<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>RuangPsikologi.Com</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Siapkah Saya Menikah?</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/kesiapan_menika</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/kesiapan_menika#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Fungsi]]></category>

		<category><![CDATA[Kedewasaan]]></category>

		<category><![CDATA[Kesiapan]]></category>

		<category><![CDATA[menikah]]></category>

		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<category><![CDATA[Tugas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1786</guid>
		<description><![CDATA[Sedang berpikir untuk melanjutkan hubungan pacaran ke jenjang pernikahan? Cek 8 point "Marriage Readiness" ini untuk mengetahui apakah kamu sudah benar-benar siap menjalani dunia suami-istri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 304px"><a href="http://imageshack.us/photo/my-images/443/kueeditedc.jpg/"><img class="  " title="Sumber foto: http://photos.weddingbycolor-nocookie.com/p000014794-m178862-p-photo-465539/photo.jpg" src="http://i46.tinypic.com/1hevo.jpg" alt="Benarkah kita sudah siap menikah?" width="294" height="184" /></a><p class="wp-caption-text">Benarkah saya sudah siap menikah?</p></div>
<p>Oleh: <a title="Author's Twitter Account" href="http://twitter.com/nadiaika" target="_blank">Nadia Ikayanti S.Psi</a></p>
<p>Photos by: <a title="Professional Family Photographer" href="http://dailyphotostudio.com/" target="_blank">Daily Photo Studio</a></p>
<p>Memantapkan diri untuk melangkah menuju pernikahan bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam waktu singkat. Banyak wanita salah mempersepsikan pesta pernikahan (<em>wedding</em>) dengan pernikahan (<em>marriage</em>) itu sendiri. Padahal, dalam pernikahan pasangan membuat komitmen jangka panjang yang mempunyai berbagai macam konsekuensi dan menuntut pengorbanan yang tak sedikit. Terasa menakutkan? Wajar bila kita merasa kuatir. Apalagi berdasarkan data dari Badan Urusan Peradilan Agama dan Mahkamah Agung, angka perceraian di Indonesia meningkat 70 persen antara tahun 2005 hingga 2010 (Purnama Putra, http://www.republika.co.id). Penyebab perceraian tersebut adalah ketidakharmonisan, tidak adanya tanggung jawab, dan masalah ekonomi.</p>
<p>Untuk bisa menghadapi konsekuensi yang timbul setelah menikah, diperlukan persiapan yang matang secara emosional dan finansial dari kedua pihak. Holman dan Bing (1997) mendefinisikan kesiapan pernikahan sebagai ‘<em>’. . . a perceived ability of an individual to perform in marital roles, and see it as an aspect of the mate selection or relationship developmental process</em>.’’ Sedangkan Dewi (2006) mendefinisikannya sebagai kesediaan individu untuk mempersiapkan diri membentuk ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga dan rumah tangga yang kekal yang diakui secara agama, hukum, dan masyarakat. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kesiapan pernikahan adalah kesediaan atau kemauan individu untuk menjalankan perannya di dalam pernikahan sebagai suami dan istri yang sah secara agama, hukum, dan masyarakat.</p>
<p>Berikut adalah beberapa hal untuk diperhatikan dalam menjawab pertanyaan, “apakah saya sudah siap untuk menikah?”</p>
<p>1. Kematangan Emosional</p>
<p>Kematangan atau kedewasaan emosional bisa dilihat dari cara individu dalam mengatasi dan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dan krisis dalam hidup. Seseorang juga dikatakan dewasa bila mampu membuat dan mempertahankan hubungan personal. Di dalam pernikahan, diperlukan kedewasaan yang lebih dari itu.</p>
<p>Jadi, coba renungkan sejenak, apakah kamu sudah mampu untuk tenang dalam menghadapi masalah dan tidak tenggelam dalam amarah atau air mata? Bagaimana pengalamanmu dalam menghadapi perubahan besar dalam hidup? Apakah kamu dapat dengan cepat beradaptasi, atau justru defensif dan tak mau keluar dari zona nyaman? Bagaimana pola pikirmu saat dilanda krisis? Apakah kamu dengan aktif mencari solusi, atau merasa tertekan sendiri? Setelah menikah, pasangan bisa menjadi potensi dari masalah selama 24 jam dalam sehari, lho.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 355px"><a href="http://dailyphotostudio.com/wedding/mimoy-dion"><img title="Suami &amp; istri harus bekerja sama mempertahankan pernikahan" src="http://i46.tinypic.com/9pz85w.jpg" alt="Suami &amp; istri harus bekerja sama mempertahankan pernikahan" width="345" height="229" /></a><p class="wp-caption-text">Suami &amp; istri harus bekerja sama mempertahankan pernikahan</p></div>
<p>2. Kematangan Sosial</p>
<p>Oke, kamu dan pasangan sudah matang secara emosional. Selanjutnya apakah kalian sudah matang dalam aspek sosial? Bisa diketahui dari dua kriteria sebagai berikut</p>
<p style="padding-left: 30px;">a) Kencan (proses perkenalan) yang cukup – Meskipun lama berpacaran tidak bisa dijadikan tolak ukur yang pasti untuk kesiapan, selama waktu tersebut seberapa jauh kamu sudah mengenal pasangan? Banyak pasangan selalu berusaha menampilkan sisi terbaiknya sehingga ketika menikah banyak ‘surprise’ seperti kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengganggu dan akhirnya menimbulkan masalah. Walaupun dapat diatasi, akan lebih baik bila kamu mengetahuinya sebelum menikah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">b) <em>Enough of single life</em> - sebagai seorang dewasa muda, individu sudah merasakan mengeksplorasi potensi diri, mempunyai pekerjaan, dan menentukan hidup sendiri. Baru kemudian kamu dapat melangkah ke tahap berikutnya. Pastikan kamu sudah melakukan semua hal yang tidak bisa kamu lakukan jika sudah memiliki pasangan, seperti tenggelam dalam hobi, berlibur atau pulang larut karena pergi bersama teman, dan lainnya.</p>
<p>3. Kesehatan Emosional</p>
