Regulasi Emosi untuk Public Speaking

presentation-anxiety

Spresentation-anxietyeringkali ketika disuruh berbicara di depan orang lain untuk mempresentasikan sesuatu seperti proposal, makalah, dan lainnya – seseorang merasa cemas. Saya pernah merasakannya dan mungkin Anda juga. Jantung berdegup kencang, tangan berkeringat, lidah terasa kelu, dan hal yang ingin dibicarakan hilang dari pikiran.

Mengapa seseorang merasa cemas?

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang merasa cemas seperti misalnya ia memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap apa yang harus ia dapatkan setelah presentasi, orang tersebut ingin presentasinya sukses, semua berjalan sesuai dengan rencana, atau dapat membuat semua audiens kagum dengan apa yang ia bicarakan. Selain itu, pengalaman masa lalu dimana ketika gugup saat presentasi kemudian mendapatkan tertawaan dan kritikan dari orang lain dapat mempengaruhi kecemasan seseorang saat melakukan prensentasi saat ini.

Bagaimana cara mengatasinya?

Hofmann (2009) melakukan penelitian terhadap 201 mahasiswa untuk melakukan presentasi di depan video camera. Mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok besar dimana setiap kelompok diberikan perlakuan berbeda untuk mengatasi rasa cemas ketika akan melakukan presentasi. Model atau regulasi emosi yang diberikan adalah peninjauan-ulang (reappraisal), penerimaan (acceptance), dan penekanan (suppression).

Regulasi emosi peninjauan-ulang (reappraisal) adalah regulasi emosi yang fokus kepada masalah yaitu presentasi. Misalnya ketika seseorang akan melakukan presentasi, orang tersebut akan fokus kepada materi yang akan diberikan, bagaimana urutan presentasi, apa yang akan ia lakukan jika presentasi tersebut gagal, dan lainnya. Regulasi emosi penerimaan (acceptance) adalah regulasi emosi dimana seseorang menerima sumber kecemasan yang dialaminya. Misalnya ketika seseorang merasa cemas, ia mengetahuinya ‘Ok, saya cemas dan memang saya tidak bisa presentasi kok, terus kenapa?’ dan tidak melakukan peninjauan terhadap sumber kecemasannya. Sementara regulasi emosi penekanan (suppression) adalah regulasi emosi dimana seseorang menekan kecemasan yang dialaminya. Misalnya orang tersebut merasa ‘saya merasa tidak apa-apa kok’ walaupun ia merasa cemas ketika akan presentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang memakai regulasi emosi dengan menekan kecemasan mereka memiliki detak jantung dan tingkat stres yang lebih tinggi ketimbang mahasiswa yang memakai regulasi emosi dengan meninjau-kembali dan menerima kecemasan mereka. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang meninjau kembali kecemasan dengan mahasiswa yang menerima kecemasan, namun regulasi peninjauan kembali lebih efektif daripada regulasi menerima kecemasan.

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa regulasi menekan kecemasan memiliki efek yang cenderung bisa menghalangi suatu tujuan karena biasanya ini akan mengarahkan seseorang pada pengalaman yang tidak diinginkan. Misalnya dalam ranah psikologi klinis, kecemasan yang ditekan bisa muncul dalam bentuk perilaku lain misalnya perilaku obsesif kompulsi mencuci tangan. Atau contoh lain adalah orang yang cemas saat ujian menjadi gagal karena selama pengerjaan, ia tidak fokus pada ujian itu sendiri. Sementara itu pada regulasi peninjauan-ulang yang fokus kepada penyebab mengapa kecemasan bisa terjadi, cenderung berhasil untuk mengurangi emosi negatif. Ini dapat mengurangi respon stres dan meningkatkan beradaptasi terhadap stimulus kecemasan tanpa efek yang merugikan.

Dalam regulasi peninjauan-ulang kecemasan ini memiliki strategi agar seseorang fokus terhadap penyebab dari kecemasan itu sendiri (antesenden) yaitu melalui pendekatan yang realistis dalam menyikapi suatu sumber kecemasan. Dalam penelitiannya, Gross memberi instruksi ‘Please try to take a realistic perspective on this task, by recognizing that there is no reason to feel anxious.’

Bagaimana regulasi peninjauan kembali itu?

Kita dapat meninjau kembali apa yang menjadi sumber kecemasan kita saat akan presentasi dengan fokus terhadap masalah. Pikirkanlah tentang apa yang saya pikirkan saat ini, apa yang penting untuk saya sekarang, apa pentingnya presentasi ini untuk saya, apa yang terjadi jika saya lebih tenang, apakah ada bukti bahwa saya tidak mampu menjalankan presentasi ini, situasi buruk apa yang mungkin akan terjadi lalu apa yang akan saya lakukan.

Sumber:

Hofmann, Stefan G. Heering, Sanna. Sawyer, Alice T. Asnaani, Anu. 2009. How to handle anxiety: The effects of reappraisal, acceptance, and suppression strategies on anxious arousal. Boston University: USA

Nia Janiar

Penulis adalah seorang sarjana Psikologi dari Universitas Pendidikan Indonesia. Perkenalannya dengan dunia psikologi membuat ia sempat terjun pada lembaga sosial masyarakat tentang HIV/AIDS dan anak jalanan.

    Be first to comment