Eudaimonia: Sejahtera secara Psikologis dengan Menjadi Diri Sendiri

doc Flickr.com
Bayangkan diri Anda membeli sebuah mobil baru. Apa yang Anda rasakan? Senang dan bahagia? Sekarang bayangkan Anda berhasil melakukan sesuatu yang dari dulu benar-benar ingin Anda lakukan. Seperti, mendapatkan pekerjaan yang Anda dambakan, mencapai puncak sebuah gunung yang dari dulu ingin Anda daki, atau berhasil membuat sebuah resep masakan dengan sempurna. Apa yang Anda rasakan? Senang dan bahagia? Adakah perbedaan perasaan senang dan bahagia pada kedua bayangan tersebut?
Sejak jaman Yunani kuno, Aristoteles sudah merasa bahwa ada kebahagiaan lain yang melebihi kebahagiaan yang sekedar memberikan rasa senang, seperti membeli mobil baru, merasakan nikmatnya mabuk setelah meminum alkohol, melakukan hubungan seks dan lain-lain. Jika Aristoteles menamakan kebahagiaan yang menimbulkan rasa senang sebagai kebahagiaan Hedonic, Aristoteles menamakan kebahagiaan “lain” ini sebagai kebahagiaan Eudaimonic, yaitu saat seseorang merasa potensi hidupnya telah berjalan secara maksimal.
Kebahagiaan Eudamonic, menurut Aristoteles, kebahagiaan yang tidak kosong atau yang hilang setelah sumber kebahagiaan itu sudah tak terlihat mata atau tak terasa oleh indera perasa. Sebagai contoh, menjalin hubungan yang indah dengan seseorang bisa mendatangkan senyum ke wajah kita, bahkan saat orang tersebut sedang jauh di negeri seberang, atau bahkan sudah meninggal.
Menurut Aristoteles, kebahagiaan Eudaimonic lebih bersifat kejiwaan, sehingga lebih membuat jiwa seseorang sejahtera. Lihat saja contoh di atas, perasaan saat kita berhasil meraih cita-cita yang sudah lama kita impikan tentu lebih berharga dari sebuah mobil baru, ‘kan? Peneliti di jaman modern ini mengamini penjelasan Aristoteles.
Tiga orang peneliti dari Amerika Serikat (Michael Steger, Todd Kashdan, dan Shigehiro Oishi) membuktikan perkataan Aristoteles. Mereka menemukan bahwa dalam hidup, orang akan menemukan kebahagiaan Hedonis atau kebahagiaan Eudamonic. Tapi hanya kebahagiaan Eudamonic yang berhubungan dengan kesejahteraan jiwa (psychological well-being). Mereka menemukan bahwa setelah menjalani kebahagian Eudamonic, orang merasa hidupnya lebih memuaskan, merasa bahwa hidupnya lebih memiliki arti, dan merasakan emosi yang lebih positif.
Salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan Eudamonic adalah dengan menjadi diri sendiri. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang akuntan yang merasa bahwa dia lebih senang menjadi seorang pelukis. Tentu dia akan merasa lebih bahagia jika dia beralih profesi menjadi seorang pelukis (atau setidaknya mendapat kesempatan ikut les lukis di akhir pekan). Atau contoh lain, seorang istri yang merasa bersalah karena dia tertarik pada rekan kerjanya di kantor. Rasa bersalahnya ini (yang menghambat rasa bahagia) dapat dihilangkan dengan menerima kenyataan bahwa dia tertarik pada orang lain selain suaminya, dan hal tersebut tidak apa-apa asalkan dia tidak selingkuh dengan orang tersebut.
Menjadi diri sendiri memang membutuhkan usaha dan keberanian. Kita harus bersedia mendengarkan dan menerima pikiran-pikiran tergelap kita. Kita juga harus mencoba mengikuti keinginan terdalam kita (misal, seorang pria yang ingin operasi kelamin karena merasa bahwa jiwanya adalah wanita) walaupun mendapatkan tekanan dari keluarga atau lingkungan di sekitar kita. Menjadi diri sendiri memang memiliki resiko sendiri. Tetapi, di jaman yang makin terbuka ini, sekarang adalah saat yang paling kondusif untuk mencoba menjadi diri sendiri, agar Anda bahagia dan sejahtera secara psikologi.