<p>Individu dikatakan sehat secara emosional bila stabil, tidak cemas, dan merasa aman (<em>secure)</em>. Ingat, saat sudah menikah, kamu harus memikirkan pasangan selain dirimu sendiri.</p>
<p>4. Persiapan Peran</p>
<p>Kamu harus mengetahui peran sosial sebagai seorang pasangan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hal ini bisa dilihat dari <em>significant others</em> (Bandura dalam Wortman, 2004) atau pencarian informasi dari literatur/ konseling. Sudahkah kamu mengecek ke pasangan mengenai harapan-harapan yang dimilikinya dalam kehidupan ber-rumah tangga? Bisakah kamu memenuhinya? Jika belum, apa yang harus dilakukan agar tercapai kompromi?</p>
<p>5. Kemampuan Komunikasi</p>
<p><em>We cannot not communicate</em>. Apa pun kebutuhanmu, kini akan dirasakan oleh suami atau istrimu. Tapi tak semua orang dapat menangkap kebutuhan pasangannya, dan tak semua orang dapat menjelaskan apa yang dibutuhkannya. Jadi, daripada merajuk, apakah sekarang kamu sudah memakai pola yang lebih komunikatif saat pasanganmu tidak mengerti apa yang kamu inginkan?</p>
<p>6. Kemampuan Finansial</p>
<p>Kemampuan finansial di sini tidak terbatas dalam arti kemampuan pasangan untuk membeli rumah, mobil dan materi lainnya. Kemampuan finansial juga berarti visi dalam mengelola bersama pemasukan yang didapatkan tiap bulannya, kemampuan untuk menabung dan menahan diri untuk tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan kemampuan untuk mencari investasi masa depan. Untuk pasangan baru, kemampuan finansial juga berarti kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan uang yang masih sangat terbatas tanpa sokongan dari orangtua. Have you?</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 355px"><a href="http://dailyphotostudio.com/wedding/mimoy-dion"><img class="   " title="Komunikasi adalah senjata utama dalam perkawinan" src="http://i46.tinypic.com/2h3d83b.jpg" alt="Komunikasi adalah senjata utama dalam perkawinan" width="345" height="229" /></a><p class="wp-caption-text">Komunikasi adalah senjata utama dalam perkawinan</p></div>
<p>7. Kemampuan Memotivasi Pasangan</p>
<p>Duvall dan Miller (1985) mengatakan bahwa pernikahan dapat disimbolkan oleh roller-coaster: kadang kita berada di atas (bahagia), kadang kita berada di bawah (menghadapi masalah). Karena masalah adalah hal yang sudah dapat dipastikan kedatangannya, maka pasangan harus memiliki motivasi untuk mempertahankan hubungan mereka, seperti apa pun situasinya. Jika pasangan tidak dapat saling memotivasi untuk mempertahankan hubungan, maka bukan tidak mungkin bahwa solusi pertama yang diambil saat menemui hambatan adalah memutuskan hubungan.</p>
<p>Coba ingat terakhir kali kamu dan pasangan bertengkar hebat. Berapa lamakah kalian dapat bertahan sebelum berpikir, “kalau begini, lebih baik putus saja, deh”?</p>
<p>8. Kemampuan Menerima Tekanan dari Keluarga Pasangan</p>
<p>Walau tidak bermaksud seperti itu, keluarga terkadang memburu-burukan suatu pasangan dalam menjalankan hidupnya. Keluarga sering kali “menekan” pasangan untuk cepat-cepat punya anak, membeli rumah, menguasai peran sebagai suami/istri, dan lain-lain. Terkadang, dilema antara mementingkan pasangan dan memenuhi “tekanan” keluarga dapat menjadi sumber pertengkaran. Kamu dan pasangan sebaiknya mulai memupuk kemampuan untuk “menolak” tekanan yang memang belum saatnya untuk dijalankan dan fokus kepada prioritas kalian berdua. Sekali-sekali, sedikit berkompromi dengan kemauan keluarga memang ada baiknya juga, tetapi pastikan kedua pasangan sudah menyetujuinya.</p>
<p>Bagaimana, sudah siapkah kamu menikah?</p>
<p>Tentang Penulis:</p>
<p>Nadia Ikayanti S.Psi is a 20 something sport enthusiast that has graduated from Psychology UI. For her, to live with optimum health is considered as a lifetime goal. <a title="Author's twitter account" href="http://twitter.com/nadiaika" target="_blank">Click here</a> to follow her twitter account.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Dewi, Ika Sari. (2006). <em>Kesiapan Menikah pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja</em>. Medan: USU Repository</p>
<p>Duvall, Evelyn M. &amp; Miller, Brent C. (1985). <em>Marriage and Family Development</em>. Harper &amp; Row Publishers.</p>
<p>Holman, T.B., dan Bing, Dao Li.(1997). Premarital Factors Influencing Perceived Readiness for Marriage. <em>Journal of Family Issues</em>. 1997:122-144. Sage Publication</p>
<p>Purnama, Erik Putra. (2012). <em>Angka Perceraian Pasangan Indonesia Naik Drastis 70 Persen</em>.     http://www.republika.co.id</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fkesiapan_menika&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/kesiapan_menika/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati Dengan Ahli Psikologi. Apakah Dia yang Kamu Butuhkan?</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/cabang-psikologi</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/cabang-psikologi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 04:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Industri & Behavioral Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Industri dan organisasi]]></category>

		<category><![CDATA[klinis]]></category>

		<category><![CDATA[neuropsikologi]]></category>

		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikolog]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1776</guid>
		<description><![CDATA[Yuk, kenali cabang-cabang dari Psikologi serta kemampuan para ahli dari cabang tersebut. Gunanya, agar kamu bisa pergi ke ahli yang sesuai dengan masalah yang kamu hadapi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <a title="Akun twitter penulis" href="http://twitter.com/@ramadion_syam" target="_blank">Ramadion Syam S.Psi</a></p>
