba, sang suami menyatakan pengobatan ke psikolog tidak perlu dilanjutkan, berdasarkan pengakuan suami, hal tersebut tidak efektif, suami menyatakan seperti itu karena sang psikolog meminta ibu mertua untuk datang menghadap psikolog. Sang suami berkeberatan, dan meng-cut konsultasi ke psikolog.</p>
<p>6.Sang istri ketika ditanya oleh keluarga mengaku paranoid kepada suami dan mertuanya.Takut, merasa terancam, tidak menemukan kenyamanan dan ingin berpisah (cerai). Perlu diketahui sekarang mereka memiliki 3 orang anak dan masih dibawah umur, tidak bekerja. Sang istri mengaku sudah tidak tahan dengan perilaku suaminya, dia rela kehilangan suaminya yang secara ekonomi sangat mapan.</p>
<p>7. sang suami ketika ditanya oleh keluarga istri dan psikolog menyatakan bahwa 10 tahun pernikahan tidak terjadi apa2 dan hidup bahagia, istri tidak mengalami delusi, baru ditahun kesepuluh ketika sang istri menuduhnya selingkuh dan minta cerai, dia mengatakan kepada keluarga besar bahwa istrinya telah sakit jiwa. Suami pun mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa sang istri mengalami delusi seperti itu akibat dirinya yang sibuk 3 bulan belakangan, di lingkungan pengajian ibu2 sedang ramai membahas poligami dan kasus perselingkuhan, serta faktor genetis. (Padahal dikeluarga besar istri tidak ada riwayat seperti itu).</p>
<p>Bagaimana y dengan kasus ini, bahkan psikolog pun mengatakan bahwa ini masalah yang rumit, apakah benar sang istri mengalami delusi.. ??<br />
Mohon bantuan analisanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yama</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid/comment-page-1#comment-1218</link>
		<dc:creator>yama</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 11:28:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=855#comment-1218</guid>
		<description>cem macem aj comment trakhir ni....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>cem macem aj comment trakhir ni&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Maulidan Bagus Afridian Rasyid</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid/comment-page-1#comment-1177</link>
		<dc:creator>Maulidan Bagus Afridian Rasyid</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 00:06:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=855#comment-1177</guid>
		<description>Gunakan agama sebagai dasar segala pola pikir dan tindakan. Masalah selesai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gunakan agama sebagai dasar segala pola pikir dan tindakan. Masalah selesai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sisi</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid/comment-page-1#comment-1135</link>
		<dc:creator>sisi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2011 12:48:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=855#comment-1135</guid>
		<description>dari beberapa poin di ata saya sepertinya mendekati org yg paranoid. tempat psikiotrapi/training pengembangan diri dimana ya kalau boleh tau disekitar jaktim umur saya baru menginjak 17 thn</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dari beberapa poin di ata saya sepertinya mendekati org yg paranoid. tempat psikiotrapi/training pengembangan diri dimana ya kalau boleh tau disekitar jaktim umur saya baru menginjak 17 thn</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