Cara-cara untuk Menjadi Diri Sendiri
1. Membaca novel
Membaca novel memberikan kesempatan bagi Anda untuk melihat sudut pandang orang lain. Mungkin, dengan mengeksplorasi sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang Anda, justru Anda akan menemukan sudut pandang yang lebih cocok dengan diri Anda.
2. Meditasi
Selain menjadi kesempatan untuk mendengarkan suara-suara di dalam diri Anda, meditasi dapat memberikan kebahagiaan yang tidak tergantung pada hasil kerja Anda. Dengan mengetahui kebahagiaan murni tersebut, Anda bisa mencari tahu apa yang benar-benar membuat Anda bahagia.
3. Memilih apa yang Anda inginkan
Jangan biarkan lingkungan mendikte Anda. Tentukan apa yang Anda inginkan, dan lakukanlah. Sekali-sekali bahkan jangan terlalu memikirkan keputusan Anda.
4. Berhubungan dengan orang lain
Temukan bahwa orang lain juga ingin (dan sudah) menjalani hidup sesuai dengan keinginannya.
5. Bersenang-senang sesuai dengan siapa diri Anda
Olah raga atau berbincang-bincang tanpa arah dengan teman Anda di kafe mungkin adalah ide baik (jika memang Anda menyukainya).
6. Menerima kekalahan
Jangan biarkan kegagalan menambah ketidakbahagiaan Anda. Menerima kegagalan terbukti dapat mengurangi rasa kecewa.
Sumber:
Psychology Today edisi Juni 2008
Steger, M.F., Kashdan, T.B., & Oishi, S. (2007). Being Good by Doing Good: Daily Eudaimonic Activity and well-being.
Sumber foto:
http://www.flickr.com/photos/v1nz/3719712051/









Kebahagiaan Eudamonic Lainnya
Penelitian di bidang psikologi positif telah menemukan berbagai cara untuk mencapai kebahagiaan Eudamonic. Berikut adalah cara-cara yang telah ditemukan:
Memenuhi kebutuhan Relatedness
Manusia merasa bahagia saat dia tidak merasa sendirian di dunia ini. Yaitu saat dia merasakan hubungan dengan manusia lain yang menjadi temannya menghuni bumi ini. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membantu orang lain, atau membangun hubungan yang erat dengan manusia lain.
Memenuhi kebutuhan Competence atau Personal Growth
Manusia merasa bahagia saat dia dapat berdiri dengan kekuatan sendiri. Kebahagiaan ini dapat dirasakan saat manusia memiliki keterampilan yang cukup untuk menopang hidupnya atau saat manusia mendapatkan kemampuan baru. Jadi, cobalah ikut les dansa yang sudah lama ingin Anda ikuti itu.
Memenuhi kebutuhan Autonomy
Kebahagiaan datang saat kita dapat menjaga diri sendiri. Karena itu, memasak bagi diri sendiri atau pasangan dapat mendatangkan kebahagiaan.
Menerima Diri Sendiri
Kadang, kita merasa tidak bahagia karena tidak puas dengan diri kita sendiri. Sebetulnya, dapat menerima diri dengan apa adanya (bukan mendapatkan diri seperti yang diinginkan) adalah kunci menjadi bahagia. Jadi, daripada menelepon dokter ahli bedah kosmetik, akan lebih baik jika Anda menyadari bahwa hidung pesek juga indah.
Memiliki Tujuan Hidup
Apa yang ingin Anda lakukan besok, lusa, minggu depan, tahun depan, atau setelah Anda pensiun? Hanya dengan mengetahui bahwa masih ada yang ingin Anda perjuangkan esok hari dapat membuat Anda bahagia. (Dion)
Hm… gue mau nanya.
Gimana caranya kita mau menjadi diri sendiri kalau lingkungan berharap kita menjadi orang lain? Tadi ‘kan dibilang jangan biarkan lingkungan mendikte kita. Tapiii.. bagaimana jika lingkungan telah berkontribusi banyak buat kita.
MISAL
Gue ingin jadi penulis sementara orang tua gue pengen gue jadi pianist dan mereka memberi sokongan dana untuk les bertahun2. Naah, lingkungan memberi harapan dan beban buat saya untuk menjadi pianist. Balik modal dulu deh - istilahnya.