<p>Bagaimanakah perasaanmu jika anggota keluarga kita yang masih muda (anak atau adik) yang dibawa ke seorang psikolog karena sudah beberapa kali berkelahi di sekolah, didiagnosis &#8220;memiliki kecenderungan menjadi psikopat&#8221;? Lalu, bagaimanakah perasaanmu ketika kamu membawa anak ini ke psikolog lain yang mengatakan bahwa “kenakalan”-nya hanyalah sebuah fase yang akan hilang dengan sendirinya? Dan apa yang akan kamu perbuat saat kenalan lain yang kamu tahu adalah seorang profesor psikologi mengatakan bahwa ia tak mengerti apa-apa tentang dunia anak-anak dan tak bisa membantu anak atau adikmu ini?</p>
<p>Jangan bingung, karena kamu baru saja bertemu dengan tiga orang ahli psikologi yang memiliki spesialisasi yang berbeda, dan kebingungan ini adalah (sayangnya) salahmu sendiri.</p>
<p>Seperti di bidang kedokteran, psikologi juga memiliki spesialisasinya sendiri. Seperti para dokter yang memiliki keahlian khusus untuk menangani jantung, syaraf, tulang dan lain-lain, spesialisasi di bidang psikologi membuat para praktisinya memiliki keahlian khusus masing-masing (dan mungkin nol pengetahuan di area psikologi lainnya). Seharusnya, para ahli psikologi ini secara otomatis tidak menerima keluhan-keluhan klien yang bukan keahliannya. Hanya saja, kadang ada ahli psikologi yang nakal dan menerima semua klien demi uang atau alasan lain.</p>
<p>Maka, adalah tugas kamu untuk mencari tahu keahlian para praktisi psikologi ini sebelum datang konseling. Dalam artikel ini Ruang Psikologi akan menjabarkan keahlian para praktisi psikologi sesuai dengan cabang yang ada di dunia psikologi (serta penjabaran tambahan mengenai “tiga Profesi Psikolog di Indonesia” di bagian <em>Catatan</em>). Oh ya, artikel ini juga berguna untuk kamu yang merasa tidak memerlukan bantuan ahli psikologi karena kamu “tidak gila”, di artikel ini kamu akan menemukan bahwa ada ahli-ahli psikologi yang juga dapat memberikan manfaat bagi manusia yang sehat. Berikut adalah cabang-cabang di psikologi dan apa saja kemampuan yang dimiliki para ahlinya:</p>
<p>1. Psikologi Abnormal</p>
<p><a href="http://0.tqn.com/d/careerplanning/1/0/Q/C/clinical-psychologist.jpg"><img class="alignleft" title="Sumber foto: www.careerplanning.about.com" src="http://0.tqn.com/d/careerplanning/1/0/Q/C/clinical-psychologist.jpg" alt="" width="369" height="369" /></a>Cabang dari psikologi ini meneliti dan melakukan intervensi kepada gangguan-gangguan kejiwaan, seperti autisme, perilaku seksual menyimpang, gangguan kepribadian, dan lain-lain. Tugas mereka adalah mendiagnosa gangguan apa yang dimiliki seseorang dan melakukan terapi agar orang tersebut dapat hidup dengan normal di dalam masyarakat. Biasanya, pandangan masyarakat umum dari sesuatu yang namanya “psikolog” adalah apa yang digambarkan dari praktisi cabang psikologi ini. Praktisinya biasanya dikenal dengan sebutan psikolog (klinis), konselor atau psikoterapis.</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Psikolog Klinis</em> adalah profesi yang harus kamu datangi jika memiliki keluarga yang mengalami gangguan psikologis. Terdapat dua macam Psikolog Klinis, yaitu mereka yang secara khusus menangani atau mencegah gangguan psikologi pada ANAK dan mereka yang mengkhususkan diri untuk menangani orang DEWASA. Untuk kasus yang terdapat di awal artikel ini, sebaiknya anak tersebut dibawa ke Psikolog Klinis Anak, karena psikolog ini juga akan mempertimbangkan proses perkembangan anak. Pada beberapa anak, memang terdapat fase “kenakalan” yang sebenarnya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan makin dewasanya anak. Psikolog Klinis Dewasa akan bekerja paling efektif jika berhadapan dengan mereka yang sudah hidup dengan mandiri.</p></blockquote>
<p>2. Psikologi Pendidikan</p>
<p>Psikologi Pendidikan mempelajari tentang hal-hal yang membantu atau menghambat proses mengajar di sekolah. Misalnya, persepsi murid kepada guru, di mana persepsi ini dapat membantu atau menghalangi murid dalam menerima materi yang diajarkan. Kadang, ahli psikologi di bidang pendidikan juga memiliki kemampuan memberikan terapi kepada anak yang memiliki gangguan psikologis, tapi sebenarnya terapi bukanlah bidang utama mereka. Sebaiknya, jika anak memiliki gangguan psikologis, anak tetap dibawa ke ahli psikologi perkembangan atau psikolog klinis.</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Psikolog Pendidikan</em> adalah profesi yang tugasnya memastikan siswa di sebuah lembaga pendidikan dapat menerima materi pelajaran dengan optimal. Ia harus memastikan kondisi keluarga siswa, kondisi psikologis siswa (motivasi anak, gaya belajar anak, dan lain-lain), serta kondisi fisik di tempat belajar tidak akan mengganggu penyerapan materi pelajaran. Untuk kasus di awal artikel, psikolog pendidikan dapat berperan sebagai orang yang memberikan diagnosa awal. Tetapi, sebaiknya diagnosa final dan penanganannya dilakukan oleh psikolog klinis.</p></blockquote>
<p>3. Psikologi Industri dan Organisasi</p>
<p>Cabang ini meneliti tentang kondisi terbaik agar karyawan di sebuah perusahaan dapat bekerja dengan maksimal, mulai dari kondisi fisik dari tempat bekerja sampai dengan kondisi psikologis karyawan. Tema yang dibahas oleh ahli di bidang ini mulai dari tingkat terangnya cahaya di tempat kerja, interaksi karyawan-atasan, motivasi karyawan, kepuasan kerja sampai dengan penanganan masalah di rumah yang dapat mengganggu performa di tempat kerja.</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Psikolog Industri dan Organisasi</em> adalah profesi yang biasanya bekerja di Human Resource Department. Mereka berfungsi untuk mencari orang dengan bakat yang paling cocok untuk sebuah jabatan, memberi pelatihan agar <em>skill</em> karyawan makin terasah, sampai mendeteksi karyawan yang memiliki gangguan psikologi. Tentu psikolog dari cabang ini sangat tidak cocok untuk menangani kasus seperti yang dijabarkan di awal artikel. Bahkan, seperti yang dijabarkan di awal artikel juga, mungkin mereka adalah profesor di bidang ini tapi tak mengerti apa-apa mengenai kondisi psikologis anak.</p></blockquote>
<p>4. Biopsikologi</p>
<p>Cabang ini mempelajari bagaimana otak mengontrol perilaku. Misalnya, jika ada seseorang yang kurang mampu memusatkan fokusnya, maka mungkin ada yang salah dengan syaraf, neurotransmiter atau komposisi kimia di otakmu. Jika kesalahan ini diperbaiki dengan obat atau operasi, maka gangguan psikologismu akan tersembuhkan. Ahli di bidang ini biasanya bekerja di laboratorium atau di rumah sakit. Bagi kamu yang butuh konseling biasa, tidak perlu menghubungi mereka.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.lsa.umich.edu/psych/research&amp;labs/berridge/images/Opto%20PCA%20Crop_4736.jpg"><img class="aligncenter" title="Sumber foto: http://www.lsa.umich.edu/psych/research&amp;labs/berridge/research/techniques.html" src="http://www.lsa.umich.edu/psych/research&amp;labs/berridge/images/Opto%20PCA%20Crop_4736.jpg" alt="" width="499" height="333" /></a></p>
<p>5. Psikologi Kognitif</p>
<p>Ahli psikologi kognitif adalah mereka yang tertarik pada proses berpikir manusia. Mereka mempelajari bagaimana memori itu dibentuk, bagaimana motivasi membuat manusia melakukan sesuatu, proses manusia memecahkan masalah (<em>problem solving</em>), membuat keputusan (<em>decision making</em>), dan lain-lain. Jika kamu perlu untuk “curhat” tentang gangguan kejiwaan keluargamu, ahli psikologi di bidang ini mungkin tidak akan terlalu tepat, karena mereka lebih memiliki kemampuan untuk melihat proses psikologis yang lebih sempit.</p>
<p>6. Psikologi Komparatif</p>
<p>Psikologi Komparatif membandingkan antara perilaku yang ada di manusia dengan perilaku yang terdapat pada binatang lain yang memiliki otak. Hal ini dipelajari karena dalam beberapa hal, sistem kerja otak dan binatang cukup mirip. Misalnya, dalam bagaimana sebuah kelompok memilih pemimpin, bagaimana kelompok menghukum anggotanya yang melanggar peraturan, bagaimana cara individu mengatasi ketakutan, dan lain-lain. Karena subjek utama yang diteliti ahli psikologi di bidang ini adalah binatang, maka curhat dengan mereka akan membuahkan penjelasan yang lebih primitif atau kembali ke akar evolusi. Misalnya, jika ada anak yang takut akan gelap, mereka akan menjelaskan bahwa ketakutan ini adalah warisan dari nenek moyang kita yang masih hidup di alam liar, sehingga akan terancam keamanannya oleh hewan karnivora di tempat gelap.</p>
<p>7. Psikologi Cross-cultural (lintas-budaya)</p>
<p>Cabang ini membandingkan antara struktur psikologis manusia dari beberapa budaya yang berbeda. Misalnya, perbandingan motivasi berprestasi dari orang Indonesia yang memiliki budaya kolektif dengan motivasi berprestasi orang Singapura yang lebih individualistis. Psikolog yang mendalami studi lintas-budaya biasanya tidak terlalu menajamkan kemampuan memberi terapi, tapi lebih ke kemampuan pengukuran psikologi.</p>
<p>8. Psikologi Perkembangan</p>
<p>Ahli di cabang ini adalah pilihan yang tepat untuk gangguan psikologis yang berhubungan dengan perkembangan (pertumbuhan) manusia, seperti yang dijabarkan di awal artikel ini. Mereka mempelajari kematangan perkembangan pikiran manusia di masa muda, serta penurunan kualitas pikiran di masa tua. Mereka biasanya lebih sensitif dengan anomali (penyimpangan) yang sebenarnya normal, yang merupakan bagian dari perkembangan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://smu.edu/education/CCCD/MultipleSystems.gif"><img class="aligncenter" title="Sumber foto: http://smu.edu/education/CCCD/conceptualframework.asp" src="http://smu.edu/education/CCCD/MultipleSystems.gif" alt="" width="336" height="335" /></a></p>
<p>9.  Psikologi Behavioral</p>
<p>Cabang dari psikologi ini mempelajari cara membentuk suatu perilaku dengan proses pengkondisian. Misalnya, agar anak selalu rajin belajar, anak harus diberikan hadiah (<em>positive reinforcement</em>) setelah dia belajar. Praktisi dari cabang psikologi ini bisa menjadi konselor di lembaga psikologi (memberi terapi), pendamping guru di sekolah, atau bekerja di bidang yang lebih luas seperti membuat peraturan di suatu lingkungan (lengkap dengan konsekuensinya). Konsultasi dengan ahli di bidang ini akan menghasilkan sebuah sistem <em>reward-punishment</em> dalam menyelesaikan masalahmu. Psikologi behavioral merupakan cabang yang sudah mulai menurun pemakaiannya, meskipun masih dapat dipakai dalam beberapa kasus</p>
<p>10. Psikologi Eksperimental</p>
<p>Psikolog eksperimental adalah mereka yang bekerja di laboratorium (baik laboratorium di ruangan mau pun laboratorium terbuka yang berada di masyarakat) untuk membuktikan hal-hal yang mempengaruhi kondisi psikologi seseorang. Misalnya, dengan bekerja sama dengan ahli Psikologi Pendidikan, mereka mencari tahu efek suara bising dengan kemampuan seorang murid untuk menyerap materi pelajaran. Ahli psikologi di cabang ini lebih mampu untuk melihat pola di masyarakat secara general (sebagai kelompok) dibandingkan memberikan terapi untuk orang-per-orang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://valadoo.com/static/experimental.jpg"><img class="aligncenter" title="Sumber foto: http://www.nature.com/srep/2011/111026/srep00130/fig_tab/srep00130_F1.html" src="http://valadoo.com/static/experimental.jpg" alt="" width="556" height="266" /></a></p>
<p>11. Psikologi Forensik</p>
<p>Psikologi Forensik berhubungan dengan bidang hukum. Pekerjaan mereka adalah memberikan kesaksian ahli di persidangan, mewawancara anak yang dicurigai menjadi korban abuse, membantu anak menyiapkan diri untuk memberi kesaksian, dan mengukur kondisi mental terdakwa.</p>
<p>12. Psikologi Kesehatan</p>
<p>Cabang ini mempelajari tentang cara untuk menjaga kesehatan dan menghadapi masa sakit. Mereka memiliki kompetensi untuk menasihati pasien, keluarga pasien atau bahkan orang yang masih sehat tentang cara untuk mempertahankan kondisi tubuh agar tetap sehat. Tentu sebaiknya kita hanya pergi berkonsultasi ke mereka jika memiliki masalah psikologis yang mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.</p>
<p>13. Psikologi Kepribadian</p>
<p><a href="http://www.thecitysheartbeat.com/wp-content/uploads/2012/01/myersbriggpost.png"><img class="alignleft" title="Sumber foto: http://www.thecitysheartbeat.com/extrovert/" src="http://www.thecitysheartbeat.com/wp-content/uploads/2012/01/myersbriggpost.png" alt="" width="139" height="236" /></a>Setiap orang itu unik, dan cabang psikologi ini mencoba memetakan kepribadian-kepribadian yang ada di dunia. Misalnya, dengan alat ukur yang sudah distandarkan, ahli di cabang ini bisa mengetahui apakah kamu seorang ekstrovert atau introvert, serta berdasarkan temuan ini mengetahui bagaimana cara terbaik untukmu mendapatkan energi tambahan. Serta dengan alat ukur lain, bisa diketahui apakah kamu seorang pemikir (<em>thinking</em>) atau orang yang mengandalkan intuisi (<em>feeling</em>), dan pekerjaan apa yang cocok untuk dirimu. Ahli di bidang ini cukup baik untuk menjadi tempat konsultasi mengenai bakatmu dan pekerjaan seperti apa yang cocok denganmu.</p>
<p>14. Psikologi Sosial</p>
<p>Cabang Psikologi Sosial tertarik dengan perilaku sosial manusia (interaksi antara satu manusia dengan manusia lain): komunikasi nonverbal, rasisme, perilaku sebuah kelompok, interaksi sosial, dan lain-lain. Ahli di cabang ini biasanya lebih mampu mengatasi masalah psikologi kemasyarakatan daripada individu.</p>
<p>15. Psikologi Positif</p>
<p>Cabang ini adalah yang paling muda diantara yang lain. Pendekatan yang diambil adalah menguatkan nilai atau ciri positif yang dimiliki seseorang, sehingga dia dapat meraih kematangan dan kesuksesan yang optimal dalam hidupnya. Cabang psikologi positif ini melihat manusia sebagai mahluk yang dari sananya (ketika dilahirkan) sudah memiliki nilai positif. Ahli di bidang ini dapat menjadi konselor yang cukup baik, walau pun sebaiknya tidak menangani keluhan abnormalitas pada kejiwaan.</p>
<p>Bagaimanakah cara untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki ahli psikologi yang akan kamu datangi untuk konsultasi? Cara termudah adalah dengan melihat titel yang dimilikinya, orang yang memiliki titel sebagai psikolog (Psi.) adalah mereka yang dididik khusus untuk menjadi terapis. Cara lain adalah dengan menghubungi tempat prakteknya langsung dan menanyakan pendidikan spesialisasi yang telah dia tempuh. Tetapi jika kamu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, kamu bisa melakukan googling dari namanya pun sudah cukup. Kamu bisa mengecek di mana ia menyelesaikan study-nya, dan apakah pendidikannya tersebut sesuai dengan permasalahan yang kamu atau keluargamu hadapi.</p>
<p>Jadi, selamat melakukan proses pencarian untuk menemukan ahli psikologi yang tepat bagi dirimu atau keluarga.</p>
<p>Daftar Pustaka:</p>
<p>Cherry, Kendra. (2012). <em>Branches of Psychology</em>. Diambil 2012, Maret 29 dari <a href="http://psychology.about.com/od/branchesofpsycholog1/tp/branches-of-psychology.htm">http://psychology.about.com/od/branchesofpsycholog1/tp/branches-of-psychology.htm</a></p>
<p>Halida, Aril. (2009). <em>Psikolog&#8230; Sahabat Sejati Dalam Suka &amp; Duka</em>. Diambil 2012, Maret 29 dari <a href="http://www.yarsi.ac.id/web-directory/kolom-dosen/73-fakultas-psikologi/146-psikologsahabat-sejati-dalam-suka-a-duka.html">http://www.yarsi.ac.id/web-directory/kolom-dosen/73-fakultas-psikologi/146-psikologsahabat-sejati-dalam-suka-a-duka.html</a></p>
<p>Wortman, C., Loftus, E., &amp; Weaver, C. (1999). <em>Psychology</em>. New York: McGraw-Hill College.</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fcabang-psikologi&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/cabang-psikologi/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menghindari Prasangka</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/menghindari-prasangka</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/menghindari-prasangka#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 01:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Di artikel kali ini, akan dibahas cara untuk meminimalisir serta menghindari munculnya prasangka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Di dua artikel sebelumnya telah dibahas </span><span lang="IN">dampak buruk </span><span>dan </span><span lang="IN">penyebab dari prasangka. Di artikel kali ini </span><span>akan dibahas lebih lanjut </span><span lang="IN">beberapa tips untuk mengurangi prasangka.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">1.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span lang="IN">Sejak kecil, ajari anak untuk toleransi terhadap kelompok lain dan hindari fanatisme terhadap kelompok sendiri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Anak kecil memang seperti spons yang dapat menyerap segala informasi di sekitarnya. </span><span> <span lang="IN">Aturan-aturan sederhana di keluarga (seperti makan harus di meja makan, memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan tertentu) biasanya akan bertahan </span></span><span>hingga </span><span lang="IN">dewasa. </span><span>Hal tersebut juga berlaku untuk </span><span lang="IN">toleransi. </span><span>Dengan mengajarkan toleransi sejak kecil, hal tersebut akan </span><span lang="IN">terus terbawa </span><span>hingga </span><span lang="IN">dewasa. Akan tetapi, untuk mengajarkan anak sebaiknya </span><span>tidak</span><span lang="IN"> hanya dengan kata-kata. Anak-anak sangat mudah belajar dengan cara mencontoh lingkungan. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengajarkan toleransi </span><span>adalah dengan </span><span lang="IN">memberi contoh nyata toleransi terhadap orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">2.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span lang="IN">Manfaatkan pengaruh sosial untuk mengurangi prasangka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Secara sederhana, metode ini menggunakan media sosial untuk mengurangi prasangka. Dengan</span><span lang="IN"> makin banyak gerakan yang </span><span>mengajak masyarakat untuk menghindari</span><span lang="IN"> prasangka, maka jumlah orang yang berprasangka juga akan makin menurun.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">3.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span lang="IN">Perbanyak interaksi dengan kelompok lain </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dengan </span><span lang="IN">berinteraksi sebanyak-banyaknya dengan kelompok </span><span>lain </span><span lang="IN">maka </span><span>kemungkinan terjadi </span><span lang="IN">kesalahpahaman yang menimbulkan prasangka </span><span>akan semakin kecil</span><span lang="IN">. </span><span>Cara yang mungkin lebih mudah adalah dengan </span><span lang="IN">mencari informasi objektif tentang kelompok </span><span>lain </span><span lang="IN">tersebut</span><span>. </span><span lang="IN">Pada intinya, kita harus terbuka untuk </span><span>berinteraksi dengan </span><span lang="IN">kelompok lain sebelum menentukan sikap </span><span>suka tidak suka </span><span lang="IN">terhadap kelompok </span><span>tertentu.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">4.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Tersenyumlah</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tersenyum</span><span> memiliki </span><span lang="IN">banyak fungsi dalam </span><span>kehidupan sehari - hari</span><span lang="IN">. Selain sudah terbukti </span><span>bahwa tersenyum dapat </span><span lang="IN">membuat </span><span>individu </span><span lang="IN">lebih sehat, penelitian </span><span>lain </span><span lang="IN">membuktikan </span><span>jika </span><span lang="IN">tersenyum (atau tertawa) dapat mengurangi prasangka terhadap kelompok lain. Penelitian </span><span>tersebut menjelaskan jika A </span><span lang="IN">tersenyum sebelum melihat </span><span>B</span><span lang="IN">, maka prasangka </span><span>A </span><span lang="IN">terhadap </span><span>B </span><span lang="IN">akan berkurang. Cara ini adalah yang paling mudah dilakukan. </span><span>Saat individu memiliki </span><span lang="IN">pikiran yang buruk tentang </span><span>individu </span><span lang="IN">lain cobalah </span><span>untuk</span><span lang="IN"> tersenyum sehingga pikiran negatif yang memicu prasangka itu dapat berkurang.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">5.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Mencari kesamaan dari</span></strong><strong><span lang="IN"> kategori sosial </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di artikel</span><span lang="IN"> sebelumnya, salah satu penyebab prasangka adalah kategorisasi sosial. </span><span> Oleh karena itu </span><span lang="IN">cara terakhir ini adalah </span><span>mencari kesamaan dari kategorisasi sosial tersebut</span><span lang="IN">. </span><span>Sebagai contoh, di sepanjang nusantara terdapat berbagai suku bangsa, namun berbagai suku bangsa tersebut memiliki satu kesamaan yang utama, yaitu sama – sama berbangsa Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Penjelasan – penjelasan di atas diharapkan dapat menggambarkan bahwa, walaupun sulit, prasangka dapat dicegah. Oleh karena itu, individu sebaiknya meng</span><span lang="IN">hindari prasangka </span><span>agar </span><span lang="IN">dampak buruknya </span><span>dapat terhindarkan</span><span lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk lebih mengetahui tentang prasangka, TeaterPsikologi UI sebagai teater yang peduli akan isu-isu psikologi akan mementaskan <strong><span style="text-decoration: underline;">“SuryatiLangsungkeHati”</span></strong> dengan tema utama prasangka. Humor-humor segar dan <em>setting</em> kehidupan sehari-hari tetap menjadi kekuatan pementasan Teater Psikologi UI. Oleh karena itu, saksikan Teater Psikologi UI di Aula FakultasPsikologi UI Depok tanggal 28  - 29 April 2012. <a name="_GoBack"></a></span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><em><span lang="IN">Prejudices are what fools use for reason - Voltaire</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Christian Hermawan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dari Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) dalam  rangka kampanye anti prasangka.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sumber</span><span lang="IN">:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Baron, Robert.A., Byrne, D., &amp;Branscombe, Nyla. R. (2006).<em>Social Psychology 11<sup>th</sup> Ed</em>. USA: Pearson.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mendoza-Denton, R. (2010). The Top 10 Strategies for Reducing Prejudice (Part 2 of 3). Diakses secara online dari <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/are-we-born-racist/201012/the-top-10-strategies-reducing-prejudice-part-2-3">http://www.psychologytoday.com/blog/are-we-born-racist/201012/the-top-10-strategies-reducing-prejudice-part-2-3</a> pada tanggal 24 Maret 2012.</span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fmenghindari-prasangka&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/menghindari-prasangka/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebab Prasangka</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/penyebab-prasangka</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/penyebab-prasangka#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 10:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1765</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang prasangka dapat muncul tanpa disadari. Apa yang menyebabkan prasangka tersebut muncul di dalam diri individu? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN"><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/equality.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1766" title="leader" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/equality-300x230.jpg" alt="leader" width="300" height="230" /></a>Pada artikel sebelumnya, </span><a href="http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka" target="_blank">Awas Prasangka!</a> <span lang="IN">kita sudah mengenal dan memahami apa itu prasangka dan bagaimana buruknya dampak prasangka bila dibiarkan tertanam dalam diri kita. Di artikel ini akan dibahas lebih dalam tentang </span><span lang="IN"> </span>“Kenapa kita berprasangka?”.</p>
<p><span> </span></p>
<p><strong><span>Terserang Harga Diri. </span></strong><span>Disadari atau tidak, terkadang </span><span lang="IN">kritik </span><span>dapat membuat </span><span lang="IN">kita merasa terganggu dan menjadi tidak senang terhadap </span><span>individu yang mengkritik. Berbagai </span><span lang="IN">penelitian </span><span>menunjukkan bahwa </span><span lang="IN">serangan terhadap harga diri seseorang atau kelompoknya dapat menimbulkan prasangka</span><span>. Adapun fungsi p</span><span lang="IN">rasangka </span><span>adalah sebagai </span><span lang="IN">reaksi perlindungan terhadap harga diri kita </span><span>yang mungkin terluka saat dikritik. </span></p>
<p><strong><span> </span></strong></p>
<p><strong><span lang="IN">Saat Kita Melakukan Kompetisi Untuk Mendapatkan Sesuatu</span></strong><strong><span>. </span></strong><span>Sebuah </span><span lang="IN">penelitian menarik yang </span><span>yang melibatkan dua kelompok</span><span lang="IN"> anak-anak laki-laki </span><span>ber</span><span lang="IN">umur 11</span><span> tahun</span><span lang="IN">. Pada fase pertama diberikan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dan menyenangkan, lalu pada fase kedua, kedua kelompok diberikan tugas-tugas yang sifatnya kompetisi. Pada fase kedua ini, sangat terlihat prasangka antar kelompok, misalnya, mereka menghancurkan barang-barang kelompok lawannya. </span><span>Melalui penelitian itu terlihat </span><span lang="IN">persepsi negatif muncul </span><span>timbul perbedaan antara </span><span lang="IN">kelompok teman dan kelompok lawan. </span><span>Dengan adanya prasangka di kehidupan sehari – hari, prasangka cukup sulit dihindari. Sebagai contoh,</span><span lang="IN"> saat </span><span>terdapat dua </span><span lang="IN">pedagang yang menjual barang yang sama</span><span> akan</span><span lang="IN"> muncul kompetisi untuk mendapatkan pembeli lebih banyak</span><span>. Ketika satu pedagang memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan pedagang lainnya, terdapat</span><span lang="IN"> kemungkinan besar </span><span>akan muncul </span><span lang="IN">prasangka antar pedagang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selain kedua penyebab di atas, penyebab utama lainnya adalah <strong>kategorisasi sosial</strong></span><span>. Di kehidupan sehari – hari sadar atau tidak individu mengkategorikan individu lainnya </span><span lang="IN">berdasarkan </span><span>criteria </span><span lang="IN">tertentu, </span><span>seperti </span><span lang="IN">gender, agama atau suku</span><span>. </span><span lang="IN">Ternyata, </span><span>pengkategorian tersebut</span><span> <span lang="IN">dapat menjadi akar berkembangnya prasangka.</span></span><span lang="IN"> </span><span>Saat masuk kekelompok tertentu, individu cenderung lebih menyukai kelompoknya sendiri dibanding kelompok lain</span><span lang="IN">. Kecenderungan ini membuat </span><span>individu memiliki prasangka negatif </span><span lang="IN">terhadap kelompok </span><span>lainnya</span><span lang="IN">. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Berdasarkan penjelasan – penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa </span><span lang="IN">bahwa kunci</span><span> untuk menghindari prasangka</span><span lang="IN"> adalah </span><span>berpikir positif. Secara lebih detail maka dengan menganggap bahwa setiap kelompok sama baik diharapkan prasangka negatif yang muncul dalam diri setiap individu dapat dikontrol sehingga potensi kerugian baik untuk orang lain maupun diri sendiri dapat terhindarkan. </span><span lang="IN"></span></p>
<p><span> </span></p>
<p><strong><span>Christian Hermawan. </span></strong></p>
<p><strong><span>Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dari Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) dalam  rangka kampanye anti prasangka.</span></strong></p>
<p><span> </span></p>
<p><span> </span></p>
<p><span lang="IN">Referensi:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Baron, Robert.A., Byrne, D., &amp; Branscombe, Nyla. R. (2006).<em>Social Psychology 11<sup>th</sup> Ed</em>. USA: Pearson.</span><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Fein, S., &amp; Spencer, S. J. (1997). Prejudice as Self-Image Maintenance: Affirming the Self Through Derogating Others. <em>Journal of Personality and Social Psychology, Volume 73, hal. 31 – 44.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Forsyth, D. R. (2010). <em>Group Dynamics 5<sup>th</sup> ed</em>. California: Wadsworth Cengage Learning.</span><span></span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fpenyebab-prasangka&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/penyebab-prasangka/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Prasangka!</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 16:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1760</guid>
		<description><![CDATA[Saat kita mempunyai sikap negatif terhadap suatu kelompok sosial tertentu, maka kita juga akan memiliki prasangka terhadap orang yang menurut kita termasuk ke dalam kelompok tersebut. Selain berhubungan dengan orang lain, ternyata prasangka juga dapat merugikan diri kita sendiri. Sikap kita terhadap sesuatu akan menentukan emosi yang akan kita rasakan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><strong><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/prejudice.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1761" title="prejudice" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/prejudice-300x207.jpg" alt="prejudice" width="300" height="207" /></a></strong>Pernah menilai orang yang memiliki tato itu orang yang jahat? Atau menilai orang yang memiliki tindik adalah orang yang tidak suka mengikuti aturan?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bila pernah, berarti kita pernah punya prasangka terhadap kelompok-kelompok tersebut. Prasangka adalah sikap negatif terhadap suatu kelompok sosial. <span lang="IN">Saat kita mempunyai sikap negatif terhadap suatu kelompok sosial tertentu, maka kita juga akan memiliki prasangka terhadap orang yang menurut kita termasuk ke dalam kelompok tersebut</span>.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Prasangka </span>jika<span lang="IN"> ditanamkan dan dibiarkan semakin berkembang dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Contoh dampak nyata dari prasangka yang dibiarkan berkembang adalah kerusuhan Mei 1998 dan kerusuhan Ambon. </span>Pada kerusuhan Mei 1998, sekelompok masyarakat melakukan tindakan agresif (membakar toko dan rumah, membunuh, dan memperkosa) terhadap etnis Tionghoa. Pada kerusuhan tersebut tercatat ada lebih dari 1300 korban dan kerugian material milyaran rupiah.<span lang="IN"> Sementara itu, pada k</span>erusuhan Ambon<span lang="IN">, terjadi </span>konflik beragama yang merenggut lebih dari 1300 nyawa, 273 korban luka parah, dan 321 luka ringan. Kedua kasus di atas dapat terjadi karena ada kelompok yang menyimpan prasangka sebelumnya dan akhirnya meluap kemarahannya ketika adanya provokasi oleh pihak tertentu.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selain berhubungan dengan orang lain, ternyata prasangka juga dapat merugikan diri kita sendiri. Sikap kita terhadap sesuatu akan menentukan emosi yang akan kita rasakan. Saat semakin banyak sikap negatif yang kita simpan dan kembangkan, maka semakin besar juga emosi negatif juga yang akan kita rasaka</span>n<span lang="IN">. Seperti disebutkan sebelumnya, prasangka adalah sebuah sikap negatif, maka dengan menyimpan prasangka, kita akan lebih banyak merasakan emosi negatif yang membuat kita tidak bahagia. Kerugian lebih lanjut dari prasangka adalah emosi negatif yang menumpuk terbukti dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan kita</span>.</p>
<p class="MsoNormal">Dari kedua contoh di atas, kita dapat melihat <span lang="IN">prasangka adalah sesuatu yang berbahaya </span>jika di<span lang="IN">biarkan. </span>Indonesia <span lang="IN">sendiri adalah tempat yang </span>sangat rawan terhadap dampak prasangka. Didukung dengan banyaknya kelompok di negeri kita (etnis, agama, warna kulit, dll), maka prasangka sangat mudah berkembang<span lang="IN">. </span>Bila prasangka tersebut dipelihara dan ada provokasi dari pihak tidak bertanggung jawab, maka akan timbul sebuah konflik antar kelompok yang tentunya dapat membawa kerugian besar.</p>
<p class="MsoNormal">Potensi munculnya dampak buruk yang ditimbulkan oleh prasangka di Indonesia memang besar. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan prasangka dan dampak buruk yang mungkin muncul karena prasangka adalah hal yang sangat penting. Perlu makin banyak sosialisasi soal dampak buruk tersebut. Kesadaran akan prasangka tentunya diharapkan tiap kelompok akan dapat mencegah timbulnya prasangka dan akhirnya mengurangi dampak buruk akibat prasangka antar kelompok tersebut. Pada tulisan selanjutnya, kami akan coba membahas tentang <span lang="IN">penyebab</span> timbulnya prasangka ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dari Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) dalam  rangka kampanye anti prasangka.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Referensi:</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">________. (2010). Mind/Body Connection: How Your Emotions Affect Your Health. Diambil secara online dari <a href="http://familydoctor.org/familydoctor/en/prevention-wellness/emotional-wellbeing/mental-health/mind-body-connection-how-your-emotions-affect-your-health.html">http://familydoctor.org/familydoctor/en/prevention-wellness/emotional-wellbeing/mental-health/mind-body-connection-how-your-emotions-affect-your-health.html</a> pada tanggal 3 Maret 2012.</span></p>
<p class="MsoNormal">Baron, Robert.A., Byrne, D., &amp; Branscombe, Nyla. R. (2006). <em>Social Psychology 11<sup>th</sup> Ed</em>. USA: Pearson.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><a href="http://www.komnasham.go.id/pemantauan-dan-penyelidikan/1089-penantian-panjang-korban-pelanggaran-ham"><span lang="EN-US">http://www.komnasham.go.id/pemantauan-dan-penyelidikan/1089-penantian-panjang-korban-pelanggaran-ham</span></a></span> diakses 6 Februari 2012</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><a href="http://www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&amp;id=121"><span lang="EN-US">http://www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&amp;id=121</span></a></span> diakses 6 Februari 2012</p>
<p class="MsoNormal">Hanson, R. (2012). See Beings Not Bodies. <span lang="IN">Diambil secara online dari <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/your-wise-brain/201201/see-beings-not-bodies"><span lang="EN-US">http://www.psychologytoday.com/blog/your-wise-brain/201201/see-beings-not-bodies</span></a></span> pada tanggal 6 Februari 2012.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Raghunathan, Raj. (2011). The Four Attitudes of Happiness. Diambil secara online dari <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/sapient-nature/201106/the-four-attitudes-happiness">http://www.psychologytoday.com/blog/sapient-nature/201106/the-four-attitudes-happiness</a> pada tanggal 3 Maret 2012.</span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fawas-prasangka&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