Maksud gue, bagaimana caranya lepas dari jeratan lingkungan sementara diri ingin berdiri sendiri? Apakah gue harus menerima kenyataan, memperjuangkan, atau gimana? Ya itu.. demi kebahagiaan eudamonic tadi.
cara yang bisa dilakukan, walau pun secara praktek masih susah, adalah mendiskusikan baik-baik keinginan lo sama lingkungan, “ma, pa, saya sebenarnya mau jadi penulis. saya akan lebih bahagia menjadi penulis daripada jadi pianis.” kalau ternyata lingkungan tidak bisa diubah, ya lebih baik ikut arus dulu daripada patah (bend is better than broken).
tapi, pelajaran bagi generasi selanjutnya adalah, biarkanlah anak-anak kita menjadi apa yang mereka inginkan, demi kebahagiaan mereka. makanya, saat ini kampanye 8 kecerdasan Gardner lagi digalakkan, karena kemampuan2 yang tadinya dianggap remeh, saat ini sudah bisa jadi mata pencaharian (misal, siapa mengira bahwa hobi naik gunung yang tadinya dianggap tak berguna bisa menghasilkan uang dengan memberi skill membuat training/outbound center).
kembali ke masalahnya Nia, ya udah, klo oleh lingkungan ga bisa jadi penulis, kita melakukannya sebagai hobi saja. misalnya, nulis di http://www.ruangpsikologi.com, gitu
Kalau ikut arus terus, kapan jadi diri sendirinya dong?
Dan menurut gue, pasti yang diri inginkan bukanlah sekedar hobi, tapi passion, jalan hidup, bahkan jiwa itu sendiri.
ya, emang susah Nia. kalau lingkungan dilawan, lama-lama kitanya akan ditekan dengan keras. memang bukan rezekinya kita hidup di jaman yang orang tua dan lingkungannya berpikiran terbuka.
jadi, klo jadi ortu, lo harus membiarkan anak lo jadi diri sendiri, ya
iya, tau, hobi tidak akan memberi efek yang sama dengan fulfillment itu. gimana, ya? mungkin lo bisa mengejar passion itu setelah lo ga dependent lagi sama ortu lo?
waw. menarik kak!
tapi aku juga sempet membahas masalah ini di note aku beberapa waktu lain, tapi dari perspektif yang cukup berbeda, silahkan diliat :
http://www.facebook.com/notifications.php?__a=1#/note.php?note_id=104085422439
@ ibel: yah, kenapa ngga dikirim ke redaksi? kan jadi bisa dimuat di http://www.ruangpsikologi.com :-/
Artikel Mantab Yon…
cucok banget buat orang sekarang yang terkena arus modernisasi dan globalisasi…
dimana jaman dan model sudah diset menjadi suatu keharusan seseorang untuk melakukan sesuai dengan yang orang lain lakukan…
mengapa semua orang jadi punya selera yang cenderung sama terhadap sesuatu hal, apakah karena memang itu “bagus” atau karena orang-orang lain bilang hal itu “bagus”…????
mengapa harus konform kalu bertolak belakang dengan sejati diri kita..???
Gw mau tambahin apa yang ditanya sama Nia, mungkin tuntutan dari orang tua kalau tidak dipenuhi akan membuat suatu kekecewaan dari mereka terhadap kita, namun jika dijelaskan dengan baik dan memberikan mereka kepercayaan bahwa jalan yang kita ambil adalah kebahagiaan dan kebaikan bagi kita maka mereka akan mengerti.
bener juga kata Dion untuk tidak lagi bergantung kepada orang tua, agar segala macam yang kita pilih menjadi tanggungjawab kita sendiri dan yang terpenting mereka dapat melihat bahwa kita bisa melakukan itu sendiri.
yah intinya adalah menunjukkan bahwa kita lebih produktif dan bahagia berada pada jalan kita sendiri.
tapi, kalau melihat proses yang dijalani Amerika Serikat, konformitas yang berlebihan itu adalah salah satu jalan yang harus dilewati. setelah semua orang confirm (atau kata Kierkegard, “tidak dapat dibedakan antara yang satu dan yang lain”), akan hadir langkah selanjutnya, yaitu menyadari bahwa dengan sama dengan orang lain, mereka ga merasa bahagia.
lalu, hadirlah keinginan untuk mencari jati diri masing-masing. transendensi. kuncinya adalah kesadaran, jadi kita ga perlu menggurui. cukup diperhatikan saja
Setuju…!!!
tapi, kalo menurut aku kebahagiaan sejati ga cukup hanya dengan menjadi diri sendiri. karena setelah kita menjadi diri sendiri tetap akan ada kekosongan. Menurutku, kebahagiaan sejati adalah saat kita memperjuangkan dan melakukan sesuatu yg kita anggap benar hingga kita rela mati untuknya. Intinya punya tujuan hidup gitu. Coz kalo jadi diri sendiri tapi ga punya tujuan hidup dan ga tau mau ngapain, kurasa malah bakal bingung dan ga bahagia juga.
halo, d1ny
apa yang lo bilang tuh bener. makanya, eudaimonia itu bukan cuma tentang menjadi diri sendiri. tapi menjalani kehidupan lo dengan sebaik-baiknya (live life to it’s fullest). makanya, setelah jadi diri sendiri, kita juga harus tau: apa yang diri kita ingin lakukan? potensi apa yang kita punya? gimana cara memaksimalkannya?
hidup itu berarti bagi mereka yang memperjuangkannya
eudaimonia itu kayanya hasil dari aktualisasi diri yah
@ erfi: bener. dari mengenali potensi diri, dan memaksimalkan potensi itu
Hal menarik yang mungkin cukup sering terjadi ketika orang-orang yang “memperjuangkan” kebahagiaan eudamonic adalah anggapan bahwa “lingkungan kita adalah penentang kita yang utama”. Ini mungkin salah satu faktor yang menyebabkan pencapaian kebahagiaan tersebut menjadi seakan lebih berat ketika lingkungan terlihat tidak memberikan dukungannya. Jadi “the wall (conscious or unconsciously) was built by us too, it indeed make the wall thicker”.
Finding the common ground is always the key I guess. By realizing that our surrounding might wanting the same thing (usually our happiness) but in a way that different with us, and wanting a happy life for someone that we love can never be wrong. I guess once we knew the common ground, we might appreciate and understand more, and accepting the difference with humble attitude than “I know better than you” attitude (this might be the hardest part in my own experience). This attitude might lead to openness, and to more constructive discussion of reaching the happiness that all of us (including our surrounding) wants to achieve.
@ rara:
wah, sudah pernah menjalaninya, ya? same here. sayangnya, gue collaps dan ikut arus. mungkin setelah gue bener-bener independen, baru gue akan memperlihatkan diri gue yang sebenernya
yang pasti, what happened to me won’t happen to my kids…
mudah2an rara udah berhasil melakukan diskusi yang konstruktif itu, ya. btw, ini rara yang gue kenal bukan? bu boss? atau aussy girl? ahahaha…
wah brarti hampir sama dong sama hedonik.. perbedaan dan persamaannya apa ya kira-kira dengan hedonik.. thx u
artikel yang bagus.. saat ini saya tengah menyusun skripsi tentang aktualisasi diri. bisa minta email atau ym author untuk berdiskusi masalah ini? terimakasih sebelumnya
heloo teman teman aku ini sekaran
ingin menjadi orang berguna bagi kelurgaku
tetapi caranya gimana ?……….
aku sekarang mengelami stres bangat
coz orangtua pacarku selalu ngomong aku
gimana caranya ntuk?……………….
tolong bantu aku
menjadi diri sendiri menurut agama adalah mengerti asal kita ada, memahami tujuan hidup kita, mengerti posisi kita, mengetahui tempat kita kembali, mampu memahami sejarah-sejarah kehidupan manusia dari zaman-ke zaman dan mampu meyakinkan diri bahwa Ada Kuasa di Atas Kuasa Kita dan itu sifatnya tidak selalu rasional dan ada adanya.
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Gold Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen emosi freud gangguan gender homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif psikologi seks Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita Blog (10)
Essay (151)
Featured (146)
Headline (142)
Lain-lain (36)
News (6)
Psikologi Industri & Behavioral Economy (18)
Psikologi klinis (46)
Psikologi Olahraga (2)
Psikologi pendidikan (16)
Psikologi Perilaku Seksual (5)
Psikologi perkembangan (31)
Psikologi sosial (49)
Psikologi Umum & Eksperimen (32)
Uncategorized (8)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (38)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (23)
- Lois (RSS) (13)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (24)
- Penulis Tamu (RSS) (22)
- ramadion (RSS) (25)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed